PARA IMAM YANG DIUTUS, ULAMA DAN FUKAHA ISLAM TUGASNYA SAMA DENGAN TUGAS PARA
RASUL UNTUK MEMBEBASKAN KAUM DHUAFA DARI BELENGGU YANG MENIMPA KUDUK-KUDUK
MEREKA
(QS, al A’raf : 157)
KEHIDUPAN INI MENGHADAPKAN KAMU PADA DUA JALAN
JALAN YANG MENDAKILAGI SUKAR
DAN JALAN YANG MULUS
LAGI MENYENENGKAN
(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka
dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang
menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan
yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan
bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan
belenggu-belenggu yang ada pada mereka . Maka orang-orang yang beriman
kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang
diturunkan kepadanya (Al Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.
(QS, al A’raf : 157)
1. Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah), 2. dan kamu (Muhammad)
bertempat di kota Mekah ini, 3. dan demi bapak dan anaknya. 4. Sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. 5. Apakah manusia itu
menyangka bahwa sekali-kali tiada seorangpun yang berkuasa atasnya? 6. Dia
mengatakan: "Aku telah menghabiskan harta yang banyak". 7. Apakah dia
menyangka bahwa tiada seorangpun yang melihatnya? 8. Bukankah Kami telah
memberikan kepadanya dua buah mata, 9. lidah dan dua buah bibir. 10. Dan Kami
telah menunjukkan kepadanya dua jalan . 11. Maka tidakkah sebaiknya (dengan
hartanya itu) ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?. 12. Tahukah kamu
apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? 13. (yaitu) melepaskan budak dari
perbudakan, 14. atau memberi makan pada hari kelaparan, 15. (kepada) anak
yatim yang ada hubungan kerabat, 16. atau orang miskin yang sangat fakir. 17.
Dan dia termasuk orang-orang yang beriman
dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.
18. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan
kanan. 19. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah
golongan kiri. 20. Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat.(QS, Al Balad)
PETUNJUK UNTUK WUDHU’
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka
basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan
kakimu sampai dengan kedua mata kaki, . . .” (ayat 6 surat Al-Maidah) Disini
jelas sekali bahwa kepala dan kaki disuruh sapu, tapi orang-orang yang terikat
kepada kebiasaan nenekmoyangnya bersikap fanatik buta tidak mau memahami Al
Qur-an sesuai perintah Allah dan Rasulnya. . . . . . . . Allah tidak hendak
menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu. . . . . . .
(Maha benarlah Allah atas segla firmanNya)
Muhammad al Qubra, Acheh - Sumatra
Salam Ramadhan!!!
Betapa banyak orang yang berpuasa
tapi tidak mendapat apapun
kecuali lapar dan dahaga (Hadist)
http://achehkarbala.blogspot.com/
________________________________
From: Ali Al Asytar <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]; [email protected];
[email protected]; [email protected];
[email protected]; [email protected];
[email protected]; [email protected]; [email protected]
Sent: Sunday, September 13, 2009 1:41:01 AM
Subject: «PPDi» Re: PERBEDAAN ANTAR ULAMA DAN ILMUWAN [1 Attachment]
[Attachment(s) from Ali Al Asytar included below]
Bismillaahirrahmaan irrahiim
MENYOROTI HUBUNGAN ANTAR AGAMA DAN NEGARA SERTA SEPAKTERJANG PARA ILMUWAN DAN
ULAMA PALSU DI DALAM
SYSTEM TAGHUT INDONESIA
Muhammad al Qubra
Acheh - Sumatra
Hindunesia
adalah negara "Hindu" walaupun mayoritas penduduknya dipropokasikan ke
luar negeri adalah penganut Islam. Orang - orang "pintar" di Hindunesia
itu juga mempropokasikan diri sebagai penganut Demokrasi dimana
keputusan apapun didasari pada pendapat orang banyak. Tapi realitanya
terindikasi sebagai bohong besar. Kalau memang menganut paham
demokrasi, penguasa Hindunesia harus memberikan wewe nang untuk
menentukan bentuk negara pada rakyatnya melalui mekanisme pemilihan.
