B. J Habibie berkuasa, Tim-tim berhasil membebaskan diri dari koloni mealui 
referendumnya, sementara BJ H cepat didepak jawa keluar "gawang".  Tapi 
sekarang nampaknya Tim-Tim sudah berbaik lagi dengan koloninya. Semoga kalau 
West Papua meraih kemerdekaan tidaki ada seorangpun, orang Papua yang kontak 
dengan Koloni sebelum saudara kia Maluku, Selebes, Borneo, Acheh - Sumatra, 
Andalas, Pasundan dan masih banyak lagi bangsa yang sedang dikebiri pihak 
Hindunesia - jawa meraih kemerdaekaannya. Saya tidak bisa mentolerir itu sikap 
mavam Timor Larose itu, mmacam tidak punya keyakinan yang mantap dalam 
menghadapi pihak koloni.
(alasytar)




________________________________
From: Diary Papua <[email protected]>
To: [email protected]
Cc: Pembebasan Papua <[email protected]>
Sent: Friday, December 12, 2008 9:49:46 PM
Subject: [PEMBEBASAN PAPUA] Re: KOMUNITAS PAPUA Otonomi Khusus = Merdeka?


Sepakat begitu, ini jaminan mutlak dan jaminan mutu [bukan pinjam slogan iklan 
baigon nih...] yang melekat pada ideologi pembebasan nasional Papua Barat! 
Pembebasan Nasional Papua Barat harus diimpor kepada wilayah lain di nusantara 
[NKRI] seperti Sumatra, Kalimantan, Celebes, sebagian Tanah Timor dan Maluku. 
Sehingga terjadi apa yang disebut kesetaraan kemanusiaan, keadilan universal 
dan penghormatan terhadap HAM dan Demokrasi sejati.

--- On Fri, 12/12/08, wens opm <wenslausopm@ yahoo.com> wrote:

From: wens opm <wenslausopm@ yahoo.com>
Subject: Re: KOMUNITAS PAPUA Otonomi Khusus = Merdeka?
To: Komunitas_Papua@ yahoogroups. com
Date: Friday, December 12, 2008, 12:35 PM


Bung Ali Al Asytar, kalo Papua merdeka duluan maka, kami siap berikan dukungan 
dalam bentuk apa pun bagi terbentuknya negara Maluku merdeka, Selebes merdeka, 
Borneo merdeka, Aceh merdeka dan Andalas Merdeka serta Pasundan merdeka.

Wens OPM

--- On Sat, 12/13/08, Ali Al Asytar <alasytar_acheh@ yahoo.com> wrote:

From: Ali Al Asytar <alasytar_acheh@ yahoo.com>
Subject: Re: KOMUNITAS PAPUA Otonomi Khusus = Merdeka?
To: Pembebasan_Papua@ yahoogroups. com, achehn...@yahoogrou ps.com, 
Komunitas_Papua@ yahoogroups. com, p...@yahoogroups. com, gamrms...@yahoogrou 
ps.com, kuasa_rakyatmiskin@ yahoogroups. com, kota_jakarta@ yahoogroups. com, 
mimbarbebas@ egroups.com, politikmahasiswa@ yahoogroups. com, sahabatkitanet@ 
yahoogroups. com, oposisi-list@ yahoogroups. com, lan...@yahoogroups. com, 
debat_antar_ ag...@yahoogroup s.com
Date: Saturday, December 13, 2008, 3:00 AM


Itu sandiwara yang tidak lucu bung Ismail. Ketoprak versi lainnya, ha ha ha. 
Walaupun bangsa kami lagi "mendung", bening juga hati ini  ketika menyaksikan 
kesigapan dan ketegasan  saudara kami dalam perjuangan kemerdekaannya. Prediksi 
saya West Papua lebih duluan merdeka dibandingkan Acheh - Sumatra.
(alasytar)




________________________________
From: Ismail Asso <assoism...@yahoo. com>
To: Komunitas_Papua@ yahoogroups. com
Sent: Friday, December 12, 2008 6:35:58 PM
Subject: Re: KOMUNITAS PAPUA Otonomi Khusus = Merdeka?


