TUAN MULYADI ITU TIDAK PERLU KITA HORMATI SEBAGAI LAYAKNYA SESAMA MANUSIA. SEBAB YANG SEPERTI MULYADI INDONESIA ITU BUKAN MANUSIA TAPI BASYAR. MAKHLUK SEPERTI ITU GAK BISA BERESENSI TAPI SEKEDAR EXIST DIPERMUKAAN BUMI INI. TULISAN BERIKUT INI LAYAK BUAT MEREKA BACA
Hemat saya tulisan ini (baca tulisan dari saudara kita di Papua, tentang keganasan milisi made in tni) merupakan pengaduan orang tertindas kepada komunitasnya khususnya dan kepada siapapun yang memiliki perasaan kemanusiaan pada umumnya. Ketika saya baca tulisan ini secara refleks saya teringat penderitaan bangsa saya Acheh - Sumatra. Milisi bentukan tni itu sama dhalimnya sebagaimana milisi bentukan tni di Papua Barat ini. Mereka ini sedikitpun tidak memiliki perasaan kemanusiaan. Andaikata mereka dan majikannya (baca tni) masih memiliki perasaan kemanusiaan, pertanyaan berikut ini perlu mereka renungkan: . . . . . . . . . . . Bagaimana perasaan mereka andaikata ibu mereka, isteri mereka, anak perempuan mereka atau saudara perempuan mereka diperkosa orang????????. Sekali lagi, pertanyaan ini efektif untuk membuat mereka sadar tentang kejahatan yang mereka lakukan tapi realitanya mereka itu benar-benar tidak memiliki perasaan kemanusiaan. Sahkah kalau kita katakan bahwa sesungguhnya mereka itu bukan manusia? Kalaupun binatang melakukan kejahatan, tidak bisa kita katakan jahat disebabkan binatang itu tidak difasilitasi alat berpikir oleh Allah, Tuhannya manusia. Kalau kita pertanyakan siapakah yang membuat mereka melakukan kejahatan tersebut. Pertama jawabannya adalah tni. Kedua, siapakah yang perintah tni? Panglimanya dan akhir sekali nPresiden. Pastikan bahwa kedhaliman itu mereka lakukan secara system. Dari itu seluruh orang-orang yang bersatupadu dalam system tersebut, pasti akan masuk Neraka kelak kecuali orang-orang yang terpaksa bertaqiyah. Hal ini perlu kita ulang-ulang sebagai dakwah bilhaq/dakwah berislakh. Ketika tni dan polri melakukan kedhaliman, dosanya dipikul oleh semua orang dalam bahtera tersebut (baca system Indonesia). Tidak ada satu negarapun yang dhalim kecuali penguasanya "Fir'aun". Firaun yang ditenggelamkan Allah di jaman Nabi Musa dan Harun di laut Merah memang sedang mendapat azab Allah di alam Qubur sebagai balasannya mendhalimi bani Israil yang tidak bersalah dulu. Tapi kenapa penguasa sekarang juga disebut Firaun? Siapapun penguasa yang dhalim disimbolisasi sebagai Firaun. Dengan pemahaman seperti ini, Yudhoyono -Kalla adalah "Firaun". Ketika Firaun berkuasa dulu, dia didukung oleh Hamman, Karun dan Bal'am. Secara filosofis dan ideologis, Hamman merupakan simbolik buat siapa saja yang berperan sebagai arsitek Fir'aun disatukan dengan Karun (Konglomerat), orang awam bilang begini: "Kong kalingkong tutup mata raba kantong, gara-gara Kong rakyat melarat". Nah dengan demikian jelaslah siapa yang berperan sebagai "Hamman" dalam system Indonesia sekarang bukan. Kalau kita sudah mengenal firaun di jaman kita secara filosofis, kita juga dengan mudah mengenal hamman, karun dan bal'am. Antara Firaun, Hamman, Karun dan Bal'am ternyata justru Bal'amlah yang paling berbahaya buat kemanusiaan (baca buat kita bangsa Acheh - Sumatra dan West Papua). Peranan bal'am cukup besar dalam penipuannya terhadap kemanusiaannya. Ketika dalam barisan kaum dhuafa muncul pemimpinnya (baca Tgk Muhammad Daud Beureueh dan Tgk DR Hasan Muhammad Ditiro untuk Acheh - Sumatra), si Bal'am (baca tgk/kiyai yang memihak penguasa) mengeluarkan fatwa: "kita kaum muslimin dilarang melawan pemerintah yang presidennya masih melakukan shalat. Kalau kita miskin bersabarlah sebagai ujian Allah agar kita mendapat balasan sorga kelak. Allah maha pengampun