Dan ini lebih penting dibandingkan dengan pemilihan Umum yang hanya
diperuntukkan untuk jangka waktu 5 tahun sekali.
Hal
itu merupakan konsekwensinya dari Negara Demokrasi Rakyat. Kalau benar
rakyat Hindunesia mayoritas Islam penduduknya, pasti mayoritas pula
suara yang menghenda ki terlaksananya hukum yang diturunkan Allah bukan
hukum rekayasa manusia "pin tar" Hindunesia yang terlalu dhaif macam
Soekarno. Paska penjajahann Belanda dima na mayoritas penduduknya
beragama Islam yang cendrung kepada pemahaman Muham mad Nasir, dapat
diluluhlantakkan oleh Soekarno yang "pintar" tapi sekuler?. Mengapa M
Nasir dikalahkan Soekarno padahal mayoritas penduduknya kala itu
beragama Is lam? Disitulah diktatornya Soekarno yang sebetulnya lebih
ngeri daripada diktatornya Soeharto, mengapa?
Orang-orang
Islam dikala itu menginginkan bentuk negaranya adalah Islam. Hal ini
terbukti dengan Piagam Jakarta dimana point pertamanya adalah:
"Berketuhanan serta wajib menjalankan Syariat Islam". Soekarno
menggunakan kekuasaan diktatornya hingga menyulap Piagam Jakarta kepada
Pancasila alias Puncasilap. Artinya disitulah punca silapnya orang
Islam di Kepulauan Nusantara tersebut hingga siapapun yang berani
menyuarakan Negara Islam bukan saja dianggap Extrem tapi bahkan
dianggap sebagai "Suppersif", agar dapat "dihabiskan" .
Betapa
anehnya orang - orang "pintar" memproklamirkan kedunia bahwa mayoritas
penduduk Hindunesia itu adalah Islam, namun ketika kita berbicara
negara Islam dianggap kita musuh negara. Apa artinya mayoritas
penduduknya Islam kalau mereka tidak diperkenankan oleh orang-orang
"pintar" yang sekuler itu untuk menentukan bentuk negaranya? Islam
tampa system akan mandul dan bahkan akan mengalami dekaden sebagaimana
yang kita saksikan sekarang ini. Islam itu punya power untuk membungkam
kedhaliman yang diaplikasikan oleh manusia-manusia kutub Qabil atau
Basyar. istilah DR Ali Syariaty Iran.
Andaikata
di suatu negara yang mayoritas penduduknya muslim tapi hukum Allah
terabaikan, para ulama atau fukaha Islam harus mengambil alih kekuasaan
baik secara damai maupun secara paksa (Revolusi) Apabila para ulama dan
fukaha tidak mengam bil alih kepemimpinan di negara tersebut,
terindikasi bahwa di negara tersebut tidak ada ulama dan fukaha kecuali
lebih tepat disebut Ilmuan. Para Ulama dan Fukaha Islam tugasnya sama
dengan tugas Para Rasul untuk membebaskan kaum duafa dari belenggu yang
menimpa kuduk-kuduk mereka (QS,7:157&QS, 90:12-18)
Para
Rasul, Imam, Ulama dan Fukaha adalah ideolog, yaikni manusia-manusia
representant yang berwajah ”merah” sementara para propessor, doktor dan
semacamnya adalah ilmuwan, yaikni manusia-manusia yang berwajah ”pucat”
Para Rasul, Imam, Ulama dan Fukaha adalah wakil Tuhan untuk
merealisasikan hukumNya di muka Bumi agar manusia benar-benar
tunduk-patuh kepadanya. Hukum Allah mustahil exist dalam system Taghut.
