Ibrahim irman kalau mengikut, sejarah menjadi pengalaman di masa akan datang, tapi kenapa bangsa Aceh selalu kena tipu atau (cerdik pandai mau ditipu.) Sekarang Lamiet Belanda di Jakarta sedang duduk ketawa melihat orang aceh, yang sedang memperjuang jabatan atau memperjuang perut sendiri dengan berbagai cara. Tapi mereka sudah lupa kemahuan bangsa aceh yang sebenarnya.
Kenapa mereka tidak sedar...Apa yang sedang rebutkan itu hanyalah sementara aja (ka lageé lumo dji peu pok, lheueh menang uroe makmugang ka dji sié, lageé njan tjit awak nepok njan preh trok wateé mantong) Kenapa anda tidak belajar dari pada sejarah sejak zaman penjajahan Belanda lagi.....Sebenarnya bukan tulang yang anda perebutkan, adalah daging. kenapa anda perebut tulang, siapakah yang merebutkan tulang itu.... GAM/PA yang sudah konyol simpan kan mereka dalam ingatan anda, karena mereka telah mengadai kan maruah bangsa. Lupakan mereka untuk sementara waktu, teruskan cita-cita bangsa aceh sampai aceh merdehka. Bangsa Aceh tidak boleh bergantung kepada GAM/PA yang dayus dan rakus, mereka tidak punya hati manusia dan perasaan, mereka berhati syaitan. Jangan lupa Indodjawa itu sangat pandai dan bijak UUPA itu tidak ada artinya bagi Indodjawa. lihat aja lihat yang berlaku dalam perundingan di jepang dan Helsinki. Semua yang hadir dalam perundingan itu adalah bukan penyokong GAM/PA, tetapi sebaliknya mereka datang untuk memaksa GAM/PA untuk menanda tangani Oto, itu di luar negeri, pada mas itu GAM/PA masih mempunyai kekuatan dan gam ngak bisa mengata kan apa-apa. Bagai mana selepas pemilihan 2009 GAM/PA yang sudah masuk dalam sangkar....maubuat apa satu persatu leher nya akan dipotong. Maulawan senjata nya udah dipotong yang tinggal"Kontol" juga mau dipotong, aduh kasian GAM/PA. Siapa akan melihat mereka tu semua dunia udah lupa sama mereka"Indon The Big pawer" mereka semua boleh menutup-nutup apa yang mereka lakukan di dalam NKRI. Kasihan jeritan kalian pada suatu hari tidak ada sipa yang mendengar. dan masa itulah baru anda sedar apa kata MP GAM itu semua nya benar belaka. Satu contoh yang paling jelas sekali Sampai sekarang masih ada tahanan GAM/PA di Jakarta kenapa....Sedangkan dalam perjanjian Helsinki sudah tertulis semua tahanan akan di lepaskan setela understanding, tetapi kenapa tidak di bebaskan.......apakah kalian sudah lupa karena anda udah senag sambil merebut keududukan, sedangkan kawan-kawan kalian sedang menerkam didalam jerjak besi......kalian sedanmg senang lenang tidur atas tilam, istri tidak cukub satu tambah dua sedang mereka yang memperjuangkan hak bangsa tidur di atas lantai. manusia apa kalian ini ngak ada pemikiran langsung, apakah anda sudah mati akal..... Salam acheh.se --- Den mån 2009-04-20 skrev irmansyah ibrahim irman <[email protected]>: Från: irmansyah ibrahim irman <[email protected]> Ämne: Re: [IACSF] partai menang partai kalah Till: [email protected] Datum: måndag 20 april 2009 18.00 nyoe mantap. dalam kontes demokrasi ini, sebagian parpol atau calegnya memberikan 'hadiah' kepada rakyat, dan meminta rakyat memilihnya. pemberian itu, bukankah termasuk intimidasi juga, krn secara tdk langsung telah 'mamaksa' rakyat untuk memilihnya? kiban menurut para pakar politik? menariknya lagi, di lhokseumawe, misalnya, pascapemungutan suara, belasan parpol menyatakan menolak hasil pemilu. tp nyatanya, mereka meneken hsl rekapitulasi penghitungan suara yg diplenokan kip. Menyatakan pemilu tak demokratis, cacat hukum dan tak ada legitimasi, tp akhirnya menerima jg. bukankah ini namanya si uroe lhee go luho? yg 'aneuk agam' saya liat cuma PRA, mengakui kekalahan. --- On Mon, 4/20/09, zainal arivin <za_n...@yahoo. com> wrote: From: zainal arivin <za_n...@yahoo. com> Subject: Re: [IACSF] partai menang partai kalah To: ia...