Tidak ada hal yang menyenangkan setelah kita baca tulisan dibawah ini kecuali sia-sia saja. Kita asik memohon pada komunitas manusia yang terkenal hipokrit. Begitu banyak penyimpangan dari ketetapan MoU Helsinki tapi tidak dicari jalan keluarnya kecuali merasa aman dipasung. Kita seringkali terjebak dalam perangkap pakturut made in Indonesia. Sungguh sangat menyebalkan. Apakah tidak ada info lain yang lebih baik dari Helsinki buat bangsa Acheh - Sumatra?
Sekarang ini Israel betambah ganas setelah presiden berkulit hitam itu dipropokasikan sebagai beragama Islam. Memangnya kita asik membicarakan agama di KTP orang. Suharto, Gusdur, Megawati dan juga Yudhoyono - Kalla kan mengaku diri agama Islam juga tapi bagaimana sepak terjangnya? Justru itu kita jangan terpana pada dekorasinya tapi substansinya, jangan terpana pada warnanya yang dipermak demikian rapi tapi dibalik itu tersimpan misteri yang cukup ngeri. Qabil "manusia" susulan juga mengaku beragama Islam tapi sedikitpun tak mampu menahan nafsunya hingga tega membunuh saudara kandungnya sendiri (baca Habil). Akibat dari ketidakmampuannya untuk menahan diri dari membunuh inilah yang membuat aqidahnya sirna kendatipun Qabil masih saja mengaku beragama Islam. Fenomena dari Qabil dan Habil sesungguhnya tersimpan segudang persoalan yang dapat diambil pelajaran bagi manusia susulannya termasuk kita sekarang ini. Sebagaimana nantinya di Akhirat hanya kepada 2 golongan saja manusia dibagi Allah, yaitu yang hitam muram (yang akan menghuni Neraka) dan yang putih berseri-seri (yang akan menghuni Surga), di Dunia ini juga manusia terbagi 2 (baca kutub Qabil yang diakhirat berwajah hitam muram dan kutub Habil yang diakhirat berwajah putih berseri-seri) Para Rasul dan Imam yang di utus sebagai hujjah Allah di kolong Langit ini memahami persis tipe manusia Habil dan Qabil. Orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari Akhirat melalui para Rasul dan Imam yang di utus juga mengenal tipe manusia tersebut sebagaimana para Rasul dan Imam mengenalnya. Sedangkan sebagian manusia yang juga mengaku beragama Islam tapi tidak menimba ilmu dari jalur para Rasul dan Imam yang di utus senantiasa terperangkap dalam kutub Qabil tanpa mereka sadari. Mereka yang terakhir ini juga memiliki keyakinan yang kuat bahwa diri mereka itu benar sebagaimana sangkaan Qabil (baca nenek moyang mereka), Namrut, Fir-aun, Abu Sofyan bin Harb, Muawiyah bin Abi Sofyan dan Yazid bin Muawiyah. Nah pembaca sekalian. Apabila kita memiliki ideology Habil, Ibrahim, Muhammad, Ali, Hasan dan Hussein, kita juga dengan mudahnya mengenal "Israel" didepan kita sendiri kendatipun memakai "pakaian" Palestin. Sofyan Jalil walaupun secara darah berketurunan Aceh tapi dia itu sesungguhnya mewakili Qabil di Helsinki. Dari itu kita jangan merasa dia itu dapat dipercaya. Kalau Sofyan Jalil secara terus terang saya nyatakan sebagai "manusia" kutub Qabil, yang lainnyapun cukub jelas bagi kita bangsa Acheh dan West Papua mana yang musuh kita dan mana yang saudara kita yang sesungguhnya. Kalau kita ganti Istilah Qabil dengan Yahudi di Israel, kita tidak perlu bengong dengan kekejian mereka di Palestin tapi hadapilah Yahudi Indonesia yang lebih berbahaya di bandingkan Yahudinya Israel, kenapa? Itu Yahudi Israel semua orang (walau hanya mengaku saja beragama Islam), tau itu adalah Yahudi. Tapi mereka yang sekedar mengaku beragama Islam itu tidak mengenal Yahudinya Indonesia, kenapa? Sebabnya dalam komunitas Yahudi Indonesia berjuta orang menggunakan sorban nabi Muhammad, berjuta orang menggunakan jenggotnya Nabi Musa tapi sepakterjangnya tetap Fir-aun. Itu lembaga MUI dan segala lembaga agama lainnya, pesantrenkah, perguruan negeri "Islam" kah tetap saja membuat orang-orang yang