Sungguhpun tulisan seperti itu muncul dimilis Papua, saya tidak terpengarauh 
dengan suara hipokrit macam  itu. Saya yakin mayoritas orang West Papua sadar 
bahwa itu suaranya orang-orang yang mentalnya status quo. Adalah bohong sekali 
dan terlalu lugu mengharapkan belas kasihan dan harapan dari orang-orang yang 
sudah berbudaya koloni dan korrup. Ingat itu, kamerat!!!




________________________________
From: HKSIS <[email protected]>
To: HKSIS <[email protected]>
Sent: Saturday, May 16, 2009 3:49:38 AM
Subject: [kota_jakarta] SBY-Boediono Serang Bisnis Pejabat - Pertanian dan 
Industri, Prioritas Ekonomi SBY-Berboedi - Dinilai Tepat Untuk Perbaikan Ekonomi





http://www.korantem po.com/korantemp o/koran/2009/ 05/16/headline/ 
krn.20090516. 165471.id. html
SBY-Boediono Serang Bisnis Pejabat
"Indonesia butuh pemimpin yang tak mencampuradukkan kepentingan Republik dan 
bisnis."
BANDUNG - Pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono menyatakan kegerahan 
mereka atas bisnis pejabat yang sering menimbulkan konflik kepentingan dalam 
pemerintahan. Hal itu tecermin dalam pidato kedua tokoh saat deklarasi pasangan 
calon presiden dan wakil presiden berslogan "SBY Berbudi" di Gedung Sasana 
Budaya Ganesha, Bandung, tadi malam. 
Yudhoyono mengungkapkan sejumlah alasan memilih Gubernur Bank Indonesia 
Boediono sebagai pendamping. "Di atas segalanya, Boediono tidak punya konflik 
kepentingan atau kepentingan bisnis dan kepentingan politis yang lain," kata 
Yudhoyono. 
Setelah bekerja sama sekitar 10 tahun, Yudhoyono menilai Boediono sebagai 
seorang muslim yang lurus, sederhana, dan toleran. Menurut Yudhoyono, Boediono 
adalah teknokrat dan ekonom yang cerdas, ulet, dan bertanggung jawab. 
"Sebagai koordinator menteri, Boediono adalah sosok loyal, tidak grusa-grusu, 
dan jauh dari keinginan untuk mencari muka," kata Yudhoyono. "Beliau mampu 
membangun pemerintahan yang bersih, responsif, bebas korupsi." 
Saat mendapat giliran berpidato, selain memuji-muji pemerintahan Yudhoyono, 
Boediono menyentil bisnis para pejabat. "Indonesia butuh pemimpin yang tidak 
dikotori suap, tidak mencampuradukkan kepentingan Republik dan bisnis," kata 
dia. 
Boediono pun menangkis serangan sebagian kalangan yang mengecap dirinya sebagai 
penganut paham neoliberalisme, yang mendewa-dewakan mekanisme pasar sebagai 
pengatur perekonomian negara. 
Menurut Boediono, perekonomian Indonesia tidak bisa diserahkan sepenuhnya 
kepada mekanisme pasar bebas. "Selalu diperlukan intervensi dan aturan lain 
yang jelas dan adil," kata Boediono. "Negara tidak boleh hanya tertidur." 
Namun, menurut Boediono, negara pun tak boleh terlalu jauh bercampur tangan 
karena akan mematikan kreativitas sektor swasta. "Hal itu hanya akan terwujud 
dengan pemerintahan yang bersih." 
Boediono pun berjanji akan selalu bekerja untuk membuat Indonesia "lebih 
sanggup" dan bebas dari kesewenang-wenangan . "Saya siap bekerja mulai hari 
ini," kata Boediono menutup pidatonya. Pidato Boediono mendapat sambutan dan 
tepuk tangan yang lebih meriah ketimbang pidato Yudhoyono. 
Deklarasi pasangan "SBY Berbudi", yang disiarkan stasiun televisi secara 
langsung, itu dihadiri perwakilan partai politik yang akhirnya merapat ke kubu 
Partai Demokrat. Mereka antara lain Presiden Partai Keadilan Sejahtera Tifatul 
Sembiring, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Suryadharma Ali, dan Ketua 
Fraksi Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan. 
Dari jajaran pemerintahan hadir antara lain Menteri-Sekretaris Negara Hatta 
Rajasa, Menteri Kehutanan M.S. Kaban, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, dan 
Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi. 
Kehadiran para pejabat aktif ini dipersoalkan kubu Golkar, yang bakal menjadi 
lawan paket "SBY Berbudi" dalam pemilihan presiden Juli nanti. "Mereka diundang 
sebagai apa? Kalau sebagai gubernur, itu melanggar aturan," kata Wakil 
Sekretaris Jenderal Partai Golkar Iskandar Mandji. NININ P DAMAYANTI | 
KURNIASIH BUDI | JAJANG

 
Pertanian dan Industri, Prioritas Ekonomi SBY-Berboedi
Sabtu, 16 Mei 2009 | 07:50 WIB
TEMPO Interaktif, BANDUNG:--—Pengamat ekonomi Faisal Basri mengatakan, paling 
tidak ada tiga prioritas utama di bidang ekonomi yang harus dikerjakan pasangan 
SBY-Boediono jika terpilih pada pilres nanti. "Pertama, meningkatkan kualitas 
pertumbuhan sektor pertanian dan industri," kata Faisal di Bandung sebelum 
deklarasi pasangan SBY - Boediono, Jumat (15/5) kemarin.

