Natingat kheun dukon gampong, tgk Tarmizi?
"Kuradjah-kuradjen, djeh goh puleh, njoe kateuka laen"

Bahasa Meulajudjih: "Kurajah-kurajen". yang itu belum sembuh (baca penjajahan 
terselubung), ini sudah datang (penyakit lainnya). Itulah yang sepertinya orang 
banyak tidak "paying attention" bahwa itu Hindunesia memangnya Hindu. 
Sebagaimana trinitas Nasrani dalam ketuhananya, Hindunesia juga memiliki 
trinitas yang cukup ngeri dari trinitas apapun di dunia ini. Mereka membagikan 
masyarakat kepada kasta Ksatria, Wisnu dan Yudha. atau Yudho (maaf agak ragu 
nama-nama tersebut barangkali yang terakhir Syiwa). Kekuasaan Hindunesia tidak 
juga paying attention terhadap persoalan tersebut, mengapa?  Sebabnya mereka 
juga memiliki Trinitas dalam fungsi mereka masing-masing, nyakni entas "Fir'un" 
entas "Karun" dan entas "Bal'm"
Penguasa sejak dari presiden sampai kepala Desa adalah entas Fir'un. Mentri 
keuwangan, konglomerat, orang kaya yang mendapat legitimage dari "Fir'un" 
semacam Kuntoro di Acheh dan konco-konconya adalah entas "Karun". Terakhir 
adalah entas yang cukup ngeri yang disebut entas "Bal'm". Mereka itu adalah 
Menteri "Agama", MUI, Para Ilmuwan yang tundukpatuh kepada "Fir'un" dan seluruh 
alimpalsu yang berjingkrak-jingkrak dalam ketiak "Fir'un".  Mereka itu semuanya 
gak dapat dilihat dengan kacamata kebudayaan (kultur) tapi dengan kacamata 
Ideology. 

Semua orang yang tergolong dalam entas Bal'am secara kebudayaan tidak pernah 
mengaku dan merasakan kalau mereka menyembah (baca tundukpatuh kepada) penguasa 
dhalim (baca Fir'un) tapi mereka mengaku menyembah Tuhan. Kalau mereka ini 
mengaku beragama Islam, mereka barangkali mengucapkan kalimah Syahadah beribu 
kali dalam sehari semalam untuk mencari "pahala". Mereka sepertinya menipu kaum 
dhuafa bahwa mereka itu kaum ulama atau minimal orang alim. Akibat sepakterjang 
mereka yang pamungkas ditengah-tengah kaum dhuafa, kaum dhuafa berhasil 
digiring kedalam "Mesjid" setiap hari jum'at hingga sama-sama meratakan dahinya 
di tikar mushalla dengan para "Fir'un", "Karun" serta para "bal'am" tadi.  

Sekali lagi, andaikata anda pembaca termasuk ilmuwan atau budayawan, anda 
gakmampu memahami yang kukatakan ini, kecuali anda adalah ideolog.
Salam Ramadhan 
     (alasyatra)
Acheh - Sumatra





________________________________
From: Fadli Hasan <[email protected]>
To: Ahmad Sudirman <[email protected]>; Risyaf Ristiawan 
<[email protected]>
Cc: Sekretariat KPA <[email protected]>; 
[email protected]; [email protected]; Agoosh 
Yoosran <[email protected]>; Satria Pitpancal <[email protected]>; Ahmad 
Sudirman <[email protected]>; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; Muhammad al qubra <[email protected]>; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; Acheh Merdeka 
<[email protected]>; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected];
 [email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
Pos Bali <[email protected]>; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; Che Guevara <[email protected]>; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; arlan nur <[email protected]>; 
[email protected]; [email protected]
Sent: Tuesday, August 25, 2009 3:47:47 AM
Subject: KAFIR JAWA MEMAKSA SISTEM KASTA DALAM KEHIDUPAN BANGSA ACEH


Anjing-anjing jawa sudah kehilangan pikiran dan taktik untuk
memecahbelahkan dan memerintah serta menjajah Aceh. Dengan menggunakan
backing dari dari anjing-anjing TNI dan Polri sekarang ingin membawa
sistem kasta dalam kehidupan Bangsa Aceh, sehingga ada pihak-pihak yang
merasa dirinya tinggi derajat atau kedudukan untuk disembah oleh yang
lain.

