----- Original Message ----- 
From: winwannur 
To: [email protected] 
Sent: Sunday, March 01, 2009 5:35 PM
Subject: [mediacare] PKS, Budaya Arab dan Sikap HEGEMONISTIK


Di Blog saya, pada tulisan yang saya beri judul PKS Partai kaum fasis.
Saya mendapati sebuah komentar menarik yang mengkritisi tulisan saya
yang mempertanyakan soal komentar saya tentang PKS. 

Menurut penulis komentar yang mengaku sebagai orang Aceh bernama Boss
Achmad bin Umar Basalamah dan sebagai orang Aceh yang mempunyai
hubungan sejarah yang erat dengan Bangsa Arab, Bangsa Eropa yg menjadi
bagian dari pemerintahan Islam masa lampau, Boss Achmad cukup heran
dengan respon saya yang menurutnya terkesan alergi dengan budaya Arab
yg ditampilkan SEBAGIAN anggota PKS. Padahal menurut Boss Achmad, Aceh
sebagai entitas regional sangat erat dengan budaya-budaya seperti itu
di masa lampau bahkan sampai sekarang, meskipun saat ini lumayan
mengalami degradasi yg cukup besar. Lengkapnya silahkan baca
www.winwannur.blogspot.com

Ada beberapa hal yang perlu saya luruskan mengenai komentar Boss
Achmad ini. 

Pertama soal Aceh yang mempunyai hubungan sejarah yang erat dengan
Bangsa Arab, Bangsa Eropa yg menjadi bagian dari pemerintahan Islam
masa lampau. Itu memang benar sekali, tapi apakah kemudian dengan itu
lalu Aceh mengadopsi budaya Arab secara gebyah uyah seperti yang
dilakukan banyak kader PKS belakangan ini?...Tidak. 

Soal saya yang terkesan alergi terhadap budaya Arab juga demikian,
sebenarnya saya sama sekali tidak pernah alergi terhadap budaya arab
atau orang-orang yang memilih untuk menirunya. Tapi jujur saya katakan
kalau saya memang sangat anti kepada orang Arab apalagi Arab imitasi
yang merasa budaya mereka atau budaya yang mereka tiru itu adalah
budaya paling unggul dan memandang rendah setiap orang yang tidak
seperti mereka.

Untuk lebih jelas soal permasalahan ini, mari kita mengambil sebuah
contoh penanda identitas ke-Aceh-an yang berbau Arab yang paling mudah
kita temui sehari-hari. JILBAB misalnya, salah satu cara berpakaian
ala arab yang belakangan ini seolah identik dengan setiap perempuan Aceh. 

Saat ini jika kita bertemu perempuan muslim di Aceh, kita akan
mendapati mereka semua mengenakan jilbab menutupi kepala mereka. Tapi
apakah dari dulu gaya berpakaian perempuan Aceh memang seperti
itu?...atau malah lebih tertutup lagi dan yang kita lihat sekarang
hanyalah sisa-sisanya seperti kata Boss Achmad bin Umar Basalamah
"Padahal Aceh sebagai entitas regional sangat erat dengan budaya2
seperti itu di masa lampau bahkan sampai sekarang, meskipun saat ini
lumayan mengalami degradasi yg cukup besar".

Saya tidak tahu darimana Boss Achmad bin Umar Basalamah mendapat
referensi soal budaya arab yang diadopsi oleh orang Aceh ini karena
jika kita perhatikan data-data dan fakta yang ada, penampilan orang
Aceh zaman dulu ternyata tidak seperti yang digambarkan oleh Boss
Achmad bin Umar Basalamah.

Katakanlah misalnya Cut Nyak Dhien dan Cut Meuthia kita jadikan
contoh, apakah dimasa hidup mereka, kedua pahlawan besar Aceh ini
mengenakan burqa, berpakaian longgar menutupi seluruh badan kecuali
meyisakan mata?, atau setidaknya berpakaian mengenakan jilbab panjang
dan longgar seperti gaya para akhwat PKS?. 

Ternyata jawabanya Tidak!...dari foto-foto lama, bisa kita lihat Cut
Nyak Dhien dalam kesehariannya tidak berjilbab, Cut Meuthia juga
demikian. Pada masa mereka hidup, dalam masyarakat Aceh, rambut
bukanlah sesuatu yang dianggap dapat mengundang birahi lawan jenis.
Karena itulah dalam foto-foto lama, kita bisa melihat Cut Nyak Dhien
duduk dengan rambut tergerai tanpa ditutupi Jilbab.

