INI VERSI GEUNTET LAIN LAGI, HE HE HE

Di masa Muawiyah berkuasa dulu banyak orang alimpalsu yang bersatupadu dalam 
kekuasaannya untuk menimba fulus. Diantaranya termasuk Abu Aswad. Suatu hari 
keluarlah angin dari body Abu Aswad di sebuah majlis Muawiyah tanpa sengaja. 
Abu Aswad berbisik kepada Muawiyah agar merahasiakan angin yang keluar darinya. 
Muawiyah berjanji untuk tidak memberitahukan kepada siapapun. Tapi suatu hari 
Muawiyah menanykan kepada Abu Aswad dalam pertemuannya didalam khalayak ramai 
pula: "Kemana larinya angin hari itu Abu Aswad?" Abu Aswad tidak pikir panjang 
termasuk fulusnya dari Muawiyah lagi: "Hai Muawiyah! Jangnkan perkara manusia, 
perkara anginpun tidak bisa dipercayakan kepada kamu". Hari itu juga Abu Aswad 
meninggalkan komunitas Muawiyah, semoga Allah menerima taubatnya.



----- Original Message ----
From: Gulam Pawoun <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sat, February 13, 2010 5:44:32 AM
Subject: Re: |IACSF| Demo dan Kisah Umong Geuntot

Beberapa pertanyaan untuk Murthalamuddin ...
1. Apakah sebuah unjuk rasa yang berkualitas harus selalu mengusung
tuntutan yang bernada "menolak"?
2. Jika tidak, apa-apa saja syarat ataw kriteria sebuah unjuk rasa berkwalitas?
Sila jawaban dari anda!

