Memangnya pemilu di Indonesia adalah "sandiwara" yang tidak lucu, bung Win. 
Lebih parah lagi sandiwara ketoprak ini sudah membudaya sebagaimana 
membudayanya korupsi. Andaikata kita himbau agar mereka tidak korupsi dan tidak 
bersandiwara dalam bernegara, mereka akan ketawa terbahak-bahak. Pihak manakah 
yang mampu mengakhiri sandiwara ini?  Wait and see!




________________________________
From: winwannur <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, April 12, 2009 6:10:16 AM
Subject: [acehkita] Serba-serbi Pasca Pemilu dan Kegairahan Ekonomi yang 
Diciptakannya





Sebelum pemilu legislatif diselenggarakan 9 april lalu, ada banyak 'note' di 
facebook dan diskusi di milis-milis yang membahasnya. Seperti biasa, saya tidak 
begitu peduli dengan hajatan besar berbiaya mahal ini karena menurut saya 
memang hajatan ini lebih banyak berguna untuk orang-orang yang menyodorkan diri 
untuk dipilih daripada orang yang memilihnya. Tapi seorang kenalan yang saya 
kenal hanya melalui Facebook dan milis serta tulisan-tulisannya di Kompas 
bernama T.Kemal Fasya menyarankan pada saya untuk menikmati saja proses dan 
lika-liku beserta intriknya, sebagaimana halnya menikmati reality show kontes 
pencarian bakat semacam Indonesian Idol.

Setelah saya praktekkan, ternyata usul Kemal ini memang menarik, malah ternyata 
menyaksikan kontes Pemilu jauh lebih seru daripada menyaksikan kontes 
Indonesian Idol. 

Seru sekali menyaksikan prosentase suara yang susul menyusul di quick count. 
Puas sekali menyaksikan Golkar dan PDIP, dua partai songong yang begitu percaya 
diri dengan hasil yang mereka dapatkan di Pemilu 2004 lalu terperosok ke dalam 
lubang yang mereka gali sendiri. 

Sebelum Pemilu, dengan menggunakan asumsi hasil yang mereka dapatkan di Pemilu 
2004, Golkar dan PDIP bersatu padu di parlemen untuk  untuk membuat 
undang-undang Pilpres yang menguntungkan mereka dengan mematok batas minimal 
20% suara untuk syarat mengajukan calon presiden. Syarat yang jika menggunakan 
asusmsi hasil pemilu 2004 hanya akan bisa dipenuhi dua partai ini, jelas 
terbaca sebagai upaya untuk menjegal SBY yang merupakan calon terkuat presiden 
mendatang, yang di Pemilu 2004 suara Partainya yang baru didirikan tahun 2001 
hanya di kisaran 7 persenen saja. 

Tapi sial seribu sial, hasil 2009 malah membuat undang-undang yang disponsori 
dua mantan partai terbesar ini balik menghantam telak wajah mereka sendiri. 
Sekarang Megawati si ketua PDIP mulai kepanasan mencari-cari partner koalisi. 
Malah melihat komentar-komentar yang dikeluarkan para petinggi partai ini, 
tampak jelas mereka sudah mulai menyiapkan 'seekor kambing' dan 'sekaleng cat 
hitam'yang nantinya akan dijadikan pemikul tanggung jawab atas kesalahan 
mereka. PDIP yang arahnya semakin jelas akan berkoalisi dengan Hanura dan 
Gerindra untuk menghantam SBY dan Demokratnya, tampak sedang berancang-ancang 
cari perkara dengan mempermasalahkan amburadulnya kerja KPU. 

Ini tentu akan menjadi tontonan lucu lain pasca Pemilu. Saya katakan lucu, 
karena buruknya kerja KPU dan amburadulnya pendataan DPT yang mereka lakukan 
adalah akibat andil besar PDIP juga. 

Memang kalau kita lihat sekilas, kualitas orang-orang di KPU kali ini tampak 
masih di bawah kulaitas para anggota KPU sebelumnya yang setelah sukses 
menyelenggarakan Pemilu dengan lancar kemudian ditangkapi satu persatu dengan 
tuduhan korupsi. Mirip seperti yang terjadi pada anggota Tim Korea Utara yang 
menembus perempat final piala Dunia yang kemudian ditangkapi pemerintahnya dan 
dijebloskan ke dalam Penjara atas tuduhan mencoreng martabat negara, karena 
berpesta sampai mabuk dalam merayakan kesuksesan mereka. 

