Bismillaahirrahmaan irrahiim
SUDAH JELAS BAGI KAUM DHUAFA BAHWA HINDUNESIA TIDAK DAPAT DIPERCAYA
TAPI KENAPA JUGA MEREKA SELALU JATUH PADA LOBANG YANG SAMA?
KAUM DHUAFA YANG BEKERJASAMA DALAM SYSTEM
YANG MENJEJASKAN KEHIDUPAN MEREKA
ADALAH DOMBA-DOMBA SESAT.
MEREKA MENGANIANYA DIRI SENDIRI
Muhammad al Qubra
Di
Ujung Dunia
Sekarang
mari kita lihat lagi dalam realitanya tuhan orang-orang Jahiliah
Moderen, yaitu entas Fir'aun, entas Karun dan entas Bal'am (tuhannya
orang orang yang bersekongkol dalam System Thaghut Hindunesia). Menurut
'Ali Syari'ati ada 4 tipe manusia yang berbahaya bagi kemanusian,
khususnya bagi kaum Dhu'afa, yaitu Fir'aun, Hamman, Karun dan Bal'am.
Fir'aun sosok pemimpin/Raja yang dhalim, dalam sepakterjangnya berlagak
Tuhan palsu. Hamman arsitek Fir'aun. Karun bendaharawan Fir'aun
(Konglomerat- konglomerat atau Kapitalis-kapitalis ) sedangkan Bal'am
Bloor berlagak sebagai 'Ulama Palsu, sepak terjangnya meninabobokkan
rakyat jelata untuk melanggengkan kekuasaan Fir'aun dan untuk itu dia
mendapatkan "sedekah". Entas tersebut dengan jelasnya diaplikasikan
oleh MUI dan segenap lembaga agama termasuk pesantren yang sama
sepakterjangnya dengan MUI.
Andaikata
kaum dhuafa atau rakyat yang menderita hidupnya dalam system yang
mendapat support MUI tersebut memahami ketiga entitas tersebut, pasti
mereka bersatupadu untuk menggulingkan system yang menipu kaum dhuafa.
Yang tidak kurang supportnya terhadap system Taghut Dhalim itu adalah
pendakwah sejuta ummah dan semacamnya. Mereka mengecam penguasa dhaalim
dengan mulutnya tapi sepakterjangnya memperkuat system Dhalim tersebut.
Pendakwah semacam itu sama dengan orang yang berkata "aku orang baik"
tapi mereka tetap dalam "ketiak" penguasa dhalim. Mereka berbicara
tentang kedhaliman namun mereka merupakan bahagian dari system dhalim.
Pada
kesempatan yang lain Arsitek Ideologi Islam yang mampu
meluluh-lantakkan asumsi Barat yang sempat mempesonakan orang-orang
Timur ini, juga mengatakan bahwa ada 4 golongan manusia yang rugi di
akhirat kelak yang beliau simbolisasikan sebagai; "Anjing, Serigala,
Tikus dan Domba". Anjing melambangkan pemimpin yang serakah dan tamak.
Serigala melambangkan kakitangan pemimpin yang dhalim, secara
bergerombolan menganianya dan membunuh orang-orang yang berani melawan
kebijakan pemerintah dhalim ( baca TNI/POLRI). Tikus melambangkan
koruptor-koruptor, pencuri berdasi dan berwibawa sekali ditengah-tengah
rakyat jelata dan yang terakhir yang membuat kita seperti tak percaya.
Domba, bagaimana dia bisa di salah kan? Domba melambangkan kaum Dhu'afa
yang bersedia bekerja sama dengan pemerintah dhalim.
Masih
menurut Ali Syari'ati, bahwa penindas adalah Palu Godam, sedangkan
orang-orang yang mau ditindas adalah Lempengan Besi. Pada saat palu
godam beraksi yang bersedia menahannya adalah lempengan besi. Andaikata
lempengan besi tak bersedia menahannya proses penindasan/penjajah an
takan ada existensinya, tak akan pernah terjadi. Makanya penindasan tak
pernah terjadi di udara, palu godam akan berputar terus menerus diudara
tanpa lempengan besi yang bersedia menahannya.
