http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2008/12/01/Nusa/krn.20081201.149699.id.html
Edisi 01 Desember 2008 Walhi Peringatkan Kerusakan Hutan Aceh BANDA ACEH -- Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Nanggroe Aceh Darussalam meminta semua pihak tidak menambah kerusakan hutan Aceh. Bila tidak diindahkan, dikhawatirkan banjir melanda Aceh seperti yang terjadi dalam sepekan ini. "Bila tidak memperbaiki kebijakan hutannya, selamanya terjadi banjir dan longsor bila musim hujan," kata Direktur Eksekutif Walhi Aceh Bambang Antariksa kepada Tempo, Sabtu lalu. Bambang menilai pembukaan hutan untuk perkebunan serta pembukaan pertambangan di lokasi hutan tak ubahnya dengan pembalakan liar yang menjadi momok di Aceh. "Hutan di wilayah barat, selatan, dan tenggara Aceh akan bertambah rusak dan gundul," ujar Bambang. Menurut Bambang, sejak 2000 sampai 2006, hutan di Aceh berkurang 1,1 juta hektare. Angka itu diambil dari data area hutan Aceh 2000, sekitar 3,5 juta hektare (sumber SK Menteri Kehutanan). Adapun total luas hutan Aceh pada 2006 berdasarkan pemetaan citra satelit sekitar 2,3 juta hektare. Artinya, kata dia, setiap tahun hutan Aceh hilang 193 ribu hektare. "Sudah saatnya pemerintah Aceh memikirkan solusi agar bencana banjir tidak menjadi langganan setiap tahun," ujar Bambang. Wakil Gubernur Muhammad Nazar mengatakan pihaknya sedang membenahi wilayah untuk meminimalisasi banjir. "Banjir yang terjadi saat ini di Aceh adalah imbas dari illegal logging dan bebasnya HPH di Aceh pada masa lalu," ujarnya. Dari Palembang, Sumatera Selatan, dilaporkan hujan deras kemarin malam membuat beberapa titik kebanjiran, terutama Kalidoni, Bukit Sangkal, Pakjo, Yuka, Sekip, Gresik. "Penyebabnya, air Sungai Bendung meluap," kata Ibnu, warga Sekip. Banjir juga merendam 11 desa di tiga kecamatan di Buol, Sulawesi Tengah. Ribuan warga terpaksa mengungsi ke dataran tinggi meninggalkan rumah dan harta benda yang terendam. Adapun di Samarinda, Kalimantan Timur, kemarin air mulai surut. ADI WARSIDI | ARIF ARDIANSYAH | M DARLIS | FIRMAN HIDAYA
