TEMPO
34/XXXVII 13 Oktober 2008

Seorang Lelaki di Bawah Hujan

Setelah hampir 30 tahun hidup di pengasingan, Hasan Tiro pulang kampung. 
Reportase wartawan Tempo Arif Zulkifli, yang mengikuti perjalanannya dari Kuala 
Lumpur hingga Banda Aceh.
DI bawah langit mendung Putra Jaya, lelaki itu tengadah. Dipandanginya 
pucuk-pucuk kubah masjid dan gedung-gedung jangkung di pusat kota Kuala Lumpur 
itu. Sesekali ia menunduk membiarkan matanya mengintip dari balik kacamata yang 
melorot hingga ke pipi. 

Hari itu ia tampil necis: setelan jas abu-abu, dasi marun, sepatu hitam yang 
nyaris tak menyimpan debu. "It's a beautiful place," katanya. "Aceh harus 
seperti ini di kemudian hari," saya menyergah. Ia tersenyum lalu menjawab 
singkat, "I think so." 

Kamis pekan lalu adalah hari keenam Hasan Muhammad Ditiro, 83 tahun, berada di 
ibu kota Malaysia itu. Sabtu, 4 Oktober 2008, Presiden National Liberation 
Front of Acheh Sumatra (NLFAS), organisasi yang lebih dikenal sebagai Gerakan 
Aceh Merdeka, itu mendarat di Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur setelah 
terbang 8.000 mil dari Stockholm, Swedia, negeri tempatnya selama ini bermukim. 

Seminggu setelah itu, ia tiba di tanah kelahiran. Inilah untuk pertama kalinya 
Hasan Tiro mengunjungi kampung halaman yang hampir 30 tahun lalu ia tinggalkan. 

Dari Stockholm hingga Kuala Lumpur ia didampingi tujuh anggota rombongan, di 
antaranya Zaini Abdullah yang merupakan juru runding GAM, juga bekas Panglima 
Gerakan Muzakir Manaf, dan Muzakir Abdul Hamid, staf pribadinya. 

Mendeklarasikan Aceh Merdeka pada 1976, hidup Tiro bagaikan roller coaster. 
Menjadi pengusaha di New York, Amerika Serikat, pada awal 1970-an, ia 
memutuskan angkat senjata pada 1976. Kekecewaannya terhadap pemerintah pusat 
membuatnya masuk hutan. Beberapa tahun di gunung, ia hengkang ke Malaysia 
karena diburu tentara. Dari Malaysia ia kemudian mendapat suaka politik di 
Stockholm, Swedia. 

Perundingan damai Helsinki pada 2005 mengubah segalanya. Bekas Perdana Menteri 
GAM Malik Mahmud serta Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia Hamid 
Awaludin meneken kesepakatan damai antara dua seteru itu. GAM diberi kompensasi 
ekonomi dan politik sebagai syarat tak lagi menggali kapak perlawanan. Salah 
satu "imbalan", GAM boleh mendirikan partai lokal-tempat anggota gerakan 
perlawanan itu diharapkan berkiprah. 

Tiga tahun setelah perjanjian damai itu, Tiro kembali. Berita kepulangan itu 
telah menyebar sejak sebelum Ramadan. 

Itulah sebabnya beberapa jam sebelum rombongan tiba di Bandar Udara Sultan 
Iskandar Muda, Banda Aceh, massa sudah menyemut. Mereka datang dengan truk dan 
puluhan mobil dari pelbagai wilayah Nanggroe Aceh Darussalam. Dua truk khusus 
disiapkan untuk menampung puluhan pemain rapa'i, rebana yang dimainkan 
bersama-sama, dari Passe. Hari itu Banda Aceh macet total. 

Tiro berangkat dari Bandar Udara Subang, Kuala Lumpur, pukul 10.30 waktu 
setempat. Di kabin pesawat Firefly ATR 72-500 ia duduk di kursi 01A. Di 
sebelahnya duduk Malik Mahmud. Tepat di belakang Malik tercogok Farid Husein, 
juru runding Indonesia dalam perundingan Helsinki, dan Juha Christensen, salah 
satu penengah konflik GAM-Indonesia. 