Justru itu tugas para Rasul, Imam, Ulama dan Fukahalah yang bertindak
untuk mengambil alih kepemimpinan andaikata negara dikuasai para tiran
yang despotik. Untuk urusan tersebut mereka tidaklah melakukan Revolusi
secara semborono kecuali pengikutnya siap untuk hal tersebut. Siap
disini bukanlah dalam arti banyaknya pengikut tapi setelah berdaya
upaya terlibat dalam proses kaderisasi. Imam Hussein di Karbala hanya
memiliki 73 pengikutnya, namun siap melawan kedhaliman agar penduduk
Dunia memahami bahwa Yazid itu bukan pemimpin Islam tapi penguasa
Taghut Dhalim dan Hipokrit.
Pertanyaannya
apakah orang-orang yang tidak mengikuti Imam Hussein termasuk orang
Islam? Jawabannya secara syar’i adalah Islam tapi secara filosofis dan
Ideologis mereka bukan orang Islam. Andaikata mereka itu orang Islam
benaran, otomatis menjadi pengikut Imam dan Yazid yang dhalim dan
hipokrit pasti tumbang. Timbul pertanyaan lagi buat apa Imam melakukan
revolusi sementara pengikutnya seperti hanya untuk dikorbankan saja
didepan kekuasaan yang tirani dan despotik?
Sebelum
Imam Hussein pergi kekarbala bersama keluarga dan semua pengikut
setianya, Ibnu Abbas (Abdullah bin Abbas) membujuk Imam untuk tidak
pergi ke Karbala (Kofah). Dia mengatakan bahwa penduduk Kufah yang
telah memintanya datang adalah terkenal jahat dan tak dapat dipercaya.
Dia memintanya agar pergi saja ke Yaman. Disana Imam Hussein mempunyai
ramai pengikut sehingga dia boleh hidup dengan aman. Imam Hussein
mengatakan bahwa sahabat setianya, keluarga dan juga adiknya Muhammad
Hanafiah telah berkata yang benar. "Saya juga tahu bahwa saya tidak
akan mencapai apa-apa kuasa sebab saya pergi bukan untuk penaklukan
dunia. Saya pergi hanya untuk dibunuh. Saya berharap bahwa melalui
penderitaan yang saya tanggung dari penindasan ini, dapat mencabut
keluar asas bagi segala kekejaman dan kedhaliman. Saya berjumpa dengan
datuk, nabi Allah didalam mimpi memberi tahu saya agar membuat
perjalanan ke Irak. Allah mahu melihat saya dibunuh". Muhammad Hanafiah
dan Ibnu Abbas berkata: "Jika begitu kenapa membawa anak-anak dan
wanita bersama kamu?". Imam menjawab: "Datuk saya mengatakan bahwa
Allah mahu melihat mereka ditawan. Saya membawa mereka sesuai arahan
Nabi Allah"
Itu
semuanya merupakan sebagai proklamasi kepada manusa bahwa Negara
dibawah kekuasaan Yazid adalah Taghut yang dhalim. Imam Ali as
mengatakan bahwa negara dalam kekuasaan Muawiyah bagaikan perahu
terbalik, yang menumpahkan segala isinya. Secara Ideology kita pasti
mampu memahami fenomena Negara dibawah kekuasaan type Muawiyah (yang
meracuni Iman Hassan, cucu Rasulullah) dan Yazid bin Muawiyah
(pembantai keluarga Rasulullah di Karbala).