dan Dia akan mengampuni dosa pemimpinmu disebabkan mereka melakukan shalat 5 kali dalam sehari semalam. Muka,tangan dan bahagian badan orang-orang yang kena wudhuek akan putih b erseri-seri kelak disaat banyak muka yang hitam muram. Tidak malukah kita ketika pemimpin kita mendapat ampunan Allah sementara kita dimasukkan dalam neraka disebabkan melawan pemimpin yang masih shalat dan bahkan naik Haji ke Baitullah?. Doa adalah senjata yang ampuh bagi orang-orang yang beriman. Dari itu berdoalah!" Demikianlah lebih kurang kata-kata yang keluar dari Bal'am untuk meninabobokkan rakyat jelata. Bayangkan bagaimana kepatuhan rakyat jelata terhadap kiyai dan tgk yang melarang memerangi penguasa mereka kendatipun mendhalimi mereka. Suharto bukan saja melakukan shalat dan takbir di hari Raya tapi juga naik Haji hingga namanya ditambah Muhammad, jadilah muhammad Suharto, bapak pembangunan. Sekarang partai PKS dengan gagah berani menaikkan prestis Suharto sebagai guru bangsa. Justru itu jangan harapkan Suharto cs untuk diadili selama konco-konco mereka masih kuat dalam kenderaan politiknya (baca golkar dan PKS). Andaikata kita memiliki ideologi atau mampu berpikir secara filosofis, kita tau persis bahwa PKS adalah "anak-anak" Bal'am yang menggunakan ayat-ayat Allah dan jenggot untuk mengkelabui rakyat jelata. Dari itu tiada jalan lain buat kita yang sadar kecuali MERDEKA. Namaun harus pula diingat bahwa setelah merdeka akan muncul lagi bermacam macam "penyakit" yang dimunculkan oleh orang-orang "berpenyakit", bukan saja dari musuh kita yang bergerak dibawah tanah tapi juga boleh jadi daatangnya dari kalangan kita sendiri. Mereka ketika berjuang hatinya penuh kedengkian akibat ketidak mampuannya menghadapi ujian Allah lainnya yang terkenal dengan 3 T (baca harta, wanita dan tahta). Orang-orang yang materialis tidak berjuang karena Allah untuk membela kaum dhuafa tapi mereka berjuang untuk meraih 3 T tersebut diatas. Dari itu andaikata kita berhasil, justru yang pertama sekali kaum dhuaafa dulu yang perlu difasilitasi agar meraih finansialnya. Umpama kita mengairi sawah yang terbentang luas justru untuk sawah yang diujung sekalilah yang duluan kita fokuskan, bukan sawah yang di hulu. Kedua Usahakan orang-orang yang tidak sanggup kawin dulu untuk menentramkan hati mereka dan hati-hatilah jebakan perempuan-perempuan dari kalangan musuh walaupun cantik akan membawa mala petaka ujungnya. Ketiga taatilah pemimpin dari kalangan kita. Inilah yang dituntut Allah dengan firmannya: "Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah, Rasul Nya dan ulul amri mingkum (wali dari kalangan kamu sendiri). Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur-an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya" (QS An-Nisaa', 4: 59). Terakhir jauhkanlah sikab ambisius kepemimpinan. Apa yang saya katakan ini sebagai gambaran saja hal ini dapat ditambah atau di lengkapi oleh saudara kita yang lain. Sepanjang sejarah dunia ini, dapat kita lihat bahwa kapan saja bangkitnya suatu bangsa, pasti muncul seorang pemimpin yang sangat menentukan dalam proses "penyadaran" bangsa tersebut terlebih dahulu. Andaikata pemimpin tidak muncul, massa tetap menjadi korban statusquo. Justru itu kita harus memahaminya, tipe pemimpin yang bagaimana yang dimaksudkan Allah itu. Hadist ketaatan kepada pemimpin yang dilambungkan para Bal'am untuk meninabobokkan rakyat jelata adalah hadist palsu buatan Abu Hurairah atas anjuran Muawiyah yang dhalim. Dengan hadist palsu itu Muawiyah yang menentang Imam Ali serta meracuni Imam Hasan, Yazid bin Muawiyah yang membantai keluarga Rasulullah di Karbala dan seluruh penguasa prototipe Muawiyah dan