Siapapun dan pihak manapun, kami harap jangan terlalu banyak bersandiwara. Kami sudah terlalu muak dengan sandiwara-saandiwara yang tidak lucu itu. Kami mengakui dan menghargai MoU Helsinki dengan syarat sesuai dengan apa yang telah tertera di butir-butir MoU tersebut, bukan sekedar bersilat lidah. Adakalanya berbagai pihak berbicara terkesan baik untuk bangsa Acheh, tapi dicelah-celahnya diselipkan racun yang mematikan. Teungku Hasan Muhammad Tiro telah berjuang semaksimal mungkin untuk membela kaun Dhu'afa Acheh. Kami kira dalam masa kekuasaan koloni warisan Belanda yang hipokrit itu belum ada seorangpun putra Acheh yang dapat menyadarkan bangsanya sebagaimana kerja nyata Wali Negara Acheh - Sumatra. Beliau telah berbuat mengikuti warisan Rasul, sebagai,mana kita ketahui bahwa setelah Nabi Adam as, semua Rasul dibangkitkan silih berganti untuk membebaskan kaum Dhuafa dari belenggu penindasan atau penjajahan sebagaimana Tujuan Pokok setiap Rasul dibangkitkan. Hal ini dapat dilihat dalam "buku" Pedoman Hidup Manusia (Q.S. 7 : 157). Kaum Dhu'afa dibebaskan bukan saja dari belenggu penjajahan tapi juga dari penghambaan sesama manusiua menjadi penghambaan (tunduk patuh) kepada Allah semata-mata demi mencari redhaNya, sesuai Tujuan Hidup yang telah ditetapkan Pemilik Dunia tsb: "Wama khalaqtul jinna wal insa illa liyakbuduni (Q.S. 51:56).
Dalam misinya para Rasul adakalanya berhasil menyelamatkan para kaum dhu'afa sebagaimana Nabi Irrahim dan Muhammad saww tapi adakalanya mendapat perlawanan yang begitu telak hingga sebahagian kecil saja dari ummahnya yang dapat diselamatkan. Hal ini diusebabkan kekuasaan Thaghut yang dhalim dan hipokrit yang berkuasa dijamannya itu takdapat ditumbangkan. Akan tetapi disisi Allah semua Rasul berhasil. Artinya semua Rasul telah berusaha sesuai petunjuk Allah. Andaikata takseorangpun yang beriman melalui l"idah" Nabi Nuh, beliau pasti mendapat tempat yang layak (baca Jannah) paska alam fana dan alam barzah kelak, kenapa? Sebabnya tugas Rasul hanya menyampaikan sesuai perintah Allah, sementara ketentuannya adalah urusan Allah (QS. Ar Rum 1 - 4) Disinilah benarnya sebuah motto yang berbunyi: "Yang menang belum tentu benar, yang benar pasti menang. Musuh kaum dhuafa kebanyakan "menang" dalam berkonfrontasi tapi mereka tidak benar tujuan hidupnya, justru itu mereka hanya sementara saja menikmati kemenangannya, untuk kemudiannya mendapat balasan azab kubur di alam barzah yang diteruskan dengan azab Neraka yang kekal selamanya.(Na'uzubillahi min zalik), sementara kaum dhu'afa paling banter mendapat siksaan dari kaum mutaqabbirun itu sebelum berpindah kealam kubur. Dari itu kita serukan kepada orang yang masih mengaku diri beriman, padahal munafiq semoga dapat berhenti daripada bersandiwara dengan bangsa Acheh - Sumatra. Dan perlu kita garis bawahi bahwa orang-orang Islam Acheh yang sejati takmungkin dapat kalian tipu. Alhamdulillah kami ingat betul pernyataan yang sadar dari Wali Negara Acheh - Sumatra bahwa 1000 x lebih baik mati daripada hidup dibawah telapak penjajah. (demikian pernyataan beliau +-) Kami merasa malu dengan bangsa West Papua yang demikian konskwen dengan perjuangannya, kenapa kita tidak? Kenapa kita terlalu cepat tertutup dengan "percikan air madu" yang ditebarkan para musuh dan antek-anteknya dari kalangan kita sendiri? Billahi fi sabililhaq (alasytar - Acheh) ________________________________ From: Sunny <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Sunday, October 19, 2008 12:37:32 AM Subject: «PPDi» Semangat Keacehan dan Perdamaian http://www.ranesi. nl/dokumentasi/ aceh/perjalanan_ hasan_ditiro2008 1017 Semangat Keacehan dan Perdamaian Warnai Perjalanan Hasan di Tiro di Aceh Aboeprijadi Santoso 17-10-2008 Semangat Keacehan dan Perdamaian Warnai Perjalanan Hasan di Tiro di Aceh Pada hari ke 5 dan 6 kunjungannya ke Aceh, Teungku Chik Hasan Muhammad di Tiro bertandang ke negeri asalnya, Pidie, selama sepekan. Di Banda Aceh, Indrapuri dan Pidie, dua tema utama menandai