----- Original Message ----- 
From: Ismail Asso 
To: [email protected] ; Temu Eropa Gooups ; 
[email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; 
[email protected] ; [email protected] ; Reformasi Total Gooups ; 
[email protected] ; Serikat Kaum Terkutuk Gooups ; 
[email protected] ; Temu Kita Gooups ; [email protected] ; 
[email protected] ; Forum Sosial Indonesia Gooups ; [email protected] 
; [email protected] ; Indo Marxist Gooups ; 
[email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; 
[email protected] ; Anti Pemiskinan Gooups ; Diskusi Pembebasan 
Gooups ; Forum Pembaca Kompas Gooups ; Kebijakan Partisipatif Gooups ; 
[email protected] ; [email protected] ; 
[email protected] ; Perempuan Gooups ; 
[email protected] ; PPIINDIA Gooups ; Apakabar Gooups ; Advikasi 
Demokrat Gooups ; [email protected] ; Airuntukrakyat 
Gooups ; Amlupa Gooups ; Anti Militerisme Gooups ; ANTI-IMF Gooups ; 
[email protected] ; [email protected] ; 
[email protected] ; [email protected] ; Mediacare 
Gooups ; HKIS Gooups ; [email protected] ; 
[email protected] ; Lingkungan Gooups ; [email protected] ; 
[email protected] ; Bumi Manusia Gooups ; [email protected] ; 
Nasional List Gooups ; [email protected] ; Masyarakat Merdeka Gooups 
; [email protected] 
Cc: [email protected] 
Sent: Friday, August 21, 2009 2:51 PM
Subject: [nasional-list] KONFLIK PAPUA DAN POLITIK AKOMODASI SBY


    
      Oleh :Ismail Asso*



      Kullukum roo’in wakullukum masuulin ‘an ro’iyyatihi.

       Artinya: “Setiap kamu adalah pemimpin dan akan dimintakan 
pertanggungjawaban kepemimpinannya”. (Al-Hadits)



      Penulisan tulisan ini dengan asumsi secara pribadi bahwa, sesuatu yang 
gagal kita raih semua, lantas tidak kita meninggalkan semua. Qoidah ushul fiqh 
(filsafat hukum islam) ini mengandaikan pada kita bahwa apa yang harusnya, 
berarti yang ideal bagi kita seperti keinginan mayoritas rakyat Papua sementara 
ini belum mampu diraih semua bukan berarti kita juga harus meninggalkan semua. 
Artinya dalam usaha menuju tujuan ideal, kita tidak boleh meninggalkan sesuatu 
kenyataan kejadian didepan mata sebagai bagian dari hak kita. Kita tidak boleh 
meninggalkan semua karena hanya semata-mata tujuan ideal.



      Pemerintah Pusat hampir 40 tahun mengalami kesulitan komunikasi 
menyelesaikan masalah Papua. Selama itupula tokoh-tokoh senior dijadikan 
kiperson penyelesaian masalah. Berbagai lobby tokoh senior, kenyataannya tidak 
pernah bisa membantu menyelesaikan masalah. Justeru membohongi pemrintah pusat 
supaya dapat jabatan Duta Besar, Gubernur, DPRP, Voice Presiden Freeport, 
Deputi-Deputi, DPR RI dan Menteri Kelautan. Tapi apa kontribusi mereka sebagai 
wakil/representasi Papua? Berarti Pemerintah Pusat salah mengambil orang-orang 
senior itu. (Natalis Pigay, Wawancara, Jum’at, 5 Juli 2008).



      Dalam sejarahnya akomodasi politik Papua oleh Pemerintah Pusat biasanya 
hanya dilibatkan beberapa oknum Papua dan itu dilakukan melalui segelintir 
orang Papua dari clan tertentu mengatasnamakan Papua. Masalahnya adalah apakah 
mereka ini memenuhi aspek keterwakilan semua suku bahasa dan adat-budaya Papua 
yang sangat majemuk melampaui kemajemukan Indonesia sendiri, sebagai bergaining 
politik bagi seluruh rakyat Papua? Apakah patut akomodasi politik bagi semua 
unsur suku bangsa dan bahasa Papua dianggap sudah cukup melalui lobby-lobby 
partial segelintir orang Papua di Jakarta? Jawabannya tidak! Demikian itu 
sesungguhnya hanya mewakili segelintir clan dari wilayah tertentu Papua yang 
sangat luas dengan keragaman adat-budaya dan bahasa. Papua ada 270 bahasa dari 
360 bahasa suku Indonesia (http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia). 



