http://www.sinarharapan.co.id/berita/0903/24/sh01.html

Aceh Tegang Jelang Pemilu 

Oleh
Tutut Herlina 

 

Jakarta - Ketegangan politik di Aceh meningkat menjelang pemilihan umum 
(pemilu) pada 9 April 2009 dan sepertinya akan terus berlanjut. 

Bahkan, saat ini mulai terlihat ketidakpercayaan yang mendalam antara Gerakan 
Aceh Merdeka (GAM) dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI). 
Dalam laporan singkat yang dikeluarkan oleh International Crisis Group (ICG) 
dengan judul "Indonesia Ketidakpercayaan Mendalam Menjelang Pemilu" disebutkan 
permusuhan antara TNI dan GAM saat ini mencapai eskalasi tertinggi sejak 
perjanjian damai disepakati pada 2005. Walaupun ini belum mengarah pada bahaya 
yang besar, kekerasan berskala rendah menjelang pemilu akan meningkat.  "Banyak 
anggota TNI yakin bahwa GAM masih komit pada kemerdekaan, dan kemenangan besar 
dari Partai Aceh (parpol GAM) dapat mengancam kesatuan republik," kata 
penasihat senior Crisis Group untuk program Asia, Sidney Jones. 

Sebaliknya, kata Sidney, GAM juga melihat bahwa militer berusaha menghentikan 
Partai Aceh dengan berbagai cara. Mereka juga mempercayai bahwa 
penyerangan-penyerangan yang terjadi pada anggota maupun pengurus Partai Aceh 
menjelang pemilu berhubungan dengan TNI. 
Sidney mengatakan, ketakutan TNI tersebut tidak tepat. Pimpinan GAM sudah 
berulang kali menyatakan komitmennya pada perjanjian Helsinki 2005, dan 
sebagian besar kombatan tidak memiliki keinginan untuk berkonflik. 


Begitu juga dengan ketakutan GAM. Tetapi, hingga penyerangan yang menyebabkan 
empat orang meninggal pada Februari dan Maret belum terungkap maka kecurigaan 
pada TNI akan terus bertahan. Satu-satunya kunci untuk menurunkan ketegangan 
adalah dengan cara menegakkan hukum. Tapi sayangnya, aparat kepolisian di Aceh 
hanya memiliki laporan yang sedikit untuk dapat mengidentifikasi pelaku 
kriminal. Baik TNI maupun GAM percaya bahwa mereka akan saling mengingkari 
perjanjian yang dibuat di Helsinki dan setelahnya, tetapi saluran-saluran untuk 
dialog diperlemah oleh ketiadaan partisipasi dari pihak-pihak utama. Karena 
itu, masyarakat sipil harus lebih banyak berperan untuk mengembalikan 
perdamaian pada jalurnya dengan meminta akuntabilitas dari GAM dan TNI. 


Sementara itu, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (AD) Brigjen TNI 
Christian Zebua mengatakan, TNI Angkatan Darat (AD) tidak khawatir dengan 
besarnya perolehan suara Partai Aceh. Secara demokrasi, banyak atau tidaknya 
perolehan suara telah dijamin oleh aturan yang berlaku. 
TNI sampai saat ini juga menginginkan situasi di Aceh kondusif. 
Persoalan-persoalan kekerasan tersebut sebaiknya diproses secara hukum oleh 
aparat keamanan supaya dapat diungkap secara jelas siapa pelakunya. Sampai saat 
ini, aparat keamanan belum mengetahui pelaku tersebut. "Di Aceh tentara 
menginginkan tenteram, aman dan damai. Kita tidak khawatir mereka banyak 
mendapat suara. Silakan itu demokrasi seperti yang diinginkan bersama. Kita 
mengamankan saja supaya kondusif dalam NKRI," paparnya. 

Kirim email ke