Bohong besar nona/ibu Nurtina Santi ini. Merdeka bukan Otsus atau lainnya 
seperti apa maumu tapi mauku. Itu yang namanya merdeka.

--- On Thu, 12/11/08, gobaybo daniel <gobaybo_daniel@ yahoo.com> wrote:

From: gobaybo daniel <gobaybo_daniel@ yahoo.com>
Subject: KOMUNITAS PAPUA Otonomi Khusus = Merdeka?
To: "milist" <komunitas_papua@ yahoogroups. com>
Date: Thursday, December 11, 2008, 6:19 AM


Opini 

Otonomi Khusus = Merdeka?
Oleh : Nurtina Santhy 

02-Des-2008, 15:43:34 WIB - [www.kabarindonesia. com]

 
KabarIndonesia - Kembalinya beberapa warga Papua yang meminta suaka politik di 
Australia mengindikasikan bahwa para peminta suaka mulai sadar bahwa perjuangan 
untuk membangun Papua ada di Papua sendiri, bukan di luar negeri. Banyaknya 
yang  menilai sudah sepantasnya niat para anggota OPM dan para pencari suaka 
yang kembali ke pangkuan NKRI didukung oleh semua pihak. Khususnya pemerintah, 
baik pusat maupun daerah, rakyat Indonesia, TNI dan DPRP.             

Sebab selama ini, penyebab kenapa ada separatis, salah satunya karena kondisi 
kesejahteraan yang masih rendah di Papua, salah penafsiran mengenai otonomi 
daerah dan adanya kepentingan kelompok yang didukung asing untuk mempengaruhi 
masyarakat  Papua.             

Salah tafsir itu pernah dilontarkan Wakil Ketua Komisi A DPR Papua Ramses Wally 
yang mengatakan bahwa satu-satunya cara bagi orang Papua untuk merdeka hanyalah 
melalui Otsus. "Maksudnya, melalui Otsus rakyat Papua bisa Merdeka, UU Nomor 
21/2001 telah memberikan lebih dari setengah suatu syarat  untuk 
kemerdekaan”             

Menurut saya pernyataan ini kurang tepat,  karena otonomi khusus tidak identik 
dengan merdeka, Ramses telah salah menterjemahkan otonomi khusus.  UU Nomor 21 
tahun 2001 tentang otsus, jelas tidak menyinggung masalah merdeka.  

Kewenangan daerah yang diakomodir di dalam UU Otsus Papua, setahu saya adalah 
pengelolaan di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, infrastruktur dan yang 
ada kaitannya dengan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat, 
sedang masalah pertahanan, keamanan dan politik tetap mengacu pada pemerintah 
pusat. 

Maka di Papua ditempatkan pasukan  Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Polisi 
Republik Indonesia (Polri), bukan Tentara Papua atau Polisi Papua. Untuk itulah 
implementasi Undang Undang Nomor 21 tahun 2001 di Papua harus dilaksanakan 
secara transparan. Artinya Otsus di Papua harus dilaksanakan secara baik, 
sehingga mampu memberikan kesejahteraan bagi orang Papua.            

Kita berharap, baik pemerintah daerah, pusat dan semua birokrasi yang terlibat 
harus serius melaksanakan Otsus agar memanfaatkan sisa waktu yang ada ini untuk 
mencapai cita-cita kesejahteraan bagi rakyat Papua, sebab Otsus ini hanya 
berlaku selama 25 tahun terhitung sejak tahun 2001 lalu. 

Tapi tidak kalah pentingnya dukungan seluruh rakyat Papua, Kalau Otsus 
benar-benar terlaksana dengan baik dan sebagian besar rakyat Papua sudah hidup 
sejahtera, pertahanan dan keamanan terjaga dengan baik, pembangunan dapat 
berjalan dengan baik.

Maka diharapkan tidak ada lagi yang minta merdeka. Sesungguhnya keinginan 
merdeka itu muncul karena kehidupan yang sulit di tengah sumber daya alam yang 
melimpah, dan adanya pengaruh asing. (*)  
 

 
 
 


      

Kirim email ke