muhibah mudik Hasan di Tiro: semangat kebangsaan Aceh dan seruan perdamaian. Di mana mana, dia disambut hangat dan meriah sebagai pejuang Aceh. Di mana-mana, pidatonya mensyukuri MoU Helsinki dan menyerukan perdamaian sebagai berkah berharga bagi Aceh. Koresponden Aboeprijadi Santoso mengikuti perjalanan Hasan di Tiro. Doa dan puja puji bagi Allah selalu membuka acara temu masyarakat dengan Hasan di Tiro dan rombongannya. Pada usia 83 tahun, Hasan Tiro datang untuk mendoakan keselamatan Aceh di muka makam para endatu, yaitu nenek moyang Aceh. Dari makam Sultan Iskandar Muda di Banda Aceh, makam Syech Abdul Rauf al Sangkili di Syah Kuala, sampai ke makam ayah kakeknya, Teungku Chik di Tiro di Indrapuri. Di Laweung, dia berziarah di makam karib seperjuangan, Teungku Muhammad Usman Lampoh Awe yang meninggal dua minggu lalu, tentu juga ke makam gurunya, pemimpin Aceh, Teungku Muhammad Daud Beureu'eh di Beureunuem, dan ke makam orangtuanya. Setiap kali, dia berdoa demi Aceh. Maka, muhibah itu bukan sekadar saweue gampong, atau pulang kampung, suatu perjalanan kangen pribadi seorang putra Aceh kelahiran Tanjong Bungong, melainkan muhibah sang Wali Nanggroe untuk menyapa cikal bakal yang telah menghias sejarah besar Aceh. Menjaga perdamaian Wakil Rakyat: Paduka yang mulai, wali ... saya atas nama Rakyat Aceh yang masih setia dengan wali sampai saat ini, dengan ini kami semua terima kedatangan wali ke Aceh dengan kata kata Assalam mulaikum warahmatullahi wabarakatuh, marhaban ya amirul mukminin samik na wa atak na, (do'a kami semoga limpah dan rahmat suasana yang baik ini menjadi berkat, menumbuh semangat kembali, merebut kembali hak dan martabat) Rakyat Aceh yang sudah pernah diajari nenek moyang kita secara terus menerus mulai dari Raja Iskandar Muda. Pidato Hasan Tiro yang dibacakan Malik Mahmud al Haytar juga berbicara tentang masa kini. Dia meminta rakyatnya menjaga perdamaian yang dihasilkan MoU Helsinki. Memuji kebesaran masa lalu, tapi juga berterima kasih kepada dunia, termasuk Uni Eropa, yang membantu Aceh bangkit dari dampak tsunami dan konflik. Meski pidato Hasan Tiro hanya sesekali menyebut Indonesia, namun dengan menekankan pentingnya melaksanakan dan menjaga MoU Helsinki, dia tentu menyadari bahwa MoU itulah yang mengembalikan Aceh ke dalam Indonesia melalui perdamaian. Untuk memelihara damai yang marwah, aman hidup yang adil serta dapat membersihkan hati kita semua. Jangan lupa perjuangan kita sekarang melalui jalur politik dan demokrasi, jalur ini didukung penuh oleh dunia internasional. Saya sangat yakin jalur ini juga sangat didukung penuh oleh Rakyat Indonesia Aceh bersatu Walhasil inilah muhibah demi kebangsaan Aceh sekaligus demi perdamaian. Dan, seperti di muka Masjid Raya Baiturrahman, di alun-alun kota Sigli pun, Hasan Tiro disambut meriah dan hangat. Vox Pop Pria: Oh sangat berkesan. Memang kita masyarakat kan dari dulu sangat menunggu-nunggu kepulangan beliau. Kita kan merasa gembira. Apalagi masyarakat sangat antusias menyambut kedatangan Wali Nanggro. Sekian lama beliau diisyu-isyukan meninggal, tapi kenyataannya sekarang kan masih bergairah. Walau pun kita enggak sempat berjabat tangan, melihat wajahnya saja kita sudah merasa gembira. VoxPop Wanita: Ya terharulah. Namanya wali kita sudah pulang. Sudah lama, sekian lama dia sudah pergi. Sekarang baru kita jumpa, ya kita semua terasa terharu. Kalau dia memang masih segar, kita ini pun semua jadi bersemangat, bersemangat kita jadi senang, gembira rasanya. Semoga kita berhasil. Semoga aman dengan berkat usaha dia, titik peluh dia yang udah lama dia berjuang, doa semoga dia umur panjang, sempat membimbing rakyat Aceh yang sudah sengsara sekian lama. Kami kepingin Aceh ini bisa diajak bersatu kembali. Hasan di Tiro, selaku Wali Nanggroe, dapat menjadi pemersatu Aceh, tapi dia datang pada usia yang telah amat lanjut. Kata Kunci: Aceh, Indrapuri, perdamaian, Pidie, Teungku Chik Hasan di Tiro __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com
