Tempo

35/XXXVII 20 Oktober 2008

Kerikil di Sepatu Tiro
Kehadiran Hasan Tiro di Aceh diharapkan bisa meredam aksi kekerasan oleh eks 
kombatan Gerakan Aceh Merdeka. Batu kerikil dalam proses perdamaian.
TEUKU Hasan Muhammad di Tiro, 83 tahun, mungkin terlalu tua untuk menyelesaikan 
persoalan ini: tiga tahun setelah perjanjian damai Helsinki ditandatangani, 
kekerasan di Aceh masih belum sepenuhnya sirna. Eks kombatan Gerakan Aceh 
Merdeka, organisasi yang dulu dipimpin Tiro, terlibat sejumlah aksi penculikan. 
Sabtu dua pekan lalu, setelah hampir 30 tahun bermukim di Stockholm, Swedia, 
Tiro pulang kampung. 

Menurut juru bicara Komite Peralihan Aceh Ibrahim Syamsuddin, Wali Nanggroe, 
begitu Tiro biasa disapa, bukan tak memikirkan kasus yang mencoreng wajah GAM 
ini. Dalam suatu pembicaraan, kata Ibrahim, Hasan Tiro meminta semua mantan 
kombatan menjaga perdamaian dan keamanan. "Itu sudah all in one (termasuk soal 
fenomena penculikan-Red.)," kata Ibrahim, Kamis pekan lalu. 

Syahdan, bulan lalu, Kopral Kepala Saiful Afwani, anggota Komando Rayon Militer 
Panton Labu, Aceh Utara; dan Adrian Morrer, konsultan Bank Dunia, diculik orang 
sejumlah orang bersenjata. 

Afwani saat itu berangkat dari Langsa menuju tempat tugasnya di Peureulak, Aceh 
Timur. Di Desa Uteun Dama, Ahad sore, ia dihadang. Baru keesokan paginya ia 
dibebaskan setelah para penculik menelepon istri Saiful meminta uang tebusan 
meski tak dilayani. 

Proses pembebasan Saiful melibatkan Komite Peralihan Aceh, organisasi yang 
menaungi para eks kombatan, sesuai dengan kesepakatan damai Helsinki. Selama 
penculikan berlangsung, dua orang eks petinggi Gerakan Aceh Merdeka setempat, 
Abu Sanusi, 65 tahun, dan Ridwan Abu Bakar alias Nek Tu, 45 tahun, dibawa ke 
kantor Komando Rayon Militer Peureulak untuk dilibatkan mencari. 

Abu Sanusi dan Ridwan dijemput dari rumahnya pada malam penculikan oleh 
sejumlah tentara. Keduanya lantas menghubungi sejumlah eks kombatan Gerakan 
Aceh Merdeka untuk membantu mendeteksi keberadaan para penculik. Pukul enam 
pagi keesokan harinya, Saiful dilepas di Desa Cot Keh, Kecamatan Peureulak 
Kota. 

Menurut Saiful, yang sempat pingsan setelah dilepas, ada lima orang yang 
menyekapnya. Mereka membawa dua senapan M-16 dan satu pucuk AK-47. Selama 
disandera, tangan dan kaki Saiful diikat. Ia juga sempat dipukul dua kali oleh 
penyandera. 

Sepekan sebelumnya, Adrian Morrer, 35 tahun, supervisor Bank Dunia asal 
Prancis; dan sopirnya, Hendri Saputra, 25 tahun, juga mengalami nahas serupa. 
Penculikan terjadi di kawasan Punteuet, Kecamatan Blangmangat, Lhok Seumawe. 
Adrian melakukan supervisi terhadap survei yang dilakukan AC Nielsen untuk Bank 
Dunia soal kehidupan para eks kombatan. 

Para penculik meminta Adrian menghubungi kantor Bank Dunia agar menyediakan Rp 
5 miliar uang tebusan. Namun permintaan itu tak ditanggapi, sehingga para 
penculik merampas telepon seluler, laptop, serta uang tunai yang dibawa korban. 

Keduanya lantas dilepas pada malam itu juga. Soal ini, Deputi untuk Multidonor 
Fund Aceh dan Nias Bank Dunia, Syahriza Sofyan, mengatakan bahwa Adrian dilepas 
tanpa terluka. "Untuk detail kejadiannya, silakan tanya Polda Aceh," kata dia. 

Kisah tragis juga pernah terjadi pada aktivis lembaga swadaya masyarakat Tri 
Mumpuni dan suaminya, Iskandar Budisaroso Kuntoadji. Mereka diculik sekitar 
sepuluh orang bersenjata api dan senjata tajam di sekitar wilayah Bireuen, awal 
tahun ini. 

Puni dan Iskandar adalah pendiri Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan yang 
berbasis di Jakarta. Pekerjaan mereka adalah mengembangkan pembangkit listrik 
mini bertenaga air di pedesaan, khususnya yang tidak terjangkau Perusahaan 
Listrik Negara. Listrik yang dihasilkan dijual ke perusahaan setrum negara itu. 
Duitnya dipakai untuk kepentingan penduduk desa. 

