Sepertinya Santhi ini kemasukan "jin" dari Indonesia, hingga maksudnya sukar kita pahami. Ketika dia katakan saya tidak berhak membicarakan apa-apa tentang Bangsa Papua Barat dan Nasib Papua, saya yakin dia itu tibak mrmahami apa artinya berhak disitu. Berhak itu bahasa Islam atau istilah Islam yang asal katanya berhaq yang berarti benar. Haq adalah mutlak kebenarannya. Haq disitu lawan kata dari bathil yang berarti salah mutlak. Allah memerintahkan kepada manusia agar tidak menindas orang lain sebagaimana bangsa jawa menjadi penindas ortodok terhadap bangsa-bangsa yang ada di Nusantara itu. Di pulau jawa saja banyak sekali manusia tertindas di kawasan- kawasan kumuh, di bawah jembatan dan dikotapun sering pihak yang lemah digusur tempat tinggalnya oleh penguasa Indonesia - Jawa melalui pemborong yang sering vdipelintirkan sebutannya dengan pembohong disebabkan membohong pemerintah dan rakyat jelata. Dari itu saya sebagai hamba Allah juga berhak memberikan dukungan kepada saudara saya yang senasib di West Papua agar orang-orang seperti Santhi kalau dapat masukkan saja ke rumah sakit jiwa. Orang macam itu banyak di pulau jawa yang menjilat penguasanya. (alasytar)
________________________________ From: INFORMASI KOMUNIKASI <[email protected]> To: [email protected] Sent: Saturday, December 13, 2008 9:48:14 AM Subject: Re: [kota_jakarta] Re: KOMUNITAS PAPUA Otonomi Khusus = Merdeka? Nurtina Santhy, kau jangan bohong NKRI dari pada kamu dibohongi seperti anda saat anda dirayu seorang cowok sehingga anda pasra tetapi Papua Barat itu bukan Otonomi Khusus tetapi MERDEKA LEPAS DARI NKRI NEGARA PERBUDAKAN JIN DAN JUN SERTA ROH-ROH JAHAT DIBUMI YANG DIKUAI PENGHULU BUMI. Anda tidak berhak membicarakan apa-apa tentang Bangsa Papua Barat dan Nasib Papua Barat. harap dimaklumi --- On Fri, 12/12/08, Ali Al Asytar <alasytar_acheh@ yahoo.com> wrote: From: Ali Al Asytar <alasytar_acheh@ yahoo.com> Subject: [kota_jakarta] Re: KOMUNITAS PAPUA Otonomi Khusus = Merdeka? To: Pembebasan_Papua@ yahoogroups. com, achehn...@yahoogrou ps.com, Komunitas_Papua@ yahoogroups. com, p...@yahoogroups. com, gamrms...@yahoogrou ps.com, kuasa_rakyatmiskin@ yahoogroups. com, kota_jakarta@ yahoogroups. com, mimbarbebas@ egroups.com, politikmahasiswa@ yahoogroups. com, sahabatkitanet@ yahoogroups. com, oposisi-list@ yahoogroups. com, lan...@yahoogroups. com, debat_antar_ ag...@yahoogroup s.com Date: Friday, December 12, 2008, 12:00 PM Itu sandiwara yang tidak lucu bung Ismail. Ketoprak versi lainnya, ha ha ha. Walaupun bangsa kami lagi "mendung", bening juga hati ini ketika menyaksikan kesigapan dan ketegasan saudara kami dalam perjuangan kemerdekaannya. Prediksi saya West Papua lebih duluan merdeka dibandingkan Acheh - Sumatra. (alasytar) ________________________________ From: Ismail Asso <assoism...@yahoo. com> To: Komunitas_Papua@ yahoogroups. com Sent: Friday, December 12, 2008 6:35:58 PM Subject: Re: KOMUNITAS PAPUA Otonomi Khusus = Merdeka? Bohong besar nona/ibu Nurtina Santi ini. Merdeka bukan Otsus atau lainnya seperti apa maumu tapi mauku. Itu yang namanya merdeka. --- On Thu, 12/11/08, gobaybo daniel <gobaybo_daniel@ yahoo.com> wrote: From: gobaybo daniel <gobaybo_daniel@ yahoo.com> Subject: KOMUNITAS PAPUA Otonomi Khusus = Merdeka? To: "milist" <komunitas_papua@ yahoogroups. com> Date: Thursday, December 11, 2008, 6:19 AM Opini Otonomi Khusus = Merdeka? Oleh : Nurtina Santhy 02-Des-2008, 15:43:34 WIB - [www.kabarindonesia. com] KabarIndonesia - Kembalinya beberapa warga Papua yang meminta suaka politik di Australia mengindikasikan bahwa para peminta suaka mulai sadar bahwa perjuangan untuk membangun Papua ada di Papua sendiri, bukan di luar negeri. Banyaknya yang menilai sudah sepantasnya niat para anggota OPM dan para pencari suaka yang kembali ke pangkuan NKRI didukung oleh semua pihak. Khususnya pemerintah, baik pusat maupun daerah, rakyat Indonesia, TNI dan DPRP. Sebab selama ini, penyebab kenapa ada separatis, salah satunya karena kondisi kesejahteraan yang masih rendah di Papua, salah penafsiran mengenai otonomi daerah dan adanya kepentingan kelompok yang didukung asing untuk mempengaruhi masyarakat Papua. Salah tafsir itu pernah dilontarkan Wakil Ketua Komisi A DPR Papua Ramses Wally yang mengatakan bahwa satu-satunya cara bagi orang Papua untuk merdeka hanyalah melalui Otsus. "Maksudnya, melalui Otsus rakyat Papua bisa Merdeka, UU Nomor 21/2001 telah memberikan lebih dari setengah suatu syarat untuk kemerdekaan” Menurut saya pernyataan ini kurang tepat, karena otonomi khusus tidak identik dengan merdeka, Ramses telah salah menterjemahkan otonomi khusus. UU Nomor 21 tahun 2001 tentang otsus, jelas tidak menyinggung masalah merdeka. Kewenangan daerah yang diakomodir di dalam UU Otsus Papua, setahu saya adalah pengelolaan di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, infrastruktur dan yang ada kaitannya dengan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat, sedang masalah pertahanan, keamanan dan politik tetap mengacu pada pemerintah pusat. Maka di Papua ditempatkan pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Polisi Republik Indonesia (Polri), bukan Tentara Papua atau Polisi Papua. Untuk itulah implementasi Undang Undang Nomor 21 tahun 2001 di Papua harus dilaksanakan secara transparan. Artinya Otsus di Papua harus dilaksanakan secara baik, sehingga mampu memberikan kesejahteraan bagi orang Papua. Kita berharap, baik pemerintah daerah, pusat dan semua birokrasi yang terlibat harus serius melaksanakan Otsus agar memanfaatkan sisa waktu yang ada ini untuk mencapai cita-cita kesejahteraan bagi rakyat Papua, sebab Otsus ini hanya berlaku selama 25 tahun terhitung sejak tahun 2001 lalu. Tapi tidak kalah pentingnya dukungan seluruh rakyat Papua, Kalau Otsus benar-benar terlaksana dengan baik dan sebagian besar rakyat Papua sudah hidup sejahtera, pertahanan dan keamanan terjaga dengan baik, pembangunan dapat berjalan dengan baik. Maka diharapkan tidak ada lagi yang minta merdeka. Sesungguhnya keinginan merdeka itu muncul karena kehidupan yang sulit di tengah sumber daya alam yang melimpah, dan adanya pengaruh asing. (*)
