Alah Hai Lipaya  Ikah pung sampoe trok onh tuha, Wate ka peugah haba, peureuseh 
lageé ureueng pungo teu-eu hi kah wateé kapakek bajeé kot meu di plomat, tapi 
wateé ta simak narit kah, peureuseh awak pileh gaca ie mabok "grazy". Teu ma 
meunjo lageé njan awak duek dalam parlement PA, kon ureueng njang ka lahe 
mantong pungo, aneuk miet njang keuneuk lahe ka awai dji preh buet pungo, Masya 
Allah.

Paya wateé ka peugah awak MP GAM lamiet djawa atawa teurimong Oto ngon jawa 
peuleumah bukti pat surat njang ka di teken.....uroe peue djiduek ngon lamiet 
djawa dan pat teumpat, meunjo hana bek maen2 njan meukura babah keuh euntreuk.

Njan PA kon parte aceh, perilihan dari pada GAM, seubab nan GAM hana diresmi 
buet Indon djawa. Sedankan njang kelola PA na keuh ban-ban dum otak konjol"GAM 
MZ" dan kuco-kunco djih. Paya bek sagai-sagai peubloë nan bangsa aceh na 
deungo....??? Bangsa Aceh hana hubongan sapeue ngon PA almiet djawa.

Njan asnlf norwegia lhi...!!! bek malei ureueng-ureueng laen ubena gara-gara 
kah, kah tjit tan maleé alei tob beulatjan.

Salam acheh.se

--- On Mon, 4/20/09, asnlf norwegia <asnlfnorwegia@ yahoo.com> wrote:


From: asnlf norwegia <asnlfnorwegia@ yahoo.com>
Subject: Re: SV: [IACSF] tidak pernah berontak?
To: ia...@yahoogroups. com
Received: Monday, April 20, 2009, 1:01 AM









Njang pernah djipakék keulamit Jawa Penjajah nakeuh MB-GAM/MP-GAM atawa KPA- 
MD, yang teurimong ètosan rombongan Bupati Pidië, ètosan rombongan Nur Nikmat 
dan ètosan Dr Bakhtiar Ali dan satu lagi utusan dari Malaysia yang berlagak 
sebagai "negotiator" Afrika Utara, bahthat pih hana ta peugah awaknjan na 
meu`nn mata deungon rombongan ynjang han geubi meurumpok Wali.
 
PA njan Partai Achèh, nakeuh peureuté ureuëng Achèh atawa rakjat Achèh atawa 
bansa Achèh.
 
Pakon hana awak MB- GAM/ MP-GAM atawa KPA-MD hana djadèh wo peugot peureuté, 
lagèe njang ka djibajang l Eddy L.Suhery? Geusun lagèe pidjeut, teumakôt lagèe 
tikoih!
 
Atawa pakriban bak meuklèp-klèp mata deungon rombongan DPRD Achèh njang bangai 
njan, peukeuh  awaknjan han djibantu geulanto dji 'khen teurimong geunasèh, 
watèe awaknjan hana meuho tadjoë, 'lheh han geutém Wali neuteurimong?
 


--- On Sun, 19/4/09, acheh se <acheh_sweden@ yahoo.se> wrote:


From: acheh se <acheh_sweden@ yahoo.se>
Subject: SV: [IACSF] tidak pernah berontak?
To: peudaya_ach@ yahoo.com, ia...@yahoogroups. com, "lan...@yahoogroups .com" 
<lan...@yahoogroups. com>, p...@yahoogroups. com
Date: Sunday, 19 April, 2009, 3:53 PM








Alah hai apa meunjo hudép merdéhka dan meu adab hana galak dan peugah haba 
bagai, njang hudép djeuet keulamiet Djawa, dan ureueng li-eh punggung lamiet 
Beulanda djeuet. bit  kah ka keunong peunjaket pungo.

Teruskan cita-cita Bangsa Atjèh, Dan Bebaskan bangsa Atjèh dari kezaliman 
penjajahan RI dan PA lamiet djawa.