Sumber Tempo bercerita, sebagian penculik sebetulnya telah dikenal korban. Para 
pelaku tak lain tenaga lokal yang pernah dilibatkan membuat pembangkit listrik 
sejenis di daerah lain. "Salah satu penculik punya bengkel untuk peleburan 
logam," kata sumber itu. 

Penculikan terjadi saat rombongan berangkat dari Banda Aceh menuju Takengon. 
Rombongan yang berangkat dengan mobil Kijang terdiri atas Puni, Iskandar, 
seorang pemandu lokal, dan dua anggota tim yang belakangan justru menjadi 
penculik. 

Di perjalanan, rombongan singgah di tepi Sungai Bate Ilik di Bireuen, untuk 
meninjau potensi pembangunan pembangkit listrik mini. "Arus sungainya memang 
relatif besar," kata sumber itu. Tatkala rombongan menyebar di tepi sungai 
itulah, penculikan berlangsung. Puni, Iskandar, dan si pemandu lokal ditodong 
senjata tajam dan api oleh beberapa orang yang muncul mendadak. 

Mereka mengenakan penutup muka. Keduanya lantas dibawa dengan mobil Kijang ke 
daerah berbukit di sisi sungai. Dari sini, keduanya lalu dibawa menuju daerah 
yang berpohon lebat. Di sebuah dangau, ketiganya disekap dan mata mereka 
ditutup. Seorang penculik, yang tak lain anggota tim Puni, lalu meminta 
tebusan. "Jumlahnya Rp 500 juta," kata sumber tadi. 

Setelah melewati negosiasi alot, malam harinya Puni dilepas untuk mengambil 
uang tebusan itu. Rencananya, uang diserahkan keesokan harinya di sebuah desa 
di Bireuen. "Asal uangnya saya tidak tahu. Yang mengumpulkan dan menyerahkan 
Puni," sumber itu menambahkan. 

Setelah fulus berpindah tangan, ketiganya dilepas di sekitar Sungai Bate Ilik. 
Kabarnya, ketika disandera, Iskandar sempat dipukul. Proses pembebasan 
dilakukan relatif cepat karena penegak hukum tidak dilibatkan. 

Ketika dihubungi untuk konfirmasi soal ini, Tri Mumpuni enggan menanggapi. 
Menurut dia, ia telah melupakan peristiwa itu dan akan tetap melanjutkan 
program sejenis di daerah lainnya di Aceh. "Potensi Aceh sangat besar untuk 
memakmurkan rakyatnya asalkan dikelola dengan benar," kata dia menutup 
percakapan. 

Juru bicara Komite Peralihan Aceh, Ibrahim Syamsuddin, mengakui sebagian aksi 
kriminal, termasuk penculikan, dilakukan bekas kombatan. Namun, katanya, para 
pelaku berada di luar jalur pengawasan Komisi Peralihan Aceh. "Karena itu, kami 
mengembalikan semua kasus kriminal ke polisi." Menurut Ibrahim, kasus 
penculikan jangan dikaitkan dengan kesepakatan damai. "Itu semua motifnya murni 
kriminal." 

Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar menilai tingkat kriminalitas masih di bawah 
ambang batas daerah lainnya. "Tidak ada lagi kekerasan, baik konflik politik 
maupun kontak senjata, karena sudah ada perdamaian," kata dia. Namun ia 
membenarkan bahwa salah satu penyebab munculnya aksi kriminal adalah faktor 
ekonomi. 

Karena itu, mulai tahun ini, menurut Nazar, pemerintah mulai merealisasi 
pembukaan seratus ribu lahan perkebunan sawit dan cokelat. "Tiap keluarga akan 
mendapat satu-dua hektare kebun cokelat," kata dia. Lahan ini terletak di 
bagian timur, barat, dan selatan. "Tahap land clearing sudah mulai," kata dia. 

Menurut penasihat Badan Reintegrasi Damai Aceh, Azwar Abubakar, 
pasca-perjanjian Helsinki lembaganya telah membagikan dana tunai dan 
memperbaiki rumah masyarakat umum dan eks kombatan. Jumlahnya tak kurang dari 
Rp 1 triliun. "Tapi ada yang merasa cukup dan ada juga yang merasa tidak," kata 
dia. 

Menurut Ahmad Farhan Hamid dan Nasir Djamil, dua wakil rakyat dari Aceh, polisi 
perlu lebih aktif menekan peredaran senjata. Tapi caranya diharapkan tidak 
konfrontatif. "Misalnya dengan memberikan imbalan kepada pemilik senjata," kata 
Farhan. 

Nasir menyarankan agar polisi menggelar razia secara berkala, terutama di 
daerah yang kerap terjadi aksi penculikan seperti di Bireuen, Aceh Utara, dan 
Aceh Timur. Ia menduga kelompok pengacau ini bergerak sporadis dan jumlahnya 
tak kurang dari seratus orang. 

Budi Riza (Jakarta), Adi Warsidi, Maimun Saleh (Banda Aceh), Imran M.A. (Lhok 
Seumawe)

Kirim email ke