Andaikata
tak seorangpun dari bangsa Acheh - Sumatra yang memihak kepada
sontoloyo-sontoloyo Jawa, sudah dulu Acheh Merdeka. Disitulah di uji
mana yang Emas mana yang Tembaga, mana orang-orang yang benar Iman,
Ideologinya dan mana orang-orang yang disimbolisasikan dengan
domba-domba tadi.
Ketika
Indonesia berbicara mengenai hukum sama seperti orang mengaduk manisan
dalam wayan bolong. Lihatlah bagaimana mungkin mereka memahami esensi
hukum sementara orang sepert Kuntoro ditempatkan pada tempat yang akan
membuat hukum tersebut men jadi sandiwara yang tidak lucu. Padahal
hukum di indonesia itu memang sudah sejak Suharto menjadi lembaga yang
melindungi kedhaliman system. Lembagaa tersebut persis macam jaringan
labalaba dimana hanya partai belalang, rayab dan kupukupu saja yang
terjaring, sementara partai burung, binatang jinak, binatang liar dan
binatang buas macam anjing, serigala, harimau dan semacamnya, dengan
gampangnya mengoyak hukum tersebut.
Penyakit
tersebut otomatis menular ke Acheh - Sumatra dimana para pelanggar
hukum jinayah dari kelas teri terjaring mantap ditingkat kabupaten,
paling banter hanya mampu naik banding tingkat propinsi. Sementara
pelanggar dari kelas kakap dan monster dengan enaknya mempermainkan
sekaligus menghina kanun jinayah dengan naik banding ke jawakarta,
hingga terbebas dari jaringan labalabaa tadi, aman kecuali di mahkamah
Allah mereka pasti masuk neraka (nauzubillahi minzalik). Masih segar
dalam Ingatan kita kasus orang jawa di Sabang yang merupakan mavia
hukum. Masyarakat menunggu untuk dirajam tapi ketika surat naik banding
ditandatangaani, polisi segera mengamankan mavia tersebut. Inilah
jaringan labalaba di Acheh, bukan syariat Islam benaran. Inilah produk
alimpalsu yang bekerja sama dengan intelektual menara gading plus Dewan
Penipu Rakyat (baca DPR), dimana sebetulnya Jawakarta dibalik layar
macam pelaku ketoprak wayang golek.
Kuntoro
itu barusaaja melahap dana tsunaami di Acheh melalui legitimate tuan
Yudhoyono, bagaimana mungkin mendapat tempat yang penting itu?
Jawabannya adalah mustahil system pencuri berdasi itu menempatkan orang
yang baik dan jujur disisi Allah kecuali baik dan jujur disisi Taghut.
Hal itu disebabkan memang tidak ada manusia yang baik dalam system
taghut dhalim, hipokrit dan korrup (baca system pencuri berdasi).
Ironisnya
sebahagian orang yang menangis dalam acara peringatan Hari 'Asyura,
merasa aman hidup bersama pencuri berdasi dalam system yang menjejaskan
kaum dhuafa itu. Kita tidak mengatakan semuanya. Kita tau bahwa
sebahagian yang lainnya meyakini sebagaimana saya yakini bahwa benar
keluarnya airmata disebabkan renungan yang mendalam dari peristiwa hari
Asyura dapat menghapuskan dosa-dosa tapi kalau kita yang mengalir
airmata dan juga bersatupadu dalam system yang menjejaskan kehidupan
kaum dhuafa, airmata tersebut sama dengan airmata buaya, kecuali memang
mereka yang benar-benar tak berdaya (baca taqiyyah).
