18/09/2008 09:03 WIB

Kantor PA Bireuen Digranat

* Adnan Beuransah: Ini Upaya Menggagalkan Pemilu
[ rubrik: Serambi | topik: Kriminalitas ]
BIREUEN – Kantor Partai Aceh (PA) Wilayah Bireuen digranat oleh orang yang 
belum teridentifikasi, Rabu subuh kemarin. Kantor yang berlokasi di Desa 
Meunasah Blang, Kecamatan Kota Juang itu berantakan dan menimbulkan kerusakan 
pada ruang administrasi. Jubir PA, Adnan Beuransah menilai, aksi ini merupakan 
upaya menggagalkan Pemilu 2009. Ketua PA Wilayah Bireuen, Darwis Jeunieb kepada 
Serambi mengatakan, aksi pengranatan itu diyakini dilakukan oleh orang-orang 
yang tidak senang kepada PA. Aksi itu tak ada kaitan dengan caleg dari PA. 
“Kantor yang berfungsi sebagai tempat berkumpulnya anggota KPA dan Pengurus PA 
ini rusak berat. Beruntung tidak ada korban jiwa. Kejadian ini tidak ada 
hubungan dengan masalah caleg. Mungkin target pelaku adalah menebar teror atau 
perasaan dendam dan ingin mengganggu kedamaian,” kata Darwis.
Keterangan yang dikumpulkan Serambi dari berbagai sumber termasuk dari 
Jamaluddin (34) selaku penjaga kantor menyebutkan, ledakan dahsyat terdengar 
sekitar pukul 04.45 WIB ketika umat Islam sedang makan sahur atau sedang 
menunggu waktu imsak. “Ledakan keras mirip suara ledakan bom atau travo PLN itu 
terjadi ketika saya sudah pulang makan sahur ke rumah. Bahkan ada yang mengira 
suara ban mobil yang meletus,” kata Jamaluddin, warga Cot Keutapang yang 
sehari-harinya bertugas menjaga kantor tersebut. 
Setelah diselidiki ke sumber suara, saat itulah masyarakat melihat bagian depan 
Kantor PA di lantai II berantakan. Kaca hitam dari lantai II berhamburan ke 
bawah (halaman depan). 
Memastikan Kantor PA diserang, secepatnya Jamaluddin menelepon Polsek Jeumpa 
dan sejumlah rekannya. Setelah tim Polsek tiba di lokasi kejadian, barulah 
Jamaluddin dan sejumlah rekannya memastikan apa yang terjadi. 
Berdasarkan pemeriksaan aparat kepolisian, dipastikan Kantor PA Bireuen 
digranat. Sasaran pelemparan granat adalah lantai II kantor. Seluruh peralatan 
kantor berupa failing cabinet, satu unit komputer dan berbagai perlengkapan 
lainnya rusak total. Arsip berserakan di lantai. Terdapat satu lubang 
berdiameter 25 x 25 sentimeter dengan kedalaman 4 sentimeter di lantai II dekat 
jendela yang menjadi titik jatuhnya granat. Juga terlihat sejumlah lubang 
lainnya di dinding akibat hantaman serpihan granat. Bahkan ada retak rambut di 
beberapa sudut bangunan yang diduga akibat kuatnya getaran yang ditimbulkan. 
Meski sasaran lemparan granat ke satu ruangan, tetapi kerusakan juga terjadi 
pada ruangan lainnya yang menjadi bagian Kantor PA Bireuen. 
Mirip kasus Ketua PA 
Kapolres Bireuen melalui Wakapolres, Kompol Armaini kepada Serambi mengatakan, 
aksi pelemparan granat yang menimpa Kantor PA mirip aksi pelemparan granat ke 
rumah Ketua PA, Muzakkir Manaf di Banda Aceh beberapa hari lalu. Begitu juga 
waktu pelemparannya, yaitu menjelang fajar. Bahkan, pelaku pelemparan granat 
tersebut juga diduga menggunakan sepeda motor. 
Berdasarkan bukti-bukti yang dikumpulkan di lokasi kejadian, granat yang 
dilemparkan ke Kantor PA Bireuen adalah granat korea jenis manggis. “Kerusakan 
yang ditimbulkan tergolong parah. Ruang administrasi berantakan, kaca jatuh, 
bangunan retak-retak. Kita sedang mengumpulkan keterangan dari saksi-saksi 
untuk melakukan pengembangan selanjutnya,” kata Wakapolres Bireuen. 
