Sdr./sdri Bangsa Papua Barat di DNPB dan di LN;

 

   OPM-OIIO Malmö-Sweden mengajak kita seluruh rakyat tertindas Papua Barat

   supaya tiap-tiap suku/clain balik muka kebelang dan periksa dengan baik-baik

   dan teliti benar tentang kehidupan nenek-moyang kita terdahulu sampai deng-

   an kita generasi muda Papua Barat yang kini ada sedang dikocok-kocok seperti

   sebundel kartu permainan di dalam tanah tumpah darah kita sendiri oleh kedua 

   negara kolonialists asing (Belanda-Indonesia) hanya demi "intresse" 
(kepentingan) 

   politik/diplomasi,ekonomi/keuangan dan pertahanan/Militer nasional mereka 
sendiri

   dan keduanya tinggalkan kita di dalam situasi-kondisi hidup yang sangat 
terbur-

   uk sekali andai kata kita semua terkena oleh "bibit-bibit penyakit lepra" 
kematian

   akan terus jatuh pada setiap saat;hal mana pada zaman nenek-moyang kita tid-

   akpernah bahkan masih belumpernah alami bahaya-bahaya penyakit lepra yang 

   demikian ini; oleh karena itu; dengan hati/pikiran yang terbuka, adil, jujur 
dan tulus-

   ichlas saya berkata bahwa; Pemerintah kolonial RI dan TNI/ABRI-nya adalah 
"sumber

   dari segala sumber perbuatan kejahatan" di bumi Papua Barat. Dan justru kini 
OPM

   (Organisasi Papua Merdeka - Free Papua Movement) dan bersama "alatnya/instru-

   mentnya TPN (Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat) akan terus berjuang

   mengkikis, mematikan dan melenyapkan semua sumber-sumber perbuatan kejaha-

   tan mereka dari bumi Papua Barat. 

 

   Jadi idiologi perjuangan rakyat tertindas Papua Barat pimpinan OPM/TPN 
sekarang

   ini ialah "PENGHAPUSAN KESENGSARAAN/PENDERITAAN" seluruh rakyat Papua Barat 

   di dalam arti yang luas dan tidak di dalam arti yang sempit dan OPM/TPN 
telah mam-

   pu memikul dan melaksanakan "tugas suci/kudus" ini; yaitu penghapusan 
penderitaan

   rakyat Papua Barat akan merupakan (The Suprime aim); dus,ini berarti pula 
bahwa; 

   di dalam "Kamus" Perjuangan Politik rakyat tertindas Papua Barat yang 
sudah/akan

   dipimpin dan disponsori oleh OPM/TPN tidak kenal dan menolak dengan keras 
1001-

   macam (seribu-satu-macam) oraganisasi perjuangan bangsa/negara-negara asing

   yang di organizaid secara sistematis untuk membunuh dan melenyapkan jiwa-jiwa

   rakyat Papua Barat yang tidak bersalah di dalam tanah tumpah darahnya sendiri

   yaitu; (1) New York Agreement August 15,1962 oleh Belanda-Indonesia dan 
disak-

   sikan mata masyarakat dunia internasional; (2) Dan sebagai akibat soal Nr.1 
UNGA

   Resolusi 2504 - XXIV - 19 Nov.1969 dipaksa memasukan Papua Barat ke dalam NK-

   RI; (3) Permainan Politik/Diplomasi kotor,najis, dan cemar ini diteruskan 
lagi dan da-

   pat menciptakan Otonomi Paksaaam (the Forces Autonomy) bagi rakyat Papua 
Barat,

   dan (4) Di baringi pula dengan pembahagian tanah Papua Barat menjadi dua buah

   Provinsi, dua orang Gubernur Papua Barat (dimana keduanya adalah seperti 
sebuah

   boneka buatan tangan manusia: ada mata tetapi tidak bisa lihat, ada telinga 
tetapi

   tidak bisa mendengar, ada kedua kakinya tetapi tidak bisa berjalan, ada 
kedua tang-

   annya tidak bisa pegang sehingga harus di Bimbing dan di Kendalikan dari 
Jakarta-