@yahoogroups. com Date: Monday, April 20, 2009, 8:17 AM Ada yang menarik bicara soal intimidasi. Saya mau tanya, apakah rakyat Aceh memang punya sejarah sebagai bangsa yang lemah dan tidak berani melawan intimidasi?? ? Karena setahu saya, ketika "kerajaan" Soeharto dulu mengintimidasi rakyat Aceh untuk pilih Golkar dengan segala bentuk kekerasan dan kekejaman dalam balutan daerah operasi militer (DOM), tapi tak pernah berhasil. Bagaimana pun dahsyatnya intimidasi saat itu, PPP selalu memang di Aceh, padahal pemerintah terus menebar ancaman tak akan membangun daerah jika golkar tidak menang di sana. Seakan rakyat Aceh rela hidup dalam kemiskinan dan berkalang kekerasan daripada memenangkan partai golkar saat itu. Ketika Soeharto lengser dan Golkar tak lagi mengintimidasi pemilih di Aceh, justru ia berhasil meraih kursi yang sama dengan PPP. Aceh pun tidak lagi bisa diklaim sebagai milik PPP seperti pada masa intimidasi masih marak. Apakah kini rakyat Aceh sudah menjadi penakut dengan intimidasi? Mungkin perlu penelitian yang independen dan mendalam. Sehingga bisa terjawab berapa besar pengaruh intimidasi dalam kemenangan Partai Aceh. Jangan asal mengklaim tanpa bukti akurat dan otentik, karena itu sama saja dengan mengakui bahwa rakyat Aceh sudah jadi penakut. Saleum dame --- On Mon, 4/20/09, Apa Cang Panah <apa.cangpanah@ yahoo.com> wrote: From: Apa Cang Panah <apa.cangpanah@ yahoo.com> Subject: Re: [IACSF] partai menang partai kalah To: ia...@yahoogroups. com Date: Monday, April 20, 2009, 1:49 AM parte skrang parte preman. intimdasi orang trus kalo ditentang bilang "cengeng" buat yg lapor. mental preman skrang kuasai aceh. aceh damee sperti jauh dpanggang arang. msyarakat takut kna hantam, lantas solusi pendek ya pilih parte preman. parlemen aceh skrang dikuasai oleh para preman! From: aroen jeram <aroen_jeram@ yahoo.com> To: ia...@yahoogroups. com Sent: Monday, April 20, 2009 3:12:52 PM Subject: [IACSF] partai menang partai kalah ni soal menang-kalah. ...atawa soal amoralitas (intimidasi dan kecurangan) Empat Parlok di Abdya Minta Pemilu Ulang Blangpidie, (Analisa) Senin, 20 April 2009 Penolakan terhadap hasil pemilu serta meminta untuk diadakan pemilu ulang di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) semakin ramai. Sebelumnya delapan perwakilan partai nasional (parnas) meminta peninjauan dan evaluasi kembali terhadap penyelenggaraan pemilu yang dianggap tidak demokratis dan penuh dengan intimidasi. Kini giliran partai lokal (parlok) yang tergabung dalam koalisi partai politik peserta pemilu (KP4) yang meminta agar dilakukannya kembali pemilu ulang di Abdya. Empat parlok yang tergabung dalam kelompok KP4 tersebut terdiri dari Partai Rakyat Aceh (PRA), Partai Suara Independen Rakyat Aceh (Partai SIRA), Partai Aceh Aman Seujahtera (PAAS) dan Partai Bersatu Aceh (PBA). Mereka secara resmi telah mengirimkan surat pernyataan sikap ke KIP Aceh dengan mencantumkan beberapa alasan terkait permintaan untuk diadakan pemilu ulang di Abdya. Jubir KP4 Fadly Ali yang juga pengurus DPW PRA Abdya kepada wartawan Kamis (16/4) mengungkapkan, butir-butir yang mereka cantumkan dalam surat pernyataan sikap dari empat parlok tersebut berdasarkan temuan dan fakta yang ada di lapangan. “Kita ingin mengungkapkan apa yang sebenarnya telah terjadi dalam pemilu ini, bukan persoalan kalah ataupun menang, namun hakikatnya adalah telah terjadinya sebuah pemaksaan kehendak oleh kelompok tertentu sehingga pemilu yang baru selesai tidak lebih hanya sebuah kegiatan formalitas belaka,” ujar Fadly Ali yang juga aktifis lingkungan tersebut. Sembilan Poin Ada sembilan poin yang mereka cantumkan dalam surat tersebut yang saat ini di klaim menjadi persoalan paling besar dan bahkan sudah seperti sebuah pandangan terbuka di publik, namun anehnya kegiatan pemilu masih di-anggap sah. Pertama, permasalahan daftar pemilih tetap (DPT) yang hampir 20 persen lebih banyak pemilih yang kehilangan hak pilihnya, sehingga legalitas pemilu dipertanyakan dengan kuota pemilih seperti