Issue yang anda angkat ini melenceng, seolah-olah persoalan - persoalan negatif 
yang muncul di Indonesia disebabkan persoalan perbedaan agama. Dengan asumsi 
demikian, sangat membutuhkan Kongres 
Pemuka Agama Se-Indonesia. Hemat saya justru mental penguasa yang sudah 
demikian terpuruk, berakibat fatal terhadap kondisi negara anda. Sepertinya 
tidak ada jalan untuk memperbaiki mental penguasa Indonesia kecuali Revolusi.  
Hal ini disebabkan dekadensi moral yang korup sudah mendarah daging/sudah 
membudaya di kalangan penguasa dan kaum elit yang akumulatif dengan penguasa 
hingga mendominasi system negara. Akibatnya siapapun yang menyuarai kritikan 
terhadap moral penguasa, dianggap tidak sopan dan kasar. Hal ini diyakini oleh 
hampir seluruh media yang ada di Indonesia hingga kritikan terhadap penguasa 
terlalu ketat sensornya. Saya sendiri mengalaminya ketika berada di Acheh. 
Kecuali medan internetlah yang tidak mampu mereka bendung.

Jadi penyakit Negara anda bukan perbedaan agama hingga anda mengira perlunya 
membuat kongres antar agama agar NKRI pura-pura itu tetap langgeng tapi 
kebobrokan mental penguasa sendirilah yang mendapat support dari orang-orang 
seperti anda, berakibat bermacam persoalan yang sangat menyebalkan. Multi ulti 
agama sekarang ini bukan saja di Indonesia tapi juga hampir di semua negara 
atau seluruh Dunia. Di Eropa juga terdapat semua agama disetiap negara 
sebagaimana Indonesia tapi kenapa mereka (baca seluruh penduduknya) hidup 
tenteram dan menggapai finansial dari pemerintah mereka? Mengapa seluruh 
penduduknya merasa aman siang dan malam?

Di Indonesia kalau kita punya anak gadis merasa tidak aman kalau kepergiannya 
sendirian diwaktu malam tapi di negara-negara Eropa seperti negara-negara yang 
masuk dalam kesatuan Skandinavia (baca Swedia, Norwegia dan Denmark) kita tidak 
perlu khawatir, kenapa?  Mereka memiliki hablum minannasnya yang dimiliki Islam 
sejati sebagaimana RII. Sementara Indonesia bangga dengan penduduknya mayoritas 
Islam tapi anak dara tidak ada jaminan ketika pergi sendirian diwaktu malam, 
kenapa?  Disini terbukti bahwa "Islam" munafiq adalah penjejas kemanusiaan 
sementara non Moslem di Eropa pada umumnya relatif sama dengan moral orang 
Islam sejati dalam berhablum minannasnya.

Di Indonesia Sunni yang mayoriti tidak menganggap Syiah sebagai saudaranya tapi 
di RII minoritas Sunni mendapat jaminan keamanaan dari pemimpin Syi'i dan 
masyarakatnya. Persoalan apa yang menjadi sebab -akibat dalam kontek ini?  
Agamakah?  Tidak tapi pemerintah yang bertanggung jawab terhadap keamanan warga 
negaranya. Bagaimanakah pemerintah mengamankan seluruh warga negaranya?  Dengan 
mengerahkan polisikah? Atau bahkan melibatkan tentara sebagaimana yang telah 
membudaya di Indonesia. Sebetulnya tentara dibutuhkan untuk mengamankan negara 
dari serangan luar negeri tapi sungguh memalukan kalau tentara ditugaskan untuk 
ikut campur soal orang-orang sipil, demikian yang kita saksikan di Acheh - 
Sumatra dan juga di West Papua.  Mengapa mereka tidak merasa malu?  Sebabnya 
kemerosotan moral sudah membudaya dikalangan tentara dan penguasa plus seluruh 
aparat penguasa lainnya.

Kita lanjutkan. . . . . . . Dengan apakah pemerintah membuat negara aman dan 
tenteram?  Dengan memenuhi finansial rakyatnya bukan dengan polisi dan tentara. 
Polisi dan tentara di negara-negara Skandinavia yang saya saksikan ini menyatu 
dalam masyarakat dengan santun sekali. Mereka tidak ego macam polisi dan 
tentara Indonesia. Polisi benar-benar pengayom warga negaranya. Suatu hari anak 
saya yang sulung minta diri tinggal di mobil, justru itu kuncinya tidak saya 
cabut, sementara saya dan isteri keluar berbelanja, anak saya keluar dari mobil 
dan terlupa mengambil kuncinya hingga kami tidak dapat membuka lagi pintunya. 
Saya temui seorang penduduk asli dan memberitaukan persoalan saya. Orang 
tersebut meminta saya agar melapor ke polisi. Saya terheran, kok lapor sama 
polisi. Orang tersebut dengan santunnya membawa saya ke kantor polisi. Setelah 
saya sampaikan persoalan saya, polisi dikantor itu mengambil telephon untuk 
kontak polisi lapangan dan
 memberitahukan saja sudah ada dua orang polisi di mobilnya . Ketika saya 
berada di mobil pintu sudah dibuka polisi dan mempersilakan saya mengambil 
kuncinya. Kalau kejadian itu di Indonesia kita bakal mengalami kesulitan 
kecuali kita mengeluarkan sejumlah uang.