   Indonesia, demikian pula dengan Para Bupati-Bupati Papua Barat); (5) 
Kerakusan

   pencurian dan perampasan sumber-sumber kekayaan alam Papua Barat; (6) Akibat

   dari tidak punya keahlian yang cukup di Indonesia maka tidak ada "strategi 
bangu-

   nannya" yang nyata dan merata sehingga tidak ada "Public Convenience" bagi 
se-

   luruh rakyat Papua Barat; (7) Tidak ada kompromi; (8) Tidak ada dialog 
damai, (9)

   tidak ada "Zona Damai; semuanya itu adalah omong kosong harus dihapuskan dari

   kamus perjuanga politik OPM/TPN; selain dari itu; pihak negara kolonialists 
asing se-

   perti Indonesia karena mengingat akan "intressenya" (kepentingannya) yang 
ada di 

   Papua Barat boleh silahkan meminta maaf lebih dahulu tentang berbagai 
perbuatan

   kejahatannya yang telah dilakukan/dikerjakan selama 47 tahun "illegal 
occupation" 

   di bumi Papua Barat; jika tidak menempuh jalan ini semua kepentingan 
Indonesia di 

   Papua Barat harus dihapuskan/dihancurkan secara total oleh OPM/TPN Forces.

 

   Hanya begitu saja dulu ya?

 

   Salam!

 

 

 

   OPM-OIIO Malmö-Sweden.

   

 

 

  

   


CC: [email protected]; [email protected]
From: [email protected]
Date: Mon, 1 Jun 2009 15:21:52 +0800
Subject: [SIMPA] Pengamat: Akar Konflik di Papua Belum Tuntas









01/06/09 00:51

Pengamat: Akar Konflik di Papua Belum Tuntas

Jakarta (ANTARA News) - Pengamat masalah Papua dari Lembaga Ilmu Pengetahuan 
Indonesia (LIPI), DR Muridan S Widjojo MSi berpendapat munculnya berbagai 
konflik di Papua karena akar persoalan belum diselesaikan secara tuntas oleh 
pemerintah bersama masyarakat Papua.

"Akar konflik di Papua sampai sekarang belum diurus dengan baik yaitu masalah 
marginalisasi orang Papua, pelanggaran Hak Azasi Manusia dan lainnya," kata 
Muridan kepada ANTARA di Jakarta, Minggu.

Muridan dimintai tanggapannya terkait kasus pendudukan lapangan terbang 
perintis Kasiepo di Distrik Mamberamo Hilir, Kabupaten Mamberamo Raya oleh 
kelompok bersenjata sejak 19 Mei lalu.

Menurut dia, tanpa adanya niat baik dan platform yang sama dari pemerintah 
pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota di Papua untuk 
menuntaskan masalah-masalah mendasar orang Papua maka wilayah di ujung timur 
Nusantara ini tetap akan konflik.

"Stabilitas politik dan keamanan di Papua sangat rapuh. Kejadian-kejadian kecil 
bisa dipakai untuk sebuah isu politik yang besar. Semua kelompok bisa bermain 
di Papua," kata Muridan.

Berkaitan dengan kasus pendudukan lapangan terbang perintis Kaisiepo di 
Memberamo Hilir, Muridan menduga hal itu merupakan dampak dari konflik 
kepentingan elit politik lokal. 

"Kelompok separatis di Papua macam-macam, ada kelompok yang sudah lama, tetapi 
ada juga yang bisa terbentuk dengan sendirinya dalam waktu kapan saja," katanya.

Dia mengatakan masyarakat Papua sebetulnya sudah jenuh dengan berbagai konflik 
yang terjadi yang tidak jelas akar persoalannya. Masyarakat Papua, menurut 
Muridan, menghendaki penyelesaian secara menyeluruh terhadap berbagai persoalan 
yang ada di Papua sebagaimana yang terjadi dengan di Nangroe Aceh Darussalam.