Inen Mayak teri, pahlwan perempuan dari Gayo malah lebih ekstrim lagi,
dalam cerita-cerita yang kami dengar dari kakek nenek kami mengenai
kisah beliau. Selalu diceritakan kalau Inen mayak teri bersumpah akan
tetap membioarkan rambutnya terurai tanpa diikat (i gerbang dalam
bahasa Gayo) dan tidak akan menggelung rambutnya sebelum Belanda
angkat kaki dari bumi Aceh.

Tapi apakah dengan tidak berpakaian selayaknya perempuan arab seperti
itu, kemudian para pahlawan perempuan asal Aceh itu lalu bisa
dikatakan bukan perempuan islam?. Saya yakin sekali kalau ada orang
yang berani sekedar berteori seperti ini, si orang sok islam itu akan
dikejar dan dicincang oleh anak keturunan mereka.

Jilbab seperti yang kita kenal sekarang, setahu saya di Indonesia baru
muncul di awal tahun 1980-an. Diperkenalkan oleh mahasiswi-mahasiswi
di UI sebagai protes atas larangan pemerintah saat itu terhadap
pemakaian jilbab di institusi publik. Sejak diperkenalkan oleh
mahasiswi-mahasiswi di UI ini Jilbab mulai menjadi kontroversi, ada
anak sekolah yang dipulangkan karena mengenakan jilbab dan berbagai
kontroversi lainnya. 

Tapi seiring dengan semakin 'hijau'nya pemerintahan negeri ini yang
ditandai dengan sikap Soeharto yang mulai meninggalkan para
cendekiawan dan petinggi militer beragama kristen yang sejak awal
pemerintahannya merupakan pembantu terdekat dan orang kepercayaannya
dan Soeharto mulai membangun kedekatan dengan tokoh-tokoh dan
cendekiawan muslim dan mulai mengangkat para petinggi militer 'hijau'
sebagai penmbantu terdekat orang-orang kepercayaannya, larangan inipun
mulai dilonggarkan dan malah kemudian sepertinya dicabut. Lalu tren
pemakaian Jilbab sebagai pakaian penanda identitas keislaman mulai
merebak ke seluruh Indonesia, termasuk Aceh.

Pada awal tahun 80-an, saya hampir tidak pernah melihat perempuan Aceh
berjilbab, bahkan bibi saya yang sekolah di PGA (Pendidikan Guru
Agama)-pun saat itu tidak berjilbab, tapi mengenakan kerudung dengan
rambut yang tetap terlihat. 

Tapi ketika saya masuk SMA di tahun 1989, murid-murid sekolah agama
seperti MtsN dan MAN sudah berjilbab, di SMA umumpun sudah mulai
banyak siswi yang mengenakan jilbab ke sekolah. Bahkan Di kelas saya
sendiri ada dua siswi teman saya yang berjilbab. 

Saat saya masuk kuliah di tahun 1992, para perempuan yang kuliah di
jurusan agama (IAIN) sudah berjilbab karena sepertinya di kampus ini,
penggunaan Jilbab memang diharuskan. Pada masa itu, jilbab juga sudah
mulai menjadi trend di kalangan mahasiswi non jurusan agama. Contoh
terdekat misalnya di fakultas teknik tempat saya kuliah. 

Saat pertama kali masuk di fakultas teknik, saya mendapati ada
beberapa teman seangkatan dan kakak leting saya yang berjilbab. Salah
satunya yang paling saya ingat adalah kakak kelas saya angkatan 87,
bernama Soraya Kamaruzzaman. Kakak kelas saya yang berjilbab ini
paling saya ingat karena saat perkenalan dengan para pengurus
organisasi kemahasiswaan di kampus kami, di sela-sela penataran P4
yang membosankan,dia adalah satu-satunya perempuan di antara para
kakak kelas kami yang memperkenalkan diri sebagai ketua senat dan
ketua himpunan mahasiswa bersama para sekretarisnya. Kak Soraya mudah
diingat karena waktu itu dialah satu-satunya pemandangan yang
menyegarkan mata di antara para abang leting yang berwajah lusuh,
berambut kusut dan berpakaian kumal.