Yazid anaknya yang masih digelar sebaagai amirul mukminin oleh Bal'am di jaman kita ini terselamat dari gempuran kaum dhuafa. Jadi ketika kita hendak memerangi penguasa yang dhalim, kita harus mampu mengenal dulu siapa Bal'amnya agar rakyat jelata tidak tertipu oleh mereka. Sebagai penutup bacalah cuplikan tulisan Esensi Haji berikut ini: Wahai pasukan jihad! Tembaklah Fir'aun yang mengatakan "Akulah Tuhan" yang mengazab siapa saja yang berani menentangnya. Tembaklah Karun yang mengatakan "Akulah Pemilik Harta", dan menjauhkan kaum dhu'afa dari pembendaharaan Dunia. Tembaklah Bal'am yang mengatakan "Akulah Pemilik Agama", dan meninabobokkan rakyat jelata dengan bisikan "Syurga" dan "Sabar" ketelinga mereka. Fir'aun memberi legitimate kepada Karun untuk merampok uang rakyat dengan cara korupsi, manipulasi dan monopoli ekonomi. Sedangkan Bal'am menuhankan Fir'aun, tak akan pernah membantah apa saja kemauan Fir'aun walaupun mendhalimi rakyatnya, bahkan senantiasa siap membela Fir'aun dengan mempelintirkan ayat-ayat Allah mana kala timbul protes dari orang-orang idealis. Ketiga simbolisasi itu merupakan trinitas yang saling menguatkan satu sama lainnya. Di lembah Mina engkau hanya menyaksikan 3 berhala, sementara Hamman (arsitek Fir'aun) disatukan dengan Karun (Konglomerat), orang awam bilang begini: "Kong kalingkong tutup mata raba kantong, gara-gara Kong rakyat melarat" Fir'aun memerintahkan Hamman untuk membuat sebuah kolam renang, biayanya disuruh ambil pada si Karun. Setelah selesai, wanita dan pria pun asik berenang-renang dengan berpakaian super ketat. Saat orang-orang idealis memperotesnya, Bal'am datang berlagak "Ulama" serta berfatwa: "Allah itu indah dan mencintai keindahan. Yang paling indah di dunia ini adalah perempuan, karena itu biarkanlah mereka itu berenang-renang supaya awet muda". Wahai pasukan jihat, kini engkau berhadapan dengan mereka di lembah Mina. Kerah kanlah segenap kekuatanmu untuk meluluh-lantakkan mereka supaya dunia ini benar-benar aman, bukan aman dipasung. Justru itu dengarkanlah apa kata Ibrahim, bintang Revolusi yang berhasil meluluh-lantakkan kekuasaan Namrud: "Manakala engkau berhadapan dengan Fir'aun, abaikanlah dia. Manakala berhadapan dengan Karun, biarkan dia, namun begitu engkau berhadapan dengan Bal'am, tembakkan dia. Apakah engkau menembak kakinya? Bukan. Apakah engkau menembak badannya? Juga bukan. Apakah engkau menembak kepalanya? Benar. Tepat sekali tembakan engkau. Tembak lah Bal'am itu di kepalanya atau jantungnya. Untuk memastikan dia benar-bemar roboh, membutuhkan 7 kali tembakan, demikianlah menurut guru-guru yang bijak. Aneh sekali memang. Ketika jama'ah Haji melewati pintu gerbang Mina, musuh yang pertama ketemu adalah Fir'aun, lalu disusul oleh Karun, baru kemudian Bal'am yang terakhir sekali. Sedangkan serangan pada tanggal 10 Zulhijjah, khusus untuk melumpuhkan kekuatan Bal'am dan membiarkan Fir'aun dan Karun buat sementara. Mengapakah demikian? Allah, Tuhannya kaum dhu'afa menghentakkan pikiran kita untuk ber-afala ta'qilun dan berafala yatazakkarun. Sesungguhnya ketiga simbolisasi itu melambangkan tipe orang-orang berbahaya, namun yang paling berbaya adalah "Bal'am". Mengapa demikian? Lazimnya dalam suatu komunitas Islam, ulama memiliki kharisma yang tinggi ditengah-tengah masyarakat awam. Kalau posisi ulama di ambil alih oleh Bal'am dalam suatu negara, dapat dipastikan tak ada orang yang berani melawan setiap fatwa yang dikeluarkan Bal'am. Ketika kepala negara/Raja menjalankan roda pemerintahannya dengan sewenang-wenang, mendhalimi kaum dhu'afa, Bal'amlah yang membisikkan kata-kata syurga dan sabar ketelinga rakyat jelata, dengan cara