Kalau ditanya, Islamkah pendidikan di Acheh? Jawabannya pasti, tidak. Muhammad Yusran Hadi, Lc MA dapat kita buat prediksi diawal-awal lagi bahwa dia itu kosong dari Ideology Islam biarpun memiliki titel yang keren tersebut. Ini membuktikan bahwa Ideology yang haq itu tidak kita temui dalam system Taghut manapun, kecuali dalam "jubah Abu Dzar Ghifari". Kekosongan Yusran Hadi dari ideology yang haq, dapat dilacak ketika dia menulis:
"Aceh, yang menerapkan syariat Islam, ternyata muatan kurikulum pendidikannya belum mencerminkan nilai-nilai syariat itu . . . . . . . . . . . . . . . . . . ." Kita sudah berkali - kali menulis bahwa di Acheh tidak ada Syariat Islam. Kalau di Acheh digembargemburkan Syariat Islam, adalah propokasi pihak coloni Indonesia yang bertujuan agar pihak luar negeri tidak mendukung perjuangan Acheh untuk melepaskan diri dari cengkraman "gurita colonialis". Ini jugalah yang membuat pihak GAM tidak mau menggunakan Islam sebagai platform partainya. Dalam hal ini memang serba salah. Sebagian orang Acheh menuduh GAM tidak Islami. Hemat saya Islam itu bukan dipartainya tapi dalam system negara. Justru itu kita musti melawan colonialis dulu, baru aman untuk kita terapkan Syariat Islam murni didalamnya. Ketika kita berbicara syariat Islam setelah meraih kemerdekaaan, poertama sekali bukan hukum Islam yang kita tegakkan tapi finansial Rakyatnya tanpa pandang bulu, apakah rakyat itu beragama Islam, Kristian, Hindu, budha dan sebagaainya. Apabila kita menerapkan hukum yang diturunkan Allah, sementara rakyat Acheh masih morat-marit ekonominya, justru hukum tersebut berakibat fatal buat rakyat jelata. Akibatnya orang non Muslim akan salah persepsi terhadap hukum yang pasti benar tersebut. Islam itu rahmatan lil.alamin tapi kalau kita tidak mengenal Islam yang sesungguhnya atau tidak memahami bagaimana menjalankan Islam dalam bernegara, bermasyarakat dan berkeluaarga, yang kita peroleh bukan rahmat tapi justru malapetaka. Siapakah yang salah? Pastinyaa orang yang tidak memahami hakikat Islamlam tapi terlanjur menjadi penguasa.. Mengapa mereka tidak memahami hakikat Islam sementara mereka mengaku diri sebagai orang Islam dan berpendidikan tinggi lagi macam Yusran Hadi ini? Jawabannya adalah dia itu tidak pernah menimba ilmu dalam "Jubah" para keluarga Rasul, minimal dalam "jubah" Abu Dzar Ghifari tapi semata-mata dia itu menimba ilmu dari dapur "yazid bin Muawiyah" yang sekedar mengaku Islam tapi hipokrit, hingga dengan kedok Islam dapat menghancurkan Islam yang sesungguhnya. Inilah sebabnya kita sukar menghalau kolonialis dari Acheh - Sumatra. Berdasarkan keterangan saya ini sesungguhnya Yusran Hadi cs hendak meninabobokkan rakyat jelata Acheh dengan pencetusan pendidikan yang Islami di Acheh. Dimanakah kesalahan fatal Yusran Hadi? Dia belum mampu memahami hakikat Islam dan Systemnya. Tanpa system Islam adalah omongkosong kita berbicara pendidikan Islam. Berbicara system Islam justru colonialis dulu yang harus hengkang dari tanah rencong. Selagi kolonialis masih mencengkram tanah Rencong, bicara Islam di Acheh adalah omongkosong. Tidak ada orang Acheh yang sadar dapat ditipu kecuali orang tersebut bukan orang Acheh tapi "sontoloyo-sontoloyo". Way out Nah bagaimana jalan keluarnya agar yang kita harapkan benar-benar pendidikan yang Islami sementara realitanya Tanah Rencong masih dalam cengkeraman colonialis? Berdaya upayalah membuat pendidikan "dibawah tanah". Kalau anda berkaok-kaok didepan umum macam Yusran Hadi. Itu namanya hanya propokasi Islam, bukan Islam murni tapi Islam yang berakomulasi dengan paham Pancasila/Puncasilap Indonesia. Sekalilagi, apa yang dapat anda lakukan dengan kondisi Acheh seperti ini? Terapkanlah pendidikan "dibawah tanah", dimana - mana diseluruh