      Kalau demikian sangat ragam adat-budaya dan bahasa Papua melampaui bahasa 
Indonesia itu sendiri. Maka wajarkah Papua hanya bisa di wakili oleh 
orang-orang seperti Kepala Suku Haji Abunawas dari Suku Dani Lembah Baliem 
Wamena? Pendeta binaan BIN serta OPM abu-abu atau pejuang NKRI dari Ibukota 
Jakarta? Dan itu sebelum ini biasanya dilakukan oleh segelintir kelompok 
pragmatis orang Papua yang punya ases ke Istana. Maka dengan sendirinya tidak 
mewakili seluruh aspirasi komponen komunitas semua unsur Papua. Sebagai 
akibatnya menjadi wajar dan masuk akal bahwa selama Otsus diberlakukan dari 
tahun 1999-2009, maka selama itupula sama sekali tidak mampu meredam gejolak 
separatisme. 



      Sehingga menjadi wajar juga kalau kemudian kita merasa sangsi kepada 
tokoh-tokoh tua selama ini kembali dilibatkan untuk kalkulasi politik Papua 
pada pundak mereka lagi. Skeptisme kita pada tokoh-tokoh tua Papua bahwa kalau 
benar mereka punya kemampuan mengatasi masalah Papua. Maka harusnya selama 
Otsus 10 tahun berjalan sejauh ini tidak terlihat kapabilitas itu, malah 
sebaliknya masalah konflik Papua semakin rumit bukan semakin padam, sebaliknya 
tetap aktif, malah semakin gila dan tidak waras. Kalau begitu apa yang salah 
selama ini, dan bagaimana solusi yang tepat agar kedepan kita bisa 
mengantisipasi banyak korban nyawa sia-sia rakyat Papua? Kemudian jangan lupa 
bahwa dana trilyunan rupiah menjadi tiada arti sebelum ini yang dikucurkan bisa 
mencapai sasaran sesuai yang diinginkan? 



      Harus Libatkan Tokoh Muda



      Tidak bisa tidak, Pemerintah Pusat dan lebih khusus Kabinet SBY-BUDIONO 
mendatang harus melibatkan tokoh-tokoh muda terdidik guna mencari solusi akar 
persoalan tentang apa sesungguhnya masalah dasar Papua, dan mengapa selama ini 
Papua tidak pernah sepi dari letupan-letupan separatisme menjadi urgen agenda 
kedepan ini. Untuk itu penulis disini merekomendasikan bahwa kedepan 
Pemerintahan SBY-BUDIONO tidak bisa tidak, jadi maksudnya wajib, bahwa dalam 
penyusunan kabinet mendatang harus melibatkan tokoh-tokoh muda Papua guna 
mencari solusi jitu dan cerdas agar anak-anak muda Papua yang lebih energik 
mengerahkan intelektualitas mereka dalam penyelesaian Papua secara menyeluruh 
dengan berbagai pendekatan baru.



      Mengingat sebelum ini dan itu sudah terbukti dan kita saksikan bersama 
bahwa tokoh-tokoh senior Papua selama ini yang dianggap sanggup membantu 
menyelesaikan masalah Papua kenyataannya gagal total. Dan itu artinya jika 
kedepan masih juga kepercayaan diberikan mereka maka itu berarti persoalan 
Papua tetap belum sanggup diselesaikan oleh para tokoh-tokoh tua yang 
dilibatkan selama ini dimasa lalu untuk menyelesaikan masalah masa akan datang. 
Malah kalau kembali dipercayakan pada mereka justeru menambah masalah baru 
(problem maker). Pada akhirnya masalah Papua jadi berlarut-larut sehingga 
proses integrasi itu selalu menjadi belum selesai dan hasil experimentnya 
selalu gagal.