demikianlah Bal`am membuat rakyat jelata terlena, sehingga tak mampu lagi mengkritik kesewenang-wenangan pemerintah (Presiden/Raja) sementara setiap jajaran pegawai pemerintahan, apakah dia seorang Sarjana biasa, Doktor, Propessor tetap saja menuhankan atasan nya, kendatipun mereka mengaku Tuhan itu satu dimulut mereka. Andaikata pada suatu hari atasannya mengatakan bahwa sekarang bukan siang tapi malam, bawahannya langsung membenarkan, "Oi ya ya, tadi aku menyaksikan bulan dan bintang." Di Mesjid-Mesjid kebanyakan khatib berani mempelintirkan ayat-ayat Allah, demi menjaga kewibawaan Pemerintah. Masyarakat di arahkan untuk berdoa saja dalam menghadapi setiap bentuk kedhaliman. Hadist palsu seperti: "Doa adalah senjata orang Mukmin" dipopulerkan di tengah-tengah komunitas kaum Muslimin. Kendatipun kedhaliman sudah mencapai klimaknya, tetap saja tidak boleh dilawan sebab kepala pemerintahan/Raja masih melakukan shalat, karena itu kita diarahkan untuk melakukan "Do`a Tolakbala" dengan memperagakan telapak tangan dalam keadaan Telungkup kebawah dan selesailah perkara mencegah kemungkaran demikian arahan Bal'am. Masya Allah. Sesungguhnya Bal'am itu merupakan penyakit yang paling berbahaya bagi kemanusiaan. Bahaya penyakit inilah yang di indikasikan dalam Qur'an Surah terakhir (An-Naas ; 1-6). Bahaya dalam surah Al-Falaq akan berakhir setelah mendapat serangan sinar Matahari, namun bahaya dalam surah An-Naas tak akan pernah berakhir. Justru itulah pada akhir dari pertunjukan akbar ini (baca Haji), dianjurkan untuk membahas hakikat dari Qur'an surah An-Naas dalam konferensi Internasional paska Haji di Lembah Mina, di alam terbuka. Namun sayang sekali, konferensi seperti itu tak akan pernah terjadi mana kala Pertunjukan Akbar ini masih dikuasai oleh Pemimpin Thaghut. Bagaimana mungkin exisnya suatu Konferensi, sementara didalamnya dibahas strategi-strategi yang harus ditempuh oleh setiap jamaah Haji dalam meraih keberhasilannya sebagai Arsitek Revolusi, minimal bergabung dengan saudara-saudara mereka yang sedang ber Revolusi di negara asalnya masing-masing, sementara pengelola pertunjukan Haji sendiri adalah berhala yang engkau serang di Lembah Mina. Wahai pasukan jihad! Kendatipun engkau telah berhasil merobohkan Bal'am, namun engkau tidak boleh lengah walau sedikitpun. Betapa sering dalam sejarah, suatu revolusi memakan anak-anaknya sendiri, mengalami dekaden kembali hanya setelah satu generasi berlalu. Kuman-kuman yang telah lama terpendam dibawah tanah, akan muncul kembali kepermukaan. Kaum reaksioner yang pernah mengaku sebagai sahabatmu sendiri muncul secara serentak untuk bereaksi. Engkau telah melumpuhkannya dalam Perang Badar namun muncul kembali dalam Perang Siffain. Engkau telah memusnahkan nya di mesjid-mesjid Dhirar, namun dia muncul kembali di mesjid Kofah. Engkau telah merasa aman dan lega setelah menguasai Madinah, Mekkah bahkan seluruh jazirah Arabia, Namun pada generasi yang kedua Islam mendapat pukulan yang paling telak di Karbala. Musuh yang sepertinya tak pernah lenyap di permukaan bumi ini di indikasikan Allah dalam surah terakhir dari Al-Qur'an al-Karim, dan disimbolisasikan di lembah Mina sebagai Bal'am (jamarah terakhir), justru itulah di khususkan menyerang kekuatan tersebut pada tanggal 10 Zulhijjah, 7 kali tembakan. Pada tanggal 11 Zulhijjah, barulah engkau diperintahkan untuk menggempur secara keseluruhan. Tembaklah Fir'aun 7x, Karun 7x dan lagi-lagi Bal'am 7x. Sudah berapa pelurukah kau habiskan? 7x4 = 28 peluru. Serangan dilanjutkan pada tanggal 12 Zulhijjah. Tembak Fir'aun 7x, Karun 7x, Bal'am 7x. Pada tanggal 13 Zulhijjah gempur lagi, tembak Fir'aun 7x, Karun 7x dan Bal'am pun masih perlu kau tembak 7x lagi. Sudah berapa pelurukah engkau habiskan? 