Saat itu kak Soraya ada di sana dalam kapasitasnya sebagai Ketua
Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia. Kak Soraya ini adalah perempuan
pertama yang menjadi ketua himpunan di Fakultas Teknik yang didominasi
laki-laki, sejak fakultas ini pertama kali berdiri di Unsyiah tahun 1963.

Pada waktu itu saya memandang Kak Soraya dengan rasa kagum dan hormat,
kagum pada kapasitas dirinya yang sedikitpun tidak menunjukkan rasa
inferioritas sebagai perempuan diantara para laki-laki teknik yang
dalam bayangan saya saat itu adalah kumpulan manusia yang gahar dan
garang. Dan saya rasa hormat saya kepada kakak kelas saya ini semakin
besar ketika dalam kapasitasnya yang seperti itu saya lihat dia
memilih mengenakan jilbab untuk menunjukkan sikap dan ketaatan
pribadinya dalam menjalani ajaran agama yang dia anut. Padahal waktu
itu mahasiswi non fakultas agamis, belum terlalu banyak yang
mengenakan jilbab. Kakak leting saya yang lain yang seangkatan dengan
kak Soraya, rata-rata tidak berjilbab. 

Tanpa mengaitkannya dengan kak Soraya. Sejak tahun 1990-an, saya
mengamati kalau Jilbab semakin hari Jilbab semakin menjadi trend dalam
gaya berpakaian di kalangan para mahasiswi di Aceh. 

Di fakultas tekniksendiri, sepertinya ada trend diantara para
mahasiswinya untuk mengenakan jilbab ketika semester semakin tinggi.
Semakin tinggi semester yang kami jalani, semakin banyak teman-teman
saya yang berjilbab. Ketika fenomena jilbab ini saya amati lebih
lanjut, saya melihat, saat memasuki semester 5, biasanya seluruh
perempuan di angkatan itu akan mengenakan jilbab.

Sampai di sana saya sama sekali tidak melihat ada masalah dengan
penggunaan jilbab di kalangan perempuan di Aceh, sampai saat itu saya
masih memandang setiap perempuan berjilbab di kampus saya dengan penuh
rasa hormat.

Jilbab mulai menjadi masalah di Aceh ketika orang-orang yang merasa
dirinya bermoral dan merasa diri sebagai penjaga moral orang Aceh,
melihat fenomena maraknya penggunaan Jilbab itu sebagai sesuatu yang
positif dan mulai berpikir untuk mengharuskan penggunaannya bagi
setiap perempuan muslim di Aceh. 

Sejak saat itu Jilbab-pun mulai digunakan sebagai alat intimidasi,
yang awalnya dimulai dengan intimidasi secara halus melalui teguran
atau sindiran sampai pada puncaknya kemudian dibakukan menjadi sebuah
hukum positif yang memaksa setiap perempuan untuk menggunakannya.
Bahkan sampai ada razia segala. Saat ini penggunaan Jilbab bagi
perempuan di Aceh sudah sama seperti penggunaan helm bagi pengendara
motor dan penggunaan sabuk pengaman bagi pengendara mobil.

Fenomena ini saya amati berawal pada paruh akhir tahun 1990-an. Saat
itu saya mulai melihat banyak perempuan di Banda Aceh yang mengenakan
jilbab dengan perasaan terpaksa, bukan karena keikhlasan dan pilihan
pribadi menunjukkan sikap dan ketaatan pribadinya dalam menjalani
ajaran agama yang dia anut, tapi karena terpaksa, karena merasa
terintimidasi. 

Pada masa itu di kampus, di dalam labi-labi atau di pasar sering
sekali saya bertemu dengan cewek-cewek anak ekonomi berpakaian ketat,
menutupi kepala mereka dengan sepotong kain yang bernama Jilbab. 

Pernah satu kali saya tanyakan kepada mereka, kenapa mereka berpakaian
seperti itu, mereka menjawab karena ada dosen yang mengharuskannya.
Mereka tidak diizinkan masuk ke ruangan kalau tidak mengenakan jilbab.

Lalu pernah pula salah seorang teman baik saya, seorang cewek anak
ekonomi yang suka berpakaian ketat bercerita kepada saya, kalau dosen
mereka pernah menyindir gaya berpakaian dia dan teman-temannya. "Saya
meminta kalian berjilbab untuk menutupi aurat, bukan untuk membalut
aurat", begitu kata dosen mereka waktu itu.