yang ada saat ini. Kedua, 35 persen lebih DPT tidak mendapatkan undangan memilih, ketiga, 30 persen lebih terjadi kerusakan suara karena lemahnya sosialisasi. Keempat, terjadinya intimidasi dari kelompok tertentu menjelang pemilihan dan pada masa tenang, kelima, pembentukan panwaslu sangat terlambat sehingga kondisi pemilu menjadi tidak menentu, keenam, aparatur penyelenggara pemilu khususnya di tingkat PPS banyak yang tidak memahami teknis penyelenggaraaan, ketujuh, permasalahan teknis khususnya pada saat penghitungan banyak terjadi secara tidak transparan. Kemudian, kedelapan. mereka mensinyalir telah terjadi berbagai bentuk kecurangan serta manipulasi data hasil perolehan suara dan itu telah ditemukan di beberapa TPS, dan poin terakhir, meminta agar surat Bawaslu bernomor 197/banwaslu/ IV/2009 tentang rekomendasi dilakukannya pemilu ulang di TPS yang surat suaranya tertukar tapi hingga saat ini pihak KIP tidak menindaklanjutinya, sehingga mereka mempertanyakan ada apa dengan sikap KIP yang seperti tutup mata terhadap semua persoalan tersebut.. Pihak KIP Abdya sendiri ketika dihubungi Analisa masih belum bisa memberikan komentar apapun terkait mulai terendusnya beberapa kasus manipulasi suara di beberapa TPS, bahkan ketika Analisa meminta data hasil suara yang masuk dari beberapa kecamatan, Ketua KIP Abdya Nasli,S.Ag mengakui sampai saat ini proses tersebut masih belum selesai sehingga diminta untuk menunggu beberapa hari ke depan. “Prosesnya masih berjalan, kita belum mendapatkan datanya,” ujar Nasli. (irn) From: Khairul Samalanga <khairul_samalanga@ yahoo.com> To: ia...@yahoogroups. com Sent: Tuesday, April 14, 2009 5:52:52 PM Subject: [IACSF] partai menang partai kalah salam,.. keep peace! kayaknya suasana setelah pemilu lebih panas ketimbang sebelumnya di milis ini.. saya rasa semua kita telah berjuang sesuai dengan ijtihad kita masing masing siapa yang menang dan siapa yang kalah itu perkara biasa dalam demikrasi ala barat ini P.A yang menang tidak perlu sombong dan mengeluarkan kata kata yang menunjukkan keangkuhan perjuangnan ini adalah untuk mayarakat , jadi jangan beranggapan menang itu karena hanya kita yang berhak menang. santai aja, dan sekarang mari susun strategi yang betul betul bagus sehingga kepercayaaan yang diberikan rakyat boleh dibuktikan nantinya, dan kepada yang belum menang juga harus menganggapi dengan dingin. semua berjuang untuk rakyat, kalau rakya tidak memilih kita ya tak mengapa tidak ada ruginya kita, kedepan juga kita boleh menawarkan lagi program kita ke masyarakat. sebenarnya kemengan PA bukan lah sesuatu yang heboh, seperti kemengangannya partai demokrat. tapi ini memang sudah diprediksi, sebahagian besar masyarakat Aceh mamang sangat benci dan dendam dengan RI disebabkan ketidakadilan RI terhadap Aceh jadi pemilu kali ini momentum yang tepat bagi bagi masyarakt untuk menunjukkan kepda RI bahwa kami tidak suka dengan kamu ( RI dan PARNAS) jadi pemberian suara kepada PA bukan karena semua orang aceh suka program PA tapi lebih kepada prinisp "asal jangan RI ( pemerintah RI dan PARNAS)" namun bila suatu masa nanti PA tidak menunjukkan prestasi yang baik maka msyarakat pun akan kembali kepada PARNAS atau Partai lokal lainnya. saya pribadi melihat , kalau memang PA bagus ( secara intelektual, profesional dan pro syariat Islam) tidak salah PA memimpin Aceh selamanya, kita tidak boleh taasub kepada partai tertentu tapi kita taasub kepada nilai dan prinsip yang dibawa oleh sebuah partai ( apapun partainya). jadi anggap saja kemenangan PA kali ini sebagai hadiah dari masyarakat karena mereka suadah berjuang sekian lama tanpa ada gaji apa salahnya sesekali dapat nikmat juga selamat untuk PA mari tunjukkan kalau kamu memang mampu dan sesuai dengan harapan msayrakat. wasalam From: Teuku Mulya Johansyah <mulyajohansyah@ gmail.com> To: ia...