"Udép geutanjoë hana juëm meusaboh aneukmanok meunjo hana tapeutheun peuë njang ka geukeubah lé éndatu. Udép sibagoë lamiët dan djadjahan gob njan hana juëm meu-sikeuëh ! Meunjo tateupuë(peuë) arti keumuliaan! UREUENG-UREUENG LAGÈË LÔN 1000 X ( SIRIBÈË GO ) LEUBÈH GOT MATÉ NIBAk DIDJADJAH LÉ DJAWA !!! Kheun Tgk Hasan di Tiro http://www.youtube.com/watch?v=oqJYGoF0SMQ
--- On Sun, 4/5/09, jaroe hanagaki <[email protected]> wrote: From: jaroe hanagaki <[email protected]> Subject: LABA MOU HELSINKI Date: Sunday, April 5, 2009, 2:51 PM INDONESIA JAWA NKRI DI BAWAH PERINTAH SBY TELAH MENGIRIM RIBUAN SERDADU KHUSUS TNI&POLRI KE ACEH UNTUK MEMBUNUH MEREKA YANG SEKARANG TELAH BERGABUNG DALAM KPA. KPA SEKARANG SUDAH SANGAT MUDAH DIKENAL OLEH PARA SERDADU JAWA INI SEBAB SECARA TERANG-TERANGAN BERGABUNG DALAM PARTAI LOKAL PA. ACEH TIDAK AKAN PERNAH AMAN DAMAI SELAMA KAFIR LAKNAT JAWA PENJAJAH NKRI ITU MASIH BERKELIARAN DI BUMI ACEH. Lagi, Anggota PA Tewas Didor 5 April 2009, 14:46 Utama Administrator Jenazah anggota KPA Aramiah ketika berada di RSUD Langsa Jenazah anggota KPA Aramiah, M Jamin bin Razali (40), ketika berada di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Langsa setelah ditembak dari jarak dekat di Jalan raya Medan Banda Aceh, Desa Lhokbanie, Langsa, sekitar pukul 20.10 WIB, Sabtu (4/4) malam. SERAMBI/YUSMADI YUSUFLANGSA - Sekretaris Dewan Pimpinan Sagoe (DPS) Bireum Bayeun Partai Aceh (PA), M Jamin bin Razali (40), tewas ditembak dari jarak dekat oleh dua pengendara RX King di Jalan Raya Medan-Banda Aceh, kawasan Desa Lhokbanie, Kecamatan Langsa Barat, Langsa sekitar pukul 20.10 WIB Sabtu (4/4). Saat dieksekusi, korban sedang pulang ke rumahnya di Kuala Simpang, Aceh Tamiang. Seorang warga Lhokbanie, M Amin AR (60) yang ditemui di RSUD Kota Langsa kepada wartawan kemarin mengatakan, awalnya ia tidak mengira bahwa letusan yang sempat didengar dua kali itu adalah suara letusan senjata. “Namun, istri saya bilang ada orang yang jatuh dari kereta di pinggir jalan,” ungkap M Amin yang ikut membawa jenazah korban ke RSUD Langsa. M Amin menambahkan, ketika itu ia langsung bergegas memastikan orang yang terjatuh dari keretanya. “Saat itu saya melihat korban sudah dalam sekarat. Saya langsung melafazkan dua kalimah syahadat,” kata M Amin seraya menambahkan bahwa beberapa saat kemudian banyak warga setempat yang datang dan segera mereka membawa korban ke RSUD Langsa. Amatan Serambi di RSUD Langsa, tak lama di ruang IGD. Korban langsung di bawa ke ruang mayat untuk keperluan otopsi. Kapolres Langsa, AKBP Marwan Syukur SH MH juga tampak melihat langsung kondisi korban saat di IGD RSUD Langsa. Kasus ini pun masih dalam penyelidikan pihak berwajib. Diintai Ketua DPS PA Bireum Bayeun, Nurdin Juned atau yang biasa disapa Puteh, ketika dihubungi via telepon selularnya mengatakan, korban yang bertempat tinggal di Kuala Simpang sehari-hari selalu pulang pergi dari Kuala Simpang, Aceh Tamiang ke Bireum Bayeun, Aceh Timur. “Saat ditembak, korban sedang dalam perjalanan pulang ke Kuala Simpang. Korban juga meninggalkan seorang istri,” kata dia. Menurut Puteh, korban memang sudah diintai. Karena sudah sekian lama pulang pergi dengan jadwal yang sudah pasti. “Setiap harinya, korban berangkat dari Kuala Simpang sekitar pukul 09.00 WIB hingga pukul 11.00 WIB. Jadwal pulang sekitar pukul 17.00 WIB hingga Magrib dari Bireum Bayeun,” kata Puteh. Saat dieksekusi, kata Puteh, korban juga mengantongi sejumlah surat saksi untuk Pemilu. Sementara pelaku penembakan, menurut Puteh, adalah dua orang berjaket hitam yang menggunakan sepeda motor RX King. “Kemungkinan besar korban sudah diikuti sejak pulang dari Peureulak,” tambah Puteh. Puteh juga memaparkan, korban yang dulunya mantan komandan operasi GAM di Sagoe Aramiah, kini aktif menjadi seorang pengurus di PA. Korban selalu pulang pergi ke Peureulak untuk mengurus berbagai kepentingan adminstrasi partai. “Seingat saya, selama ini korban tidak pernah mengeluhkan adanya intimidasi atau ancaman yang dialamatkan kepadanya. Semuanya biasa-biasa saja,” kata dia. Namun, menurut Puteh, sejak beberapa bulan terakhir korban kerap ditelepon oleh seseorang yang tidak memberitahukan identitasnya. “Memang selama ini bukan hanya korban yang mengalami hal seperti ini. Banyak pengurus PA juga sering diteror via telepon,” demikian Puteh.(yuh)