Dalam tradisi dan agama Islam yang dianut oleh Bangsa Aceh
tidak ada perbedaan derajat manusia seperti yang berlaku dalam tradisi
sesat anjing-anjing jawa yang mempunyai raja, pangeran dan abdi dalem.
Berdasarkan kasta itu mereka mempunyai derajat hidup yang berbeda
dimana yang satu harus disembah dan yang lain wajib menyembah, sampai
wajib berlutut untuk menghadap sang raja monyet itu.

Bangsa Aceh wajib menghancurkan sifat laknat jawa yang cuba dihidupkan dalam 
kehidupan Bangsa Aceh. Jawa itu adalah keturunan anjing yang suka membedakan 
derajat manusia seperti layaknya kehidupan kraton anjing jawa itu.

Makanya
Bangsa Aceh wajib memerangi sifat menjadikan manusia berbeda taraf ini,
dimana satu pihak dianggap raja, yang lain pihak dianggap sebagai
rakyat yang hina.

Kalau ada dari mereka yang mengaku diri
keturunan raja dan mau mengikuti cara hidup anjing jawa, maka perangi
kelompok anjing itu sampai habis benihnya.

Sekian.


Keturunan Kerajaan Bentuk FSKN Provinsi Aceh
24 August 2009, 08:08 Nanggroe Administrator 
 
Berdialog dengan Kapolres Nagan Raya
Sekjen
Forum Silaturahmi Keraton Se-Indonesia, KPH Gunarso G Kusumodiningrat
(memakai Blankon) berdialog dengan Kapolres Nagan Raya, AKBP Ari
Subijanto (dua kiri), Dandim 0105 Aceh Barat, Letkol CZI Harfendi
(kiri) serta unsur muspida Nagan Raya di Pendapa setempat. SERAMBI/DEDI ISKANDAR
MEULABOH-Sejumlah keturunan kerajaan yang berada di Provinsi Aceh dalam
waktu dekat akan membentuk Forum Silaturahmi Keraton/Kerajaan
Se-Nusantara (FSKN) untuk wilayah Provinsi Aceh. Hal itu dimaksudkan
untuk melestarikan kebudayaan masa lampau termasuk, kesenian, serta
adat istiadat para leluhur guna mewarisi kebudayaan supaya tak hilang
ditelan zaman dan peradaban.

Sekretaris Jenderal Forum Silaturahmi Keraton Se-Nusantara (FSKN)
Republik Indonesia, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Gunarso G
Kusumodiningrat kepada Serambi,
Kamis (20/8) lalu seusai menggelar pertemuan dengan keturunan kerajaan
di Hotel Meuligoe Meulaboh, Aceh Barat mengatakan, untuk tahap pertama,
kepengurusan forum tersebut akan diberikan mandat kepada keturunan
kerajaan di wilayah pantai barat selatan Aceh yakni di wilayah Kerajaan
Kaway XVI Meulaboh (Teuku Raja Ronald Rousman), Seunagan (Teuku Raja
Firza Ansari), Teunom (Cut Nyak Nety), Seneuam (Teuku Raja Muhammad
Hatta) , serta Kerajaan Beutong (Teuku Raja Keumangan).

Menurutnya, forum silaturahmi yang akan dibentuk tersebut guna
mengumpulkan kembali para keturunan kerajaan yang berada di seluruh
Indonesia, supaya mengetahui seluk beluk kebudayaan yang selama ini
kurang tertata untuk menggali kembali, kebudayaan yang telah lama
luntur guna melestarikan kebudayaan para leluhur.

Dan dengan terbentuknya Forum Silaturahmi Keraton/Kerajaan Se-Nusantara
itu diharapkan akan mempersatukan para keturunan raja terdahulu untuk
dipersatukan kembali supaya tidak tercerai-berai. Dan inti dari
pembentukan kerajaan tersebut bukanlah untuk mengembalikan kembali
feodalisme atau monarki di kalangan masyarakat, melainkan untuk
melestarikan kebudayaan, katanya. (edi)

 
________________________________


Trænger du til at se det store billede? Kelkoo giver dig gode tilbud på LCD TV! 


      

Kirim email ke