Yudhoyono mendeklarasikan keinginannya untuk maju dalam pilpres mendatang 
bersama Boediono. Pasangan ini mendeklarasikan diri tadi malam di Sasana Budaya 
Ganesha ITB Bandung dengan nama SBY Berboedi.

Faisal menilai sektor pertanian dan industri Indonesia dalam lima tahun 
terakhir masih loyo. "Kualitas pertumbuhan berarti mengangkat kehidupan 
mayoritas penduduk, bukan hanya bicara pertumbuhan, " katanya.

Selama ini, kata Faisal, angka pertumbuhan dua sektor ini hanya tiga persen 
dalam lima tahun terakhir. Padahal, kata dia, sebagai perbandingan, rata-rata 
pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,6 persen dan sektor jasa hingga 10 persen. 
"Jadi jomplang," katanya.

Apalagi, tambah Faisal, sektor industri pertanian ini terkait langsung dengan 
dua pertiga dari jumlah penduduk. Jadi kalau industri pertanian bisa bergerak 
lebih cepat lagi, kata dia, kehidupan rakyat akan terangkat.

"Kalau sekarang, pertumbuhan tinggi, tapi yang menikmati cuma sedikit. Sehingga 
jurang antara si kaya dan si miskin semakin menganga," katanya.

Prioritas kedua, kat Faisal, reformasi birokrasi. "Meskipun capres dan 
cawapresnya Superman, punya rencana dan platform yang bagus, kalau rodanya 
(birokrasi) jelek, bagaimana?" katanya.

Saat ini, kata dia, PNS sudah dinaikkan gajinya bahkan ada yang mencapai 6 kali 
lipat. "Tapi kinerjanya masih gak jelas," ujarnya.

Sedangkan prioritas ketiga, meningkatkan daya saing bangsa. Artinya, kata 
Faisal, meningkatkan kemampuan bersaing di pasar dalam dan luar negeri dengan 
peningkatan standar kehidupan rakyat dan menciptakan lapangan kerja. "Misalnya 
meningkatkan kualitas sumber daya manusia, teknologi, dan infrastruktur, " 
ujarnya. 
RANA AKBARI F 
 
15/05/09 19:36
Pasangan SBY-Boediono Dinilai Tepat Untuk Perbaikan Ekonomi


Padang (ANTARA News) - Pengamat Ekonomi dari Universitas Bung Hatta (UBH) 
Padang, Sumatera Barat (Sumbar), Dr Syafrizal Chan menilai jatuhnya pilihan 
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kepada Boediono untuk maju dalam Pilpres 
mendatang cukup tepat dilihat dari sisi perbaikan ekonomi bangsa ke depan.

Hal itu disampaikan Direktur Pasca Sarjana UBH Padang itu, ketika diminta 
tanggapannya di Padang, Jumat sore, terkait deklarasi pasangan Capres/Cawapres 
Partai Demokrat (PD) di Bandung.

Menurut Syafrizal, dipilihannya Boediono menjadi Cawapres oleh SBY, tentu akan 
lebih peka terhadap kesejahteraan rakyat melalui perbaikan ekonomi.

Terkait, selama ini banyak kebijakan ekonomi yang baik dikeluarkan Gubernur 
Bank Indonesia itu, di antaranya dalam penurunan bunga bank dan lainnya.

Selain itu, kehadiran ekonom dan tenokrat (Boediono) yang dikenal oleh pelaku 
ekonomi makro nasional dan makro internasional, juga akan bisa 
mengkoordinasikan jajaran Meko-ekuin di kabinetnya nanti.

Hanya, katanya, Boediono bila dilihat pada sisi politiknya selama ini tidak 
banyak berkiprah sehingga apakah figur itu bisa diterima Parpol mitra koalisi 
PD hingga ke konstituennya.

"Sangat penting bagi SBY dan PD untuk memberikan penjelasan dan meyakinkan 
partai politik (Parpol) mitra koalisinya tersebut, sehingga bisa diterima," 
katanya.

Ia menilai, terpilihnya Boediono sebagai Cawapres pendamping SBY, membuat 
parpol mitra koalisi PD, seperti PKS dan PAN merasa ditinggalkan.

Menurut Syafrizal, keseimbangan ekonomi dengan perkembangan politik sangat 
berkaitan erat, karena kebijakan yang dikeluarkan takkan berjalan apabila 
stabilitas politik terganggu.

"Sebaik apapun kebijakan ekonomi yang dikeluarkan, tetapi tidak mendapatkan 
dukungan parlemen, maka akan repot juga dalam pelaksaannya, " katanya.

Jadi, politik ke depan harus mengarah pada ekonomi pembangunan yang 
mengendapakan ekonomi kerakyatan, tentunya harus mendapatkan dukungan parlemen 
dan konstiuen.(* )




      

Kirim email ke