Benar Hendrik E B Sorondanya. Kalau ada orang bilang Chaves itu barusan 
membungkam oposisinya, kita perlu selidiki kebenaran info tersebut dan kalau 
memang ternyata benar oposisinya dibungkem Chaves, perlu juga dianalisa 
bagaimana sepakterjang oposisinya itu. Sebab di Dunia ini adakalanya penguasa 
jahat, justru kita harus mendukung oposisinya tapi adakalanya justru oposisi 
yang jahat. Kalau fenomena terakhir justru Chaves bertindak benar terhadap 
oposisinya.  Saya belum mengenal secara mendalam tentang Venezuela sekarang 
ini, tapi keberaniannya menentang AS pembela Israel nomor wahid, perlu kita 
kaji suara-suara yang mendiskreditkan Chaves. Orang di Indonesia memang ada 
juga yang menentang AS tapi segelintir rakyatnya yang bukan atas nama negara. 

Dulu memang ada Muammar Ghadafi yang lantang mengkritik AS tapi begitu teluk 
Sidra diserbu AS, M.G langsung berobah kebijakan politiknya, mendekatkan diri 
dengan Mesir dan Saudi Arabia, konconya AS. Masih terngiang-ngiang ditelinga 
kita suara Imam Khomaini: "AS boleh saja coba belajar menyerang Iran tapi 
ingatlah bahwa teluk Sidra tidak pernah sama dengan teluk Parsi". Sekarang apa 
yang dikatakan Imam Khomaini adalah realitanya bahwa Republik Islam Iran 
benar-benar mampu meraih prestis tertinggi bukan saja "dimata" Allah tapi juga 
dimata Dunia. Chaves yang sosialis. tidak melihat persoalan karena alasan2 
agama, ras, suku,
warna kulit, gunung pantai, rawa, danau, utara- selatan, timur-barat,
dan alasan tetek bengek rasis lainnya, telah berkata benar tentang Republik 
Islam Iran yang sangat mulia disisi Allah swt. 

Dulu ketika Imam Khomaini baru saja memenangkan revolusi Islamnya atas system 
Taghut Dhalim dan Munafiq tipe Indonesia atau prototipe Yazid bin Muawiyah yang 
membuat jutaan alim palsu masih menganggap muslim kepadanya disebabkan  masih 
melakukan shalat macam Suharto dan juga Yudhoyono sekarang ini, AS coba-coba 
menghalanginya dengan mempertahankan mata-matanya yang telah berada disana 
semenjak puluhan tahun yang lalu. Pasalnya AS dan US, masing-masing menjadi 
support utama bagi Iran dan Irak. AS memperkuatkan tentara Iran dibawah 
kekuasaan Syah Redha Palevi dengan Fantomnya selama lebih kurang 40 tahun 
sementara US mempertahankan Irak dibawah Saddam dengan Miragenya. Ternyata Iran 
macam senjata makan tuan bagi AS. Inilah diantara beberapa sebab yang membuat 
AS sangat penasaran terhadap  RII sampai sekarang ini.

Imam Khomaini dengan dukungan mahasiswa dan seluruh rakyat Iran menyandera 
mata-mata AS tersebut walaupun Abul Hasan bani Sadr tidak menyetujuinya dengan 
alasan mereka mata-mata  AS itu punya kekebalan deplomatik. Mahasiswa Iran 
berprinsip sama dengan Imamnya. Justru itulah Bani Sadr terpaksa "ambil sandal" 
(tjok silop) untuk  lari ke luar negeri. AS  sangat terpukul atas penyanderaan 
warganya itu hingga mengirimkan 7 pesawat Fantom modernnya untuk membebaskan 
para sanderanya. Ternyata ke 7 Fantom tersebut menghantam gunung kapur di Iran 
dan musnah semuanya. Dipagi-pagi benar imam berpidato: "Perang Badar terulang 
kembali".  Di peperangan Badar musuh berlipat ganda dari sebelumnya hingga 
Rasulullah berdoa pada Allah bahwa kalau kali ini tidak mendapat pertolongan 
Allah tidak akan adalagi yang memperhambakan diri kepadaNya setelah perang 
tersebut. Allah menjawab doa Nabinya bahwa ketika pengikut Muhammad melemparkan 
lembingnya, Dialah yang melemparnya.