On 2/13/10, Haji Umar <[email protected]> wrote:
> nyan menyena mantong model Raja lawet nyou yang toh geuntot lam kawan ramee
> lageenyan..payah tatanyoung langsong..na neutupat lueng??? nak kujak huw
> neuh...
>
> --- On Fri, 2/12/10, irmansyah ibrahim irman <[email protected]> wrote:
>
>
> From: irmansyah ibrahim irman <[email protected]>
> Subject: |IACSF| Demo dan Kisah Umong Geuntot
> To: [email protected]
> Date: Friday, February 12, 2010, 10:07 AM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Kolom Analisis Harian Aceh edisi Jumat, 12 Februari 2010
>
> Demo dan Kisah Umong Geuntot
>
> Oleh Murthalamuddin
>
>         ALKISAH, dalam sebuah perjamuan makan, tanpa sadar sang Ulee Balang
> buang angin (geuntot) di tengah hiruk pikuk orang-orang yang sedang
> menikmati hidangan makanan yang disajikan. Tak ayal, bau menyengat pun
> menyapu seluruh ruangan. Bau tak sedap itu mengganggu sebagian para
> undangan. Membuat para tamu kehilangan nafsu makan.
>
> Namun, tiba tiba salah seorang hadirin di perjamuan yang ramai itu yang tahu
> kejadian yang dialami sang Ulee Balang, langsung memukul mukul perutnya
> dengan wajah meringis. Pria dari kaum kebanyakan inipun menyembah nyembah
> kehadapan Ulee Balang memohon maaf karena telah buang angin dalam perjamuan
> yang ramai itu. Sang Ulee Balang pun tersenyum sambil mengangguk-angguk
> kepalanya.
>
> Sepulang dari perjamuan itu, Ulee Balang menyuruh pembantunya mencari pria
> itu dan diminta segera menghadapnya. Sang pria paruh baya itu pun datang.
> Hatinya galau. Ia tidak tahu apa gerangan sang Ulee Balang memanggilnya.
> Sesampainya di meuligoe, Ulee Balang sudah menunggu di beranda. Pria ini
> langsung merangkak dan mencium lutut Ulee Balang. Setelah berbasa basi
> sekejap, Ulee Balang mengucapkan terima kasih kepada pria itu.
>
> Sang bangsawan itu pun kemudian menghadiahkan sepetak sawah (umong) kepada
> pria tadi karena telah menyelamatkan dirinya dari rasa malu. Sebuah
> penghargaan sebagai bentuk balas budi atas sikap pasang badan terhadap
> kesalahan yang dilakukan Ulee Balang. Sawah hadiah Ulee Balang itu kemudian
> dikenal oleh penduduk setempat dengan sebutan “Umong Geuntot”.
>
> Sekelumit kisah di atas mungkin bisa menggambarkan apa yang dilakukan aktor
> intelektual demo mendukung Pemerintahan Irwandi beberapa hari lalu. Mereka
> mengarahkan massa dan mengeluarkan biaya hanya untuk tujuan yang absurd.
> Alasan pengerahan massa itupun menjadi sangat lemah bila hanya untuk
> mencounter aksi sejumlah pihak tentang kinerja Pemerintah Aceh.
>
> Aksi ini memiliki tolak ukur yang jauh dengan demonstrasi yang pernah
> digelar sebelumnya oleh berbagai pihak dari kalangan Civil Society lainnya.
> Unjuk rasa sebelumnya merupakan demo kualitatif. Artinya, apa yang mereka
> kritik adalah sebuah kenyataan dan argumentasi yang dapat
> dipertanggungjawabk an. Maka aksi kemarin yang mendukung Irwandi jelas
> sekali demo kuantitatif. Di mana unjuk rasa itu diukur dari banyaknya jumlah
> para demonstran bukan substansi.
>
> Ironisnya lagi, dalam aksi kolosal kemarin itu sebagian besar massa tak
> mengerti apa agenda demo itu. Sejumlah pendemo mengaku dimobilisasi dengan
> alasan yang berbeda-beda. Mereka juga di tanggung “tek tok” oleh si
> penyelenggera aksi tanpa mengeluarkan biaya pribadi.
>
> Yang paling mengejutkan dari massa demo ini adalah mereka kebanyakan dari
> kaum perempuan. Pertanyaannya adalah sejak kapan perempuan Aceh lebih
> agresif berpolitik dibanding kaum laki-lakinya? Sejak kapan perempuan Aceh
> sangat melek politik dibanding kaum prianya? Sejak kapan perempuan Aceh
> lebih militant memperjuangkan dan mempertahankan keputusan politiknya?
> Ataukah ini hasil politik pencitraan seorang Irwandi? Sehingga ia bisa
> tampil bak selebritis yang digilai kaum wanita.
>
> Bilapun ini benar maka kasihan juga gubernur kita yang dikagumi mamak-mamak,
> bukan oleh gadis-gadis sebagaimana yang seharusnya diperoleh oleh
> artis-artis yang lain
> .
> Kembali kesoal aktor intelektual di balik demo itu. Di tengah hiruk pikuk
> aksi, tersebutlah nama Masyitah Ali. Politisi PDI masa orde baru ini
> tiba-tiba menyeruak dan menghentak publik atas keberhasilannya. Ini
> menunjukkan bahwa Aceh merupakan tanah yang subur buat petualang politik
> seperti dia. Siapa sangka seorang nasionalis bisa langsung loncat pagar
> menjadi pendukung kaum yang sebelumnya dikenal anti nasionalis. Darimana
> Masyitah bisa mendapatkan akses ke Irwandi dan massa yang umumnya kalangan
> bawah? Bagaimana mungkin ia bisa dipercaya oleh donator dan simpatisan
> Irwandi di luar negeri? Ini adalah pertanyaan yang muncul dalam benak
> sebagian orang dan belum terjawab dengan tuntas.
>
> Dalam fatsun politik yang umum tidak mungkin seseorang yang tidak punya
> kepentingan dan hubungan simbiosis bisa saling mendukung. Ada dua
> kemungkinan dalam hal ini. Pertama, Irwandi mencari kawan baru karena para
> pendukung sebelumnya telah meninggalkannya, sehingga tidak mungkin
> digerakkan.
>
> Apalagi beredar isu bahwa Irwandi tidak lagi mendapat mandat untuk
> melanjutkan kesempatan kedua duduk di singgasana kekuasaan pada periode
> berikutnya. Hal ini seakan membuat ia gamang dan ingin menunjukkan bahwa
> dirinya masih didukung rakyat terutama dari kaum perempuan. Kedua, Masyitah
> berhasil meyakinkan Irwandi bahwa ia pantas menjadi bumper baru untuk
> menyelamatkan kekuasaannya. Ataupun ia menggaransikan sanggup menjadi tulang
> punggung untuk Irwandi mendapat kursi gubernur di periode selanjutnya.
>
> Kekhawatiran Irwandi akan diturunkan di tengah jalan jelas tidak beralasan.
> Kita yakin Irwandi akan selesai masa jabatan sampai habis. Kalau toh demo
> itu karena ia tidak nyaman karena terus menerus dikritik dan didemo, maka
> Irwandi tak pantas jadi pemimpin di negeri demokrasi.
>
> Demo kemarin sebenarnya menghasilkan banyak kekonyolan. Hasilnya seperti
> ditulis banyak media. Imej pemerintah Aceh bukan menjadi lebih baik tapi
> malah amburadul karena pendemo tidak paham substansi apa yang ingin mereka
> sampaikan.
>
> Begitu juga soal dana yang menurut Masyitah datang dari luar negeri.
> Yakinkah pembaca dengan kebenaran itu? Kalaupun bener apa urgensinya mereka
> dengan jabatan itu? Masyarakat banyak meyakini uang itu pasti datangnya dari
> orang orang yang mendapat manfaat dari langgengnya kekuasaan Irwandi. Maka
> seorang Masyitah tak lebih daripada sobekan baru atas luka bernanah di
> panggung kekuasaan pemerintah Aceh.
>
> Ia mungkin butuh legalitas atau butuh biaya hidup hingga siap melacurkan
> diri kepada kekuasaan. Naifnya sang gubernur atau orang orangnya merestui
> demo ini yang tak lebih lelucon politik yang tidak lucu. Kapan negeri ini
> menjadi lahan kering bagi pelacur dan petualang politik. Hingga rakyat
> menemukan pemimipin yang siap melayani mereka dengan jujur. Kita tunggu saja
> lakon Irwandi selanjutnya. []
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>

-- 
Sent from my mobile device


------------------------------------

Opini, tanggapan, pernyataan dan lain sebagainya yang di posting di milist 
IACSF adalah tanggung jawab pribadi.
Moderator akan mem-banned/mengeluarkan email siapa saja, yang tidak mematuhi 
beberapa ketentuan yang telah ditetapkan.

Posting email :[email protected]
Berlangganan :[email protected]
Berhenti berlangganan :[email protected]
Saran dan kritikan : [email protected]

Moderator IACSF.


Yahoo! Groups Links




      

Kirim email ke