Tapi meskipun kualitas orang-orang KPU memang begitu adanya, bukankah 
sebenarnya amburadulnya kerjaan mereka adalah akibat dari undang-undang Pemilu 
yang merombak total aturan pendataan Pemilih yang dipraktekkan di Pemilu-pemilu 
sebelumnya, yang ikut dirancang dan dibuat oleh PDIP sendiri. Kemudian bukankah 
alotnya pembahasan masalah ini di Parlemen yang mengakibatkan telatnya 
pencairan dana untuk memulai pendataan Pemilu juga atas andil PDIP juga?. 
Bukankah masalah-masalah yang disebabkan oleh andil besar PDIP ini pula yang 
membuat anggota KPU yang katanya tidak terlalu berkualitas ini jungkir balik 
menghadapi berbagai masalah sambil dikejar tenggat waktu sehingga berakibat 
amburadulnya pelaksanaan Pemilu kali ini.

Apa yang dilakukan oleh PDIP dan yang akan kita saksikan dalam hari-hari ke 
depan ini bukanlah hal yang aneh. Saya katakan bukan hal aneh karena PDIP ini 
adalah partai yang dasarnnya memang lucu dan ahli mengundang tawa. 

Partai ini melalui ketuanya yang memiliki bakat menjadi pemain sinetron sekelas 
Chelsea Olivia atau Cinta Laura itu tampaknya mengidap penyakit pelupa yang 
parah. Dia tidak pernah konsisten dengan apa yang diucapkannya. 

Misalnya dulu di Aceh sebelum Pemilu 1999, sambil menyebut diri sebagai Cut 
Nyak dan meneteskan air mata dia katakan, seandainya dia terpilih jadi 
Presiden, tidak akan ada setetespun darah tertumpah di bumi Aceh. Tapi ketika 
dia menjadi Presiden, dia malah menetapkan darurat militer. Saat tidak berkuasa 
lagi dia menentang perdamaian RI-GAM. 

Lalu lihat pula iklan Pemilu partai ini soal BLT, awalnya partai ini sangat 
menentang kebijakan tersebut, menyebutnya sebagai kebijakan bodoh dan menghina 
rakyat kecil. Tapi begitu melihat BLT berhasil dijadikan kartu truf oleh 
lawannya untuk meraih simpati pemilih dari kalangan bawah, Partai berlambang 
banteng gemuk inipun dengan muka tebal tanpa rasa malu sedikitpun mengatakan 
kalau BLT berhasil adalah karena pengawasan mereka.

Mantan partai besar lain, Golkar dan ketuanya Jusuf Kalla pun tampaknya mulai 
tahu diri kalau posisi sebagai wakil presiden adalah posisi maksimal yang bisa 
dia dapatkan dan harus dia syukuri. Meskipun ada wacana di Golkar sendiri untuk 
menjalin koalisi dengan PDIP untuk menjadi oposisi, tampaknya wacana ini tidak 
akan populer, ide untuk merapat ke Demokrat tampaknya akan lebih menarik bagi 
para Kader Partai yang dari awal kelahirannya memang dirancang tidak untuk 
menjadi partai oposisi ini.

Juga sangat menyenangkan menyaksikan PKS, si partai autis yang narsis dan 
berpotensi fasis juga gagal menjual kecapnya. Hasil quick count dan juga 
penghitungan manual KPU sampai sejauh ini menunjukkan kalau di Pemilu 2009, 
Partai ini  gagal total dalam usaha menarik simpati orang-orang di luar para 
Ikhwan dan Akhwat yang merupakan Kader fanatik mereka sendiri.  Menurut Quick 
Count yang dirilis berbagai lembaga survey dan penghitungan manual KPU sampai 
sejauh ini, suara yang didapatkan PKS pada Pemilu kali ini sama sekali tidak 
bertambah dibanding Pemilu 2004. Meskipun Tifatul sang ketua yang dipuja 
seperti nabi oleh para kadernya ini dengan rasa percaya diri yang dipaksakan 
mengatakan PKS mengalami peningkatan persentasi. Tapi faktanya sebenarnya orang 
yang memilih PKS berkurag dibandingkan Pemilu tahun 2004. Mengingat jumlah 
pemilih tahun ini menurun sekitar 20% dibanding Pemilu tahun 2004, maka kalau 
dihitung jumlah pemilih sebenarnya jelas kalau suara
 Partai sok bersih dan sok suci ini turun dibanding Pemilu lalu. 

