10/12/2008 09:35 WIB

Musibah Terjadi Lagi di Mina




MINA - Puncak ibadah haji tahun ini kembali diwarnai musibah. Menurut kabar 
yang diterima Serambi pada pukul 00.00 WIB tadi malam, ada 20 jemaah haji 
meninggal akibat berdesak-desakan dan terinjak-injak di jalur antara Harratul 
Lisan dan Almua‘sim di terowongan Mina.

Informasi awal tentang adanya musibah di terowongan Mina diterima sekitar pukul 
21.00 WIB atau pukul 17.00 Waktu Arab Saudi (WAS) dari wartawan Serambi, H 
Abdullah Gani di Mekkah. Laporan awal melalui SMS menyebutkan, ada sekitar 20 
orang jemaah wafat, puluhan pingsan dan kritis. “Saat ini suasananya sangat 
panik dan sulit mendapat informasi karena kendala bahasa,” tulis laporan itu. 
Juga dijelaskan, lokasi kejadian berada sekitar dua kilometer dari Jamarat. 
Satu jam sebelum kejadian, rombongan jemaah Aceh (Kloter 9) pulang dari 
melontar. Listrik padam di jalur masuk dan keluar terowongan. 

Sekitar pukul 00.00 WIB tadi malam, Serambi berhasil menghubungi H Ziauddin SAg 
di Tanah Suci. Menurut Ziauddin, musibah itu diperkirakan terjadi menjelang 
magrib, atau sekitar pukul 18.00 WAS. “Insiden itu terjadi di jalur masuk dan 
waktu itu saya sedang berada di jalur keluar. Saya bisa melihat jemaah yang 
pingsan dan saya perkirakan ada yang meninggal. Tapi jangan tanyakan jumlahnya 
berapa kepada saya,” kata Ziauddin. “Saya yakin tidak ada jemaah asal Aceh 
dalam rombongan itu,” lanjutnya. 

Tersesat dan wafat 

Abdullah Gani, dari Mina, tadi malam juga melaporkan, akibat padatnya jemaah 
dan banyaknya ruas jalan di kawasan itu, sehingga banyak jemaah haji dari 
Indonesia, termasuk asal Aceh, yang tersesat. Mereka umumnya tersesat di 
kawasan Muaissim, tepatnya di mulut terowongan di seputar lokasi pelemparan 
jumrah. 

Menurut informasi, setidaknya ada 160 jemaah Indonesia yang tersesat. Dari 
jumlah ini, 40 orang di antaranya dilaporkan berasal dari Aceh, yakni jemaah 
haji asal Pidie Jaya, Aceh Selatan, Abdya, Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh 
Tamiang. 

Dilaporkan, jemaah haji Indonesia termasuk Aceh, di Mina ditempatkan di 
tenda-tenda ukuran 4 x 14 meter dengan kapasitas 20 orang, yang jaraknya kurang 
lebih sekitar 3 kilometer (km) dari jamarat atau lokasi pelontaran. Mereka yang 
tersesat pada Senin (8/12) dini hari dan baru tiba kembali di tenda Selasa 
(9/12) pagi kemarin. 

Jauhnya tenda-tenda jamaah haji Indonesia di kawasan Mina, diduga juga menjadi 
satu faktor yang menyebabkan banyak jemaah asal Indonesia, termasuk jemaah haji 
dari daerah Serambi Mekkah, yang tersesat, baik pada saat menuju maupun ketika 
kembali dari jamarat. Selain jemaah dari Aceh, para jemaah dari Jakarta, Jawa 
Barat, Jawa Timur, Kalsel, Sulut, Sulsel, dan beberapa provinsi lain juga 
dilaporkan ikut tersesat. 

