http://www.youtube.com/watch?v=K7w5KglSv4k (part-5)

http://www.youtube.com/watch?v=-OJUf8P_cKU&feature=related (part-6)

====================================================
 

 
Komite Persiapan Acheh Merdeka Demokratik
 
 
 
Sekretariat:
Kutaradja, Atjeh
New York, Amirika Sjarikat
Stockholm, Skandinavia         
[email protected] www.freeacheh. info
 
 
 
AMANAT KOMITE PADA HUT 
ACEH MERDEKA YANG KE-32
HÄLLEFORS, 4 DESEMBER, 2008
 
 
 
Assalamulaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
 
 
Alhamdulillahir Rabbil 'Alamiin, Wal'aqibatu Lilmuttaqiin, Wash shalaatu 
Wassalaamu 'Ala Asjrafil Ambijaa-i Walmursaliin, Wa 'ala Alihi Washahbihi 
Adjma'iin.
 
Sehubungan dengan ultah Aceh Merdeka yang ke-32, 4 Desember tahun ini, Komite 
Acheh Merdeka Demokratik menyampaikan salam sejahtera dan doa selamat kepada 
bangsa kami yang tercinta dimana saja saudara berada. Komite juga menyampaikan 
rasa simpatinya kepada semua ahli waris daripada para syuhada yang telah 
berpulang ke rahmatullah dalam mempertahankan kedaulatan Negara dan bendera 
pusaka nenek moyang.
 
Dalam proses sebuah perjuangan kemerdekaan memang selalu didapati kesulitan dan 
rintangan2. Salah satu kesulitan yang terbesar yang sedang kita hadapi dalam 
beberapa tahun ini adalah, nakhoda dari bahtera yang sedang menmbawa kita ke 
alam kemerdekaan, yang kita tumpangi bersama selama ini, telah dibajak oleh 
beberapa orang Aceh di Helsinki. Bahtera yang sedang mengantar kita ke tujuan 
terakhir telah bocor dan masuk air, sebab, beberapa penumpang telah melakukan 
sabotase. Sekarang sudah menjadi tugas kita bersama untuk sama-sama memperbaiki 
bahtera tersebut supaya jalannya tidak tersendat-sendat lagi. Kita musti yakin 
bahwa bangsa Aceh akan sanggup meghadapi rintangan2 ini semua.
 
Bangsa Aceh yang dicintai,
 
Dalam setahun ini, banyak hal yang telah terjadi di tanah air: ada yang baik 
dan ada juga yang merugikan perjuangan bangsa Aceh untuk menentukan nasib diri 
sendiri, atas tanah pusaka sendiri yang sudah ratusan tahun ditinggalkan endatu 
kita.
 
Satu hal yang positif yang telah terjadi di tanah air dalam tahun ini adalah, 
sekarang sudah banyak rakyat Aceh yang sudah mafum dan mulai sadar bahwa kita 
sudah ditipu lagi oleh penjajah Indonesia yang ke seribu kali. Setelah tiga 
tahun setengah penandatanganan di Helsinki, bangsa kita yang sebelum ini yakin  
bahwa perjanjian tersebut merupakan rahmat tuhan untuk bansa Aceh (rahmatan 
lil-Asyiyyin), ternyata sekarang sudah bertukar menjadi laknat. Pragraf2 yang 
terdapat dalam MoU sudah disalahgunakan oleh pihak2 yang terlibat untuk 
memperoleh kekuasaan melalui pilkada dan partai lokal (parlok), untuk 
meperkayakan diri mereka dengan cara korupsi atau jatah pareman, dan tidak ada 
keuntungan sedikitpun terhadap rakyat kecil.
 