"Penyelesaian masalah Papua tidak pernah sampai tuntas seperti di Aceh. Itulah 
yang membuat Papua menjadi rapuh," katanya.

Agar rakyat Papua bisa menikmati hidup yang aman, Muridan meminta unsur 
pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota di seluruh Papua harus 
benar-benar komit untuk menjalankan empat agenda utama Otonomi Khusus (Otsus) 
yaitu pembenahan yang tuntas sistem pendidikan dasar dan kesehatan yang masih 
sangat memprihatinkan, dan mendorong tumbuh dan berkembangnya ekonomi 
kerakyatan agar rakyat Papua merasa menjadi bagian yang tak terpisahkan dari 
NKRI.

Selain itu, pengusutan dan proses hukum yang fair kepada kasus-kasus dugaan 
pelanggaran HAM.

Muridan juga mengingatkan pemerintah dan aparat penegak hukum agar tidak lagi 
menggunakan pendekatan keamanan dalam menyelesaikan konflik di Papua karena 
pendekatan seperti itu justru menjadi biang kerok dari berbagai permasalahan 
yang terjadi di Papua selama ini.

Sebagaimana diketahui, untuk membebaskan lapangan terbang perintis Kaisiepo di 
Distrik Memberamo Hilir, jajaran Polda Papua telah menyiapkan satu kapal polisi 
perairan (Polair) dan sejumlah perahu kayu di dekat lokasi kejadian.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira di Jakarta, Jumat lalu 
mengatakan kapal Polair dipakai sebagai sarana negosiasi antara polisi dengan 
kelompok bersenjata. 

"Kapal Polri itu dilengkapi dengan pengeras suara sehingga dapat dipakai untuk 
menghimbau warga agar meninggalkan lapangan terbang," katanya. 

Sedangkan sejumlah perahu disediakan untuk warga yang bersedia meninggalkan 
lapangan terbang secara sukarela. Polri, katanya, hingga kini tetap menggunakan 
upaya persuasif dengan melibatkan tokoh agama, tokoh adat dan pejabat 
pemerintah setempat. 

"Upaya negosiasi telah tiga kali dilakukan dan akan terus diupayakan agar 
mereka meninggalkan lapangan terbang secara sukarela," ujarnya. 

Menurut dia, kendati jumlah warga yang menduduki bandara sekitar 150 orang 
namun hanya tiga orang yang memiliki senjata api dan diduga sebagai pihak yang 
menggerakkan warga.(*)

COPYRIGHT © 2009
http://www.antara.co.id/arc/2009/6/1/pengamat-akar-konflik-di-papua-belum-tuntas/


Baca juga
Papua Ideal Untuk Penelitian Etnoarkeologi
http://www.antara.co.id/arc/2009/6/1/papua-ideal-untuk-penelitian-etnoarkeologi/



 __________________________________

SATU LANGIT-SATU MATAHARI-SENASIB 
___________________________________

Email: 
[email protected]
[email protected]
[email protected]
[email protected]

Blogspot:
arkilausbaho.blogspot.com

***

DIATAS BATU INI SAYA MELETAKAN PERADABAN ORANG PAPUA, SEKALIPUN ORANG MEMILIKI 
KEPANDAIAN TINGGI, AKAL BUDI DAN MARIFAT TETAPI TIDAK DAPAT MEMIMPIN BANGSA 
INI, BANGSA INI AKAN BANGKIT DAN MEMIMPIN DIRINYA SENDIRI.( Pdt. I.S.Kijsne 
Wasior 25 Oktober 1925 )







Yahoo! Mail Sekarang Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya! 








_________________________________________________________________
Drag n’ drop—Get easy photo sharing with Windows Live™ Photos.

http://www.microsoft.com/windows/windowslive/products/photos.aspx

Kirim email ke