Selama berada di Mina, konsumsi makanan bagi para jemaah dilaporkan cukup 
memuaskan. Namun, fasilitas kakus (MCK) dinilai kurang memadai, sehingga hampir 
setiap saat terjadi antrean panjang jemaah. Semua jemaah gelombang pertama, 
Kamis (11/12) besok, dijadwalkan akan kembali ke Mekkah, sementara gelombang 
kedua akan ke Madinah untuk mengerjakan shalat arba‘in, sebelum kembali ke 
Tanah Air. 

Kepanasan 

Sementara itu, petugas medis Kloter V/BTJ, dr Hajjah Yurlida binti Djafruddin, 
Selasa (9/12) tadi malam melaporkan bahwa sejumlah jemaah perempuan asal Aceh 
sempat merasa kepanasan karena alat pengatur suhu (AC) di tenda mereka tidak 
berfungsi. “Akibatnya, banyak ibu-ibu ngumpul di tenda saya yang kebetulan 
AC-nya masih berfungsi dengan baik,” katanya. 

Pengalaman yang cukup mengagetkan, sebut dr Yurlida, justru sempat terjadi 
ketika AC yang rusak itu coba diperbaiki. Pada saat teknisi sedang membetulkan 
AC tersebut, tiba-tiba ke luar kepulan debu yang sepertinya sudah menumpuk 
selama satu tahun karena tak pernah dibersihkan. “Kami kira asap, tapi ternyata 
debu. Jemaah yang tinggal di tenda sebelah ikut heboh,” ujarnya. 

Dikatakannya, semua orang yang ada di tenda sekelilingnya, termasuk tenda yang 
dihuni oleh para jemaah dari Jakarta terpaksa berlarian ke luar dari tenda. 
Bahkan, celakanya lagi, ada yang teriak dengan mengatakan tenda jemaah Aceh 
terbakar. “Akibatnya, jumlah pasien hipertensi di tenda saya langsung 
meningkat. Ujung-ujungnya, tentu saja obat antihipertensi laris manis,” kata dr 
Yurlida berkelakar. 

Tersesat 

Yurlida menambahkan bahwa seorang jemaah dari Kloter 13 Lhokseumawe bernama 
Siti Safuriah binti T Thaib, tersesat. Setelah beberapa jam kehilangan arah, 
akhirnya ia kembali ke maktabnya (maktab 9) setelah diantar Teuku Amri Sulaiman 
atas laporan Ivan. Keduanya adalah tenaga musimam, mahasiswa S2 asal Aceh di 
Mesir. 

Yurlida juga melaporkan bahwa jemaah Kloter V/BTJ, Selasa (9/12) kemarin atau 
pada hari kedua Idul Adha 1429 Hijriah, juga menyembelih hewan kurban. 
Hewan-hewan tersebut mereka beli dengan harga 350 riyal atau Rp 900.000 untuk 
seekor kibas dan 2.800 riyal atau sekitar Rp 6,5 juta untuk satu ekor unta. 
“Kurban kambing untuk satu orang, sedangkan unta untuk tujuh orang,” 
pungkasnya. 

Satu wafat 

Sementara itu, Haji Muslem Husin yang tergabung dalam Kloter VIII asal Bener 
Meriah melaporkan kepada Serambi bahwa seorang jemaah yang tergabung dalam 
kloternya, Selasa (9/12) kemarin meninggal dunia. Jemaah haji yang meninggal 
ini bernama Achmad Daikun (65), warga Desa Panji Mulia 1, Kecamatan Bukit, 
Kabupaten Bener Meriah. “Almarhum meninggal karena sakit yang dideritanya sejak 
dua hari terakhir,” sebut Muslem Husin. 

Dokter Yurlida yang dikonfirmasi ulang mengenai penyebab kematian Achmad 
Daikun, membenarkannya. “Ya, dia memang sakit sejak dua hari terakhir,” 
ujarnya.(ask/dik/mir/dtc/nas) 
 
Sumber: : Serambi


      _________________________________________________________
Alt i ett. Få Yahoo! Mail med adressekartotek, kalender og
notisblokk. http://no.mail.yahoo.com

Kirim email ke