      Tokoh-tokoh tua selama ini terlihat tidak punya kualitas problem solving, 
harusnya tidak perlu dilibatkan lagi. Karena menurut saya (subyektif) bahwa 
mereka tidak mampu bahkan secara moralitas (maaf) moralitas “kita” orang Papua 
rendah, “kita” tidak memiliki self of crisis, indikasinya adalah limpahan 
kucuran uang trilyunan rupiah yang diberi tanggungjawab dipundak “kita” bukan 
untuk membangun rakyat kita sendiri agar makmur dan sejahtera, tapi malah 
uang-uang itu dibawa kabur keluar Papua dan sering terlihat para pejabatnya 
berkeliaran diluar Papua, misalnya dikota Menado, Jogjakarta, Makasar, Jakarta, 
Surabaya dan Bandung. Cari apa? Nah ini yang saya tidak bisa jawab. Tapi ada 
orang bilang pada saya bahwa OPM itu sekarang akronim dari Operasi Paha Menado.



      Artinya bahwa uang-uang trilyunan rupiah dikucurkan pemrintah pusat untuk 
meredam aspirasi M orang Papua itu dibawa kabur segelintir orang Papua dari 
pejabatnya selama ini dan itu sering pergi bolak-balik 
Jakarta-Bandung-Jogjakarta-Surabaya-Makasar-Menado-Jayapura dan uang hanya 
dihabiskan dengan minuman alkohol dan “cuki” (halusnya, jajan) WTS dikota-kota 
tersebut. Akhirnya dinilai orang tidak serius apalagi secara sanggup 
menyelesaikan masalah konflik Papua melalui pendekatan kesejahteraan ekonomi, 
sebagaimana diinginkan pemerintah pusat dan kita semua, malah dimana-mana 
dinilai orang terlihat demikian orang Papua dengan banyaknya uang Otsus saat 
ini. 



      Kalau begitu elit politik Papua dewasa ini belum bisa dipercaya 
pertanggungjawabannya atas kepemimpinan bagi rakyat Papua bahwa kucuran dana 
besar mengalir di Papua belum bisa mensejahterakan rakyat Papua, disisi lain 
konflik dan letupan-letupan separatisme tetap menyala di kawasan ini. Oleh 
karena itu kedepan dan untuk itu kita semua berharap bahwa akomodasi politik 
SBY-Budiono dalam Kabinet akan datang harus lebih rasional untuk memenuhi semua 
aspek keterwakilan unsur Papua dengan berbagai latar belakang keunikannya dan 
itu sekiranya dapat membantu good will pemerintahan SBY 5 tahun kedepan, agar 
Papua lebih baik dari sebelumnya. Konsekuensinya adalah bahwa Pemerintahan 
SBY-BUDIONO, dalam menyusun kabinet 2009-2014 harus melibatkan tokoh-tokoh muda 
yang lebih energik, terdidik, intelektual dan punya latar belakangan organisasi 
nasional dan internasional. 



      Untuk mencari tokoh-tokoh muda demikian anak-anak muda Papua tidak sulit 
bahkan anak-anak muda Papua saat ini lebih siap dan lebih cerdas dari pendahulu 
mereka yang selama ini dipercaya pemerintah yang terbukti gagal. Anak-anak muda 
Papua banyak dan mereka siap untuk dilibatkan guna membantu menyelesaikan 
persoalan Papua yang kadang itu diserahkan pada tokoh-tokoh tua yang seringkali 
lamban dan bahkan tidak berdaya sama sekali menyelesaikan solusi terbaik bagi 
Papua sebagaimana sebelum ini. 



      Papua saat ini sudah banyak memiliki tokoh-tokoh muda intelektual untuk 
bisa dimajukan menjadi kiperson-kiperson baru guna membantu pemerintah pusat 
(baca, Kabinet SBY-BUDIONO 2009-2014), guna membantu menyelesaikan persoalan 
konflik berkepenjangan Papua secara konprehenshif dan membantu memajukan rakyat 
Papua agar bangkit dari ketertinggalan dalam berbagai aspek pembangunan 
sekaligus guna mengatasi persoalan konflik Papua, dan yang paling utama adalah 
membantu proses pelaksanaan Otsus yang sebahagian orang berharap pada Otsus 
Papua dan lain menganggap gagal sejak diundangkannya tahun 1999 lalu.