Disebabkan
penulis adalah orang Acheh - Sumatra pastinya sangat logis untuk
menyoroti Negara Indonesia, dimana bukan saja menjadi penindas terhadap
kaum dhuafa di Tanah Rencong tapi juga penindas terhadap kaum dhuafa di
pulau jawa itu sendiri. Siapapun yang berani berbicara Negara Islam
atau revolusi, pasti ditindak oleh penguasa Indonesia secara otoriter-
Kondisi semacam ini juga kita saksikan melalui lembaran sejarah di
dalam kekuasaan Muawiyah dan Yazid, anaknya. ”Ulama” dalam pemerintahan
despotik tersebut diam seribu satu bahasa ketika menyaksikan perlakuan
semena-mena terhadap rakyat jelata (baca kaum dhuafa), bahkan mereka
diperintahkan Muawiyah untuk berfungsi sebagai ”mesin” pemalsuan Hadist
Rasulullah dan inilah yang paling berbahaya hingga perpecahan Ummad
Muhammad, kita saksikan sekarang ini, mulai dengan pemalsuan Hadist
Shaqalain dan seterusnya.
”Ulama”
dalam system Hindunesia juga diam seribu satu bahasa ketika menyaksikan
perlakuan semena-mena terhadap Kaum dhuafa Acheh dan kaum dhuafa
Hindunesia itu sendiri. Para ”ulama” tersebut juga menggunankan Hadist
made in Abu Hurairah cs sebagai alasannya untuk tidak melawan penguasa
yang masih melakukan salat 5 waktu. Untuk hal ini mereka tegamak dengan
melakukan doa tolakbala hanya melalui peragaan tangannya terlungkup di
setiap Mesjid dan lembaga agama manapun dalam system Hindunesia.
Justru
itu saya haqqul yakin bahwa di Indonesia dan Acheh - Sumatra sekarang
ini tidak ada lagi ulama benaran kecuali bal-am alias ulama palsu.
Argument saya ini sangat kuat mengingat sepakterjang mereka tidak
berbeda dengan sepakterjang ulama palsu di jaman Muawiyah dan Yazid bin
Muawiyah, sementara penguasa Hindunesia sejak dari Soekarno, Suharto
sampai kini sama dengan sepakterjang Muawiyah dan Yazid, pembantai
keluarga Rasulullah.
Ulama
adalah panutan rakyat dan juga siapapun yang mengaku beragama Islam.
Dari itu kalau fungsi Ulama di tempati para ”Bal’am”, sirnalah Esensi
Islam dan sirna jugalah Aqidah Ummat. Mereka hanya mengetahui bahwa
Allah Tuhan yang haq disembah tapi mereka tundukpatuh kepada
”Yazid-yazid” modern. Bagaimana mungkin kita disatu sisi tunduk patuh
kepada penguasa dhalim sementara pengakuan lidah kita justru perintah
Tuhanlah yang harus diutamakan.
Allah
berfirman: ” . . . . . . .waman lam yahkum bima an zalallah, faulaika
humul kaafirun. . . . . . . .” (QS, al Maidah, 44) (. . . . . . .dan
barang siapa yang tidak menghukum dengan hukum yang diturunkan Allah,
mereka itulah yeng kafir. . . . . . .)
Anda
orang Indonesia atau Jawa tidak beralasan sakit hatinya kepada saya.
Yang perlu bagi anda menelusuri pengikut-pengikut ”Imam” Kanto Suwiryo
dan Muhammad Nasir serta ulama-ulama yang terikat dengan Piagam
Jakarta, dimana belakangan disulap oleh Soekarno menjadi Pancasila
alias Puncasilap. Jadi disini jelas kendatipun Soeharto terbaca lebih
dhalim dari Soekarno, namun secara ideologis justru Soekarnolah
puncanya silap orang-orang yang bersatupadu dalam system Hindunesia
alias System Pancasila atau Puncasilapnya made in Soekarno cs.
Anda
Ilmuwan Hindunesia dicetak dalam dapur taghut Hindunesia. Kendatipun
anda belajar agama di pesantren-pesantren dan lembaga agama manapun,
anda telah merusak esensi Agama Muhammad saww yang murni hingga
bercampur bawur dengan agama ”Ewuhpakewuh” atau Empu Tantular yang
berbau ketoprak itu. Jangan kan ilmuwan di pulau Jawa, ilmuwan di Tanah
Rencong saja, dimana Islam datang melaui Semenan jung Acheh, bisa
dekaden alias netral dan bahkan memihak penguasa yang notabenenya
adalah wakil majikan mereka dari Jakarta.