Selain yang positif tadi, memang banyak juga kejadian2 yang tidak baik yang 
terjadi di tanah air dalam tahun ini: Tragedi di Atu Linatang, Takengon, bulan 
Maret, yang dilakukan oleh anggota milisi Indonesia keatas enam orang anggota 
KPA; puluhan Posko TNI telah didirikan di wilayah2 Aceh Timur, Aceh Utara dan 
Aceh Tengah, dan tambah lagi dengan beberapa batalion baru TNI dan Bribmob; 
operasi2 gabungan TNI-polisi untuk mencari senjata ilegal; pembakaran dan 
pelemparan granat keatas markas2 paratai lokal; intimidasi, penangkapan dan 
pemukulan diluar hukum, seperti yang dialami oleh ex panglima  GAM dan ketua 
umum partai Aceh Wilayah Peureulak, Teungku Sanusi, dan ex panglima operasi 
Wilayah Peureulak, Ridawan Abubakar atau Nektu. Kalau bekas petinggi2 GAM 
seperti Teungku Sanusi dan Nektu yang sudah menyerah dan bersumpah setia dengan 
RI sempat diperlakukan sedemikian rupa, ditangkap paksa dan dipukul seenaknya, 
bagaimana dengan nasib GAM2 biasa dan rakyat
 Aceh umumnya kelak???
 
Satu lagi peristiwa yang menarik diangkat disini adalah tentang PASUKAN 
SILUMAN, satu pasukan rahasia yang dibentuk oleh badan intelijen RI yang 
dikirim ke Aceh setelah perjanjian damai ditandatangani di Helsinki. Pasukan 
ini memang jarang beraksi, tapi dalam tahun ini mereka telah tampil beberapa 
kali: Sekali di Wilayah Peureulak, ketika mereka mengumpulkan dan menganiaya 
orang2 kampung tanpa ada alasan apapun; kedua, ketika mereka mengamuk ke markas 
KPA di Lamdingin akhir2 ini; dan ketiga, ketika mereka memporakporandakan 
kantor 3P di Simpang Lima dan menyita dokumen2 penting tentang data2 
pelanggaran HAM.
 
Sudah menjadi rahasia umum bahwa sekarang sedang dijalankan operasi Paremanisme 
di Aceh. Siapa saja yang dicuriga sebagai pareman akan ditangkap dan diheret ke 
markas mereka. Selama operasi in dijalankan, ratusan rakyat Aceh yang tidak 
bersalah sudah ditangkap, dan puluhan yang  belum tentu bersalah sudah ditahan. 
Jadi yang menentukan siapa yang bersalah dalam operasi ini bukanlah pengadilan 
atau majlis hakim, tapi poilisi atau tentra.
 
Seorang pengamat politik Aceh dan direktur LSM Pusat Penguatan Perdamaian (3P), 
Fachrul Razi, mengkritisi atau menyalahkan operasi yang sedang dijalankan di 
Aceh sekarang (Harian Aceh, 18 November). Menurut beliau, Operasi tesebut harus 
ada pengawasannya, harus ada persetujuan daripada badan eksekutif (Gubernur) 
dan legislatif (anggota dewan). Kalau tidak, akan terjadi pengangkapan 
sewenang-wenang ke atas orang2 yang tidak bersalah dan kekuasaan polisi pun 
tidak dapat dibatasi lagi. Fachrul Razi menambahkan bahwa operasi2 seperti itu 
telah dilakukan pada era Suharto, tahun 1998, yang sasaran akhirnya ditujukan 
kepada mahasiswa yang sering berdemonstrasi.  Jadi tujuan operasi ini adalah 
untuk menakut-nakuti rakyat supaya tidak ada yang berani memprotes apa saja 
kebijaksanaan yag diambil TNI dan Polri di Aceh.
 
Seminggu lebih setelah Fachrul Razi mengkritisi Operasi Paremanisme tersebut, 
Pasukan Siluman mendatangi kantor pusat 3P pukul dua pagi. Setelah menyikat 
dokumen2 penting seperti kamera, komputer, kaset2 dokumen perkara data2 
kekerasan dan kriminal sejak tahun 1977, mereka mengobrak-abrik semua isi 
kantor tersebut (Harian Serambi, 27 November)
 
