http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=11220

Minggu, 12 Okt 2008,


Hasan Tiro Sesenggukan Peluk Adik 





BANDA ACEH - Pesan perdamaian di Aceh lengkap sudah. Tiga tahun setelah 
perjanjian damai pemerintah-GAM (Gerakan Aceh Merdeka) ditandatangani, Tengku 
Hasan Muhammad di Tiro kemarin (11/10) kembali ke kampung halaman. Dia menangis 
sesenggukan begitu menginjakkan kaki di lapangan terbang Iskandar Muda pukul 
11.42.

Hasan yang mengenakan setelan jas hitam dipadu hem lengan panjang putih dan 
berdasi merah itu disambut satu-satunya adik kandung yang masih hidup, Siti 
Aisyah, 80.

Kedua saudara yang terpisah hampir 30 tahun sejak Hasan meninggalkan Indonesia 
pada 1979 itu pun saling berpelukan. Mata Hasan tampak berkaca-kaca. Bahkan, 
tangisan mereka tak terbendung. Adik-kakak yang sudah sepuh itu saling melepas 
rindu dan bercakap dalam bahasa Aceh. 

"Saya ucapkan selamat datang kepada Abang. Saya terharu, tidak bisa berkata 
banyak," ujar Aisyah dalam bahasa Aceh yang diterjemahkan keponakannya, 
Murtadlo, kepada Jawa Pos setelah menjemput sang kakak. 

Suasana penyambutan benar-benar mengharukan. Begitu tangis Hasan dan adiknya 
pecah, mata beberapa mantan tentara GAM yang mengamankan kedatangan Hasan, 
panitia penyambutan dari Partai Aceh, serta Komisi Peralihan Aceh (KPI) ikut 
berkaca-kaca. 

Puluhan ribu warga yang hanya bisa menonton kedatangan Hasan dari luar bandara 
juga tampak histeris. Mereka datang sejak pagi. Terik matahari siang itu tak 
mereka hiraukan. Bahkan, banyak yang memanjat pohon agar bisa melihat wajah 
Hasan yang disebut wali Nangroe itu. "Wali Nangroe, wali Nangroe," teriak 
mereka kepada tokoh yang dikejar TNI setelah mendeklarasikan pemisahan Aceh 
dari NKRI pada 1976 tersebut. 

"Sehari sebelum kedatangan wali negara (Hasan Tiro), banyak warga yang datang 
di bandara," ungkap Edwar, 37, petugas porter Bandara Iskandar Muda. "Banyak 
yang menginap di lapangan maupun tanah lapang," ungkapnya.

Tanda-tanda keharuan saat penyambutan Hasan terlihat saat dia menuruni tangga 
pesawat Fokker 100 yang dicarter dari Malaysia. Lelaki kelahiran Pidie, Aceh, 
25 September 1925, tersebut tak bisa berkata apa-apa melihat banyaknya warga 
yang menyambut. 

Saat Hasan masih di tangga pesawat, ada seorang penyambut yang mengumandangkan 
azan dilanjutkan tari rapai yang diiringi rebana serta salawat badar 
sahut-menyahut. Saat menuruni tangga, pria yang kini warga negara Swedia itu 
digandeng pengawalnya. Sesekali tangannya melambai kepada massa yang menyambut. 

Di belakang Hasan, tampak mantan petinggi GAM yang ikut dalam rombongan pesawat 
dari Malaysia itu. Ada Malik Mahmud (mantan PM), dr Zaini Abdullah (mantan 
Menlu), mantan Menhan GAM Zakaria Zaman, Ketua Partai Aceh Muzakkir Manaf, 
serta Gubernur Aceh Irwandi Jusuf. Selain itu, dr Farid Husein dan Juha 
Chistiensen dari Finlandia yang berperan dalam keberhasilan MOU Helsinki.

Di bandara, sejak pagi beberapa mantan pejabat GAM seperti Sofyan Dawood, 
mantan Panglima GAM Bate Iiliek Tengku Darwis Jeunib, Kamaruzaman (mantan juru 
runding GAM), Bachtiar Abdullah (mantan juru bicara GAM di pelarian), serta 
mantan tokoh GAM yang lain sudah menunggu. Tak terkecuali Wagub Aceh yang juga 
Ketua SIRA Mohammad Nazar. 

Sebelum rombongan Hasan mendarat, satu pesawat carteran sejenis yang membawa 
rombongan mantan GAM yang selama ini bermukim di Malaysia maupun negara lain 
tiba pukul 10.55. 

Rombongan yang umumnya mengenakan setelan jas hitam-hitam tersebut membawa 
spanduk dengan dasar warna merah menyerupai bendera GAM, strip hitam dan putih. 
Satu di antara spanduk itu bertulisan, "Keberangkatan Tiba. Wali Nangroe Paduka 
yang Mulia dr Tgk Hasan Muhamad di Tiro (Wali Nangroe Aceh) 29 Maret 1979-11 
Oktober 2008." Spanduk dalam tiga bahasa, yakni bahasa Inggris, Aceh, dan 
Indonesia, itu dibentangkan saat Hasan mendarat di Bandara Iskandar Muda.

Yang boleh masuk bandara kemarin hanya panitia, mantan tentara GAM, serta 
keluarga besar Hasan. Wartawan pun harus mengenakan kartu identitas yang dibuat 
panitia. 

Sebelum memasuki Land Rover hitam berpelat nomor BK 20 SD yang membawanya ke 
Masjid Raya Baiturrahman sejauh 15 kilometer dari bandara untuk berpidato di 
depan rakyat Aceh, Hasan disambut peusejuk, semacam upacara selamat datang oleh 
beberapa penari wanita Aceh.

Karena banyaknya wartawan dan warga yang ingin melihat dari dekat Wali Negara 
Hasan di Tiro, mantan tentara GAM dan panitia penyambutan harus menjaga 
ekstraketat dengan membentuk barisan orang agar Hasan bisa masuk mobil. Hanya 
terlihat satu-dua polisi dan tentara.

Ratusan mobil, bus, dan truk yang panjangnya mencapai lima kilometer mengiringi 
mobil nomor 10 dari depan yang ditumpangi Hasan menuju masjid raya.

Saking panjangnya antrean pengiring mobil itu, saat rombongan di depan sudah 
mencapai Masjid Lambaro, yang paling belakang baru merangkak keluar dari 
Bandara Iskandar Muda.

Seperti saat di bandara, puluhan ribu warga Aceh juga memadati halaman Masjid 
Baiturrahman saat Hasan tiba. Mereka ingin mendengar pidato sang tengku yang 
kini menetap di Stockholm, ibu kota Swedia, tersebut. Namun, pidato yang 
ditunggu-tunggu itu hanya singkat. Tak lebih dari lima detik. "Assalamu 
'alaikum. Nyo uloen katrueh Uaceh (Saya sudah sampai di Aceh, Red)," ujar Hasan 
lalu duduk.

Sambutan kemudian dilanjutkan Malik Mahmud. Mantan PM itu membaca kertas yang 
berisi teks pidato tertulis Hasan. (bh/

Attachment: 1223751256b
Description: Binary data

Kirim email ke