Padahal
ilmuwan itu adalah pribadi-pribadi yang berilmu, kenapa mereka tidak
mampu memahami untuk apa mereka mencari ilmu dari pesantren dan
perguruan tinggi? Untuk perutkah, untuk keluarga sajakah? Mereka punya
potensial untuk membela kaum dhuafa dengan pengetahuan yang mereka
miliki. Kenapa mereka tidak membentuk kelompok untuk melawan tirani dan
despotik di negaranya masing-masing? Bukankah itu perintah Allah yang
utama sebagai proses Esensi kemanusiaan?
Disinilah
terbukti kata DR Ali Syariati, ahli fikir yang belum ada duanya sampai
sekarang ini , bahwa Propessor, Doctor dan graduasi lainnya adalah
ilmuan yang berwajah ”pucat” Sementara para Rasul, para Imam dan para
Ulama warasatul Ambiya adalah Ideolog yang berwajah ”merah”. Mereka
yang terakhir inilah yang dapat diharapkan untuk membebaskan kaum
dhuafa dari belenggu yang menimpa kuduk-kuduk merka
(QS,7:157&QS,90:12-18) . Sementara para ilmuan asik mengharapkan
gaji yang tinggi dari majikannya (baca penguasa dhalim) Mereka tabu
untuk kita bicarakan bahwa sesungguhnya mereka sudah sirna Aqidahnya,
kendatipun di mulut mereka berkomat-kamit dengan kalimah Syahadah.
Sekali
lagi, di Indonesia tidak ada ulama kecuali sekelompok orang fanatikbuta
melaku kan teror dimana-mana. Kalau di Palestina adanya kelompok bunuh
diri, itu adalah dalam kontek perang melawan kedhaliman kaum Zionis
Israel. Mereka tidak mendapat bantuen sementara disekeliling mereka
adalah negara-negara jenis yang sama dengan Hindunesia, secara sembunyi
tapi nyata bagi kaum Ideolog, berpihak kepada Zionis itu sendiri.
Sementara kaum teroris di Hindunesia, dengan siapa mereka berperang?
Ironisnya mereka hanya berpenampilan pakaian Rasulullah tapi tidak
mengikuti jejak Rasulullah.
Tulisan
saya ini saya buat untuk mengundang pihak ilmuwan yang bersatupadu
dalam system Hindunesia agar berpikir bagaimana sebenarnya mereka harus
berkiprah untuk membebaskan kaum duafa di dalam system Taghut
Hindunesia itu. Dengan cara demikianlah mereka terbebas dari Api Neraka
bukan hanya asik beribadah ritual doang. Tauhid dan keadilan adalah dua
sisi dari mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu-sama lainnya.
Keadilan bersumber dari Tauhid dan Tauhid merupakan hubungan manusia
dengan Tuhannya (hablum minal Allah) diwujudkan dalam keadilan sosial
berhubungan antar sesama manusia (hablum minan naas).
Perlu
juga dipahami bahwa menurut Imam Khomeini, Ulama atau fuqaha bukan
hanya ahli di bidang hukum Islam saja atau hanya merupakan tokoh
spriritual. Fuqaha yang Paripurna harus juga ahli di bidang-bidang
lainnya, semisal filsafat, politik, sosial dan ekonomi. Apabila kita
menemukan fenomena yang demikian macam di RII sekarangt ini ,bermakna
kita telah menemukan realitanya: "Ulama yang intelektual dan
Intelektual yang Ulama." Itulah Fuqaha yang Paripurna menurut Imam
Khomaini, dimana kehadirannya bermanfaat buat pembebasan kaum dhuafa.
Billahi fi sabililhaq
Muhammad al Qubra
Acheh - Sumatra
http://achehkarbala .blogspot. com/