Di atas ketinggian 18.000 kaki dari permukaan laut, setengah jam sebelum 
pesawat mendarat, Tiro tiba-tiba bangkit. 

Melihat Wali Nanggroe-begitu Hasan Tiro biasa disapa-tegak, Malik Mahmud 
bangkit mendampingi. Usman Syarif, asisten pribadi Tiro, juga sigap berdiri. Di 
usianya yang telah lanjut, ke mana pun pergi, Tiro selalu didampingi asisten. 

Ia lalu bergerak ke arah belakang, ke kursi 08D yang diduduki Amir Rasyid bin 
Mahmud. Amir adalah kakak Malik Mahmud dan kawan seiring Tiro di awal-awal GAM 
berdiri. Tak seperti Tiro, Amir memang tak masuk hutan. Ia datang dari keluarga 
pedagang, bermukim di Singapura dan banyak membantu pergerakan GAM dari tanah 
seberang. "Lon meushen. Aku rindu," kata Tiro kepada Amir pelan. Yang dipeluk 
balas memeluk. Keduanya menangis, tapi tak terisak. 

Tangis kedua Tiro terlihat ketika bersalaman dengan Putjut Sariwati di landasan 
pesawat. Perempuan tua berkerudung putih itu adalah istri Muhammad Usman Lampoh 
Awe, salah satu petinggi GAM yang pada 3 Oktober lalu meninggal. Usman adalah 
salah satu anak buah kesayangan Tiro. 

Di tangga pesawat Hasan Tiro disambut azan dan sayup-sayup alunan rapa'i. 
Panggilan salat itu selesai, ia berteriak Allahu Akbar tiga kali. Sebentar 
kemudian ia sujud syukur di atas sajadah merah yang telah disiapkan panitia. 


l l l
MUDIK ini dipersiapkan dengan seksama dan dengan kerahasiaan tinggi. Persiapan 
pulang, menurut Muzakir Abdul Hamid, dilakukan tiga bulan yang lalu. Panitia 
disiapkan di tiga tempat: Stockholm, Kuala Lumpur, dan Banda Aceh. Di 
Stockholm, Ustad, begitu Muzakir biasa disapa, ambil peranan. Ia mengurus 
tiket, visa, dan segala tetek-bengek. 

Muzakir telah sepuluh tahun bermukim di Stockholm. Sebelumnya, pada pertengahan 
1990-an ia tinggal di Malaysia sebagai pelarian politik. Ketika pemerintah 
Indonesia menekan Malaysia agar menangkap pelarian asal Aceh, Muzakir 
berlindung ke UNHCR-badan PBB yang mengurus pengungsi. Setelah negosiasi sekian 
lama, oleh lembaga dunia itu ia lalu disalurkan ke Swedia. 

Di Malaysia, Hasan Tiro tinggal di Hotel Concorde Shah Alam, Negara Bagian 
Selangor. Meski sudah di luar kota, hotel itu sejatinya tak teramat terpencil. 
Menumpang taksi dari bandar udara, penginapan itu bisa dicapai dalam waktu satu 
jam. 

Pada hari pertama kedatangan Tiro, tak banyak orang yang tahu di mana delegasi 
akan menginap. Sebuah situs berita nasional, misalnya, menyebut Tiro menginap 
di kediaman Duta Besar Swedia di Kuala Lumpur. Petinggi GAM memang tutup mulut 
soal lokasi menginap Wali Nanggroe itu. Tanda pengenal rombongan yang akan 
terbang bahkan baru diberikan beberapa menit sebelum berangkat. "Untuk mencegah 
dipalsukan," kata seorang panitia. 

Anggota delegasi juga tak diumumkan dengan pesawat apa mereka terbang. "Kami 
sendiri baru diberi tahu lima hari sebelumnya," kata Angelina C. Fernandez, 
Kepala Divisi Komunikasi Firefly, maskapai yang disewa Tiro. Semua kru diminta 
tutup mulut tentang rencana perjalanan ini. 

