DAN DIANTARA MANUSIA ADA YANG MENGATAKAN: 'KAMI BERIMAN KEPADA ALLAH DAN  
HARI KEMUDIAN", PADAHAL MAREKA ITU SESUNGGUHNYA  BUKANLAH ORANG-ORANG YANG 
BERIMAN (QS, 2 : 8)
 
Di  zaman 
Rasulullah orang-orang hipokrit berbaur dalam system. Suatu hari Rasulullah 
pergi ke fron pertempuran dan meninggalkan Imam Ali sebagai gantinya di Madinah 
sebagaimana Nabi Musa dulu pergi, meninggalkan harun sebagai gantinya. 
Dimadinah 
ketika itu banyak orang mengganggu Imam Ali dengan perkataannya. Diantaranya 
mereka mengatakan bahwa Rasulullah tidak senang kepada Imam, makanya dia tidak 
dibawa bersama Rasulullah. Imam menyusul Nabi dan menyampaikan apa yang terjadi 
di Madinah. Nabi berkata:" Hai Ali! Tidak ada orang yang benci kepadamu kecuali 
orang munafik. Tidak senangkah hubungan kita seperti hubungan Musa dan Harun?" 
Penjelasan Rasulullah yang singkat itu menunjukkah bahwa yang pertama Imam Ali 
difungsikan sebagai pengganti Rasulullah. Kedua banyak sekali orang munafik 
yang 
hidup dimadinah. Mereka membenci Imam Ali sejak awal perjuangan Rasul sampai 
beliau syahid di mesjid Kufah dan bahkan dibenci sampai keanak-anaknya (cucu 
Rasulullah)  Banyak situasi yang menunjukkan Imam Ali sebagai pengganti 
Rasulullah. Diantaranya pertama sekali ketika turunya surat perintah dari Allah 
agar Nabi menyampaikan seruannya secara terbuka: 
   
"Hai orang yang berkemul 
(berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! (QS, 74 : 1, 2). Ketika itu 
Nabi membuat kenduri sebagai sarana dakwah. Setelah mereka yang kebanyakan 
terdiri dari kaum kerabat Nabi sendiri, habis menyantap daging kambing, Rasul 
menyampaikan pada mereka dimana Allah telah mengangkatnya sebagai utusanNya. 
Ketika Nabi menanyakan siapa diantara mereka yang bersedia membantunya dalam 
penyampaian risalahnya tidak seorangpun yang menjawab kecuali Imam Ali yang 
masih anak-anak. Rasulullah mengulangi permintaannya sampai tiga kali tapi 
tetap 
saja tidak ada yang bersedia kecuali Imam Ali yang tidak membenarkan suara 
Rasulullah jatuh tampa ada yang menapungnya. Nabi langsung memeluk Imam Ali dan 
mengatakan kepada Orang ramai: "Inilah Ali yang akan menjadi sebagai 
penggantiku, kelak". Mereka 
yang hidup di zaman kita mengira bahwa orang yang paling baik setelah 
Rasulullah, orang yang dibawa bersama ketika beliau hijrah. Mereka tidak mampu 
menganalisa bagaimana kedudukan Imam Ali yang sanggup menempatkan diri sebagai 
pengganti Nabi di katilnya.
Dalam hal ini Imam 
pernah berkata bahwa Nabi Musa berada dalam ketakutan berhadapan dengan Fir'un 
setelah membunuh orang Kubti tapi saya tidak takut ketika pengikut "Fir'un" 
menggertaknya untuk dibunuh setelah mereka merasa tertipu oleh Imam yang tidur 
di katil Nabi.
 
Terakhir sekali Nabi mengangkat Imam Ali di Ghadirkhum yang disaksikan 
ratusan ribu orang tapi kebanyakan mereka berpatahbalik. Ini terbukti apa yang 
dikatakan Rasulullah bahwa Musa dan Harun adalah pelajaran yang paling tepat 
untuk anda hai Ali. Kalau Imam Ali dibelakangi Ummah Muhammad ketika beliau 
wafat, Harun ditinggalkan Ummah Nabi Musa selagi beliau masih hidup. Ini adalah 
pelajaran yang paling penting juga buat kita yang hidup di zaman ini.
 