Acheh, kalau memang anda benar - benar orang Acheh Islam sejati. Dengan cara demikianlah kita meraih kunci Surga bukan dengan sekedar ibadah ritual. Seluruh Khatib di Acheh - Sumatra tidak berani memberitahukan para jamaah Jum'at tentang kezaliman penguasa Indonesia, tentara dan polisi, kecuali mereka hanya berbicara surga - neraka. sementara para jamaah. terdiri dari para kolonialis dan korbannya sama-sama meratakan dahi ditikar musalla. Itukah mesjid yang Islami atau mesjid Dhirar, dimana Rasulullah dulu mendapat perintah Allah untuk membakarnya. Sebab itu bukan pelaksanaan Ibadah kepada Allah tapi "sandiwara" yang berkedok Islami. Memang pahit tapi itulah yang dapat mengobati "penyakit malarianya" orang-orang hipokrit Indonesia. Sementara orang Acheh tidak begitu sukar untuk mengobatinya sebagaimana orang West Papua. Billahi fi sabililhaq (alasytar) ________________________________ From: Sunny <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Monday, November 24, 2008 7:36:49 AM Subject: «PPDi» Islamikah Pendidikan di Aceh http://www.serambin ews.com/old/ index.php? aksi=bacaopini&opinid=1907 22/11/2008 08.47 WIB Islamikah Pendidikan di Aceh penulis : Muhammad Yusran Hadi, Lc, MA PENDIDIKAN membuat manusia cerdas dan maju. Dengan pendidikan memperangaruhi watak suatu bangsa sehingga bangsa itu memiliki peradaban. Maka perlu konsep pendidikan yang baik dan benar agar tidak terjadinya ketimpangan dan problematika dalam kehidupan masyarakat. Dalam konteks Aceh sebagai daerah “Syariat Islam”, apakah system pendidikannya sudah Islami; apakah sudah dilaksanakan dalam praktik sesuai yang diamanahkan Qanun Pendidikan Aceh? Harus diakui, banyak pengelola pendidikan itu belum jelas tentang konsep dan bentuk pendidikan Islami. Gilirannya, guru atau tenagara pengajar juga tidak memiliki petunjuk teknis bagaimana menerapkan pembelajaran yang bernuansa Syariat (Islam).. Secara konsep, bahwa pendidikan Islami adalah berbasis nilai-nilai Islam, komprehensif, integratif dan holistic yang diterapkan dalam proses penyelenggaraannya. Agaknya ini yang mengilhami Majelis Pendidikan Daerah (MPD) NAD mengadakan seminar Internasional system pendidikan Islami (9-12 November 2008) lalu di Banda Aceh.Intinya untuk mendapatkan solusi aplikatif bagi kebijabakan dan penerapan sistem pendidikan Islami di Aceh. Fenomena Aceh Saat ini, mutu pendidikan kita (Indonesia) menempati posisi terendah di Asia. Ada beberapa faktor penyebab, baik dari segi muatan isi pendidikan (kurikulum), pendidik, maupun moralitas. Di antaranya, sistem pendidikan nasional adalah warisan penjajah Belanda. Itu sebabnya proses pendidikan mengalami kegagalan dalam misi mencerdaskan bangsa. Kecuali itu, pergantian kurikulum setiap tahun sangat merugikan rakyat, karena cenderung menjadi momen tradisi buruk ini menjadi “proyek” bagi instansi/golongan tertentu. Termasuk di Aceh, yang menjadikan dunia pendidikan sebagai obyek bagi kalangan (stake kholder) dengan program-program yang samasekali tidak menyentuk aspek mutu pendidikan itu sendiri. Aceh, yang menerapkan syariat Islam, ternyata muatan kurikulum pendidikannya belum mencerminkan nilai-nilai syariat itu. Misal, kurikulum SD, SMP, SMA bahkan perguruan tinggi umum, untuk bahan ajar Aqidah, Fikih, Alquran dan Akhlak tidak mendapat perhatian seperti halnya pelajaran umum. Pelajaran ini belum diajarkan secara komprehensif dan berkesinambungan sehingga berdampak kepada kualitas pendidikan dan sosial peserta didik dan masyarakat Aceh, umumnya. Yang diajarkan hanya hal-hal yang tidak urgen dan bermanfaat. Ambil contoh, pendidikan sekolah kita belum mampu memberi pemahaman tentang moral bagi anak didik, sehingga masih ditemukan bagaimana kenakalan terjadi bahkan tindak kejahatan