Ada dua pesawat yang dipakai, masing-masing berkasitas 72 tempat duduk. Menurut 
Eddy Leong, Direktur Pelaksana Firefly, umur pesawat mereka baru satu bulan. 
Kabin kapal terbang bermesin baling-baling itu apik. Kursinya berlapis kulit 
sintetis. 

Berapa GAM membayar sewa pesawat? Panitia tutup mulut. Tapi Hishamuddin Ahmad, 
Kepala Divisi Jaringan dan Penjadwalan Firefly, memberikan ancar-ancar. 
Katanya, pesawatnya biasa disewa 15 ribu ringgit per jam atau sekitar Rp 45 
juta. Dua jam perjalan bolak balik dua pesawat (biaya pulang pesawat juga 
ditanggung penyewa) total perlu Rp 360 juta. "Tapi kami memberikan harga khusus 
untuk perjalanan ini," kata Hishamuddin. Seorang sumber yang dekat dengan GAM 
membisikkan Gerakan hanya membayar 50 ribu ringgit atau sekitar Rp 150 juta. 


l l l
LOBI Hotel Concorde sudah seperti meunasah saja. Setiap hari, puluhan orang 
asal Aceh berkerumum di tempat itu. Sembilan sofa untuk 18 orang itu tak pernah 
sepi penumpang. Yang satu berlalu, yang lain datang. Tamu yang baru tiba 
biasanya akan menyalami mereka yang lebih dulu duduk. 

Mereka yang hadir akan dipanggil bergilir untuk menghadap Tiro. Umumnya dalam 
waktu tak lama. Ia pun tak banyak cakap: bersalaman, berfoto, lalu pertemuan 
usai. Kata yang kerap disebutnya kepada para tamu cuma thank you dan thank you. 

Saya adalah orang kesekian yang diizinkan bertemu Hasan Tiro, Kamis pekan lalu. 
Menaiki lift hotel ke lantai 15, pintu kamar Tiro dijaga oleh seorang pengawal. 
Kamar-kamar lain di lantai itu tampaknya dipesan untuk anggota delegasi. 

Selama beberapa menit, saya dibiarkan teronggok di pintu. "Tunggu Ustad, tunggu 
Ustad," terdengar suara dari dalam. Tak lama Muzakir Abdul Hamid datang dengan 
berlari kecil. 

Belok ke kiri dari pintu masuk, ada ruang tamu sekitar 15 meter persegi. 
Dindingnya cokelat senada dengan warna sofa. 

"Saya harap Anda masih mengenal saya," kata saya membuka pembicaraan. Zaini 
Abdullah berbisik, mengingatkan Tiro bahwa saya pernah bersua dengannya di 
Stockholm delapan tahun lalu. Tiro tersenyum. Dari matanya tampak ia berusaha 
mengingat-ingat. 

Ketika itu, Mei 2000, musim semi hampir berakhir Eropa. Matahari sudah terik 
menyengat, tapi angin dingin masih terasa menusuk. Kami bertemu di lantai lima 
apartemen Hasan Tiro di kawasan Alby, Stockholm bagian selatan. 

Kala itu damai masih jauh dari Tanah Rencong. Pemerintah memang telah 
memprakarsai perundingan yang kemudian dikenal dengan Jeda Kemanusiaan, tapi 
kemudian batal karena pemerintahan Megawati menetapkan Aceh sebagai daerah 
darurat militer. 

Pertemuan dua jam itu tak disertai wawancara. Sejak awal Tiro menolak 
percakapan kami direkam. Tapi tanpa wawancara formal, Tiro justru menunjukkan 
sisi kemanusiaannya. Ia menyetel musik klasik, menunjukkan sejumlah buku 
karangannya, bahkan meminta saya membacakan beberapa paragraf naskahnya itu. 

