Jawa Pos Jum'at, 05 Desember 2008 ]
Milad GAM, Bendera Bulan Sabit Berkibar PEUREULAK - Kekhawatiran akan adanya pengibaran bendera GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dalam peringatan ulang tahun (milad) ke-32 GAM pada 4 Desember kemarin menjadi kenyataan. Di tiang bendera SD Negeri Seunebok Pidie, Peureulak, Aceh Timur, sempat berkibar bendera tersebut selama beberapa menit. Aparat Polres Aceh Timur akhirnya menurunkan bendera itu sekitar pukul 06.00. "Tidak tahu persis siapa pelakunya, tapi dugaan kita pelakunya orang tidak waras alias gila," tegas Kapolres Aceh Timur AKBP Drs Ridwan Usman. Menurut dia, insiden itu merupakan ulangan peristiwa yang sama setahun lalu. Saat itu tepat pada milad GAM juga ada pengibaran bendera berlambang bulan sabit di lokasi yang sama. Setelah diselidiki, ujar Ridwan Usman, diperoleh informasi pelakunya adalah seorang warga setempat. Pihaknya langsung menciduk pelaku untuk dimintai keterangan seputar tindakannya mengibarkan bendera GAM tersebut. "Ternyata pelakunya orang yang tidak waras alias stres," ujar Kapolres. Karena terbukti memang tidak waras, sambung Kapolres, akhirnya pelaku dikembalikan ke keluarganya. "Bagaimana kita mau periksa dia, pelaku tidak cukup syarat untuk diperiksa," ujar Ridwan. Dia menambahkan, memang kadang-kadang dia suka bicara terkait konflik Aceh dan tentang perdamaian, tapi bicaranya ngelantur tidak jelas ujung pangkalnya. Secara umum tidak ada aktivitas apa pun yang mengarah pada perayaan milad GAM kemarin. Dia menilai proses reintegrasi Aceh sudah mulai berjalan dengan baik. "Kita berharap semua kondisi Aceh terus membaik. Ini supaya masyarakat Aceh bisa mengejar ketertinggalan dengan wilayah-wilayah lain di Indoensia," imbuh Ridwan. Jauh-jauh hari Kapolda NAD (Nanggroe Aceh Darusalam) Irjen Pol Drs Rismawan MM menegaskan, tidak ada istilah peringatan GAM 4 Desember. "Jika itu tetap dilakukan, jelas melanggar kesepakatan damai dan diusut tuntas. Apalagi mengibarkan bendera GAM, jelas itu dinilai makar," tegas Kapolda. Dia juga menilai tidak ada istilah doa bersama pada tanggal tersebut. ''Kalau berdoa mengapa mesti 4 Desember. Kan banyak hari dan waktu lain yang tentu lebih baik untuk melakukan doa," tegas Kapolda. Penegasan Kapolda tersebut mengacu pada pembacaan surat Yasin, tahlil, dan doa bersama yang diadakan KPA (Komite Pemulihan Aceh) Langsa di Sekretariat KPA Langsa di Gampong Sungai Pauh, Langsa Barat, kemarin. Ratusan mantan kombatan GAM dan masyarakat larut dalam doa memanjatkan permohonan demi keselamatan perdamaian yang telah diraih. "Juga berdoa bagi kebahagiaan arwah para syuhada pejuang GAM yang telah gugur dalam perjuangan masa lalu, karena atas jasa merekalah hingga Aceh hari ini meraih kemenangan dalam damai," ungkap Ketua KPA Langsa Usman Abdullah. (dai/agt/ris/jpnn/ruk)