28 + 7 x 6 = 28 + 42 = 70 peluru. Engkau masih memiliki sisanya 7 peluru lagi. Selesai sudah pertempuranmu. Jika engkau sudah berkorban dan ingin kembali ke negeri asalmu, kuburkanlah senjatamu bersama sisa peluru di Mina. Namun jika engkau memilih untuk tinggal di Mina, ulangilah seranganmu pada hari-hari berikutnya dengan sisa peluru yang masih engkau miliki. Sebab, Mina adalah medan pertempuran, jika engkau masih berada di sana engkau senantiasa harus bertempur. Bersambung ke Haji bagian 4 (terakhir) ________________________________ From: Tarmizi Abdulghani <[email protected]> To: [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected] Sent: Tuesday, January 6, 2009 6:30:52 PM Subject: [acehkita] Muladi Kritik Pertemuan RI-GAM di Finlandia http://www.detiknew s.com/read/ 2009/01/06/ 183154/1064066/ 10/muladi- kritik-pertemuan -ri-gam-di- finlandia Selasa, 06/01/2009 18:31 WIB Muladi Kritik Pertemuan RI-GAM di Finlandia M. Rizal Maslan - detikNews (Foto: Dok. detikcom) Jakarta - Pertemuan antara perwakilan pemerintah RI dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Finlandia pada tanggal 4-5 Januari 2009 dikritik Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Muladi. Pertemuan tersebut bisa diartikan masih mengakui keberadaan GAM di Nangroe Aceh Darussalam. "Ini suatu pertemuan yang aneh menurut saya. Kenapa masih ada pertemuan di Helsinki antara Pemerintah Indonesia dan GAM. Ini berarti pembenaran terhadap GAM. Kalau kita masih berunding dengan GAM dalam masalah keamanan dan lain-lain, berarti ada suatu pengakuan bahwa GAM itu masih ada," ungkap Muladi, Jakarta, Selasa (6/1/2009). Menurut Muladi, seharusnya pemerintah Indonesia memiliki sikap yang tegas. MoU antara RI dan GAM sudah dilaksanakan, artinya, pemerintah Indonesia punya kewenangan untuk mengatur sendiri keadaan di dalam negeri. Muladi menyatakan, pertemuan itu selayaknya tidak terjadi. Sudah menjadi kewenangan Pemerintah Indonesia untuk melakukan pembinaan ke dalam terhadap pemerintah NAD. "Jadi itu suatu setting menurut saya, pertemuan tersebut merupakan suatu langkah mundur untuk suatu masalah yang sangat krusial yang seolah-olah ada kegagalan dalam pelaksanaan MoU. Pemerintah harus jelaskan soal pertemuan tersebut," imbuhnya. Sebelumnya, seperti dilansir dari World Acehnese Association (WAA) menyebutkan bahwa telah terjadi pertemuan tertutup antara Pemerintah Indonesia dan GAM di Helsinski. Pertemuan tertutup itu dilakukan pada tanggal 4-5 Januari 2009 lalu. Masih menurut WAA, kebenaran berita tersebut diungkap oleh salah seorang delegasi GAM, pertemuan dimulai pukul 07.44 waktu setempat tentang adanya pertemuan antara GAM-RI di Helsinki. Menurut laporan WAA tersebut, rapat tertutup itu mengagendakan pembahasan antara lain soal keamanan, HAM, the Law on Aceh Government (LOGA) atau Qanun dan lainnya. Pertemuan tersebut dihadiri delegasi GAM yang diwakili oleh Mentroe Malik, Dr. Zaini, Zakaria Saman, Muzakir Manaf, Jahja Mu'az, Kamaruddin (Abu Razak), Ampon Nazar dan juru bicara Komite Peralihan Aceh (KPA) Ibrahim Syamsuddin. Sedangkan tim dari RI di wakili oleh Menteri Negara BUMN Sofyan Jalil, Duta Besar RI di Finland, Farid Husen, Sekjen Wantanas Letjen TNI Bambang Darmono, dan Dirjen Departemen hukum dan HAM.(zal/gah) WAA arsip juga boleh dibuka di sini http://waa-aceh. org/arsip/ arsip8.html Tarmizi Age Formand for KMPD Europæiske Afdeling Mølleparken 20 9690 Fjerritslev Denmark Mobile/HP : (+45) 24897172 mukarramkmpd@ yahoo.com, mukarramkmpd@ gmail.com http://www.kmpd. or.id [Non-text portions of this message have been removed]