Demikianlah yang dimaksudkan Imam Khomaini bahwa Allahlah yang menolong suatu 
kaum ketika kaum tersebut benar-benar memperhambakan diri kepadanya dan tidak 
takut kepada siapapun kecuali kepada Allah. 
Ketika Ahmadinejad berdiskusi dengan para dosen dari Universitaty termegah di 
AS, para dosen itu hendak mempermalukan Ahmadinejad tapi realitanya justru 
mereka yang mendapat malu memperlakukan tamunya secara tidak hormat, sementara 
Allah menyuruh kita untuk menghormati tamunya. 

Di Timur - tengah Israel yang segelintir dengan mudahnya mengalahkan Palestin 
padahal Palestin memiliki tetangga yang mengaku beragama Islam (baca Saudi 
Arabia, Mesir dan negara-negara yang mengaku golongan "Pan - Arabisme" tapi 
sepertinya mereka tetangga tersebut menempatkan diri sebagai "konco-konco" AS, 
pendukung Israel nomor wahid. Ketika negara.negara yang pro Iran mengusulkan 
agar kita menggunakan minyak bumi sebagai "senjata" yang ampuh untuk 
menghentikan support AS ke Israel, justru Saudi Arabia duluan yang 
menentangnya. Inilah yang kita sebut orang-orang Lugu dalam beragama. Kita 
perlu menganalisa kenapa mereka tidak membantu orang Palestin dari kebiadaban 
Israel - AS?  Dimanakah salahnya mereka?  Tipe agama macam manakah yang mereka 
anut? Islam murnikah dari Jalur Rasulullah sendiri atau dari jalur Yazid bin 
Muawiyah yang wahabi atau Yaziddi, pembela penguasa Dhalim macam Indonesia dan 
Mesir.

Kenapa justru dalam perang 33 hari Israel - Libanon justru Israel yang dibuat 
tidak berdaya oleh suatu kaum yang benar-benar beriman kepada Allah (baca 
Hizbullah). Siapakah Partai Hizbullah di Libanon itu hingga mampu mengalahkan 
Israel yang sudah puluhan tahun berbuat biadap terhadap bangsa Palestin? Mereka 
itu adalah murid-murid Imam Khomaini yang begitu tangguh dan ulet dalam 
bertempur. Bukankah orang mengikuti garis keluarga Abu Sfyan mengatakan Syiah 
itu sesat? Coba kita analisa secara seksama, siapa sesungguhnya yang sesat?  
Kaum yang mengikuti keluarga Rasulullahkah atau kaum yang mengikuti keluarga 
Abu Sofyan, Muawiyah dan Yazid bin Muawiyah sebagaimana yang berkuasa di Saudi 
Arabia sekarang dan mereka membuat banyak pesantren di Indonesia. Justru itulah 
mereka selalu membela penguasa yang Dhalim sejak jaman Suharto, Gusdur, 
Megawati dan Yudhoyono sekarang ini.

Saudaraku seperjuangan!    Kalau Israel sekarang sedang mengalami persoalan 
intern dimana kekejaman penguasa Israel diprotes oleh orang-orang Israel yang 
masih memiliki rasa persaudaraan kemanusiaan dengan orang Palestin, Indonesia 
yang "Israeli" juga mengalami hal yang sama. Dari itu semoga kita mampu 
mengambil momentum ini untuk mengatur strategi, termasuk Kaderisasi yang sangat 
diutamakan. Tampa kaderisasi yang tangguh, jangan harapkan kita dapat mencapai 
redha Allah paska Kemerdekiaan. Orang-orang yang memiliki "penyakit" 
dikepalanya akan bertindak sebagai musuh baru yang mampu mengalahkan kita 
hingga keamanan tanpa dipasung, kesejahteraan seluruh penduduk negri, keadilan 
dan kemuliaan tidak akan pernah kita miliki.