Ketika Abubakar dimarahi Fatimah az Zahara, beliau menangis dan mengatakan 
kepada pengikutnya agar tidak memaksakan dia untuk jabatan khalifah, disebabkan 
Fatimah tidak redha. bagi Abubakar masih ingat ketika Rasulullah 
berkata:"Barang 
siapa menyayangi fatimah samadengan telah menyayangi diriku, barang siapa 
menyakiti hati fatimah samadengan sudah menyakiti hatiku dan baranng siapa yang 
membuat Fatimah tidak redha samadengan telah membuat tidak redha kepadaku". 
Ironisnya Umar mendesak Abubakar dengan alasan negara akan kacau0balau kalau 
Abubakar meletakkan jabatan. Ketika Abubakar sakratul maut yang cukup 
mengerikan, beliau menyesali gara-gara Umar yang mendesak dia agar menjauhkan 
Imam Ali dari kedudukannya yang sah.
 
Sebelum Abubakar meninggalkan Dunia yang fana, menunjuk Umar sebagai 
penggantinya. Aneh memang, Rasulullah tidak punya haq mengangkat penggantinya, 
betapa lugunya cara orang berpikir seperti itu. Ketika Umar ditikam Abu 
Luk-lu-ah, Umar secara politis memberikan kepoada Usman bukan kepada Imam Ali, 
melalui keluguan Abdur Rahman bin Auf. Ketika Umar berkuasa, memberikan gaji 
yang tinggi kepada orang-orang yang dikiranya senior dalam Islam. Kebiasaan 
dimasa Umar itu diteruskan oleh Usman bin Affan. Malah Usman lebih parah lagi 
pengunaan uang negara bagaikan penggunaan milik pribadinya sendiri. Ketimpangan 
di masa Usman juga merembes kepada korupsi yang membuat yang kaya makin kaya 
dan 
yang miskin makin miskin sebagaimana kita saksikan dalam system taghut 
Indonesia, Irak Saddam, Iran Syah Palevi dan lain sebagainya di zaman kita ini, 
adalah duplikat Umar bin affan.
 
Yang sangat proaktif kepada kaum dhuafa kala itu adalah Abu Dzar Ghifari. 
Beliau berani menentang penguasa Zalim ketika itu. Muawiyah bin Abi Sofyan 
adalah sepupu Usman. Diantara para koruptor kala itu Muawiyah adalah nomor 
wahid. Abu Dzar al Ghifari sedikitpun tidak takut kepada Muawiyah, bukan saja 
dalam dakwahnya di kampung-kampung dan Kota tapi juga berani menunjuk kemata 
Muawiyah sendiri. Muawiyah, gubenurSyam kala itu mengirim Surat kepada Usman 
dan 
mengatakan bahwa apabila beliau tidak ingin kehilangan kekuasaan, itu Abu Dzar 
Ghifari perlu diingatkan agar tidak menyebar "fitnah" keseluruh negara. Usman 
memanggil Abu Dzar dan memintanya agar tinggal saja bersamanya di Istana. Abu 
Dzar lah namanya yang tidak dapat disogok dengan cara bagaimanapun. Akhirnya 
Abu 
Dzar dibuang Usman ke Rawadhah yang tidak berpenghuni seorangpun kala itu, 
hingga Abu Dzar mati kelaparan.
 