Artinya apa, yang memilih partai ini di pemilu 2009 sebenarnya ya orang-orang 
yang sama dengan yang memilihnya tahun 2004, orang-orang yang memuja partai ini 
seperti berhala yang meniru dan menggugu omong kosong apapun yang keluar dari 
mulut para pimpinan partai yang merasa diri paling Islam ini. 

Di luar itu, jutaan atau setidaknya ratusan ribu pemilih lainnya meninggalkan 
PKS dengan berbagai alasan. Indikasi paling jelas dari fenomena ini terlihat di 
Jakarta. Jika pada Pemilu tahun 2004, di Jakarta partai ini berjaya dengan 
lebih dari 22% suara, sekarang terlihat jelas kalau orang-orang Islam di 
ibukota negara ini sudah muak dengan gaya sok suci Tifatul, Nurwahid dan 
orang-orang PKS lainnya. Dari hasil quick count dan penghitungan manual KPU 
sampai sejauh ini.

Pemilu kali ini juga menunjukkan kalau perilaku dan pola pilihan dari para 
pemilih sudah berubah, perkembangan teknologi komunikasi dan keterbukaan media 
telah mengubah pola perilaku para pemilih. Jaringan partai yang kuat sampai ke 
akar rumput seperti yang dimiliki Golkar pada masa orde baru terbukti tidak 
lagi efisien untuk digunakan sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan ide-ide 
dan pembentukan citra partai. SEperti fenomena kemenangan Obama di Amerika yang 
memanfaatkan pola-pola komunikasi baru, Demokrat di sini juga demikian.

Sesuai dengan tingkat kemajuan pola komunikasi baru di sini, untuk meraih 
simpati pemeilih Demokrat menggunakan sarana komunikasi massa semacam koran, 
spanduk, poster, radio dan terutama televisi yang bisa ditemukan hampir di 
setiap rumah penduduk negeri ini bahkan yang palig miskin sekalipun, terbukti 
jauh lebih efektif digunakan untuk menyampaikan ide dan membentuk citra Partai. 
Banyak partai-partai lama atau yang baru dengan kader-kader yang ketinggalan 
zaman yang tidak bisa membaca perubahan ini. Akibatnya mereka  dan partai 
merekapun tenggelam. Dari sekian banyak Partai yang berkoalisi dalam 
pemerintahan saat ini, yang paling bisa mengambil manfaat dari segala kebijakan 
populis pemerintah hanya partai Demokrat.

Bahkan beberapa kebijakan yang sebenarnya adalah ide partner koalisinya malah 
memberi manfaat kepada partai demokrat, kebijakan ini misalnya perdamaian di 
Aceh, yang sebenarnya lebih banyak terjadi atas andil Jusuf kalla yang ketua 
Golkar, tapi oleh orang Aceh itu ditangkap sebagai ide SBY dengan demokratnya, 
sehingga dalam pemilu kali ini, berdasarkan perhitungan sementara demokrat 
menguasai hampir 50% suara untuk kursi DPR RI. Golkar sendiri hancur lebur.

Seperti biasa kemenangan partai demokrat yang merupakan partai dari orang nomor 
satu di negeri ini mengundang banyak nada sumbang yang menuduh demokrat berbuat 
curang. Secara langsung atau tidak ada yang mengatakan mereka merekayasa Pemilu 
lah, membuat sistem DPT yang kacau balau lah, dan lain sebagainya. Di Aceh 
kampung saya, saat ini banyak beredar tudingan bahwa Demokrat bekerja sama 
dengan Partai Aceh (PA) untuk memenangi Pemilu dengan segala cara. Faktanya, di 
Aceh, secara kasat mata saat ini kita memang bisa melihat kalau suara yang 
didapat Demokrat untuk DPR RI hampir sama signifikannya dengan suara yang 
diperoleh PA untuk ingkatan kabupaten dan provinsi. Fakta ini masih lagi 
ditambah kenyataan bahwa di hampir di semua TPS ditemukan banyak sekali kertas 
suara rusak milik partai-partai Non PA dan Non Demokrat, sampai-sampai di Bener 
Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tenggara dan Singkil, yang merupakan 
kabupaten-kabupaten pro ALA pun, Demokrat
 dan juga PA sukses dan berjaya.

Kenyataan ini tentu saja membuat para caleg dan pengurus partai non Demokrat 
dan PA naik darah dan emosi memuncak sampai ke kepala.

