Disekeliling saya (baca ketika masih di Acheh) tidak ada seorangpun penganut 
Syiah.  Ketika saya berkhutbah di mimbar-mimbar Jum-at, orang menyangka saya 
penganut Muhammaddiah. Mereka sangat anti kepada Muhammaddiah, padahal mereka 
masih satu Mazhab. Saya sendiri menemukan kebenaran Syiah melalui analisaku 
terhadap keberadaan Imam Ali as, mengapa orang banyak meninggalkan beliau yang 
sudah Diangkat Rasulullah sebagai wakilnya ketika terbaring ditempat tidur 
Rasulullah di Mekkah, ketika menjamu 40 orang sanak saudara paska turunya ayat 
perintah untuk menyeru manusia kejalan yang benar, ketika Rasulullah melakukan 
kontrol dimedan tempur, Ali sebagai gantinya di Madinah dan ketika Jibril 
menegur beliau untuk melantik penerus keimamahan beliau. Ini sedikit saja dulu 
sesuai . . . . .om puteh.




________________________________
From: omar puteh <[email protected]>
To: iacsf <[email protected]>
Sent: Sunday, August 2, 2009 9:17:47 AM
Subject: [IACSF] Re: (IACSF) Selamatkan Aceh dari Pengaruh Buruk Syiah

  
  
Omar Putéh menulis:
 
Diskusi yang sedang berlansung seperti sekarang ini, bagus tetapi yang paling 
bagus adalah jika anda yang pernah Sunni tetapi kemudian menjadi Syi'ah dapat 
memberikan tuturan yang lengkap, seperti dalam buku kampanye Syi'ah: Mengapa 
Aku Menjadi Syiah?
 
Pembahasan atau pendiskusian seperti sekarang ini, telah lama kita dapati, 
apalagi sekarang ini terlalu banyak dan mudah kita mendapatkan referensinya, 
tetapi pembahasannya tidak lebih dan tidak kurang, seperti yang sedang 
"dipertarungkan" oleh Rid wan, Vande Charba, (No) Vendra Cahaya Bening dan 
Meutia.
 
Jadi anda, Ali Al Asytar dan beberapa "sahabat" anda seperti diantaranya 
Muhammad Al Qobra, agar tidak berlengah lagi, untuk menjelaskan kepada milis 
ini, mengapakah anda meninggal Sunni dan kemudian memilih menjadi Syi'ah, 
sebelum Vande Charba, (No) Vendra Cahaya Bening akan melakukan kemudiannya.
 
Ini paling penting, malahan lebih penting dari apa yang anda perkatakan dalam 
menguraikan atau memperkatakan tentang Sunni begini dan begitu, karena inilah 
kunci pembukanya siapa anda dan mengapa anda menjadi Syi'ah, apalagi anda 
pernah mengatakan diri sebagai GAM.
 
Dulu ada seorang rakan saya, berasal dari sebuah Gampong di Achèh Rajeuk, yang 
suka bernamakan: Zia Murthada, yang di Malaysia dikenal sebagai satu-satunya 
anak Achèh yang Syi'ah, yang kami katakan sebagai syi'ah bai'ah, tetapi tidak 
seperti anda suka menghantam Sunni. Dan sayalah orangnya yang pertama 
mengajaknya untuk mendjadi GAM dan sayalah orangnya juga yang menindaknya, 
karena ada indikasi hendak men-Syi'ah-kan GAM, sebagaimana banyak orang telah 
mengetahuinya.
 
Lantas patut saya ulangi, kepada anda Ali Al Asytar dan sahabat anda Muhammad 
Al Qobra, bahwa dalam uraian-uraian pendiskusi (dari pihak Syi'ah) juga ada 
disana mengatakan bahwa setiap ayat dalam Al Qurän nul Qarim menjelaskan 
sendiri terhadap ayat lainnya masing-masing, sebagaimana telah saya katakan: 
Setiap potong ayat (kalam Allah SWT) itu sebagai Hukum-Hakam.
 
Kalau saya katakan anda adalah salah, karena mengatakan Al Qurän nur Qarim itu 
sebagai pedoman hendaknya diterima, dan tidak sampai pula mengatakan orang 
murtad.
 