seperti tawuran antarpelajar/ mahasiswa, pencurian, khalwat/pacaran, mesum/zina, mengkomsumsi ganja, merokok dan sebagainya . Ini indikator kalau pengajaran nilai Islami mengalami kegagalan. Kondisi ini diperparah pula dengan akhlak pendidik yang sangat memprihatinkan. Sebagai pendidik, seharusnya guru/dosen menjadi uswah (teladan) bagi siswa/mahasiswanya, bukan sebaliknya. Selama ini ada "oknum" guru/dosen hanya mengajar dan makan gaji, bukan mendidik dan membimbing mereka. Tidak ada rasa amanah terhadap kewajibannya sebagai pendidik. Merekapun tidak memberikan qudwah (panutan). Sehingga memberi kesan tidak edukatif bagi murid/mahasiswanya. Padahal kewajiban guru/dosen bukan hanya mengajar, akan tetapu membentuk kepribadian anak didikannya dengan akhlak yang mulia. Kecuali itu, nilai-nilai budaya Aceh (yang Islami) sudah mengalami kelunturan bahkan nyaris punah. Misal, memberi ruang bagi munculnya tindakan khalwat, baik dalam proses belajar maupun dalam pergaulan mereka di luar itu. Pergi dan pulang kampus barengan antara laki dan perempuan yang bukan muhrim sudah menjadi trend, bahkan tanpa rasa malu si perempuan berboncengan motor memeluk si laki. Pacaran dan pergaulan bebas mewarnai dan menodai lingkungan pendidikan kita, atau tentang cara berpakaian yang tidak menganut norma-norma agama.. Ironisnya, pihak berwenang seperti kepala sekolah/Rektor dan para guru/dosen diam saja, hanya menjadi penonton tanpa berusaha amal ma‘ruf nahi munkar. Pembiaran non budaya Islami, telah mengakibatkan tatanan kehidupan masyarakat menjadi bobrok.. Bagaimana pendidikan di negeri luar? Sangat beda dengan di negeri kita. Nilai-nilai moral begitu terasa dalam sistem pendidikan mereka. Agaknya, ini patut kita becermin dan mengadopsi sitem pendidikan Negara luar (yang Islami).. Sebutlah di antaranya Universitas al-Azhar, atau di Malaysia, saya melihat hal menarik yang patut kita contoh dalam menerapkan pendidikan Islami di Aceh. Di antaranya persyaratan utama untuk masuk universitas tersebut yaitu mampu membaca Alquran dengan baik dan bertajwid, di samping harus lulus standar ujian bahasa Arab atau Toafl. Itu juga ditunjukkan sikap para pengajarnya yang jujur, ikhlas dan amanah. Mereka mengajarkan ilmu kepada para mahasiswa dengan ikhlas dan sungguh-sungguh. Memulai belajar dengan basmallah atau tahmid (pujian kepada Allah), dan menutupnya dengan hamdallah atau doa. Di sela-sela pengajaran ada taushiah (nasehat), dan mereka benar-benar menjadi uswah . Pembentukan akhlak dan budaya Islami di lingkungan pendidikan mereka menjadi prioritas para guru dan dosen. Demikian pula adanya sejumlah aturan, misal, aturan pakaian yang sopan dan syar‘i., yaitu pakaian yang harus menutup aurat, tidak tipis (transparan) , tidak membentuk lekuk-lekuk tubuh (ketat) dan tidak menyerupai pakaian lawan jenis, juga tidak merokok di kampus,larangan couple (pacaran atau khalwat), menyontek, pornografi dan pornoaksi, adanya pemisahan antara siswa/mahasiswa laki-laki dan perempuan, baik di kelas, kampus maupun asrama. Begitu juga dengan sarana dan fasilitas olah raga, internet dan entertainment (hiburan). Kurikulum yang berkualitas, termasuk kewajiban menghafal Alquran.. Ada program tambahan yaitu tahfiz. Maka tidak heran seorang sarjana kedokteran atau tehnik sipil mampu menghafal Alquran. Islamisasi knowledge (ilmu pengetahuan) merupakan bagian Kita berharap kepada Pemerintah Aceh dan instansi terkait lainnya (dalam hal ini Depag, Dinas Pendidikan, dan MPD) dapat merumuskan konsep pendidikan Islami dan menerapkannya dalam pendidikan di Aceh. Friman Allah (Q.S, Ar Ra‘ad); “?Se?sungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah diri mereka sendiri”. Wallahualam bisshawab. Penulis adalah dosen IAIN Ar Raniry, B.Aceh