Di Indonesia telephon umum tidak panjang usianya. Anak-anak SMA atau SMP akan 
memasukkan batu ketempat koinnya. Lalu kita mengatakan begitu rusaknya moral 
anak-anak tersebut. Tidakkah kita berpikir dan menganalisa kenapa mereka 
merusaknya? Benarkah mereka tidak bermoral? Mereka itu adalah anak orang-orang 
yang dijauhkan dari pembendaharaan dunia oleh penguasa Indonesia. Anak-anak 
mereka jangankan untuk menggunakan fasilitas komunikasi modern itu, untuk makan 
saja orang tuanya harus bekerja keras hari ini untuk besok. Jadi kalau kita 
hendak mengklaim mereka tidak bermoral, justru penguasa merekalah yang tidak 
bermoral dan bahkan serakah terhadap harta negara, mengurus macam harta 
moyangnya hingga mereka korup sampai 7 generasi keturunannya sementara wong 
cilik pakai istilah bung Bisai terpaksa gigit jari.

Adalah sungguh bodoh sekali penguasa Indonesia yang menghendaki agar hidup aman 
tapi tidak memahami bagaimana caranya bisa hidup aman dan tenteram macam yang 
diaplikasikan pemerintah Scandinavia, Eropa. Kebanyakan warga negara 
scandinavia memang minum alkohol tapi punya aturan pemerintah yang pantang 
mereka langgar, yaitu khusus malam minggu dan ditempat khusus pula tanpa 
mengganggu keamana masyarakat banyak.  Sementara di Indonesia disamping mabuk 
di jalan-jalan hingga mengganggu ketrentaman umum, mereka juga mabuk 24 jam dan 
hampir setiap hari. Yang lebih ngeri lagi sopir nyetir mobilpun sering dalam 
keadaan mabuk. Kalau ada yang lapor kepolisi, sopir tidak perlu memberikan 
alasan tapi cukup memasukkan lembaran rupiah ke polisi. Mengapa polisi mau 
menerima sogok?  Sebab sopir itu tau bahwa polisipun sering mabuk kecuali 
polisi yang lumaian pangkatnya, namun mereka memiliki "penyakit" lainnya yang 
merugikan masyarakat banyak.

Jadi kalau perangai cangkul penguasa Indonesia, menimbun harta negara 
sebagaimana harta moyangnya sendiri, dapat diobati barulah negara kalian bisa 
aman, bukan dengan membuat kongres semua pemuka agama. Agama adalah petunjuk 
buat manusia hiudup di Dunia ini sebagai tempat ujian Allah, semacam sortir 
kemana tempatnya nanti paska alam fana dan alam qubur tapi kebanyakan manusia 
terutama pengyuasanya tidak berpegang pada petunjuk yang diturunkan Allah. 
Justru itulah kebanyakan penduduk Indonesia hidup dalam keadan miskin dan tidak 
tentram hidupnya.     Yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin adalah 
warna kehidupan orang-orang Indonesia. Penyakit tersebut dibawa ke Acheh - 
Sumatra dan West Papua melalui tangan-tangan jahil penguasanya.

Billahi fi sabililhaq
(alasytar, Acheh - Sumatra)
di Ujung Dunia   




________________________________
From: HKSIS <[email protected]>
To: HKSIS <[email protected]>
Sent: Friday, January 2, 2009 3:36:35 AM
Subject: [kota_jakarta] Ketika Agama Sikapi Krisis Global