Anda, Ali Al Asytar dan sahabat anda Muhammad Al Qobra, hendaknya tidak 
merendah Al Qurän nul Qarim itu.  Apa artinya pedoman dan apa pula artinya 
Hukum-Hakam?
 
Malahan setiap kejadian sejarah yang terdapat dalam Al Qurän nul Karim itu 
sendiri sebagai Hukum-Hakam, yang bagi kita kemudian akan menjadi rujukan 
sebagai pedoman.
 
Tidaklah perlu saya gunakan penjelasan bagaimana sebuah Kodifikasi Hukum-Hakam 
yang ada
pada sebuah negara untuk dihukum-hakamkan oleh Hakim, termasuk rujukan 
jurisprodensi- jurisprodensinya , yang putusannya akan menjadi pedoman.
 
Sebenarnya setiap ayat dalam Kodifikasi Hukum-Hakam sebuah negara itu sendiri 
sebagai pedoman, tetapi bukan kodifikasi itu sebagai pedoman, demikianlah Al 
Qurän nul Qarim.
 
Tetapi disini bukannlah saya hendak menyamakan al Qurän nul Karim yang mulia 
dan tejunjung tinggi itu, dengan mana-mana kodofikasi hukum di dunia, tetapi 
hanya untuk menjelaskan kepada anda kembali agar tidak berkwak-kwak menguakkan 
Syi'ah anda seperti kodok mengkwak-kwakkan suaranya dimusim hujan, lantas 
mengatakan orang murtad dalam diskusi ini.
 
Anda, Ali Al Asytar dan sahabat anda Muhammad Al Qobra, belajarlah dari hari 
ini, dan gunakan formula dibawah ini dan agar anda tidak sembarangan 
menggunakan potongan firman Allah SWT, untuk menunjuk-nunjukkan bahwa, anda 
sebagai Syi'ah yang benar Islammya:
  
Lampiran 
 
Ibnu Mas’ud r.a berkata, “Jika kita ingin memperoleh ilmu, pikirkanlah dan 
renungkanlah makna-makna Al-Quran, karena di dalamnya terkandung ilmu 
orang-orang yang dahulu dan sekarang. Namun untuk memahaminya, kita mesti 
menunaikan syarat dan adabnya terlebih dahulu.” Jangan seperti pada zaman kita 
sekarang ini. 
 
Hanya bermodalkan pengetahuan tentang beberapa lafazh bahasa Arab, bahkan 
sekedar melihat terjemahan Al-Quran, seseorang berani berpendapat mengenai 
Al-Quran. Alim ulama berkata, “Dalam menafsirkan Al-Quran diperlukan keahlian 
dalam lima belas bidang ilmu.” 
 
