Refleksi: Diantara dua juta warga Jakarta yang menderita gangguan jiwa pasti termasuk juga para petinggi negara baik sipil maupun militer di kota Jakarta dan sekitarnya jadi tanpa ragu-ragu bisa disimpulkan bahwa kekuasaan NKRI dipegang oleh orang-orang yang menderita ganguan jiwa. Sebahagian dari ciri-ciri gangguan jiwa khususnya bagi mereka ini mudah dikenal yaitu mereka korupsi, tipu-muslihat dan menindas rakyat teristimewa di daerah-daerah. Bukankah kalau orang normal bermoral baik, tentu saja tidak melakukan hal - hal demikian. Mereka tidak mempunyai perasaan malu atau menyesal bila melakukan pelanggaran apapun. Apakah Anda pernah dengar petinggi NKRI meminta maaf? Akibat dari kekuasaan negara berada di tanggang orang-orang demikian, maka yang disebut negara tidak maju-maju malah mundur sesuai tuntutan zaman dan bertambah miskin, hutan dicukur, hasil kekayaaan diperut bumi dikosongkan dan yang tinggal hanya lobang-lobang kosong. Kalau orang sehat jasmania dan rohanian tentu akan bertanya dimana duit hasil kekayaan alam yang dikeruk? Dari segi sejarah situasiya tidak banyak berbeda dengan di zaman kolonial masa silam. Tidak ada hari depan yang gemilang nan sejahtera bagi negeri yang dipimpin orang-orang sakit jiwa, hari depan penuh malapekata silih berganti bagi kehidupan rakyat. Senangkah Anda terus dikuasai oleh mereka yang berganguan jiwa?
http://www.antara.co.id/arc/2008/10/16/dua-juta-wargakota-jakarta-menderita-gangguan-jiwa/ Dua Juta Wargakota Jakarta Menderita Gangguan Jiwa Jakarta (ANTARA News) - Fakta kesehatan jiwa di ibukota Jakarta semakin memprihatinkan, di mana dari delapan juta penduduknya, dua juta di antaranya atau satu banding empat, menderita gangguan neurotik atau gangguan kecemasan. "Gangguan ini tidak berbahaya, namun mengurangi produktivitas," kata Staf Ahli Menteri Kesehatan, Rahmi Kuntoro, saat memberi sambutan pada Seminar "Kesehatan Jiwa Menjadi Prioritas global", di Jakarta, Rabu. Sementara itu 8.000 dari dua juta penduduk Jakarta terdeteksi mengalami gangguan jiwa skizofrenia, yang pada level ini gangguan jiwa sudah dalam kategori berat. Data WHO menyebutkan, selama tiga tahun terakhir (2005-2007) sedikitnya 50 ribu orang Indonesia melakukan bunuh diri akibat kemiskinan dan himpitan ekonomi. Faktor ekonomi ini, ujarnya, memang membuat seseorang menjadi rentan terhadap stress, cemas, ketergantungan pada zat psikoaktif serta berperilaku menyimpang.