      Papua bukan tidak punya sama sekali kader-kader cerdas dan terdidik. 
Anak-anak muda Papua seperti Velix Vernando Wanggai, Natalis Pigay, Ali Mucktar 
Ngabalin adalah sederet nama tokoh intelektual muda terdepan dan berpendidikan 
luar negeri yang siap di akomodasi guna membantu menyelesaikan persoalan Papua 
untuk menjawab persoalan Papua. Untuk itu lewat artikel ini kita berbaik sangka 
(hussu’udhon) pemrintah SBY mendatang selain kita menyadari bahwa persoalan 
pembantu Presiden adalah hak prerogatif presiden terpilih, namun yang menjadi 
catatan kita disini yang harus diperhatikan tanpa menafikan kenyataan 
sebagaimana disinggung diatas adalah bahwa dengan mengambil kiperson-kiperson 
baru dari kalangan generasi muda papua ada harapan. Kalau tujuan adalah 
akomodasi politik Papua sebagai bagian dari NKRI misalnya persoalan konflik 
disintegrasi yang berlarut-larut selama ini dengan aspek keunikannya dari 
berbagai segi misalnya ras, budaya, atau singkatnya antropologi, sosiologi dan 
geografis dapat segera dituntaskan kalau tidak minimal diminimalisir nantinya.



      Sejauh ini diketahui dan itu masih terus terjadi adalah bahwa untuk 
mewakili 2 juta jiwa penduduk Papua dengan aneka ragam suku dan budaya dan 
agama tidak boleh hanya dilakukan oleh beberapa orang saja melalui lobby-lobby 
secara individual segelintir orang dengan claim bahwa kehadirannya dihadapan 
penguasa, sebagai bagian dari lobby resmi dan wakil resmi rakyat Papua. 
Demikian itu sudah lama berlangsung selama puluhan tahun Papua berintegrasi 
kedalam NKRI. 



      Padahal seharusnya dalam segala hal persoalan Papua, apalagi menyangkut 
hajat hidup orang banyak dan terpenting aspek keterwakilan Papua ditingkat 
nasional tidak seharusnya hanya beberapa clan dengan mengatasnamakan Papua.. 
Mengingat bahwa masyarakat Papua benar-benar majemuk dengan 270 suku bahasa dan 
pola penyebaran penduduk terpencar luas didaratan dan pesisir, maka pola-pola 
lobby partial tradisional dan ekslusive sudah harus ditinggalkan demi perbaikan 
kedepan, apalagi untuk tujuan mengakomodasi semua aspek refresentasi cultural 
Papua sesuai stuktur antropologi masyarakat Papua. 



      Untuk itu dari sekarang dan kedepan lobby-lobby tradisional segelintir 
clan mengatasnamakan Papua sebagaimana sering dilakukan segelintir clan dari 
orang Papua sebelum ini sudah harus ditinggalkan, mengingat hal demikian 
sesungguhnya sejauh ini tidak membantu pemerintah pusat menyelesaikan persoalan 
Papua. Dan kegiatan demikian untuk dan atas anama Papua sudah harus 
ditinggalkan oleh kedua kelompok berkompromi dengan memperluas pelibatan semua 
keterwakilan sesuai structur antropologi kemajemukan budaya Papua. 



      Oleh sebab itu pemerintahan SBY-Budiono yang terpilih secara demokratis 
dan mutlak semua wilayah Indonesia dari Sabang-Merauke dan khusus di Papua 99% 
suara di menangkan pasangan ini. Berarti itu artinya kebijakan 5 tahun SBY 
dirasakan manfaatnya rakyat Indonesia dan Papua maka politk etis atau istilah 
SBY, New Deal For Papua, kedepan harus lebih rasional merekrut keterwakilan 
orang Papua dalam kabinetnya tanpa menafikan bahwa semuanya berpulang kepada 
Presiden RI terpilih mengingat pengangkatan pembantu presiden adalah hak 
prerogatifnya.





      *Penulis adalah Muslim Papua Putera Kelahiran Walesi, Wamena Papua.


     



Kirim email ke