Ketika Abu Dzar Ghifari mau diberangkatkan, seorangpun tidak dibenarkan 
Usman untuk menjumpainya. Yang pantang mematuhi amaran yang bathil itu tidak 
ada 
lain kala itu kecuali Imam Ali, Hasan dan Hussein,  Salman Al Farisi dan Al 
Miqdad. Ketika Ahlulbayt Rasulullah dan sahabat setianya  berbicara dengan Abu 
Dzar, Marwan bin Hakam, menantu Usman datang dengan untanya sambil mengatakan:" 
Tidakkah kalian dengar bahwa khalifah melarang berbicara dengan orang itu?" 
Seketika itu juga Imam Ali menampar unta tunggangan Marwan, "gedegap". Marwan 
jatuh bersama Untanya. Dia bangkit dan mengadu kepada Usman apa yang terjadi.  
Usman memanggil Imam dan memintakan agar Imam mendengar apa yang dikatakan 
Marwan. . Imam bertanya apakah harus didengar juga walau tidak benar? Usman 
mengatakan apakah Imam Ali lebih baik daripada Marwan.  Imam menjawab, bahkan 
saya lebih baik daripada kamu.
 
Di zaman kita sekarang masih banyak orang yang mengetahuinya kenapa Abu 
Dzar al Ghifari mati kelaparan dan siapa yang membuatnya demikian menderita. 
Mereka itu seperti orang yang hanya mengetahui rimbunnya Rimba di lereng0lereng 
gunung tapi tidak tidak tau kenapa bisa demikian dan kenapa Allah menjadikan 
rimba demikian rimbunnya. Sebahagian orang mengatakan pada saya agar tidak 
mengungkap peristiwa sepewrti itu, dikhawatirkan terjadi permusuhan. Saya 
katakan hal itu sama juga seperti pendakwah berislah, membongkar kedhaliman 
penguasa. Kalau tidak kita bongkar samadengan kita telah membiarkan kaum dhuafa 
tertindas dengan sepakterjang penguasa secara aman. Justru ketimpanghan dimasa 
lampau terulang lagi sepanjang sejarah sebagaimana kita saksikan sekarang ini 
di 
Asia dan Afrika. Orang alimpalsu dizaman sekarang sangat tidak setuju kita 
ungkap kedhaliman Usman dengan alasan itu sahabat Nabi. Mereka tidak sanggup 
berpikir bahwa ketika kita menutup kezaliman Usman, disaat yang sama kita telah 
menzalimi Abu Dzar Ghifari. Ironisnya alimpalsu seperti itu bersatupadu dalam 
system yang sama dhalimnya dengan Usman bin Affan, Muawiyah bin Abi Sofyan dan 
Yazid bin Muawiyah, kenapa?
 
Jadi ketika alimpalsu membela Usman, Muawiyah dan Yazid, secara tidak 
langsung mereka telah membela diri mereka. Mereka bertanya kenapa Hanya Abu 
Dzar 
Ghifari saja yang menentang khalifah Usman? Pertanyaan ini sama juga dengan 
pertanyaan, kenapa hanya sedikit saja orang Acheh yang memusuhi Indonesia?  
Kenapa banyak darimereka hanya berdiam diri saja menyaksikan kemungkaran dan 
kezaliman? Lupakah kita kata Allah dalam Qur-an bahwa kebanyakan manusia tidak 
beriman illa kalil, kecuali sedikit saja yang beriman. Perlu kita jelaskan 
bahwa 
semua orang yang bersatupadu ketika Usman, Muawiyah dan Yazid berkuasa, mereka 
akan ditempatkan Allah bersama Usman, Muawiyah dan Yazid kelak. 
 