aceh843ja 
Betapa sering dalam sejarah, suatu revolusi memakan anak-anaknya sendiri, 
mengalami dekaden kembali hanya setelah satu generasi berlalu. "Kepompong" yang 
telah lama terpendam dibawah tanah, akan muncul kembali kepermukaan. Kaum 
reaksioner yang pernah mengaku sebagai sahabat kita sendiri muncul secara 
serentak untuk bereaksi. Mereka  telah dilumpuhkan dalam Perang Badar namun 
muncul kembali dalam Perang Siffain. Mereka  telah dimusnahkan di 
mesjid-mesjid Dhirar, namun dia muncul kembali di mesjid Kofah. Pejuang telah 
merasa aman dan lega setelah menguasai Madinah, Mekkah bahkan seluruh jazirah 
Arabia, Namun pada generasi yang kedua Islam mendapat pukulan yang paling telak 
di Karbala. 


Bagaimana mungkin mereka yang mengaku Ummat Muhammad itu membantai keluarga 
Muhammad? Kenapa kita di jaman yang serba maju dan modern  ini tidak mampu 
menganalisa siapakah mereka yang bersatupadu dalam system dhalim dan biadap 
itu, menggunakan jubbah Rasulullah tapi memusuhi orang-orang yang mengikuti 
keluarga Rasulullah dalam beragama, bernegara dan berbangsa?  Tidak tepatkah 
tragedi Karbala kita gunakan untuk memantapkan loangkah kita bersama untuk 
melawan musuh hingga Allah redha sebagaimana kemuliaan yang dimiliki Bangsa 
Iran sekarang ini?  Tidakkah perlukah kita analisa mengapa tentara-tentara 
Hizbullah mampu mengalahkan Israel yang didukung penuh oleh negara super power 
AS sekarang ini? Mengapa kita dengan mudah menerima janji-janji muluk musuh 
kita?  Bijaksanakah kita ketika kita terperosok dalam lobang yang sama, hingga 
dengan fanatik buta membela penguasa dhalimnya?

Semoga menjadi renungan bagi kaum mana saja yang sedang berjuang membebaskan 
diri dan bangsanya dari belenggu kehinaan yang menimpa kuduk-kuduk kita.

billahi fi sabililhaq,
(alasytar, Acheh - Sumatra)


    




________________________________
From: Hendrik E B Sorondanya <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, January 18, 2009 12:55:11 AM
Subject: Re: KOMUNITAS  PAPUA Chavez: Seret Pemimpin Israel dan AS ke 
Pengadilan Kejahatan Internasional


itulah Chaves...itulah gambaran para pemimpin yg sosialis. tidak melihat 
persoalan karena alasan2 agama, ras, suku, warna kulit, gunung pantai, rawa, 
danau, utara- selatan, timur-barat, dan alasan tetek bengek rasis lainnya, 
dll.dll...dlll. ...

tapi melihat persoalan lebih pada persamaan hak. mungkin seperti kata firman 
Tuhan, apa yang kau ingin orang lain perbuat kepadamu, buatlah itu kepada 
mereka.

kalo ko ingin orang adil, solider, dll pada mu...lakukan itu kepada mereka.....

mungkin itu pandangan saya soal Chaves dan masalah di Gaza

 
Bentuk Pemerintahan Persatuan Demokratik Rakyat Papua, 
Wujudkan Papua yang Merdeka, Adil, Sejahtera, Modern dan Demokratis

--- On Sat, 1/17/09, Freedom <p3rjuan...@yahoo. com> wrote:

From: Freedom <p3rjuan...@yahoo. com>
Subject: Re: KOMUNITAS  PAPUA Chavez: Seret Pemimpin Israel dan AS ke 
Pengadilan Kejahatan Internasional
To: Komunitas_Papua@ yahoogroups. com
Date: Saturday, January 17, 2009, 8:22 AM


Hugo Chavez sedang mimpi apa?

