http://www.antara.co.id/arc/2008/10/30/uluran-palang-merah-jerman-untuk-aceh/

30/10/08 20:58

Uluran Palang Merah Jerman Untuk Aceh


Oleh Mohammad Anthoni


Ny. Fatimah beserta suami dan enam anaknya bahagia karena telah menempati rumah 
baru tipe 45 yang dibangun Palang Merah Jerman (GRC), tak lama setelah tsunami 
melanda Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD).

Rumahnya berada satu kompleks dengan puluhan rumah lain yang bercat warna-warni 
di Desa Krueng Raya, Pulau Weh.

Selain warna-warni cat rumah para nelayan, hal lain yang mencolok adalah 
parabola untuk menangkap siaran televisi di setiap rumah warga dan tanaman 
bougenvile yang sedang berbunga.

"Kami sangat senang tinggal di rumah ini, yang jauh lebih baik daripada rumah 
yang lama," kata Ny. Fatimah.

Ia dan para tetangganya menyampaikan rasa terima kasih atas penyediaan rumah 
tersebut yang bisa mencapai Rp100 juta per unit sehingga tak pusing memikirkan 
bagaimana memperoleh rumah sebagai pengganti rumah lamanya.

Setelah tsunami 26 Desember 2004, para nelayan di desa itu tinggal di rumah 
mereka yang rusak berat dan hidup apa adanya sampai datang bantuan untuk pindah 
ke rumah-rumah yang baru.

Hanya dua orang tewas saat bencana itu dan lainnya berhasil menyelamatkan diri 
ke bukit di sekitarnya.

Kompleks perumahan itu sendiri berada di sebuah bukit sekitar 200 meter dari 
rumah para nelayan yang luluh lantak dihantam tsunami.

Ir. Azhari, seorang konsultan yang direkrut GRC, mengatakan penduduk setempat 
termasuk nelayan yang rumah-rumahnya rusak dihantam tsunami diikutsertakan 
dalam perencanaan pembangunan rumah.

"GRC membangun rumah tipe 45 yang tahan gempa dan pemiliknya dapat membuat 
rumah berlantai dua," ujar pemuda lulusan Fakultas Teknik Universitas Syiah 
Kuala itu.

GTZ yang merupakan lembaga teknik Jerman turut juga merancang sanitasi di 
proyek tersebut.

Berita tentang tsunami sampai ke Jerman dan GRC merupakan satu di antara 
puluhan organisasi palang merah dan bulan sabit merah yang segera datang ke 
Aceh membawa misi kemanusiaan.

Empat tahun sudah GRC hadir di provinsi itu dan mengucurkan tak sedikit dana 
untuk proyek rekonstruksi pascatsunami. Proyek rekonstruksi infrastrukturnya 
dititikberatkan di berbagai kawasan di Banda Aceh, Teunom, Calang, Pulau Weh 
dan Aceh Besar yang termasuk sangat parah dilanda bencana itu.

Tercatat sebanyak 1.491 unit rumah, 32 sekolah dan tujuh Puskemas telah 
dibangun. Selain proyek fisik tersebut, masih ada pelatihan-pelatihan 
ketrampilan, pembangunan kapasitas dan pemeliharaan lingkungan hidup disediakan.

"Kami sudah menghabiskan dana sebesar 40 juta euro untuk proyek rekonstruksi 
tersebut," kata Dr. Johannes Richert, ketua Bantuan Nasional dan Layanan 
Internasional GRC, yang mengunjungi sejumlah proyek rekonstruksi itu baru-baru 
ini.

GRC berhasil mengumpulkan dana dari masyarakat Jerman senilai 129 juta euro 
beberapa hari setelah tsunami melanda negara-negara di kawasan Samudera Hindia. 
Bantuan GRC diberikan juga kepada Sri Lanka, Thailand, Myanmar, Maladewa dan 
Bangladesh sesuai dengan tingkat kerusakan.

Tapi, GRC memberi bantuan jauh lebih besar kepada Indonesia untuk proyek 
rekonstruksi di Aceh daripada negara-negara tersebut.

Bersama dengan Palang Merah Indonesia (PMI), Badan Rehabilitasi dan 
Rekonstruksi (BRR) Aceh dan Nias, dan pemerintah provinsi dan daerah setempat, 
GRC dengan personilnya bekerja keras untuk merealisasikan misi kemanusiaannya 
yang sebagian besar telah rampung dan berakhir pada Desember nanti.

BRR juga mengkoordinasi bantuan dari lembaga-lembaga donor dalam dan luar 
negeri dengan total anggaran 3,8 miliar dolar atau sekitar Rp34 triliun.

Dengan RAN (Rekonstruksi Aceh-Nias) Database inilah 552 lembaga pelaksana dan 
donor yang berkiprah di Aceh dan Nias memberi pertanggungjawaban kepada publik.

Sebagaimana BRR, GRC juga bertanggung jawab atas penggunaan dana kepada 
masyarakat khususnya warga Jerman sebagai konstituennya. "Dana sumbangan yang 
diperoleh GRC untuk misi kemanusiaan diaudit," kata Dr. Richert.

Menjelang akhir kiprahnya, GRC pun mengundang wartawan dari media Jerman 
seperti kantor berita DPA, majalah Focus, stasiun radio Deutsche Welle dan ARD 
untuk melihat dari dekat proyek-proyek prasarana tersebut.

Mereka juga dapat dikatakan sebagai wakil publik Jerman yang melaporkan 
langsung sampai sejauh mana bantuan sampai ke tangan yang berhak seperti Ny. 
Fatimah dan para korban tsunami lainnya.

"Tak tahu apa jadinya seandainya tak ada bantuan untuk kami. Kami berharap 
bantuan ini dapat menambah semangat menyongsong masa depan kami dan anak-anak," 
kata Ny. Fatimah, yang kesehariannya berkerja memecah batu-batu untuk bahan 
konstruksi rumah dan jalan. 

Attachment: show.php?f=Zm90by1ydW1haGFjZWguanBn
Description: Binary data

Kirim email ke