http://portalaceh.com/content/view/14/31/

      Aceh Hadapi Tujuh Tantangan Demokrasi      
     
  
                  By Junaidi | The Globe Journal, on 03-12-2008 22:49  
                 
                  Views : 25
                 
                  Favoured : 3
                 
                  Published in : Tulisan, Politik
                 

            Banda Aceh - Untuk mewujudkan demokrasi dan merawat perdamaian, 
Aceh harus menangani paling kurang tujuh tantangan dan seandainya hal tersebut 
terus dibiarkan maka bisa mengancam demokrasi dan perdamaian tersebut. 

            Demikian dikemukakan salah seorang peneliti dari University of Oslo 
Norwegia, Professor Olle Törnquist, dalam pemaparan hasil penelitiannya 
mengenai proses demokratisasi di Aceh. "Tantangan ini meliputi sistem 
pemerintahan, keberadaan partai local, calon independen, serta hubungan 
simbiosis antara pengusaha, politisi dan penegak hukum," tegasnya di Banda 
Aceh, Jumat (28/11).

            Menurutnya, ketujuh tantangan tersebut bisa mengancam demokrasi di 
Aceh karena berpotensi menyuburkan kolusi, korupsi dan nepotisme. Parahnya, 
perilaku yang tidak demokratis, seperti suburnya pola-pola patronase, pemberian 
keistimewaan terhadap kelompok tertentu malah memperoleh pemakluman. Alasannya, 
saat ini Aceh masih mengalami  masa transisi. Sayangnya, belum ada pengertian 
yang pas mengenai masa transisi ataupun periode waktunya. "Seakan-akan masa 
transisi ini tak memiliki kerangka acuan yang jelas. Misalnya, berapa lama 
waktunya, dan besarnya toleransi yang bisa diberikan," katanya.

            Warga Norwegia ini menambahkan, proses demokratisasi selayaknya 
terintegrasi dengan pembangunan ekonomi, agar pembangunan mencerminkan 
keinginan rakyat. "Demokrasi itu bukan untuk menciptakan lapangan kerja, tapi 
untuk mencapai kesepakatan mengenai cara-cara mencapai kepentingan publik, 
termasuk di antaranya membangun ekonomi," ungkapnya. Contohnya, kata dia, 
meningkatkan peran publik untuk melakukan audit terhadap anggaran. "Kalau perlu 
audit semacam ini bisa dibakukan," katanya.

            Peneliti senior dari Oslo ini menyatakan ada kemiripan antara Aceh 
dan Srilanka yang sama-sama dilanda tsunami dan konflik bersenjata. Namun, 
tsunami di Aceh mengantarkan perdamaian, yang kemudian membuka kesempatan 
terbangunnya demokrasi. Hal sebaliknya justru terjadi di Srilanka.

            Olle mengingatkan agar Aceh tidak jatuh dalam pola yang sama 
seperti yang lazim terjadi di daerah pasca konflik. Pola tersebut adalah 
menitikberatkan pembangunan ekonomi yang berlebihan, dan hanya akan 
menguntungkan kelompok tertentu-tapi, mengabaikan penguatan demokrasi, dan 
peningkatan partisipasi publik.

            Pemaparan ini dimaksudkan untuk meminta saran dan respon dari 
peserta terhadap kesimpulan yang telah diperolehnya. Peserta menanggapi dengan 
beragam. Di antaranya, Walikota Sabang Munawar Liza yang mengemukakan bahwa ada 
tantangan dalam relasi antara eksekutif dan legislatif. "Hubungan ini juga 
merupakan faktor yg menyebabkan proses demokrasi itu agak tersendat," katanya. 
Dia juga menambahkan, masih adanya tarik ulur antara pemerintah pusat Jakarta 
dan pemerintah Aceh, terutama dalam masalah kebijakan keuangan dan ekonomi.  

            Hasil riset yang dipaparkan ini merupakan tahap terakhir dari 
rangkaian penelitian yang telah dilakukan Professor Olle selama dua tahun. Dia 
telah melakukan wawancara dengan ratusan orang, dan untuk tahap terakhir ini, 
diperlukan tanggapan dari aktor-aktor kunci dalam ranah politik Aceh. "Kami 
menyeleksi siapa yang akan kami wawancara berdasarkan kemampuan mereka untuk 
memberikan tanggapan yang kritis atas jawaban-jawaban tersebut, serta bercermin 
dari pengalamannya sendiri," tuturnya.   

            Dalam penelitian ini, Professor Olle ditopang oleh Aceh-based 
Research Team, serta  didukung oleh Friedrich Ebert Stiftung. Dalam seminar 
setengah hari kemarin dibuka oleh Direktur Friedrich Ebert Stiftung (FES) 
Marius Henig-Müller. Mereka  yang hadir di antaranya adalah Ketua Badan 
Reintegrasi Aceh (BRA) M. Nur Djuli, Walikota Sabang Munawar Liza Zainal, 
akademik Saifuddin Bantansyam, Teuku Kemal Fasyah, Ketua Partai Aceh Aman 
Seujahtera (PAAS) Ghazali Abas, aktivis perempuan Asiah dan lain-lan.[002]

            Last update : 05-12-2008 17:47
           
     

<<printButton.png>>

<<emailButton.png>>

<<new.gif>>

Kirim email ke