Kita
di Dunia memang terkadang hanya mampu mengingatkan kendatipun
pendengarnya kebanyakan orang-orang yang sudah terputus sarafnya, pakai
istilah tgk Hasan Muhammad Ditiro. Kepada saudara kita yang masih mampu
berpikir pasti memahami bahwa andaikata dakwah dari Nabi Nuh, tidak
seorangpun yang mau mendengarnya, Nabi Nuh tetap saja tergolong dalam
klasifikasi orang-orang yang saleh disisi Allah. Tugas Nabi Nuh hanya
menyampaikan seruannya sementara soal didengar, tidaknya adalah urusan
Allah.
Jelasnya
itu bukan kesalahan Nabi Nuh tapi ummahnya yang sudah tertutup matahati
disebabkan terlalu banyak sudah kedhaliman yang mereka kerjakan
terhadap kaum dhuafa. Demikian jugalah sepakterjang orang-orang yang
sudah terlanjur bersatupadu dalam system yang menjejaskan kaum dhuafa,
sudah putus saraf mereka. Kalau kita katakan mereka itu gila, secepat
itu pula menuduh kita yang gila. Mereka baru sadar ketika mendapat
tempelakan Allah sebagaimana tertera di surah Yasin:
"Bukankah
sudah kuperintahkan kepadamu hai Bani Adam supa ya kamu tidak tunduk
patuh kepada syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagi
kamu. Dan tunduk patuhlah kepada Ku. Inilah jalan yang
selurus-lurusnya. Sesungguhnya syaithan itu telah menyesatkan
sebahagian besar diantarakamu. Apakah kamu tidak berfikir? Inilah
Jahannam yang dulu kamu diancam (dengannya). Masuklah kamu kedalamnya
hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkari nya. Pada hari ini Kami
tutup mulut mereka, tangan dan kaki Kami minta kesaksian terhadap apa
yang telah mereka kerjakan dahulu" (QS,36: 60-65)
Betapa
jelasnya Ancaman Allah kepada orang orang yang membangkang perintahNya
saat di dunia, namun orang orang yang telah banyak melakukan kesalahan
sudah tertutup hatinya untuk taubat, betapapun jelasnya dakwah yang
dialamatkan kepada mereka, malah mereka menganggap pendakwah itu telah
menghinanya dan sebagainya.
Billahi fi sabililhaq.
Muhammad al Qubra
Di Ujung Dunia
--- On Tue, 1/5/10, GELORA45 <sa...@netvigator. com> wrote:
From: GELORA45 <sa...@netvigator. com>
Subject: [kota_jakarta] SBY: Jangan Permainkan Hukum - ICW Ragukan Satgas
Pemberantasan Mafia Hukum
To: "GELORA" <gelor...@yahoogroup s.com>
Date: Tuesday, January 5, 2010, 9:39 PM
SBY: Jangan Permainkan Hukum
Rabu, 6 Januari 2010 | 06:07 WIB
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Ketua Satgas Pemberantasan Mafia Hukum
Kuntoro Mangkusubroto, bersama anggota Satgas lainnya, meninggalkan
Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi seusai diterima Pelaksana Tugas
Ketua KPK Tumpak Hatorangan Panggabean, Selasa (5/1). Kedua lembaga itu
berkoordinasi dalam memberantas mafia hukum
TERKAIT:
* SBY: Para Pengguna Anggaran Agar Transparan
* Yahya: Tak Ada Pesan SBY untuk Pemeriksaan Aulia
* Presiden SBY Diusulkan Beri Keterangan di Pansus Century
Sumber : Kompas Cetak JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
menyerukan kepada penegak hukum dan
aparatur pengawasan di pusat dan daerah supaya meneguhkan komitmen
untuk menjaga penegakan hukum. Dengan begitu, praktik mafia hukum dapat
dihentikan. Presiden menegaskan hal itu, Selasa (5/1/2010), ketika
menyerahkan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran tahun 2010 di Istana
Negara, Jakarta. ”Saya ingin mengingatkan kepada penegak hukum dan
aparatur pengawasan di pusat dan daerah agar tak mempermainkan hukum
untuk tujuan selain menegakkan hukum,” ujarnya.
