12 Januari 2010, 11:52
Jerit Pilu Ibu Korban
Utama TANGIS pilu disertai jeritan “Saya tidak terima, saya tidak terima”
terdengar
lirih, Senin (11/1) kemarin, saat berlangsung prareka ulang
(prarekonstruksi) dugaan kasus pemerkosaan terhadap Dara (bukan nama
sebenarnya), mahasiswi berumur 20 tahun, di Kota Langsa. Yang menangis
tersedu sedan dan menyatakan tak bisa terima nasib buruk yang menimpa
anaknya itu adalah ibu kandung Dara. Ia bersama suaminya dihadirkan
polisi untuk menyaksikan prareka ulang dugaan kasus pemerkosaan yang
menimpa anak kandungnya pada Jumat (8/1) dini hari di ruang tahanan
Kantor Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP dan
WH) Kota Langsa.
Sebagaimana diberitakan Serambi sejak dua hari
lalu, perbuatan terkutuk itu terjadi setelah korban bersama teman
prianya ditangkap WH sedang berduaan (berkhalwat) di jalan lingkar
PTPN-I Langsa, Kamis (7/1) siang. Saat prareka ulang perkara kemarin,
baik Dara maupun teman prianya itu dihadirkan ke tempat pemerkosaan
terjadi. Di tempat jahanam itulah ibu korban menangis pilu dan
berkali-kali berucap, “Saya tidak terima.”
Ia menyatakan tidak
bisa menerima jika anaknya disekap lalu diperkosa. “Coba kalau hal ini
menimpa Anda atau anak Anda, cukup sakit bukan?” katanya berlinang air
mata, ditemani sejumlah polisi wanita (Polwan) dari Polres Kota Langsa.
Meminta agar semua pelaku diganjar dengan hukuman seberat-beratnya
sesuai perundang-undangan yang berlaku, ayah korban kepada Serambi
mengatakan, pihaknya tetap tidak mau kompromi atau berdamai atas kasus
yang telah menimpa anak gadisnya yang masih kuliah itu.
Ayah
korban juga menyesalkan penangkapan anaknya yang tidak disertai dengan
pemberitahuan kepada pihak keluarga. “Yang kami sesalkan, mengapa saat
anak saya ditangkap tidak segera diberitahukan kepada kami? Kami baru
tahu justru pada Jumat (7/1) pagi. Setelah itu saya langsung
menjemputnya dan tidak lama kemudian baru ketahuan bahwa anak saya
telah diperkosa. Hari itu juga langsung saya laporkan kepada polisi,”
ujarnya.
Dipisahkan
Dalam prarekonstruksi itu tergambar
bahwa korban ditempatkan di ruangan terpisah dengan teman lelakinya.
Kemudian, ketiga oknum WH yang berada di ruangan tempat korban
melakukan serangkaian interogasi secara bergantian. Saat Jumat memasuki
dini hari dan suasana sunyi senyap, pemerkosaan itu pun terjadi. Tiga
anggota WH ambil bagian.
Prarekonstruksi itu ikut disaksikan
puluhan anggota Satpol PP/WH Kota Langsa. Raut kecewa dan geram tampak
terlihat jelas di wajah mereka. Prosesi yang berlangsung sekitar satu
jam itu banyak diwarnai jerit tangis ibu korban. Tangis yang
melambangkan duka nestapa atas perundungan seksual yang dilakukan tiga
pria yang sudah beristri terhadap anak gadisnya. (zubir)