Baiklah selama kita menanti keputusan Allah, perlu saya sampaikan kepada 
pembaca bahwa orang yang saya maksudkan ketika mengucapkan sumpahserapah kepada 
Alauddin Umarov secara membabi buta, diujung tulisannya yang sangat panjang itu 
menyindir ke saya. Dia mengatakan secara terang terangan bahwa Al Quran itu 
bukan pedoman Hidup sebagaimana diulang-ulang oleh saya. Lalu saya 
mengingatkannya secara baik bahwa kalau dia tidak menarik ucapannya itu, murtad 
hukumnya. Ini bukan klaim saya tapi siapapun orang Islam yang punya pikiran 
pasti mengetahui bahwa ayat 2 surah al Baqarah sebagai pernyataan Allah sendiri 
setelah muqaddimahnya (baca surah Al Fatihah), bahwa al Qur-an itu tidak ada 
keraguan (sedikitpun) padanya, adalah sebagai pedoman/petunjuk bagi orang-orang 
yang bertaqwa. Lalu kalau ada orang yang katakan bahwa al Qur-an itu bukan 
pedoman hidup bagi kita orang Islam sama dengan menentang bukan saja ayat 2 
surah al Baqarah itu, tapi juga menentang
 seluruh al Qur-an. Justru itu saya beritahukan kepada orang tersebut murtad 
Hukumnya. Malah saya ingatkan dalam bhs Acheh agar tidak diketahui orang non 
Acheh (maleeteuh lonpeugah meunan). 

Orang tersebut tidak menggubris saya yang ketika itu masih saya anggap teman. 
Ironisnya dia menulis beberapa hari kemudian bahwa saya hanya menulis Qabil dan 
Habil saja sejak saya masuk pintu gerbang Norway. Ini terindikasi bahwa dia itu 
buruk sangka kepada saya. Kali ini dia ulang lagi bahwa Qur-an itu bukan 
pedoman Hidup. Justru itulah saya tidak lagi bersahabat kepada orang tersebu.

Haji Umar sepertinya ingin berlangsung dialog Sunni - Syi'i dan mengaku tidak 
punya ilmu tentang itu, lalu meminta pihak yang ada ilmu untuk tidak main 
samping. Ketika dialog berlangsung diapun ikutikutan mendukung salah satu 
pihak, dimana yang semestinya menyimak dulu dengan teliti apa yang dikemukakan 
kedua pihak. Justru itulah Saya katakan dia itu juga fanatik buta.

Kami ini malah bukan saja di Achirat siap menyerahkan kepada Allah tapi juga di 
Dunia ini dengan bermubahalah sebagaimana Rasulullah lakukan ketika pihak lawan 
terbukti fanatikbuta. Tapi ternyata pihak lawan Rasulullah tidak berani 
bermubahalah.

Terahir sekali saya anjurkan agar kedua belah pihak mewakilkan saja kepada 
Vande dan Venda vs Mutia dan Ridwan.
Kalau Mutia sedang berdialog dengan Vande, malah sebaiknya, Ridwan bersabar 
dulu sebagaimana Venda. Apabila Mutia kehabisan bahan barulah Ridwan maju, 
begitulah sebaliknya.

(Alasytar)


      

Kirim email ke