Ringkasan kelima belas bidang ilmu tersebut semata-mata agar diketahui bahwa 
tidak mudah setiap orang dapat memahami makna batin Al-Quran ini.
        1. Ilmu Lughat (filologi), yaitu ilmu untuk mengetahui arti setiap kata 
Al-Quran. Mujahid rah.a. berkata, “Barang siap beriman kepada Allah dan hari 
akhirat, ia tidak akan banyak berkomentar tentang ayat-ayat Al-Quran tanpa 
mengetahui ilmu lughat. Sedikit pengetahuan tentang ilmu lughat tidaklah cukup 
karena kadang kala satu kata mengandung berbagai arti. Jika hanya mengetahui 
satu atau dua arti, tidaklah cukup. Dapat terjadi, yang dimaksud kata tersebut 
adalah arti yang berbeda.  
        2. Ilmu Nahwu (tata bahasa). Sangat penting mengetahui ilmu nahwu, 
karena sedikit saja i’rab (bacaan akhir kata) berubah akan mengubah arti kata 
tersebut. Sedangkan pengetahuan tentang i’rab hanya didapat dalam ilmu nahwu.  
        3. Ilmu Sharaf (perubahan bentuk kata). Mengetahui ilmu sharaf sangat 
penting, karena perubahan sedikit bentuk suatu kata akan mengubah maknanya. 
Ibnu Faris berkata, “Jika seseorang tidak mendapatkan ilmu sharaf, berarti ia 
telah kehilangan banyak sekali.”  
        4. Ilmu Isytiqaq (akar kata). Mengetahui ilmu isytiqaq sangatlah 
penting. Dengan ilmu tersebut dapat diketahui asal-usul kata. Ada beberapa kata 
yang berasal dari dua kata yang berbeda, sehingga berbeda makna. Seperti kata 
‘masih’ yang berasal dari kata ‘masah’ yang artinya menyentuh atau menggerakkan 
tangan yang basah ke atas, atau juga berasal dari kata ‘masahat’ yang berarti 
ukuran.  
        5. Ilmu Ma’ani (susunan). Ilmu ini sangat penting diketahui. Dengannya, 
susunan kalimat dapat diketahui dengan melihat maknanya.  
        6. Ilmu Bayaan, yakni ilmu yang mempelajari makna kata yang zhahir dan 
yang tersembunyi, juga mempelajari kiasan serta permisalan kata.  
        7. Ilmu Badi’, yakni ilmu yang mempelajari keindahan bahasa. Ketiga 
bidang ilmu diatas juga disebut sebagai cabang ilmu balaghah, yang sangat 
penting dimiliki oleh para ahli tafsir. Al-Quran adalah mukjizat yang agung. 
Dengan ilmu-ilmu diatas, kemukjizatan Al-Quran dapat diketahui.  
        8. Ilmu Qira’at. Ilmu ini sangat penting karena perbedaan bacaan dapat 
mengubah makna ayat. Ilmu ini membantu menentukan makna paling tepat diantara 
makna-makna suatu kata.  
        9. Ilmu Aqa’id. Ilmu yang sangat penting dipelajari ini mempelajari 
dasar-dasar keimanan. Kadangkala ada satu ayat yang arti zhahirnya tidak 
mungkin diperuntukkan untuk Allah swt. Untuk memahaminya diperlukan takwil ayat 
itu.  
        10. Ilmu Ushul Fiqih. Mempelajari ilmu ushul-fiqih sangat penting. 
Dengan ilmu ini dapat diambil dalil serta penggalian hukum suatu ayat.  
        11. Ilmu Asbabun-Nuzul. Ilmu untuk mengetahui sebab-sebab turunnya ayat 
Al-Quran. Dengan mengetahui sebab-sebabnya, kadangkala maksud suatu ayat 
bergantung pada pengetahuan tentang asbabun-nuzulnya.  
        12. Ilmu Nasikh Mansukh. Dengan ilmu ini dapat dipelajari suatu hukum  
yang sudah dihapus dan hukum yang masih berlaku.  
        13. Ilmu Fiqih. Ilmu ini sangat penting dipelajari. Dengan menguasai 
hukum-hukum yang rinci akan mudah mengetahui hukum global.  
        14. Ilmu Hadist. Ilmu tentang hadist Rasulullah saw.  
        15. Ilmu Wahmi. Ilmu ini khusus diberikan Allah kepada hamba-Nya yang 
istimewa. 
Ilmu-ilmu yang telah diterangkan di atas adalah alat bagi para mufassir 
Al-Quran. Seseorang yang tidak memiliki ilmu-ilmu tersebut lalu menafsirkan 
Al-Quran, berarti ia telah menafsirkannya menurut pendapatnya sendiri, yang 
larangannya telah disebutkan dalam banyak hadits. Para sahabat telah memperoleh 
ilmu bahasa Arab secara turun temurun, dan ilmu lainnya mereka dapatkan melalui 
cahaya Nubuwah. Imam Suyuthi rah.a. berkata, “Mungkin kalian berpendapat bahwa 
ilmu Wahbi itu berada diluar kemampuan manusia. Padahal tidak demikian, karena 
Allah sendiri telah menunjukkan caranya, misalnya dengan mengamalkan ilmu yang 
dimiliki dan tidak mencintai dunia.”
Tertulis dalam Kimiaus-Sa’adah bahwa ada tiga orang yang tidak akan mampu 
menafsirkan Al-Quran:
        1. Orang yang tidak memahami bahasa Arab.  
        2. Pelaku dosa besar atau ahli bid’ah, yang dengan perbuatannya itu 
menjadikan hatinya gelap dan menutupi pemahaman terhadap Al-Quran.  
        3. Orang yang dalam akidahnya hanya mengakui makna zhahirnash. Jika 
membaca ayat-ayat Al-Quran yang tidak sesuai dengan pola pikirnya, ia akan 
gelisah. Orang seperti ini tidak akan mampu memahami Al-Quran dengan benar. 
 