Mengenai adanya informasi yang menyebutkan bahwa Pengurus PA menerima SMS 
bernada ancaman, itu pun akan dijadikan salah satu bahan pengusutan oleh 
polisi. 
Ruko berlantai II tersebut disewa oleh Pengurus PA seharga Rp 100 juta untuk 
masa tiga tahun dan sudah ditempati sejak empat bulan lalu. Kerugian materil 
yang ditumbulkan akibat penggranatan itu mencapai Rp 80 juta. 
Target gagalkan pemilu 
Juru Bicara (Jubir) PA, Adnan Beuransah kepada wartawan, Rabu (17/9) 
mengatakan, aksi kriminalitas yang makin marak di Aceh akhir-akhir ini 
bertendensi politis dan mengarah kepada upaya penggagalan Pemilu 2009. 
“Aksi ini jelas untuk menggagalkan Pemilu 2009. Kami juga melihat bahwa 
rentetan teror yang ditujukan kepada kami juga menjadi target utama kelompok 
tertentu dalam memunculkan isu kekacauan di tengah masyarakat. Sehingga aksi 
teror itu sendiri akan berujung pada terciptanya konflik baru di Aceh,” kata 
Adnan di Kantor Pusat PA, di Banda Aceh. 
Menurut catatan Serambi, sebelum penyerangan Kantor PA Wilayah Bireuen, juga 
terjadi pembakaran Kantor PA Kecamatan Langsa Timur di Desa Alue Pineung, 
Selasa (16/9), sekitar pukul 02.30 WIB. Menurut kabar, kantor itu dibakar 
sekelompok orang yang mengendarai mobil Kijang. Namun, kobaran api tak sampai 
menghanguskan seluruh bagian kantor, karena warga sekitar yang sempat 
menyaksikan kejadian itu segera memadamkan api. 
Sebelumnya, Senin (15/9) dini hari Kantor PA di Panggoi, Kecamatan Muara Dua, 
Kota Lhokseumawe dilempari minyak oleh orang tak dikenal lalu disulut. Namun, 
api tak sempat berkobar, kecuali hanya menghanguskan sedikit dinding depan 
kantor itu serta karpet. Nyala api berhasil dibendung karena secara kebetulan 
ada seorang warga yang melihat kejadian itu, lalu ia minta tolong dan akhirnya 
ramai warga yang berdatangan memadamkan api. 
“Kita tak menuding pihak ini ataupun itu. Tapi yang jelas mereka dari suatu 
kelompok yang dulunya antiperjuangan rakyat Aceh untuk mendapatkan kembali 
hak-hak politik, ekonomi, dan kebudayaan mereka,” papar Adnan. 
Melirik dari tugas dan fungsi utama polisi pascaMoU Helsinki, menurut Adnan, 
peran polisi dalam menyelesaikan dan mengungkapkan kasus-kasus kekerasan yang 
bertendensi politis tidak berjalan maksimal. “Sederet kasus yang terjadi 
tampaknya terus menambah daftar korban kekerasan,” ungkapnya. Namun, ia juga 
berharap agar para kader partai untuk dapat menahan diri dan tidak terpengaruh 
untuk melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan prosedur hukum yang 
berlaku. 
Pemantau asing 
Untuk mengantisipasi jalannya pesta demokrasi yang diwarnai dengan aksi 
kekerasan, intimidasi, serta dalam mendorong tranparansi dan akuntabilitas, 
menurut Adnan, dibutuhkan tim pemantau asing. 
Ditegaskan Adnan, sudah seharusnya pemantau asing yang independen dihadirkan ke 
Aceh untuk mendorong perilaku politik yang demokratis. “Jika tak diminta hadir, 
pemilu akan berjalan dalam suasana yang tak sehat,” kata dia. 
Pun demikian, tambah Adnan, pihaknya juga tetap mempercapayakan peran Uni Eropa 
dalam menghadirkan perdamaian di Aceh. “Jika mereka komit untuk melahirkan 
damai, kenapa kita harus meragukan mereka untuk tetap memantaunya,” kata Adnan 
dengan nada yang terdengar diplomatis.(yus/yuh)


      __________________________________________________________________
Looking for the perfect gift? Give the gift of Flickr! 

http://www.flickr.com/gift/

Kirim email ke