Tapi bagi saya yang melihat segala keriuhan ini tidak lebih dari sekedar 
tontonan, saya menganggap fenomena ini tidak lebih seperti fenomena Liga Italia 
di paruh akhir 90-an, ketika Juventus begitu dominan. Saat itu klub berseragam 
zebra yang sangat saya benci sampai sekarang ini, didukung oleh dana melimpah, 
diperkuat pemain-pemain terbaik di dunia dan dilatih oleh pelatih mumpuni. 
Sudah begitu, mereka dikelola oleh orang-orang yang sangat paham trik dan 
strategi pemenangan di luar lapangan. Beberapa kali terlihat sangat jelas, 
bukan kemampuan di lapangan, tapi justru trik-trik di luar lapangan inilah yang 
membawa JUventus ke tangga juara. Begitu hebatnya trik luar lapangan Juventus 
saat itu, sampai-sampai klub favorit saya, Inter Milan yang saat itu baru 
memboyong Ronaldo, penyerang paling ditakuti di dunia yang di musim pertamanya 
mencetak 25 Gol pun, oleh Juventus dibuat tak berdaya.

Bukan itu saja, kehebatan Juventus di luar lapangan ini sampai membuat Massimo 
Moratti pemilik inter frustasi, karena ratusan juta dollar uang investasinya 
untuk membongkar pasang tim, baik itu pemain maupun pelatih demi mememangkan 
scudetto ternyata sia-sia. Saking frustasinya Moratti malah sempat mengundurkan 
diri dari jabatan presiden Inter segala.

Memang sepuluh tahun kemudian Juventus kena batunya, terjerat kasus Calciopoli 
dan dua gelar terakhirnya diserahkan ke Inter, tapi pada waktu itu yang jelas 
Juventus adalah juara dan Inter pecundang, itulah yang diakui dunia.

Nah beda Liga Italia dan pemilu kali ini bagi saya adalah; di Liga Italia saya 
punya Inter Milan sebagai Jagoan dan saya merasa memiliki ikatan emosional 
dengan klub itu, saya sakit hati pada Juventus saat merampok scudetto yang 
menjadi hak Inter. Sedangkan di Pemilu kali ini saya sama sekali tidak memiliki 
ikatan emosi apapun dengan partai apapun. Jadi biarlah segala urusan di dunia 
pemilu itu jadi urusan mereka, saya cukup menikmati sebagai penonton saja.

Sementara itu kalau kita berbicara manfaat Pemilu bagi masyarakat kebanyakan, 
menurut saya, yang paling bermanfaat dari Pemilu kali ini bagi masyarakat 
adalah kemampuan  hajatan besar ini dalam menggairahkan ekonomi masyarakat 
melalui pendistribusian kekayaan secara sukarela oleh para kontestan yang 
kebetulan diberi rezeki berlebih dibandingkan kita-kita oleh yang maha kuasa. 

Jika biasanya orang-orang kelebihan duit yang foto-fotonya banyak kita saksikan 
bertebaran pada masa kampanye Pemilu begitu pelit membagi kekayaannya bahkan 
tidak jarang menghalalkan segala cara untuk bisa menumpuknya, tapi menjelang 
Pemilu saudara-saudara kita yang emiliki rezeki berlebih ini jadi luar biasa 
dermawan dan welas asihnya. Mereka mendistribusikan rezekinya ke masyarakat 
baik itu secara langsung melalui pemberian bantuan sembako, sumbangan ke mesjid 
dan lapangan olah raga di desa-desa, penyelenggaraan lomba-lomba dan lain 
sebagainya ataupun pendistribusian yang tidak langsung menyasar masyarakat 
bawah tapi melalui perusahaan percetakan, periklanan, konsultan komunikasi, 
tukang spanduk dan poster, pembuat frame, tukang sablon, tukang kaos sampai 
para buruh kecil dan tukang becak dan dibayari untuk ikut kampanye. 

Apa yang dilakukan para kontestan ini saya pikir memiliki arti yang cukup besar 
bagi bangsa ini karena sebagaimana halnya bangsa-bangsa lainnya juga tidak bisa 
lari dari imbas krisis keuangan global, meski tidak sebesar imbas yang dialami 
para tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand. Imbas ini sedikit 
banyak teringankan oleh gairah ekonomi yang diciptakan para kontestan pemilu 
ini.