Dua daripada komponen besar bangsa Aceh, GAM dan SIRA, yang oleh sebagian besar 
bangsa Aceh telah terlanjur mempercayai sebagai wakilnya dalam berurusan dengan 
MoU Helsinki, ternyata kedua komponen tersbut telah lumpuh total dan lenyap 
arahnya. Ketika pihak RI melanggar pasal-pasal dan bab demi bab dalm MoU, 
mereke2 ini tidak bisa berkutik. Jangankan untuk meluruskan dengan Jakarta, 
untuk memprotespun sudah tak sanggup lagi. Mereka2 yang sudah memperoleh 
kedudukan sebagai Gubernur/wakil, Bupati/wakil, walikota/wakil dan lain2 lagi, 
sekarang sedang berusaha mengekalkannya. Sedangkan yang belum mendapatkan apa2, 
sekarang mereka sedang sibuk sibuk untuk mendapatkannya  melalaui partai 
lokal.  Mereka2 ini tidak ada urusuan sama sekali dengan keberadaan rakyat Aceh 
dan tidak ada satupun kata2 tentang kebiadaban2 TNI-Polri yang sedang dilakukan 
di Aceh sekarang .
 
Kepulangan Teungku Hasan ke Aceh
 
Di antara peristiwa2 njang teudjadi dalam thôn njoë njang tjukôp meunarék got 
pih di nanggroë dan di luwa nanggroë nakeuh peukara keumah djipuwoë Wali 
Neugara, Tengku Hasan Mumahammad di Tiro, djak saweuë gampông  bak uroë 11 
Oktober, 2008. Wali woë u nanggroë memang that geuharap-harap uléh bansa Atjèh, 
sabab, seulaén geukeuneuk kalon langsông rupa droëneuhnjan, bangsa Atjèh 
geukeumeung deungo tjit dari babah Wali langsông peusan2 politék dan amanah 
dari peumimpin geuh njang seulama njoë geudeungo dari babah keu babah, mantong 
dan seulama 10 thôn njoë that djitôp-tôp uléh ureuëng2 njang toë deungon 
droëneuhnjan.
 
Di antara peristiwa2 yang terjadi dalam tahun ini yang cukup menarik, baik di 
dalam maupun di luar negeri, adalah berhasilnya dibawa pulang Wali Negara, 
Tengku Hasan Muhammad di Tiro, ke tanah kelahirannya pada tanggal 11 Oktober 
2008. Kepulangan beliau memang sangat diharap-harapkan oleh bansa Aceh yang 
ingin melihat dari dekat sosok pemimpinnya, disamping ingin mendengar langsung 
amanat dan pesan2 politik beliau yang selama ini mereka dengar dari mulut ke 
mulut saja, dan selama sepuluh tahun ini sudah berhasil ditutup-tutupi oleh 
orang2 yang dekat dengan beliau.
 
Setelah dua minggu di Aceh, ternyata tidak sepatah katapun keluar dari mulut 
beliau, jangankan penerangan kepada bangsa Aceh tentang perjuangan yang sudah 
30 tahun berjalan. Apa yang terjadi kemuadian tidak lain dari 
propaganda,rekayasa dan sandiwara tengah hari dari kelompok yang selama ini 
menjual nama Wali untuk bisa berpolitik dan menipu rakyat Aceh. Banyak dari 
bangsa Aceh yang tidak mengerti bahwa propaganda dan sandiwara dari kelompok 
tersebut telah dijalankan lebih sepuluh tahun, sejak beliau diserang stroke 
pertengahan 1997. 
 
Alahamdulillah, wali sudah sempat saweue gampong dan bangsa Aceh sudah melihat 
langsung kondisi beliau yang sebenarnya - jauh sekali dengan apa yang telah 
dipropaganda selama ini. Dan kami yakin bahwa bangsa kami telah mengerti dalam 
hal ini. Sedangkan sebagian anggota komite yang tinggal dekat dengan beliau, 
yang tau tentang keadaannya yang sebenar, sudah bertahun-tahun memberitahukan 
perkara ini kepada bangsa Aceh di nanggroe bahwa apa yang terjadi diluar selama 
ini, tidak dilibatkan wali, bukan kerjaan wali dan diluar pengetahuan beliau. 
Allah telah berjanji bahwa setiap yang bathil pasti akan hancur: Waqul jaa al 
haqqu wadhahaal baathil. Innal bathilaaka nazahuuqa.
 
