From: Hsndwsp Tampok Donja <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [email protected]
Sent: Wednesday, October 29, 2008 9:01:45 PM
Subject: [PEMBEBASAN PAPUA] ALLAH MENGHARAPKAN DAKWAH YANG HAQ DARI MULUT
MANUSIA TAPI KEBANYAKAN MEREKA BERDAKWAH YG BATHIL MACAM NASSIR JAMIL
CS DI SENAYAN JAWA.
Bismillaahirrahmaan irrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
BASYAR-BASYAR DPR DARI PDI-P, GOLKAR, PKB PLUS TNI MENAFIKAN TUNTUTAN RAKYAT
ACHEH
Muhammad Al Qubra
Acheh - Sumatra.
BASYAR-BASYAR YANG NONGKRONG DI DPR TEGA MENIKMATI KESENANGAN DI BAWAH
PENDERITAAN RAKYAT JELATA KHUSUSNYA DI ACHEH - SUMATRA
DAN INDONESIA.
DPR itu katanya suatu
lembaga terhormat, namun kenyataannya mereka ini tidak cukup bukti
untuk dikatakan "Terhormat". Mereka tidak menggunakan mata hati untuk
menghadapi suatu masalah, sebaliknya mereka justru menggunakan nafsu
busuk untuk menghadapi persoalan yang sangat signifikan seperti
persoalan Acheh - Sumatra. Dengan
kata lain mereka senantiasa mengikuti langkah-langkah shaithan. Untuk
lebih jelas ada baiknya saya ulangi lagi info dari Allah buat
orang-orang semacam itu:
"Dan
Sesungguhnya kami jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan dari
golongan jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak
dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, dan mereka mempunyai mata,
tetapi tidak dipergunakan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah,
dan mereka mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar
ayat-ayat Allah.Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih
sesat lagi. Mereka itulah orang yang lalai" (Q.S. Al-A'raf ayat : 179)
Memang mereka itu
(DPR) terdiri dari orang-orang pintar, namun mereka tidak teguh iman.
Mereka berada dalam Bahtera Munafiq dan dhalim. Mereka mempunyai hati,
tetapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah. Mereka
berkomat-kamit dalam setiap kerjanya di gedung yang bersimbol
"perempuan terlentang" hasil imajinasi yang keluar dari otak Sukarno
Penipu licik itu, hanya untuk kepentingan perutnya dan perut
keluarganya semata-mata. Mereka tidak mampu berfikir tentang
penderitaan orang lain. Jangankan untuk penderitaan Bangsa Acheh -
Sumatra, untuk kepentingan orang-orang yang diwakilinya sendiri
takpernah mereka pikiri.
Bagaimana mungkin
mereka dinamakan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kalau itu rakyat Jelata
yang diwakilinya tak pernah mereka bela ketika Rumah-rumah mereka
digusur "tangan jahil" penguasa alias Kontraktor/Pemboron g yang sering
dipelintirkan rakyat jelata sebagai "Pembohong", disebabkan
kebohongannya dalam proses pembangunan.
Bagaimana mungkin
mereka dinamakan wakil rakyat kalau rakyat jelata senantiasa hidup
dalam keadaan morat-marit sejak jaman Sukarno sampai Yudhoyono,
sementara anggota DPR memiliki Rumah Mewah, kenderaan yang Luck serta
perutnya yang buncit. Kebanyakan rakyat jelata tidak cukup makan dan
bahkan sebahagian dari mereka yang tinggal di bawah titi - titi kota
metropolitan tidak memiliki tempat tinggal yang layak sebagai manusia.
Bagaimana mungkin
mereka dinamakan wakil rakyat (DPR) kalau tega melihat orang-orang yang
diwakilinya dibantai serigala-serigala haus darah (TNI/POLRI)
sebagaimana yang kita saksikan hampir diseluruh kepulauan Melanesia itu
termasuk "Peristiwa Tanjung Periuk".
Disebabkah mayoritas
rakyat jelata hidup dibawah garis kemiskinan, mereka begitu cepat
menerima tawaran PKI berupa cangkul untuk mengolah kebun dan beberapa
kantong beras untuk sekedar dapat mengganjalkan perut
yang senantiasa "keroncongan" , namun begitu mudah penguasa (tangan
Jahil Suharto) menuduhnya sebagai PKI untuk dihabisi, sementara wakil
mereka (DPR) diam seribu satu bahasa. Bahkan sampai runtuhnya
Singgasana Suharto tak pernah di persoalkan oleh gerombolan yang
senantiasa nongkrong di gedung yang bersimbulkan perempuan setengah
telanjang itu, kecuali, oleh Umar Said (non DPR).
Demikiankah sepak terjang lembaga tertinggi negara itu ?Tegakah mereka
menikmati kesenangan hidup diatas penderitaan rakyat jelata ?
Bukankah mayoritas
mereka menamakan diri sebagai orang Islam. Tidakkah mereka lebih tepat
dikatakan munafiq ? Tidak malukah mereka menggadaikan maruahnya demi
kurikulum perut dan nafsu shaithannya?
Demikianlah peluruku
kuarahkan ke kerumunan orang-orang yang nongkrong di gedung mewah itu
kali ini untuk meluluhlantakkan "SANDIWARA" mereka.
Billahi fi sabililhaq
Muhammad Al Qubra
Acheh - Sumatra
----------