Dan menariknya, kemampuan menggairahkan perekonomian yang dilakukan para 
kontestan Pemilu ini tidak langsung berakhir dengan berkahirnya Pemilu. 
Kegairahan ekonomi berkat pemilu ini tetap akan berlangsung sampai beberapa 
waktu ke depan. Jika sebelum Pemilu yang mangambil manfaat dari potensi ekonomi 
yang dimiliki para kontesan ini adalah orang-orang atau perusahaan yang 
bergerak di bidang-bidang yang saya sebutkan di atas, maka pasca pemilu yang 
mengambil manfaat atas potensi ekonomi para mantan caleg ini adalah 
klinik-klinik kesehatan jiwa ataupun ahli terapi freelance baik yang 
konvensional maupun alternatif.

Tadi pagi jam 6.45 WIB, saya menyaksikan tayangan fokus pagi Indosiar. Dalam 
tayangan itu ditampilkan rumah sakit-rumah sakit di Indonesia yang telah 
menyiapkan ruangan-ruangan rumah sakit untuk perawatan kejiwaaan sebagai 
antisipasi atas kemungkinan akan membludaknya pasien yang merupakan Caleg-caleg 
gagal.

Rumah Sakit Sanglah di Bali misalnya, sudah menyiapkan 100 kamar mulai dari 
yang berkelas internasional sampai kelas ekonomi yang menurut seorang dokter 
yang bertanggung jawab atas pelayanan rumah sakit itu disiapkan untuk menampung 
caleg-caleg yang sudah keluar uanga ratusan juta hingga milyaran yang 
berpotensi stress karena gagal menjadi anggota dewan. Kelas-kelas kamar di 
rumah sakit itu sengaja dipersiapkan sedemikian rupa untuk menyesuaikan 
tarifnya dengan variasi kemampuan dana para mantan caleg yang habis-habisan 
sebelum pemilu. Kali ini tinggi rendahnya kelas kamar yang bisa mereka huni di 
rumah sakit ini sangat tergantung sisa dana yang mereka punya pasca Pemilu yang 
gagal mereka menangi.

Kemudian di Purbalingga, ada klinik alternatif HS Mustajab. Pemilik klinik ini 
yang bernama Supono begitu yakin dengan besar dan menggiurkannya potensi 
bisnisnya pasca pemilu yang sekarang sudah berakhir. Karena sedemikiann 
yakinnya akan kebanjiran Pasien, Supono berani membangun kamar-kamar baru di 
kliniknya sebagai persiapan 'panen raya' pasca Pemilu. Dan satu hal yang sangat 
menarik yang ditawarkan oleh klinik  milik Supeno ini adalah sosok room boy 
yang membersihkan kamar-kamarnya. Si Room Boy di klinik ini adalah orang yang 
namanya sangat dikenal di seantero Nusantara, namanya Sumanto, yang di 
Indonesia dikenal luas sebagai pemakan manusia.

Potensi ekonomi yang dihadirkan para mantan caleg pasca Pemilu ini bukanlah 
sekedar olok-olok semacam April Mop yang megada-ada, tapi potensi ekonomi ini 
memang nyata adanya. Ujang Rustomi seorang pemilik klinik terapi jiwa 
alternatif di cirebon sudah mulai menangguk manfaat ekonomi dari para mantan 
Caleg pasca Pemilu. Kemarin dia mendapat seorang pasien berinisial AR, mantan 
Caleg sebuah partai yang stress karena suara yang dia dapat dalam pemilu tidak 
cukup signifikan untuk mendapatkan sebuah kursi Dewan, sementara dia sudah 
keluar uang ratusan juta.

Rumah sakit Sanglah di Bali juga sudah sangat tepat menyiapkan antisipasinya, 
karena di Bali memang ada potensi besar manfaat ekonomi dari para caleg gagal 
ini, kemarin sudah ada seorang perempuan, mantan caleg dari Hanura yang 
meninggal dunia akibat serangan jantung saat mendengar perolehan suaranya tidak 
sesuai dengan yang diharapkan. 

Jadi, kalau dulu saya sempat kesal ketika di masa kampanye Pemilu menyaksikan 
polusi pemandangan yang diciptakan oleh gambar-gambar tidak indah para Caleg 
yang menyebar sampai jauh ke pelosok desa bahkan hutan. Sekarang, meski ketika 
pertunjukan pasca Pemilu ini sampai merengut korban jiwa, jujur terkadang saya 
merasa miris juga. Tapi melihat menariknya hiburan yang tercipta pasca pemilu 
ditambah dengan besarnya kegairahan ekonomi yang diakibatkan oleh kegiatan 
ini,baik pra maupun pasca. Tiba-tiba saya jadi berharap supaya Pemilu diadakan 
lebih sering lagi.

Wassalam

Win Wan Nur
www.winwannur. blogspot. com


   


      

Kirim email ke