Mungkin juga ada sebagian bangsa Aceh yang mengira bahwa dengan pulangnya Wali 
ke Aceh, apa lagi sudah sampai ke Batavia untuk dipertemukan dengan raja jin 
disana, maka perjuangan Aceh Merdeka sudah tammat riwayatnya. Perlu kami 
terangkan disini bahwa perjuangan kemerdekaan satu2 bangsa tidak akan tammat 
apapun yang terjadi keatas pemimpin bangsa tersebut. Apa lagi kita ketahui 
bahwa Tengku Hasan di Tiro tidak pernah menanda tangani satu surat menyerah 
dengan musuh. Jangan kan meneken surat menyerah, ke Helsinki pun beliau tidak 
hadir.
 
Sebuah contoh sejarah Aceh yang paling indah adalah, sejak jaman Belanda sampai 
sekarang, tidak ada seorang pemimpin besar bangsa Aceh yang pernah menyerah 
kepada musuh. Begitu di masa Belanda dahulu, demikian juga di masa DI, tahun 
limapuluhan, dan begitu juga dengan GAM akhir2 ini. Cut Nyak Dhien tidak pernah 
menyerah kepada Belanda, tetapi dikhiananti oleh orang2 dekat beliau, ketika 
matanya sudah kabur dan tidak bisa melihat orang2 sekelilingnya lagi; Abu 
Beureueh tidak menyerah ketika perjanjian Lamteh ditandatangani tahun 1957, 
tetapi beliau terpaksa turun gunung lima tahun kemudian, karena sudah 
dikhianati oleh orang2 yang beliau percayai; Wali Negara, Yang Mulia Tengku 
Hasan di Tiro, tidak pulang kampung setelah perjanjian Helsinki ditandatangani 
tahun 2005, tetapi telah dikhiananti oleh orang2 yang beliau percayai dan 
berhasil dibawa pulang tiga tahun setengah kemudian, ketika beliu tidak sanggup 
membela dirinya lagi dan tidak mampu mengutarakan
 pikiran nya lagi.
 
Kesimpulannya: Kejadian ke atas Wali Negara pada tanggal 11 oktober 2008, tidak 
berbeda dengan kejadian ke atas Cjut Nyak Dhien sewaktu dikhianti oleh Pang 
Laot.
 
Sejarah berulang terus dan perjuangan untuk menentukan nasib diri sendiri tetap 
bersambung, tidak ada pengaruhnya apa yang akan terjadi ke atas pemimpin bangsa 
tersebut. Bansa Islam Chechenia yang sudah 300 tahun melawan Rusia, dalam masa 
10 tahun belakangan ini, 4 presiden mereka telah syahid berturut-turut di medan 
perang: Presiden Dzhokar Dudayev, Zelimkhan Yandarbiyev, Aslan Maskhadov dan 
Abdul Khalim Sudalayev. Patah tumbuh hilang berganti, perjuangan mereka tidak 
pernah goyang. Begitulah yang akan terjadi di Aceh kelak, Insya Allah.
 
Tentang Partai Lokal
 
Satu hal lagi yang telah mengacaukan bangsa di nanggroe adalah perihal partai 
lokal (Parlok). Perkara ini sebenarnya telah dijelaskan oleh sdr Eddy Suheri 
dalam sebuah VCD, tetapi perlu juga kami ulangi lagi supaya bangsa kami tidak 
lupa dan tidak tertipu lagi: pertama, MoU; kedua, UUPA; ketiga, Sandiwara 
Pilkada: dan keempat, perhiasan Parlok, partai lokal, atau partai yang akan 
masuk dalam lockup sekali lagi. Sekarang sudah ada empat instrument yang 
berasal dari Helsinki untuk menipu, melalaikan dan meninabobokan bansa Aceh 
untuk perjuangan dan hak2nya atas tanah laluhurnya. Kedepan, alat penipu apa 
lagi yang akan diperkenalkan kepada rakyat Aceh supaya mereka saling berkelahi 
dan berperang sesama sendiri, seperti yang sedang terjadi di Aceh sekarang. 
Sedangkan penjajah RI terus menguras kekayaan bumi kita yang sangat kaya itu.
 
