http://oase.kompas.com/read/xml/2009/08/21/13493748/kearifan.lokal.di.aceh.dibutuhkan.untuk.cegah.kemiskinan


Kearifan Lokal di Aceh Dibutuhkan untuk Cegah Kemiskinan

Jumat, 21 Agustus 2009 | 13:49 WIB
BANDA ACEH, KOMPAS.com--Wakil Gubernur (Wagub) Provinsi Aceh Muhammad Nazar 
menyatakan, perlu kearifan lokal untuk mencegah agar masyarakat tidak malas 
bekerja dan menekan angka penduduk miskin di wilayah tersebut.

"Kami sudah mewacanakan adanya sebuah aturan agar masyarakat tidak malas 
bekerja, sehingga angka kemiskinan tidak bertambah yakni melalui kearifan 
lokal," katanya di Banda Aceh, Kamis.

Hal itu diungkapkan Wagub menanggapi kedatangan ribuan warga menjelang 
"meugang" (hari penyembelihan hewan ternak) menyambut puasa Ramadhan ke kantor 
Gubernur Aceh.

Kearifan lokal, katanya menambahkan, misalnya apa yang pernah dipraktekkan 
masa-masa kesultanan Aceh "tempoe doeloe".

"Masa kesultanan tempo dulu, pihak kerajaan menggelar 'swepping' untuk mencari 
setiap warga yang tidak mau bekerja. Dengan cara itu, maka seluruh penduduk 
memiliki aktivitasnya sehingga tidak ada rakyat yang miskin," kata Muhammad 
Nazar.

Kearifan lokal tersebut diharapkan dapat melahirkan aturan hukum misalnya 
dengan adanya sebuah Qanun (Perda) yang mengatur suatu "kewajiban" bekerja bagi 
setiap penduduk di provinsi ujung paling barat Indonesia itu.

Jumlah masyarakat miskin di Provinsi Aceh yang dilanda bencana alam gempa bumi 
dan tsunami 26 Desember 2004 menurut data mencapai 23 persen dari total 
penduduk sekitar 4,6 juta jiwa.

"Itu data Badan Pusat Statistik (BPS). Tapi, kami yakini angka kemiskinan di 
Aceh di bawah 20 persen, dengan indikator hampir seluruh penduduk di atas usia 
15 tahun memiliki perangkat komunikasi (HP) dan warga menunaikan ibadah haji 
meningkat setiap tahun," kata dia.

Di pihak lain, Wagub menjelaskan, kedatangan ratusan warga ke kantor gubernur 
maupun sejumlah kantor bupati/walikota di Aceh itu merupakan salah satu 
persoalan sosial di provinsi berpenduduk sekitar 4,6 juta jiwa tersebut.

"Kami prihatin dengan kondisi itu.Itu sudah terjadi setiap tahun menjelang 
puasa atau hari raya dan merupakan problem sosial," katanya.

Dia menambahkan bahwa yang datang untuk meminta bantuan atau hanya sekedar uang 
"daging meugang" itu bukan seluruhnya masyarakat miskin.

"Kami yakin bukan hanya masyarakat miskin, tapi ada juga di antaranya kami 
sinyalir diorganisir pihak-pihak tertentu yang menggerakkan mereka datang minta 
bantuan ke pemerintah," kata dia menyebutkan.

Wagub menjelaskan tidak hanya di kantor, tapi juga sampai ada yang menginap di 
rumah dinas dan pribadi gubernur maupun wakil gubernur mengharapkan bantuan 
menjelang "meugang".

"Tapi itu semua kami sikapi dengan baik. Saya tidak mengusir jika ada 
masyarakat yang datang meminta bantuan. Tapi, kita juga tidak boleh membiarkan 
masyarakat larut dengan seperti itu," kata Muhammad Nazar.

Oleh karena itu, katanya, sudah menjadi kewajiban Pemerintah Aceh untuk 
mengubah "kultur" masyarakat agar mereka tidak hidup dengan mengharapkan 
bantuan dari pemerintah

Kirim email ke