Ia tak banyak bicara. Sekali ia mengajak ke serambi memandang laut Malaren yang 
berpendar-pendar airnya. Pada waktu yang lain ia meradang. Ketika tahu saya 
adalah lulusan Universitas Indonesia, ia menyemprot: "That's stupid!" (lihat 
"Dua Jam Bersama Hasan Tiro", Tempo, 4 Juni 2000). 

Baginya, Indonesia adalah gagasan yang absurd. Dalam sebuah artikel yang 
ditulisnya pada November 1980, "The Legal Status of Acheh Sumatra under 
International Law", Tiro menyebut penyerahan kedaulatan Aceh dari Belanda 
kepada Indonesia pada 1949 adalah ilegal. Basis hukum yang dipakainya adalah 
Resolusi PBB yang mewajibkan negara kolonialis menyerahkan daerah jajahannya 
kepada penduduk asli. Indonesia, menurut Tiro, bukanlah penduduk asli Aceh. 
"Penyerahan kedaulatan itu dilakukan tanpa pemilihan umum yang menyertakan 
seluruh masyarakat, termasuk masyarakat Aceh," katanya dalam wawancara dengan 
televisi Hilversum, Belanda, pada 1996. 

Pendapat ini berbeda dengan sikap Tiro pada 1950-an. Dalam Demokrasi untuk 
Indonesia, buku yang ditulisnya di Amerika pada 1958, yang menjadi pusat 
kritiknya adalah gagasan negara persatuan Soekarno. Menurut Tiro, dengan 
wilayah yang luas, sangat tidak mungkin jika Indonesia dipaksakan menjadi 
negara persatuan. Dalam buku itu Tiro mengusulkan federalisme sebagai pilihan 
yang terbaik untuk demokrasi Indonesia. Artinya, pada era ini Tiro masih 
memberikan alternatif bagi penyelesaian hubungan pusat-daerah. 

Setelah Helsinki 2005, masihkah ia memimpikan kemerdekaan? Dalam amanatnya yang 
dibacakan Malik Mahmud di Masjid Baiturrahman, ia menyatakan mendukung 
perdamaian. Tentang perjuangan memerdekaan Aceh, Malik berujar: "Setelah damai 
itu tidak ada lagi". 


l l l
DI Putra Jaya, hujan datang mengguyur. Angin kencang membuat air 
berhamburan-seperti sapuan kuas pada lukisan cat air. 

Tiro dan delegasi bergegas ke Selera Putra, pusat makanan yang terletak agak ke 
bawah. Tempat makan itu tak ramai sangat. Ustad memilih sebuah pojok lalu 
menyatukan tiga meja agar bisa menampung Tiro dan sejumlah pendampingnya. 

Mengapit Tiro duduk bekas Panglima GAM, Muzakir Manaf dan Zakaria Saman, bekas 
Menteri Pertahanan. Syarif Usman tak jauh dari situ. Di depan Tiro duduk 
Muzakir Abdul Hamid. 

Para anggota delegasi memilih minuman: teh manis, teh tarik, atau jus. Tiro 
memilih sekaleng Coca-Cola yang dituangnya di gelas besar. "Wali suka sekali 
coke," kata Zaini Abdullah. Di luar, Tasik Putra Jaya, danau buatan yang 
membelah kota itu, bercipratan airnya diterpa hujan. 

Di meja tersaji sejumlah jajan pasar: kue talam, black forest, kue 
kasui-penganan berbahan terigu yang dilumuri parutan kelapa- dan beberapa kue 
lainnya. Ustad yang duduk di depan menyiapkan makanan dan menuangkan air untuk 
Tiro. 

Ketika acara makan ringan itu berakhir, hujan belum reda. Naik eskalator ke 
lantai atas, rombongan tertahan di ujung tangga. Ruang terbuka itu sesak oleh 
pengunjung. Dua pengawal Tiro mengapitnya seraya menadahkan payung. Seperti 
melupakan usia yang tak lagi muda, Tiro merebut dan memegang sendiri payung 
itu. Lalu lelaki itu menjauh, kemudian hilang ditelan hujan

Kirim email ke