Kami sudah katakan dan hari ini kami ulangi lagi bahwa partai lokal tersebut 
tidak ada manfaatnya untuk bangsa Aceh. Siapa2 yang bisa memenangi pemilu 
partai lokal tersebut akan mendapat beberapa kursi anggota dewan dan mendapat 
gaji satu-dua juta per bulan. Jangan kan untuk mensejahterakan rakyat, untuk 
memberi nafkah anak isteri sadja tidak cukup kalau tidak melakukan korupsi. 
Patai lokal tersebut bukan satu alat untuk memperjuangkan kemerdekaan atau 
referendum, sebab ianya hanya sebuah sistim politik Indonesia yang tidak bisa 
dijalankan tanpa ada persetujuan dari pusat. Nama sajapun partai lokal, untuk 
mengurus perkara2 lokal yang sudah lebih dahulu diputuskan oleh Jakarta, untuk 
membagi-bagikan budget daerah yang telah ditentukan Jakarta. Itulah sebabnya 
masih banyak yang gila terhadap partai lokal, sebab boleh bagi2 duet nanti. 
Tapi kalau jenis operasi militer apa yang akan dijalankan di Aceh nanti, 
Jakarta tidak akan bertanya kepada anggota dewan
 dari partai2 lokal itu. Dengan Gubernur saja tidak dikonsultasi.
 
Bangsa Aceh yang dimuliakan,
 
Sekarang sudah terang kita lihat bahwa perjanjian Helsinki adalah sebuah tipu 
muslihat politik RI yang akan memberi mudharat kepada bangsa Aceh dan generasi 
sesudahnya. Pihak2 Aceh yang terlibat ke dalam perjajanjian tersebut, bekerja 
untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya saja - bukan untuk kepentingan 
rakyat Aceh secara keseluruhannya. Sedangkan perkara keadilan dimana HAM 
termasuk di dalamnya, langsung tidak mendapat perhatian.
 
Selain dari itu, perjanjian Helsinki tersebut jelas melanggar sumpah perjuangan 
Aceh Merdeka dan melanggar Proklamasi Kemerdekaan Aceh tahun 1976 sebagai 
fondasi tampat berdirinya perjuangan kemerdekaan bangsa. Oleh karena itu, 
Komite Aceh Merdeka Demokratik,sebagai sebuah wadah pemersatu bangsa untuk 
merebut kembali hak2 bansa Abceh yang telah dirampas, berharap kepada bangsa 
Aceh supaya berhati-hati dengan bermacam-macam sandiwara penjajah Indonesia di 
nanggroe hari ini. Selama 63 tahun di bawah RI, Sudah cukup buktinya bahwa 
keturunan penjajah tersebut tidak bisa dijadikan saudara, tidak dapat 
bekerjasama dengan dan tidak boleh dipercaya sedikitpun.
 
Wassalamualaikum Waramatullahi Wabarakatuh.
 
 
 
 
 


#########################################################

"Udép geutanjoë hana juëm meusaboh aneukmanok meunjo hana tapeutheun peuë njang 
ka geukeubah lé éndatu. Udép sibagoë lamiët dan djadjahan gob njan hana juëm 
meu-sikeuëh ! Meunjo tateupuë(peuë) arti keumuliaan! UREUENG-UREUENG LAGÈË LÔN 
1000 X ( SIRIBÈË GO ) LEUBÈH GOT MATÉ NIBAk DIDJADJAH LÉ DJAWA !!! 
Kheun Tgk Hasan di Tiro
http://www.youtube.com/watch?v=oqJYGoF0SMQ


##########################################################


      

Kirim email ke