 Ibnu Mas’ud r.a berkata, “Jika kita ingin memperoleh ilmu, pikirkanlah dan 
renungkanlah makna-makna Al-Quran, karena di dalamnya terkandung ilmu 
orang-orang yang dahulu dan sekarang. Namun untuk memahaminya, kita mesti 
menunaikan syarat dan adabnya terlebih dahulu.” Jangan seperti pada zaman kita 
sekarang ini. 
 
Hanya bermodalkan pengetahuan tentang beberapa lafazh bahasa Arab, bahkan 
sekedar melihat terjemahan Al-Quran, seseorang berani berpendapat mengenai 
Al-Quran. Alim ulama berkata, “Dalam menafsirkan Al-Quran diperlukan keahlian 
dalam lima belas bidang ilmu.” 
 
Ringkasan kelima belas bidang ilmu tersebut semata-mata agar diketahui bahwa 
tidak mudah setiap orang dapat memahami makna batin Al-Quran ini.
        1. Ilmu Lughat (filologi), yaitu ilmu untuk mengetahui arti setiap kata 
Al-Quran. Mujahid rah.a. berkata, “Barang siap beriman kepada Allah dan hari 
akhirat, ia tidak akan banyak berkomentar tentang ayat-ayat Al-Quran tanpa 
mengetahui ilmu lughat. Sedikit pengetahuan tentang ilmu lughat tidaklah cukup 
karena kadang kala satu kata mengandung berbagai arti. Jika hanya mengetahui 
satu atau dua arti, tidaklah cukup. Dapat terjadi, yang dimaksud kata tersebut 
adalah arti yang berbeda.  
        2. Ilmu Nahwu (tata bahasa). Sangat penting mengetahui ilmu nahwu, 
karena sedikit saja i’rab (bacaan akhir kata) berubah akan mengubah arti kata 
tersebut. Sedangkan pengetahuan tentang i’rab hanya didapat dalam ilmu nahwu.  
        3. Ilmu Sharaf (perubahan bentuk kata). Mengetahui ilmu sharaf sangat 
penting, karena perubahan sedikit bentuk suatu kata akan mengubah maknanya. 
Ibnu Faris berkata, “Jika seseorang tidak mendapatkan ilmu sharaf, berarti ia 
telah kehilangan banyak sekali.”  
        4. Ilmu Isytiqaq (akar kata). Mengetahui ilmu isytiqaq sangatlah 
penting. Dengan ilmu tersebut dapat diketahui asal-usul kata. Ada beberapa kata 
yang berasal dari dua kata yang berbeda, sehingga berbeda makna. Seperti kata 
‘masih’ yang berasal dari kata ‘masah’ yang artinya menyentuh atau menggerakkan 
tangan yang basah ke atas, atau juga berasal dari kata ‘masahat’ yang berarti 
ukuran.  
        5. Ilmu Ma’ani (susunan). Ilmu ini sangat penting diketahui. Dengannya, 
susunan kalimat dapat diketahui dengan melihat maknanya.  
        6. Ilmu Bayaan, yakni ilmu yang mempelajari makna kata yang zhahir dan 
yang tersembunyi, juga mempelajari kiasan serta permisalan kata.  
        7. Ilmu Badi’, yakni ilmu yang mempelajari keindahan bahasa. Ketiga 
bidang ilmu diatas juga disebut sebagai cabang ilmu balaghah, yang sangat 
penting dimiliki oleh para ahli tafsir. Al-Quran adalah mukjizat yang agung. 
Dengan ilmu-ilmu diatas, kemukjizatan Al-Quran dapat diketahui.  
        8. Ilmu Qira’at. Ilmu ini sangat penting karena perbedaan bacaan dapat 
mengubah makna ayat. Ilmu ini membantu menentukan makna paling tepat diantara 
makna-makna suatu kata.  
        9. Ilmu Aqa’id. Ilmu yang sangat penting dipelajari ini mempelajari 
dasar-dasar keimanan. Kadangkala ada satu ayat yang arti zhahirnya tidak 
mungkin diperuntukkan untuk Allah swt. Untuk memahaminya diperlukan takwil ayat 
itu.  
        10. Ilmu Ushul Fiqih. Mempelajari ilmu ushul-fiqih sangat penting. 
Dengan ilmu ini dapat diambil dalil serta penggalian hukum suatu ayat.  
        11. Ilmu Asbabun-Nuzul. Ilmu untuk mengetahui sebab-sebab turunnya ayat 
Al-Quran. Dengan mengetahui sebab-sebabnya, kadangkala maksud suatu ayat 
bergantung pada pengetahuan tentang asbabun-nuzulnya.  
        12. Ilmu Nasikh Mansukh. Dengan ilmu ini dapat dipelajari suatu hukum  
yang sudah dihapus dan hukum yang masih berlaku.  
        13. Ilmu Fiqih. Ilmu ini sangat penting dipelajari. Dengan menguasai 
hukum-hukum yang rinci akan mudah mengetahui hukum global.  
        14. Ilmu Hadist. Ilmu tentang hadist Rasulullah saw.  
        15. Ilmu Wahmi. Ilmu ini khusus diberikan Allah kepada hamba-Nya yang 
istimewa. 
Ilmu-ilmu yang telah diterangkan di atas adalah alat bagi para mufassir 
Al-Quran. Seseorang yang tidak memiliki ilmu-ilmu tersebut lalu menafsirkan 
Al-Quran, berarti ia telah menafsirkannya menurut pendapatnya sendiri, yang 
larangannya telah disebutkan dalam banyak hadits. Para sahabat telah memperoleh 
ilmu bahasa Arab secara turun temurun, dan ilmu lainnya mereka dapatkan melalui 
cahaya Nubuwah. Imam Suyuthi rah.a. berkata, “Mungkin kalian berpendapat bahwa 
ilmu Wahbi itu berada diluar kemampuan manusia. Padahal tidak demikian, karena 
Allah sendiri telah menunjukkan caranya, misalnya dengan mengamalkan ilmu yang 
dimiliki dan tidak mencintai dunia.”
Tertulis dalam Kimiaus-Sa’adah bahwa ada tiga orang yang tidak akan mampu 
menafsirkan Al-Quran:
        1. Orang yang tidak memahami bahasa Arab.  
        2. Pelaku dosa besar atau ahli bid’ah, yang dengan perbuatannya itu 
menjadikan hatinya gelap dan menutupi pemahaman terhadap Al-Quran.  
        3. Orang yang dalam akidahnya hanya mengakui makna zhahirnash. Jika 
membaca ayat-ayat Al-Quran yang tidak sesuai dengan pola pikirnya, ia akan 
gelisah. Orang seperti ini tidak akan mampu memahami Al-Quran dengan benar.     
Dan ucapan dua kalimah syahadat: Tidak ada tuhan yang disembah dengan sebenar 
sembah kecuali Allah (SWT) dan Muhammad (SAW) itu, Rasulullah!
 