tidak berideology Abu Dzar Ghifari kabur matanya hingga membuat mereka juga salah kaprah dalam hidup ini Tulisan ini bukan untuk menyakiti hati orang tapi dakwah berislakh, insya Allah. Dengan harapan Sofyan Jalil yang ex PII itu merenungkan kembali kenapa sampai dia masuk perangkap Qabil. Dengan demikian dia itu dapat merenungkan kembali darimana dia mulai terjebak nafsu dunia Qabil. Dengan jalan demikianlah berkemungkinan dia itu untuk keluar dari bingkai Yahudinya Indonesia. Demikianlah juga kepada siapapun yang merasa tulisan ini menjejaskan mereka, bertaubatlah dengan taubat Nashuha. Itulah tujuan tulisan ini Billahi fi sabililhaq (alasytar, Acheh - Sumatra) ________________________________ From: Tarmizi Abdulghani <[email protected]> To: [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected] Sent: Saturday, January 10, 2009 1:03:58 AM Subject: [acehkita] Sofyan Djalil: Tidak Ada Pertemuan Khusus Dengan GAM http://www.antara. co.id/arc/ 2009/1/10/ sofyan-djalil- tidak-ada- pertemuan- khusus-dengan- gam/ 10/01/09 06:11 Sofyan Djalil: Tidak Ada Pertemuan Khusus Dengan GAM Den Haag (ANTARA News) - Anggota tim perunding perdamaian antara Pemerintah Indonesia dan GAM, Sofyan Djalil, menegaskan pihaknya tidak melakukan pertemuan khusus dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 4-5 Januari 2009 di Helsinki, Finlandia. "Kami hanya mempermantap dan mengevaluasi MoU Helsinki antara Pemerintah Indonesia dan GAM yang disepakati beberapa waktu silam," jelas Sofyan yang juga Menteri Negara BUMN, seusai melakukan tatap muka dengan beberapa warga Indonesia di Den Haag, Belanda, Jumat. Menurut dia, pertemuan tersebut hanya membahas masalah keamanan Aceh, khususnya persiapan dalam menghadapi Pemilu mendatang. "Kami hanya mau melihat sejauh mana pelaksanaan MoU ini dan bagaimana nantinya pelaksanaan Pemilu di sana," kata dia. Diakuinya, pertemuan itu sifatnya untuk mengetahui perkembangan terkini di Aceh atas hasil dari proses perdamaian tersebut. Evaluasi dilakukan secara rutin pasca penandatanganan kesepakatan itu. Sementara itu, Koordinator World Acehnese Asociation WAA), Tarmizi Age, menyambut baik hasil pertemuan tersebut, demi keberlanjutan perdamaian di Aceh, apalagi lanjutnya, beberapa bulan ini akan dilaksanakan Pemilu dimana sejumlah partai lokal Aceh turut berperan aktif di dalamnya. "Keberlanjutan perdamaian Helsinki ini sangat penting sebab dalam waktu dekat, akan diselenggarakan Pemilu dimana sejumlah partai lokal Aceh, yang lahir setelah adanya perjanjian Helsinki 15 Agustus 2005 itu, juga akan turut berperan aktif dalam kegiatan politik tersebut," jelas Tarmizi. Sebab itu, katanya, WAA berharap agar Pemerintah Indonesia dapat memberikan kedamaian dan rasa aman kepada masyarakat Aceh. "Kedamaian dan keamanan itu, tidak tergantung pada jumlah aparat militer yang disiagakan di Aceh, tetapi sampai sejauh mana implementasi MoU Helsinki itu dilakukan oleh Pemerintah Indonesia," jelas Tarmizi. Menurut rencana, para delegasi GAM akan bertolak ke Indonesia melalui Amsterdam, Belanda, Jumat. Belanda merupakan salah satu negara yang penuh dengan kenangan masa lalu bagi masyarakat Aceh, yang hingga saat ini masih menyimpan persoalan di tanah rencong. Awalnya, tim negosiator dari GAM ini, akan mengunjungi ratusan warga Aceh di Denmark dan Norwegia. Mereka telah meninggalkan Indonesia ketika konflik antara GAM dan Pemerintah Indonesia berkecamuk. "Mereka tidak jadi berkunjung ke negara itu karena keterbatasan waktu," jelasnya. Mukarram World Acehnese Association ( WAA ) Ban sigom donja keu Aceh ! Sekretariat: Molleparken 20,9690 Fjerritslev, Denmark,Mobile: 0045 24897172 mukarramwaa@ yahoo.com www.waa-aceh. org [Non-text portions of this message have been removed]