http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/01/02/ 00281062/ ketika.agama. 
sikapi.krisis. global
Ketika Agama Sikapi Krisis 
Global
Jumat, 2 Januari 2009 
| 00:28 WIB 
Oleh Aloys Budi Purnomo
Meksi tidak terberitakan di media massa cetak maupun elektronik, ada 
peristiwa penting menjelang tahun 2008 berakhir. Peristiwa itu adalah Kongres 
II 
Pemuka Agama Se-Indonesia di Jakarta, 21-23 Desember 2008.
Kongres yang mengambil tema ”Dalam rangka menghadapi tantangan global, kita 
wujudkan bangsa yang kuat, maju, sejahtera, dan bermartabat melalui 
pengembangan 
kehidupan multikultural, solidaritas, dan kerja sama antar- umat beragama” 
tersebut diikuti oleh sekurang-kurangnya 298 tokoh agama, baik Islam, 
Protestan, 
Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.
Sayang bila idealisme mengembangkan kehidupan multikultural, solidaritas, dan 
kerja sama antarumat beragama di Indonesia tersebut tidak digemakan. Karena 
itu, 
selayaknya seruan itu dikumandangkan untuk menyambut tahun 2009 yang akan 
menghadirkan tantangan yang kian berat untuk rakyat.
Krisis global
Tahun 2009 mewarisi masalah raksasa tahun 2008, yaitu gempuran gelombang 
krisis (finansial) global. Krisis finansial global saat ini langsung ataupun 
tidak langsung juga telah dan akan berpengaruh bagi kehidupan beragama umat 
manusia.
Karena itu, solidaritas sebagai bangsa dari perspektif agama-agama menjadi 
kian penting dalam menghadapi kesulitan-kesulitan yang bakal muncul. 
Perubahan-perubahan yang terjadi pada skala global telah membawa dampak bagi 
kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.
Sejumlah isu penting sekitar hak asasi manusia, pengentasan rakyat dari 
kemiskinan, pembangunan etika dan moralitas dalam hidup bermasyarakat dan 
berbangsa, serta berbagai persoalan ekologis kian transparan di depan mata 
kita. 
Akibat-akibat yang ditimbulkan oleh persoalan-persoalan tersebut menggugah kita 
untuk ikut bertindak secara positif.
Kita menyadari pula, krisis finansial global yang melanda dunia, termasuk 
Indonesia, melahirkan krisis multidimensional yang perlu diantisipasi secara 
arif. Dampak negatif krisis finansial global terang dan jelas: kian 
meningkatnya 
pengangguran, kemiskinan, depresi, pesimisme, dekadensi moral, kriminalitas, 
bahkan ancaman konflik horizontal ataupun vertikal yang ujung- ujungnya dapat 
membahayakan keutuhan negara dan bangsa.
Dalam konteks hidup beragama, krisis tersebut kian menantang kita untuk 
meningkatkan silaturahim, kerukunan, dan hubungan harmonis antarumat beragama 
yang lebih terbuka, adil, dan demokratis. Tentu saja, perlu pula mengedepankan 
nilai-nilai keagamaan yang dapat membawa masyarakat menuju pola pikir dan 
tindakan yang optimistis dan tetap berpengharapan dalam menghadapi kesulitan 
hidup.
Kerukunan umat
Di tengah empasan krisis finansial global, Negara Kesatuan Republik Indonesia 
(NKRI) sebagai rumah bersama memerlukan topangan tekad positif, yakni 
meningkatkan kerukunan antarumat beragama. Ini merupakan prasyarat utama bagi 
terjaganya keutuhan rumah bersama NKRI.
Karena itu, perlu dikembangkan pendidikan agama dalam pendidikan nasional 
yang berwawasan multikultural di tengah masyarakat Indonesia yang ditandai oleh 
pluralitas. Pluralitas adalah sebuah keniscayaan yang tak terbantahkan dan tak 
terbatalkan oleh regulasi buatan manusia mana pun yang hendak 
memorak-porandakann ya.
Rumah bersama NKRI disangga bukan hanya oleh pemerintah dengan kekuasaannya 
di tingkat eksekutif atau para elite politik di tingkat legislatif, melainkan 
juga oleh para pemuka agama yang memiliki basis massa yang jelas. Karenanya, 
para pemuka agama—apa pun agamanya—perlu mengembangkan keteladanan hidup 
keberagamaan yang santun, meningkatkan kesalehan sosial, serta memelihara etos 
kerja dan produktivitas.
Sangat relevan dan signifikan untuk terus dikembangkan di tataran akar 
rumput, yakni meningkatkan intensitas dialog antarumat beragama serta 
menanamkan 
semangat kebangsaan dan nasionalisme sebagai bagian dari spiritualitas agama di 
tengah masyarakat yang majemuk. Ini hanya bisa diwujudkan manakala setiap umat 
beragama didorong untuk menghargai perbedaan sebagai kekayaan spiritual ataupun 
kultural.
Sejak dini, perlu ditanamkan bahwa hidup berdampingan dalam keberbedaan 
adalah sebuah keniscayaan yang indah. Paradigma bahwa yang lain dan yang 
berbeda 
keyakinan dan agama bukanlah musuh yang mengancam harus menjadi acuan 
konsientisasi sedini mungkin bagi setiap warga bangsa yang hidup di rumah 
bersama NKRI.
Paradigma inilah yang akan melahirkan sikap inklusif yang 
konstruktif- transformatif dan meretas segala bentuk eksklusivitas untuk 
membangun masa depan rumah bersama Indonesia!
Aloys Budi Purnomo Rohaniwan; Ketua Komisi Hubungan 
Antaragama dan Kepercayaan, Keuskupan Agung 
Semarang    


      

Kirim email ke