http://www.sinarharapan.co.id/berita/0904/11/kesra03.html
Kampus Uncen Dibakar Sekolah Jadi Simbol Diskriminasi Jakarta - Bagi masyarakat Papua, sekolah adalah simbol diskriminasi antara orang kaya dan orang miskin. Akibatnya jika muncul persoalan-meski akar permasalahannya terkait masalah di luar pendidikan, misalnya masalah politik- maka sekolah bisa saja menjadi sasaran kemarahan masyarakat. Sesaat sebelum Pemilu Legislatif 9 April lalu, pada sekitar pukul 03.00 subuh, Gedung Rektorat milik Universitas Cenderawasih (Uncen) di Papua dibakar oleh orang tak dikenal. Hal ini menyebabkan 1.000 lebih ijazah milik mahasiswa yang baru diwisuda, terbakar. Begitu juga dokumen-dokumen penting lainnya Hanya sebuah monitor komputer yang terlihat masih utuh. Lemari brankas untuk menyimpan berkas-berkas juga ikut lumer dilalap si jago merah. Sejauh ini disinyalir pelaku membakar Gedung Rektorat Uncen karena ingin menggagalkan Pemilu 2009 di Papua. Sementara itu, menurut pakar pendidikan Utomo Dananjaya, sekolah menjadi sasaran kemarahan karena sekolah bagi masyarakat Papua mungkin dianggap sebagai simbol diskriminasi antara anak orang kaya dan anak orang tak mampu. "Artinya rakyat Papua sadar betul bahwa pendidikan saat ini sangat diskriminatif. Kalau anak orang kaya di kota besar bisa mendapatkan fasilitas terbaik, sedangkan untuk anak orang miskin diberi pendidikan seadanya. Peristiwa pembakaran sekolah semoga membuka mata para petinggi pendidikan di Jakarta," tegasnya ketika dihubungi SH, Sabtu (11/4) di Jakarta. Kesadaran Bernegara Utomo Dananjaya juga menilai wajar, kesadaran bernegara yang meningkat jika berhadapan dengan diskriminasi pelayanan birokrasi, melahirkan kemarahan rakyat. Rakyat yang berbondong-bondong ingin ikut pemilu tapi tidak mendapatkan pelayanan yang baik dan diskriminatif, wajar kalau marah. Akar persoalannya adalah buruknya pelayanan petugas dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) sampai lurah yang mendaftarkan nama pemilih. Kesadaran rakyat untuk ikut Pemilu adalah positif, tetapi karena sistem tidak memfasilitasi secara optimal maka rakyat biasa cuma bisa ngamuk, jelasnya lagi. Namun Kapolda Papua Irjen Pol FX Bagus Ekodanto mengatakan kebakaran tersebut sebagai salah satu upaya untuk menggagalkan pemilu. Saat ditanya SH mengapa masalah pemilu tetapi yang jadi sasaran gedung rektorat, Kapolda belum dapat memastikan. "Saya belum tahu pasti mengapa," tegasnya. Dari Jayapura dilaporkan, wajah Ferry Kareth menunjukkan rasa kesal, kecewa dan marah. "Kenapa gedung ini selalu jadi sasaran politik? Ini gedung pendidikan, bukan gedung politik. Kenapa bukan DPRP dan MRP saja yang dibakar?" tanyanya. Ferry Kareth hanyalah satu di antara sekian dosen dan pegawai Uncen yang tidak dapat menyembunyikan kekecewaan dan rasa tidak percaya mereka, melihat gedung rektorat mewah yang dibangun di atas gunung pada tahun 1990-an itu tinggal puing-puing. Saat itu ia bersama para dosen, staf pegawai rektorat bahu membahu memadamkan api. Pakaian yang dipakai pun seadanya. "Polisi harus segera menangkap pelaku secepatnya," katanya. Saat memberikan penjelasan, Rektor Uncen Berth Kambuaya menjelaskan setidaknya 1.000 ijazah milik mahasiswa yang baru diwisuda ikut terbakar, begitu pula dokumen-dokumen penting lainnya. Dari catatan SH, Gedung Rektorat Uncen bukan baru sekali saja mengalami sasaran amuk massa. Sebelumnya kebakaran terjadi 1 Desember 2005. Pelaku menggunakan bom molotov dengan bahan bakar solar. (web warouw/odeodata h julia)