--- Den sön 2009-04-19 skrev mta_a...@yahoo. com <mta_a...@yahoo. com>:

Från: mta_a...@yahoo. com <mta_a...@yahoo. com>
Ämne: [IACSF] tidak pernah berontak?
Till: peudaya_ach@ yahoo.com
Kopia: ia...@yahoogroups. com
Datum: söndag 19 april 2009 10.52




Hai, nyan haba2 bangai nyan kajeut piyoh, gop kadipiyoh are, droekeuh ban 
kamulai. Pue teungeut keuh baroekon?

--- Sent with System SEVEN - the new generation of mobile messaging

-- pesan orisinal --
Subyek: [IACSF] sejarah aceh dgn nkri
Dari: "Peudaya Tiji" <peudaya_ach@ yahoo.com>
Tanggal: 19-04-2009 15.40

Aceh Tidak Pernah Berontak Pada NKRI
Rabu, 11 Apr 07 11:58 WIB
eramuslim.com

Kirim teman
Di dalam buku-buku pelajaran sejarah dan media massa nasional, beberapa tahun 
sebelum terciptanya perdamaian di Nangroe Aceh Darussalam, kita sering 
mendengar istilah ‘pemberontakan rakyat Aceh’ atau ‘pemberontakan Aceh’ 
terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Sejak zaman kekuasaan Bung Karno hingga presiden-presiden penerusnya, sejumlah 
‘kontingen’ pasukan dari berbagai daerah—terutama dari Jawa—dikirim ke Aceh 
untuk ‘memadamkan’ pemberontakan ini. Kita seakan menerima begitu saja istilah 
‘pemberontakan’ yang dilakukan Aceh terhadap NKRI.
Namun tahukah kita bahwa istilah tersebut sesungguhnya bias dan kurang tepat? 
Karena sesungguhnya—dan ini fakta sejarah—bahwa Naggroe Aceh Darussalam 
sebenarnya tidak pernah berontak pada NKRI, namun menarik kembali 
kesepakatannya dengan NKRI. Dua istilah ini, “berontak” dengan “menarik 
kesepakatan” merupakan dua hal yang sangat berbeda.
Sudah Merdeka Sebelum NKRI Lahir 
NKRI secara resmi baru merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Sedangkan Nanggroe 
Aceh Darussalam sudah berabad-abad sebelumnya merdeka, memiliki hukum 
kenegaraan (Qanun)nya sendiri, menjalin persahabatan dengan negeri-negeri 
seberang lautan, dan bahkan pernah menjadi bagian (protektorat) dari 
Kekhalifahan Islam Tuki Utsmaniyah.
Jadi, bagaimana bisa sebuah negara yang merdeka dan berdaulat sejak abad ke-14 
Masehi, bersamaan dengan pudarnya kekuasaan Kerajaan Budha Sriwijaya, dianggap 
memberontak pada sebuah Negara yang baru merdeka di abad ke -20?
Nanggroe Aceh Darussalam merupakan negara berdaulat yang sama sekali tidak 
pernah tunduk pada penjajah Barat. Penjajah Belanda pernah dua kali mengirimkan 
pasukannya dalam jumlah yang amat besar untuk menyerang dan menundukkan Aceh, 
namun keduanya menemui kegagalan, walau dalam serangan yang terakhir Belanda 
bisa menduduki pusat-pusat negerinya.
Sejak melawan Portugis hingga VOC Belanda, yang ada di dalam dada rakyat Aceh 
adalah mempertahankan marwah, harga diri dan martabat,Aceh Darussalam sebagai 
bangsa yang merdeka dan berdaulat berdasarkan Qanun Meukuta Alam yang 
bernafaskan Islam.
Saat itu, kita harus akui dengan jujur, tidak ada dalam benak rakyat Aceh soal 
yang namanya membela Indonesia. Sudah ratusan tahun, berabad-abad Kerajaan Aceh 
Darussalam berdiri dengan tegak bahkan diakui oleh dunia Timur dan Barat 
sebagai “Negara” yang merdeka dan berdaulat.