Sejak saat itulah saya mulai sinis terhadap Jilbab. 

Jika saya sekedar sinis, Kak Soraya, kakak kelas saya yang pernah
sangat saya kagumi dan saya hormati karena pilihannya untuk berjilbab
ternyata lebih ekstrim lagi. Sejak Jilbab digunakan sebagai alat untuk
mengintimidasi perempuan, Kak Soraya memilih untuk menanggalkan
jilbabnya. Saya mengetahui ini ketika menjelang akhir tahun 1999 saya
yang bekerja sebagai penerjemah untuk New Yorker diminta untuk
mewawancarai Kak Soraya dalam kapasitasnya sebagai ketua LSM Flower,
sebuah LSM yang bekerja dalam isu-isu perempuan.

Saat saya bertemu Kak Soraya yang saat itu sudah sarj melihat tidak
banyak yang berubah dari penampilan kakak kelas saya ini, dia tetap
berpakaian sopan, longgar dan tertutup seperti Kak Soraya yang pernah
saya kenal dulu. Hanya yang membedakannya, saat itu tidak ada lagi
jilbab yang menutupi kepalanya. 

Ketika soal itu saya tanyakan, Kakak kelas saya ini bilang itu karena
sekarang jilbab tidak lagi digunakan sebagai alat untuk menunjukkan
sikap pribadi dalam menjalani ajaran agama tapi sudah dijadikan
sebagai alat untuk mengintimidasi perempuan.

Jawaban kakak kelas saya ini membuat saya semakin menghormatinya. 

Seperti kakak kelas saya ini, sayapun sebenarnya sangat menghormati
perempuan yang berjilbab atas niat sendiri dan keikhlasan atas dasar
keyakinan agama yang dia anut. Tapi benar saya tidak suka terhadap
orang yang memaksakan pemakaian jilbab dan orang-orang yang memandang
rendah para perempuan yang tidak berjilbab. Sebenarnya kepada
orang-orang seperti inilah saya ALERGI bahkan ANTI, bukan kepada
JILBAB, bukan kepada budaya ARAB.

Sikap saya yang seperti ini juga sama terhadap orang-orang berjenggot
dan orang-orang yang mempopulerkan panggilan 'Ikhwan' dan 'Akhwat'
sesama mereka, saya bukan alergi pada jenggot, celana gantung atau
panggilan 'Ikhwan' dan 'Akhwat' yang mereka populerkan, tapi saya
ALERGI bahkan ANTI pada sikap mereka yang memandang rendah orang-orang
yang tidak berjenggot, pada sikap mereka yang memandang rendah
orang-orang yang sesamanya tidak memanggil 'Ikhwan' dan 'Akhwat'.

Perlu juga di ketahui, sikap yang seperti ini saya tunjukkan bukan
hanya eksklusif pada budaya Arab dan orang-orang islam berjenggot
saja. Sikap saya ini juga berlaku terhadap budaya atau cara pandang
apapun yang sok eksklusif dan merasa paling hebat yang mememandang
rendah budaya atau cara pandang lain yang tidak sama dengan mereka.

Saya sama sekali tidak alergi terhadap bahasa Inggris dan budaya barat.

Tapi jika anda membaca tulisan saya di blog saya
www.winwannur.blogspot.com yang saya beri judul, 'My Hero Cinta
Laura', 'Montessori dan rasisme Kulit Coklat', dan berbagai tulisan
lainnya, anda akan mendapati kalau sayapun juga sama ALERGI dan
ANTI-nya terhadap orang barat dan para penirunya yang merasa cara
pandang, budaya dan gaya hidup mereka atau budaya dan gaya hidup yang
mereka tiru itu adalah budaya dan gaya hidup paling unggul lalu
memandang rendah setiap orang yang tidak seperti mereka. 

Kalau anda membaca tulisan tersebut, anda akan tahu seperti saya yang
ANTI kepada orang-orang yang bergaya dan berbicara kearab-araban lalu
memandang rendah orang yang tidak seperti mereka, sayapun sangat ANTI
kepada orang-orang yang bergaya dan berbicara ke Inggris-inggrisan
seperti orang Amerika dan lalu merasa budaya yang mereka tiru itu
adalah budaya paling unggul dan memandang rendah setiap orang yang
tidak seperti mereka. 