Dia barusan saja membungkam oposisi di negerinya... . kenapa bicara orang lain 
pu salah?

Kasihan..... . sebaiknya dia kirim serdadu Venesuela ke Gaza saja, supaya dapa 
hajar kaya hamas.

____________ _________ _________ __
From: Kopral Hijau <kopral_hijau@ yahoo.com>
To: Pembebasan_papua@ yahoogroups. com; komunitas_Papua@ yahoogroups. com
Sent: Thursday, January 15, 2009 1:44:25 AM
Subject: KOMUNITAS  PAPUA Chavez: Seret Pemimpin Israel dan AS ke Pengadilan 
Kejahatan Internasional

HARI INI !!!

Presiden Venezuela Hugo Chavez:
Seret Pemimpin Israel dan AS ke Pengadilan Kejahatan InternasionalIntern 
ational - Kamis, 08-01-2009 
MedanBisnis – Caracas
Presiden
Venezuela Hugo Chavez pada hari Selasa menyebut serangan Israel ke Gaza
sebagai “holocaust”. Ini istilah sering digunakan untuk menggambarkan
pembantaian Yahudi oleh Nazi.

“Holocaust,
itulah yang terjadi sekarang di Gaza, “ kata Chavez di televisi seperti
dilaporkan Reuters. “Presiden Israel saat ini harus diseret ke
pangadilan kejahatan internasional bersama-sama dengan Presiden Amerika
Serikat. “
Chavez pada hari Senin juga menuduh Washington meracun
pemimpin Palestina Yasser Arafat demi mendestabilisasi Timur Tengah dan
membuat pembenaran atas serangan Israel.

Amerika Serikat, yang
digambarkan Chavez sebagai kekaisaran yang sedang mengalami dekadensi,
bersikukuh membela Israel, sekutu utamanya di kawasan itu.
Presiden
Chavez juga menyebut tentara Israel “pengecut” karena melakukan ofensif
ke Jalur Gaza dan menyatakan rakyat Israel mestinya memprotes operasi
militer yang telah menewaskan 660 orang itu.

“Pengecut sekali
tentara Israel itu. Mereka menyerang rakyat yang kehausan, tertidur
lelap, tak berdosa dan mereka sebut aksi itu demi membela rakyatnya.
Saya himbau rakyat Israel untuk bangkit menentang pemerintah mereka,”
kata Chavez kepada para wartawan.

Selama kunjungannya ke sebuah
rumah sakit khusus anak di Caracas, Chavez menilai masyarakat
internasional mesti berupaya menghentikan kegilaan di Gaza seraya
menandaskan pemerintahnya sedang mengupayakan bantuan kemanusiaan
kepada rakyat Palestina.

Berbicara Lantang

Presiden
Venezuela Chavez berharap, karena pemerintahannya menghormati kehidupan
orang Israel di Venezuela, maka masyarakat keturunan Yahudi di
Venezuela juga mesti berbicara lantang menentang tindakan barbar Israel.

“Mereka
menuduh (Presiden Iran) Mahmoud Ahmadinejad bertangungjawab atas
genosida tapi mereka tak mampu membuktikan tuduhan itu karena dia tidak
pernah menginvasi siapapun. Venezuela juga tidak menginvasi orang lain.
Mereka menuduh (pemimpin Kuba) Fidel Castro seorang tiran dan
pembunuh,” kata Chavez menyebut beberapa sekutunya.
Tetapi, Chavez heran tidak pernah ada tuduhan serupa kepada Presiden
Israel Shimon Peres. “Sinis sekali dunia ini ya,” sambungnya. (bud/rtr/dpa)
_________ 

"

 
    


      

Kirim email ke