Ketika Usman mengawinkan anaknya dengan Marwan bin Hakam banyak 
mengambilkan uang negara. Abu Ayyub pemegang kas negara memprotes. Usman 
bertanya apakah anda cemburu disebabkan aku mengambil Marwan sebagai menantuku? 
Abu Ayyub menjawab bukan tapi terlalu banyak anda menghabiskan uang negara 
hingga aku mengira anda mengambil kembali apa yang telah anda infakkan kepada 
Rasulullah dulu. Usman sambil menghardik, menendang Abu Ayyub hingga lama 
tinggal dikatil sampai meninggal dunia.Lalu bandingkan dengan Saddam yang juga 
menembak sendiri dengan senjata setiap orang yang berbeda pendapat dengannya, 
mengapa? Saddam meniru Usman sebagai teladannya. Suharto tidak menembak sendiri 
oposisinya tapi diperintahkan kepada tentara dan polisi plus Golkar tunggangan 
politiknya untuk menghabisi oposisi. Alimpalsu yang dipanggil ulama oleh orang 
awwam demikian antusias b ergandingan dengan tentara, polisi dan Golkar untuk 
menghabisi PKI, tanpa periksa secara seksama, kenapa? Mereka mengira PKI itu 
tidak punya Tuhan lalu bisa dibunuh. Lalu kita bertanya andaikata dengan alasan 
seperti itu bisa dibunuh, apa bedanya tuhan Atheis dengan tuhan trinitas Hindu 
Brahmana, Wisynu dan Syiwa? Lalu kita tanya lagi apakah alimpalsu tersebut 
menuhankan Allah atau Penguasa Dhalim. Benar dimulut mereka berkomatkamit 
dengan 
ucapan lailaha illa Allah (tidak ada tuhan kecuali Allah), tapi sepakterjang 
mereka tidak tundukpatuh kepada Allah. Mereka tundukpatuh kepada penguasa 
dhalim.
Allah berfirman: ". . . . . . . waman lam yahkum buma anzalallah, faulaika 
humul kafirun" (QS, al Maidah 44)  Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab 
Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan 
Kitab 
itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri 
kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, 
disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi 
saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) 
takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang 
sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, 
maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. 
 
Ayat tersebut sangat dilarang oleh penguasa Taghut Dhalim, hipokrit dan 
korrup, kenapa? Sebab akan menjejaskan kekuasaan mereka. Semua alimpalsu 
tundukpatuh kepada larangan penguasa. Adakah alimpalsu itu tundukpatuh kepada 
Allah? Masihkan aqidah mereka terpelihara secara utuh atau sudah sirna, kecuali 
tinggal dimulutnya saja. Apabila kita telah menjelaskan seperti ini mereka coba 
membela diri dengan hadist hikayat Musang:" . . . .tidak boleh memerangi 
penguasa yang masih shalat"  Andaikata itu hadist benaran bagaimana mungkin 
bertolak belakang dengan ayat Allah: " Fawailul lil mushallin"(QS, al Maun 4), 
Celakalah orang shalat. Kenapa Allah mengatakan bahwa orang yang shalat seperti 
itu celaka? Lengkapnya seperti ini: 
1.  Tahukah kamu (orang) yang 
mendustakan agama?  
2.  Itulah orang yang menghardik 
anak yatim,  
3.  dan tidak menganjurkan memberi 
makan orang miskin.  
4.  Maka kecelakaanlah bagi 
orang-orang yang shalat,  
5.  (yaitu) orang-orang yang lalai 
dari shalatnya,  
6.  orang-orang yang berbuat riya' 
,  
7.  dan enggan 
(menolong dengan) barang berguna 
.  
Jadi kesimpulannya bahwa fenomena yang terjadi dimasa Rasulullah terulang 
lagi di di masa kita sekarang. Bagaimana sebagian besar orang dulu membela 
penguasa dhalim, terulang juga di masa kita sekarang walaupun sudah kita 
jelaskan, mereka tetap bersatupadu dengan penguasa dhalim.
Kalau dulu penguasa menzalimi orang-orang seperti Abu Dzar Ghifari, di zaman 
kita juga banyak kaum dhuafa yang terzalimki dan orang-orang yang tidak punya 
pikiran menganggap enteng saja ketika menyaksikan kaum dhuafa sekarang. Mereka 
tidak sadar kalau mereka secara tidak langsung telah membela penguasa dhalim. 
Mereka tidak mengenal Imam yang diutus Allah sebagai penerus kepemimpinan 
Rasulullah. Mereka tidak berbeda dengan ummah nabi Musa yang tidak mengenal 
pemimpin yang haq diikuti, kecuali "Samiri-samiri" di zaman kita sekarang. 
 