Istilah “Indonesia” sendiri baru saja lahir di abad ke-19. Jika diumpamakan 
dengan manusia, maka Aceh Darussalam adalah seorang manusia dewasa yang sudah 
kaya dengan asam-garam kehidupan, kuat, dan mandiri, sedang “Indonesia” masih 
berupa jabang bayi yang untuk makan sendiri saja belumlah mampu melakukannya.
Banyak literatur sejarah juga lazim menyebut orang Aceh sebagai “Rakyat Aceh”, 
tapi tidak pernah menyebut hal yang sama untuk suku-suku lainnya di Nusantara. 
Tidak pernah sejarah menyebut orang Jawa sebagai rakyat Jawa, orang Kalimantan 
sebagai rakyat Kalimantan, dan sebagainya. Yang ada hanya rakyat Aceh. Karena 
Aceh sedari dulu memang sebuah bangsa yang sudah merdeka dan berdaulat.
Dipersatukan Oleh Akidah Islamiyah 
Kesediaan rakyat Aceh mendukung perjuangan bangsa Indonesia, bahkan dengan 
penuh keikhlasan menyumbangkan segenap sumber daya manusia dan hartanya untuk 
mempertahankan kemerdekaan Indonesia—lebih dari daerah mana pun di seluruh 
Nusantara, adalah semata-mata karena rakyat Aceh merasakan ikatan persaudaraan 
dalam satu akidah dan satu iman dengan rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim.
Ukhuwah Islamiyah inilah yang mempersatukan rakyat Aceh dengan bangsa 
Indonesia. Apalagi Bung Karno dengan berlinang airmata pernah berjanji bahwa 
untuk Aceh, Republik Indonesia akan menjamin dan memberi kebebasan serta 
mendukung penuh pelaksanaan syariat Islam di wilayahnya. Sesuatu yang memang 
menjadi urat nadi bangsa Aceh.
Namun sejarah juga mencatat bahwa belum kering bibir Bung Karno mengucap, janji 
yang pernah dikatakannya itu dikhianatinya sendiri.. Bahkan secara sepihak hak 
rakyat Aceh untuk mengatur dirinya sendiri dilenyapkan. Aceh disatukan sebagai 
Provinsi Sumatera Utara. Hal ini jelas amat sangat menyinggung harga diri 
rakyat Aceh.
Dengan kebijakan ini, pemerintah Jakarta sangat gegabah karena sama sekali 
tidak memperhitungkan sosio-kultural dan landasan historis rakyat Aceh. 
Bukannya apa-apa, ratusan tahun lalu ketika masyarakat Aceh sudah sedemikian 
makmur, ilmu pengetahuan sudah tinggi, dayah dan perpustakaan sudah banyak 
menyebar seantero wilayah, bahkan sudah banyak orang Aceh yang menguasai bahasa 
asing lebih dari empat bahasa, di wilayah yang sekarang dikenal sebagai 
Provinsi Sumatera Utara pada waktu itu, manusia-manusia yang mendiami wilayah 
itu masih berperadaban purba. Masih banyak suku-suku kanibal, belum mengenal 
buku, apa lagi baca-tulis. Hanya wilayah pesisir yang sudah berperadaban karena 
bersinggungan dengan para pedagang dari banyak negeri.
Saat perang mempertahankan kemerdekaan melawan Belanda pun, bantuan dari Aceh 
berupa logistik dan juga pasukan pun mengalir ke Medan Area. Bah



Går det långsamt? Skaffa dig en snabbare bredbandsuppkopplin g.
Sök och jämför priser hos Kelkoo. 




      __________________________________________________________
Låna pengar utan säkerhet. Jämför vilkor online hos Kelkoo.
http://www.kelkoo.se/c-100390123-lan-utan-sakerhet.html?partnerId=96915014

Kirim email ke