Ditekankan Presiden, di tangan penegak hukum yang bersifat korup,
kebenaran dan kesalahan bisa diputarbalikkan. . ”Apa yang bengkok bisa
menjadi lurus dan yang lurus dapat menjadi bengkok. Saya ingin agar
praktik mafia hukum dan sebangsanya bisa benar-benar dihentikan,”
ujarnya.Secara terpisah, Pelaksana Tugas Ketua Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK) Tumpak Hatorangan Panggabean berjanji membantu kerja
Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Mafia Hukum yang baru dibentuk
Presiden.
”Dengan adanya Satgas itu, separuh dari kerja kami terbantu.
Minimal dari sisi pencegahan dan perbaikan sistem,” paparnya dalam
konferensi pers bersama Ketua Satgas Pemberantasan Mafia Hukum Kuntoro
Mangkusubroto di Gedung KPK, Selasa.
Kuntoro datang bersama anggota Satgas untuk berkoordinasi dengan KPK dalam
melakukan tugas mereka.
Menurut Tumpak, tugas KPK adalah melakukan pemberantasan korupsi
yang pelakunya penyelenggara negara dan penegak hukum. Mafia hukum
berkecimpung pada kegiatan aparat penegak hukum.
Kuntoro mengatakan, walaupun dalam Satgas tidak ada anggotanya
yang berasal dari KPK, kerja sama dengan KPK mutlak sifatnya. Satgas
adalah lembaga di bawah Presiden yang bertugas selama dua tahun.
”Upaya memberantas mafia hukum akan berhasil kalau kita bekerja
sama dengan berbagai pihak, terutama masyarakat,” kata Kuntoro lagi.
Sebaliknya, Novel Ali, anggota Komisi Kepolisian Negara
(Kompolnas), Selasa, mengingatkan, Satgas Pemberantasan Mafia Hukum
harus dijalankan serius. Sebab, jika sampai gagal, dampaknya akan
kontraproduktif bagi Polri.. Kegagalan Satgas akan memperteguh
ketakpercayaan publik kepada Polri.
Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin juga menilai, Satgas
Pemberantasan Mafia Hukum hanya basa-basi politik. Seharusnya yang
dilakukan adalah peningkatan daya tahan penegak hukum. (SF/EDN/AIK/DAY)
ICW Ragukan Satgas Pemberantasan Mafia Hukum
Rabu, 06 Januari 2010 | 09:02 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta - Wakil Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW)
Emerson Yuntho
meragukan efektifitas pembentukan Satuan Tugas Pemberantasan Mafia
Hukum.
Semestinya, Satgas ini diberikan kewenangan lebih dalam
penindakan dalam proses pemberantasan mafia hukum. "Kita lihat, kalau
modelnya seperti ini tidak akan efektif, kita mendorong yang lebih
progessif," katanya saat dihubungi Tempo, Rabu(6/1).
Semestinya,
kata Emerson, pemerintah lebih bisa mengefektifkan lembaga hukum
lainnya terhadap Kepolisian dan Kejaksaan. "Lembaga yang ada tidak
efektif, ini yang harus di dorong pemerintah," katanya.
Bagi
Emerson, kunci masalah pemberantasan mafia hukum adalah di soal
kepemimpinan. Semestinya, lanjutnya, pemerintah harus melakukan
reposisi pimpinan di tubuh Kapolri dan Kejaksaan.
"Kita rekomendasi reposisi, karena Kepolisian dan Kejaksaan gagal dalam
pengawsan," terangnya. "masak Anggodo bisa masuk ke Kejaksaan Agung."
Satgas
Mafia Pembertantasan Mafia Hukum di bentuk berdasarkan Keputusan
Presiden 30 Desember 2009 yang di ketuai oleh Kuntoro Mangkusubroto.
Mekanisme kerja Satgas ini disebutkan hanya melakukan koordinasi,
evaluasi, pemantauan, pengawasan, dan koreksi.
SHOLLA TAUFIQ