Billahi fi sabililhaq
Muhammad al Qubra
Acheh - Sumatra



________________________________
From: Ali Al Asytar <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]
Sent: Thu, January 21, 2010 10:33:08 AM
Subject: KOMUNITAS  PAPUA NJOE SAMPEL MANTENG, MEUREUTOH RIBEE DI ACHEH MANTENG 
LAGEENJOE RUMOH KAWOM DHUAFA, KIBAN TAPEUGAH DROETEUH UREUENG MEUIMAN. MAKADJIH 
PEUBIBEUEH ACHEH MANJAK AMPON DESJA.

  
Photo
rumoh kawom dhuafa di Achehnjoe peureulee tatampilkan supaja tingatteuh
pakiban hudep menderita bansateuh tapi peunguasa hudep mewah ateueh
derita kawom dhuafa. Ladom nalom njeng djak ek Haji padahai hajinjan
hana Neukira le Allah meunje lingka geutanjoe manteng na ureueng udep
sosah atawa sosah udep. Apabila lingka geutanjoe hanale ureueng gasien
njeng lageenjan tingkat rumohgeuh, baro Allah Neuridha geutanjoe taek
Hadji. Laenhai watee djameun Rasulullah geu ek Hadji bahpih mantengle
ureueng gasien, meuseubab Rasulullah dan sahabatneuh ek u Hadji hana
pajah biaja sabantjit lagee tanjoe djak u meuseudjid uroe Djeumeuah.
Djadi meunje napeng untok djak u Hadji bagi bansa Acheh uroenjoe, haq
geudjok pengnjan bandum keu kawom dhuafa njan sabantjit ka lheueh geu
ek u Hadji. Lagee geupeugah le tgk Darwis Djiniep uroenjan, meunan
ureueng Acheh njeng meuideology Islam geupahami sueue Hadji. Hainjoe
memang handjideunge le ureueng njeng hana meuideology Islam, meusabab
di ureuengnjan hanja tjit titel H teubajang-bajang lam uleegeuh dan
geukira ek ampon bandum desja. Padahai Hadjinjan pajah tameureunoe
ideologydjih pakriban hakikatdjih, ken hanja manasiek manteng. Njan
sabantjit lagee ureueng shalat, pulapingkui manteng hana geuteupeue
makna njeng geumarit ngen lidahgeuh. Neupeugah le Rasulullah bahwa hana
meuiman sibarangkasoe njeng eh lamkeuadaan pruet troe seumentara na
sidroe manteng ureueng njeng eh lam keuadaan pruet deuek. Djadiu ngen
idiologikeuh ek tapeuphom bahwa meusidroe ureung Acheh hana
Neuteurimeng Hadji gobnjan, paken. Seubabdjih ken sidroe manteng
teutangga gasien mukuwien tapi meuleupahthatdjai. Njankeuh seubab bansa
Acheh musti peubibeueh kawom dhuafa dilee dari beuleunggu njeng
meunimpa kudok/kudok ureuengnjan. Andai Acheh - Sumatra ek tapeumaedeka
hana meusidroepih bansa Acheh njeng gasien meuseubab lethat hareuta
Neukeubah le Allah lampruet bumoe Acheh. Djadi keusimpulandjih agama
geutanjoe gohlom beutei hingga teukeusan get awak non Isklam ngen
geutanjoe. Padahai njan bandum ken ureueng Islam tapi munafek.
keutjuali ditthat njeng ken munafek. Njankeuh seubab Acheh pajahthat
mardeka. Ureueng Islam njeng beutei agamageuh, han idjo aneuk mata
watee geukalen hareuta donja. Beuneuingat bahwa puntja karu nakeuh
ambisius peumimpin, materialis dan han ek theun rajuan wanita, hingga
geuteumpoh djalan njeng hana ridha Allah.


 


      

Kirim email ke