http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/10/01115485/hasan.tiro.pulang


Jumat, 10 Oktober 2008 | 01:11 WIB 

Hasan Tiro Pulang
Oleh Teuku Kemal Fasya

Sejak bom meledak di rumah Ketua Komite Peralihan Aceh sekaligus Ketua Partai 
Aceh (PA), Muzakkir Manaf, pada awal puasa, teror bom mulai sering terdengar di 
Nanggroe Aceh Darussalam.

Perselisihan antara Partai Aceh dan Partai SIRA juga kian tidak produktif bagi 
perdamaian. Sebelum Lebaran, sebuah berita mengejutkan terdengar, Hasan Tiro 
pulang ke Aceh!

Momentum reunifikasi Aceh

Di Aceh, tak ada tokoh hidup yang begitu dihormati sekaligus kontroversial 
seperti Dr Hasan Muhammad Di Tiro. Ia bukan hanya pendiri gerakan militer Aceh 
Merdeka (AM), tetapi juga tokoh tak tergantikan meski perang telah berganti 
panglima, baik TNI maupun GAM.

Karismanya dapat disamakan dengan Tgk Daud Beureueh yang memimpin pemberontakan 
DI/ TII dan Republik Islam Aceh (RIA). Ia bahkan diberi gelar "wali", 
menunjukkan pengaruh kuasanya melampaui struktur formal pemerintahan Aceh. 
Seorang kombatan mengatakan kepada penulis, "Siapa pun boleh jadi gubernur, 
dari Ibrahim Hasan hingga Irwandi, tetapi Tgk Hasan tetap wali Nanggroe Aceh."

Pada masa konflik, Hasan Tiro adalah panglima besar yang mengatur peperangan 
dari jauh. Meski tak pernah jelas garis instruksional antara dirinya di 
Stockholm dan panglima perang di Aceh, figurnya tak mungkin diabaikan. 
Pidatonya didengarkan dengan takzim oleh "anggota" dan diputar setiap hari 
ulang tahun GAM.

Pada masa diplomasi damai, Hasan Tiro adalah Don Corleone- nya. Ia tidak hadir 
secara fisik dalam pertemuan negosiasi antara Pemerintah RI dan GAM, tetapi 
peunutoh (kebijakan) tetap di tangannya. Ijab damai di Vantaa, Helsinki, memang 
diperankan Malik Mahmud, sang perdana menteri, tetapi posisinya tak lebih 
sebagai kerani.

Kini, rencana kepulangannya ke Aceh pada 11 Oktober membawa pesan baru. 
Kehadirannya tak hanya merepresentasikan kepentingan politik GAM, tetapi juga 
perwujudan seluruh simbol perjuangan Aceh baru: perjuangan ekonomi dan kultural 
yang membebaskan Aceh dari belenggu konflik, ketertinggalan, dan krisis 
perdamaian.

Momentum itu harus diciptakan karena situasi politik Aceh akhir-akhir ini kian 
kusut masai oleh politik kekerasan dan intimidasi, baik secara tidak langsung 
disponsori kelompok saingan politik atau secara langsung oleh elemen pencipta 
konflik. Kisah- kisah kekerasan kian mengganggu harmoni. Jika tak diantisipasi, 
lubang hitam itu akan menciptakan instabilitas hingga membangkrutkan demokrasi 
yang dibangun susah payah.

Reunifikasi atau penyatuan diri dan visi seluruh elemen masyarakat Aceh penting 
untuk mengingat kembali harga perdamaian yang telah dibayar. Rekonstruksi 
otomatis macet jika tercipta konflik permanen. Transisi akan berbalik arah dan 
meruntuhkan banyak kebaikan. Kembalinya Hasan Tiro harus menjelmakan semangat 
kepulangan Norodom Sihanouk yang arif menengahi keberadaan faksi- faksi yang 
bertikai puluhan tahun di Kamboja. Hasan Tiro adalah wali bagi seluruh 
masyarakat Aceh, dari pesisir hingga pedalaman.

Ekonomi dulu, baru politik

Kepulangan Hasan Tiro ke Aceh harus diisi agenda prioritas. Setelah kondisi 
pemerintahan yang pincang karena Gubernur NAD harus berobat ke Singapura selama 
dua bulan untuk penyembuhan penyakit strokenya, kepulangan Hasan Tiro harus 
bernilai lebih. Bukan hanya konsolidasi antar-elemen GAM yang kini terpecah 
menjadi tujuan, tetapi juga mencari signifikansi antarsektor pembangunan. 
Persiapan Pemilu 2009 nasional memang penting, terutama melawan dominasi partai 
politik nasional. Namun, agenda pembangunan dan pemberdayaan ekonomi jauh lebih 
penting.

Pembangunan ekonomi bukan hanya memerlukan semangat antikorupsi dan komitmen 
moral, tetapi juga keuletan dan pemikiran yang kuat. Angka gagal pembangunan di 
Aceh belum beranjak baik (penduduk miskin (26,65 persen) pengangguran (12 
persen), inflasi (11,2 persen), putus sekolah (37,5 persen), dan serapan 
anggaran (40 persen) meski telah melibatkan multistakeholder dalam rekonstruksi 
pascatsunami. Ada yang salah pada konsep pembangunan selama ini (terlalu 
elitis, prioritas megaproyek, miskin partisipasi, kurangnya sense of crisis, 
dan pembangunan berbasis eksploitasi lingkungan). Kerusakan pembangunan 
pasca-BRR meninggalkan bom waktu. Perlu modal dan waktu untuk memulihkannya.

Simpul kata harus menguatkan maksud, tidak ada rekonstruksi tanpa perdamaian. 
Kepentingan politik 2009 harus kalah demi pembangunan 20-30 tahun ke depan. 
Musuh perdamaian harus dikalahkan demi Aceh. Pax melior est quam iustissimum 
bellum, damai lebih baik daripada semua jenis peperangan. Kata Rafly Kande, 
"Daripada ta meuprang, lebéh geut ta damee."

Teuku Kemal Fasya Ketua Komunitas Peradaban Aceh (KPA

Kirim email ke