Jadi masalah Syi'ah itu adalah masalah dunia Islam, dimana kaum Sunni, 
senantiasa sangat takut terhadapnya.
 
Mudah-mudahan akan disepakati oleh para Ulama-Ulama di Achèh, terhadap Syi'ah 
sebagai anutan terlarang di Achèh, sebagaimana dihukum-hakamkan di Malaysia dan 
sebagaimana telah diingatkan oleh Tengku Tjhik di Tiro, Dr Tengku Hasan 
Muhammad: Bahwa masalah Islam di Achèh  akan itentukan oleh Ulama-Ulama di 
Achèh itu sendiri.
 
Itulah sebabnya pimpinan GAM, awal-awal lagi telah membentuk MUNA, Majelis 
Ulama Nanggroë Achèh Darussalam.
 
Kita tetap berterima kasih kepada pemilis yang sedang berbahas/berdiskusi 
tentang Sunni dan Syi'ah dan saya juga anjurkan agar pendiskusi-pndiskus i 
sukalah mengoreksi diri dengan tuntutan yang diingatkan ulama-ulama penafsir Al 
Qurän nul Karim, yang kita bisa ambil sebagai sebuah applikasi.
 
Omar Putéh
Meunasah Reudeuep
Achèh Rajeuk. 

 

   


      

Kirim email ke