@yahoogroups. com Sent: Tuesday, April 14, 2009 5:12:40 PM Subject: Re: [IACSF]HE HE DULU CALEG TIPU RAKYAT, SEKARANG RAKYAT TIPU CALEG HE HE DULU CALEG TIPU RAKYAT, SEKARANG RAKYAT TIPU CALEG 2009/4/14 Naka Turi <nakat...@yahoo. com> benar masyarakat banyak yang ngak jujur....... . enak di elo kagak enak di gue donk.... balikin sarung nya... atau gue lapor polisi lo.......... ..hahahhaha --- On Mon, 4/13/09, Mr Murizal <mrmuri...@yahoo. com.sg> wrote: From: Mr Murizal <mrmuri...@yahoo. com.sg> Subject: [IACSF] di meureudu, Caleg tak Terpilih, Kain Sarung Diminta Kembali To: ia...@yahoogroups. com Date: Monday, April 13, 2009, 11:46 AM dear all he he he saleum MH Caleg tak Terpilih, Kain Sarung Diminta Kembali 13 April 2009, 14:37 Utama Administrator MEUREUDU - Ini kisah unik pascapemilu legislatif di Pidie Jaya. Karena warga tidak banyak yang memilih anaknya sebagai calon anggota legislatif (caleg) dari Partai Pembangunan Daerah (PPD), sang ayah kemudian meminta kembali kain sarung yang dibagi-bagikan pada masa kampanye dulu dari warga yang tak memilih anaknya. Ayah yang berlaku unik itu bernama Azhari Sulaiman. Sedangkan anaknya yang menjadi caleg PPD untuk DPRK Pidie Jaya adalah Mukhtar Azhari, nomor urut 3 di daerah pemilihan (dapil) Meureudu. Azhari dilaporkan nekat meminta kembali bantuan kain sarung yang diberikan kepada masyarakat di daerah pemilihan putranya. Ia bersikap seperti itu, karena kecewa masyarakat ternyata hanya mau menerima bantuan, tanpa mau mencontreng caleg yang dia jagokan yang tak lain anaknya sendiri. Saat ditanyai Serambi di Meureudu, Minggu (12/4), Azhari Sulaiman yang juga seniman seudati grup Syeh Lah Bangguna itu mengatakan, banyak masyarakat selama masa kampanye bersikap tidak jujur dalam menerima bantuan dari para caleg atau tim sukses caleg. “Saat ditanyakan kepada warga, mereka mengaku belum ada yang mereka dukung, sehingga saya meminta mereka mendukung anak saya. Padahal, ada warga yang mungkin sudah menerima lima kain sarung dari para caleg, tapi tetap juga menerima sarung pemberian saya. Itu tidak jujur namanya,” ungkap Azhari. Ia mengaku, saat masa kampanye lalu telah menyerahkan sedikitnya 40 potong kain sarung kepada warga Meuraksa Kupula, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya. Jumlah yang sama juga diberikan ke desa Gledah dan Rhieng Mancang dalam kecamatan itu. Namun, setelah dilakukan penghitungan suara, ternyata di masing-masing desa itu, anaknya hanya memperoleh delapan suara. Oleh karenanya, Azhari nekat menarik kembali kain sarung bantuannya dari sejumlah warga desa. “Untuk wilayah Meuraksa Barat, tadi malam saya sudah ambil kembali sembilan lembar sarung. Sisanya akan saya ambil lagi nanti malam (tadi malam -red). Saya akan datang ke tiap-tiap rumah menanyakan siapa yang dipilih. Di antaranya, ada yang langsung menyerahkan kembali sarung itu karena memang tidak memilih anak saya,” ungkap Azhari, Minggu kemarin. Azhari sepertinya lupa bahwa pemilu memiliki asas bebas dan rahasia, sehingga ia nekat melakukan sensus untuk bertanya ke setiap rumah di desa itu, apakah mereka memilih anaknya atau tidak dalam pemilu lalu. Sebenarnya, tambah Azhari, kain sarung tersebut bukan miliknya maupun anaknya. Ia saat kampanye hanya bertugas menunaikan amanah dari caleg atasan anaknya untuk mencari dukungan suara. Tujuan anaknya menjadi caleg juga semata-mata untuk membantu caleg di atasnya dalam penambahan jumlah suara. “Amanah sudah saya jalankan dengan memberi sarung kepada warga. Tapi karena warga tidak memilih caleg yang saya minta, maka saya terpanggil untuk menagih kembali sarung itu guna saya serahkan kembali kepada si pemberi,” dalih Azhari. (s) Yahoo! Toolbar is now powered with Search Assist. Download it now! __________________________________________________________ Går det långsamt? Skaffa dig en snabbare bredbandsuppkoppling. Sök och jämför priser hos Kelkoo. http://www.kelkoo.se/c-100015813-bredband.html?partnerId=96914325