Dalam banyak tulisan saya, anda juga bisa mendapati banyaknya sikap
sinis dan antipati yang saya tunjukkan kepada orang Jawa dan para
peniru Jawa yang merasa budaya mereka atau budaya yang mereka tiru itu
adalah budaya paling unggul dan memandang rendah setiap orang yang
tidak seperti mereka. 

Sama seperti sikap saya terhadap budaya arab dan 'budaya' amerika,
sikap saya terhadap Jawa inipun sama sekali bukan karena saya ALERGI
apalagi ANTI terhadap orang Jawa. Sama sekali tidak, karena jika
dihitung-hitung malah bisa jadi jika dikumpulkan dari seluruh teman
yang saya punya, justru yang paling banyak adalah orang Jawa. Bahkan
beberapa paman, bibi dan sepupu saya juga menikah dengan orang Jawa.

Sikap ALERGI dan ANTI yang saya tunjukkan kepada mereka itu adalah
sikap ALERGI dan ANTI saya terhadap sikap HEGEMONISTIK Jawa yang
selama ini menguasai seluruh sendi tata nilai yang berlaku di negeri
ini. Saya sangat ANTI dan ALERGI kepada orang-orang Jawa dan dan para
peniru Jawa yang merasa budaya mereka atau budaya yang mereka tiru itu
adalah budaya paling unggul dan memaksa setiap orang di negeri ini
untuk menjadi seperti mereka.
Bahkan dalam beberapa tulisan saya, anda juga bisa menemukan sikap
sinis dan antipati yang saya tunjukkan kepada orang dan segelintir
pejabat Aceh yang merasa budaya Aceh pesisir adalah budaya paling
unggul di provinsi ini dan hanya mau berbahasa Aceh ketika berdialog
dengan rakyatnya, memandang rendah setiap orang yang bukan berasal
dari suku Aceh pesisir dan tidak bisa berbahasa Aceh.

Sama seperti sikap saya terhadap semua budaya dan cara pandang yang
saya sebutkan di atas, sikap saya terhadap Aceh inipun sama sekali
bukan karena saya ALERGI apalagi ANTI terhadap orang Aceh pesisir atau
karena saya tidak bisa berbahasa Aceh. Sama sekali tidak, bagaimana
saya bisa ALERGI terhadap orang Aceh pesisir sementara jika dihitung
dari seluruh sahabat dan teman terbaik yang saya punya di dunia ini,
mayoritas dari mereka adalah orang Aceh pesisir. Dan karena saya
tumbuh dewasa di Banda Aceh, dalam sikap, mentalitas dan keseharian
saya sendiripun sekarang sudah banyak sekali yang mirip dengan sikap
dan mentalitas orang Aceh pesisir, bahkan sayapun bisa berbicara dalam
bahasa Aceh sama fasihnya dengan berbicara dalam bahasa Gayo yang
merupakan bahasa ibu saya.

Jadi sikap ALERGI dan ANTI yang saya tunjukkan terhadap para 'Ikhwan'
dan 'Akhwat'yang berjenggot dan berjilbab itu sama sekali bukan karena
pilihan mereka untuk berjilbab atau berjenggot atau gaya mereka yang
kearab-araban lainnya. 

Sikap ALERGI dan ANTI yang saya tunjukkan kepada mereka itu adalah
sikap ALERGI dan ANTI saya terhadap sikap HEGEMONISTIK yang mereka
tunjukkan, sama seperti sikap HEGEMONISTIK yang ditunjukkan para anak
gaul dan dan eksekutif muda di Jakarta dengan gaya ke
Amerika-amerikaan mereka. Sama seperti sikap HEGEMONISTIK sebagian
kalangan di negara ini dengan gaya ke Jawa-jawan mereka. Sama seperti
sikap HEGEMONISTIK yang ditunjukkan segelintir pejabat di Aceh yang
begitu pongah dengan ke-Aceh-an mereka.

Sikap ALERGI dan ANTI yang saya tunjukkan tersebut adalah sikap ALERGI
dan ANTI terhadap sikap mereka yang memandang rendah semua orang yang
TIDAK SAMA dengan mereka. 

Wassalam

Win Wan Nur
www.winwannur.blogspot.com


Kirim email ke