Terlepas dari kedudukan Abd Gani Isa sebagai dosen yang Pancasilais, yang dia 
tulis itu Ayat Allah perihal nafsu. Kita tidakn melihat yang berkata tapi 
lihatlah apa yang dia kata. Dulu juga banyak orang yang mengedepankan hawa 
nafsu sebagaimana dalam kisah berikut ini dimana mereka asik makan dan minum 
bukan memahami apa yang benar dari partisipan lainnya: 
http://www.youtube.com/watch?v=j3ParUemvKY




________________________________
From: Haji Umar <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Fri, February 12, 2010 5:36:04 AM
Subject: |IACSF| NAFSU TAMSEL ANEUK MANYAK TENGOH LEMAK JIMOM SU2, MENYEMAKU 
HANGEUTEM LHAH SAMPE OH TUHA JI PIEPLAJU...

  
Serambinews, 12 Februari 2010, 09:34
Nafsu
Abd Gani Isa - Opini 
“Dan orang-orang yang mengikutkan hawa nafsunya, maka perumpamaannya sebagai 
anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya, jika kamu membiarkannya 
dia akan mengulurkan lidahnya” (Q.S, al-Anfal, 178). 

Dalam Alquran, nafsu mempunyai dua pengertian. Kadangkala nafsu itu dimaksudkan 
dengan “diri” dan juga dalam hal tertentu berarti dengan “jiwa” manusia. Nafsu 
tidak selalu bermakna negatif, ia merupakan kekuatan atau energi penggerak 
dalam kehidupan. Maka nafsu tidak perlu dimatikan, akan tetapi ia harus 
diarahkan, digiring dan dikendalikan agar manusia menuju kepada hal-hal yang 
positif (taqwa).

Nafsu juga tidak boleh pula dibiarkan menjadi raja (komandan) dalam diri 
seseorang. Ia harus menjadi prajurit yang keberadaannya selalu siap menerima 
perintah dari sang raja. Adapun orang-orang yang tidak mampu mengendalikan 
nafsu, maka ia mempertuhankan nafsu (bagi dirinya) (Q.S, al-Jatsiyah: 23).

Allah swt menciptakan manusia dari unsur materil dan inmateril. Secara materil, 
terdiri dari tanah, air, angin dan api. Sedangkan unsur inmateri, manusia 
dibekali dengan akal (pikiran) dan nafsu. Atas dasar itu pula manusia butuh 
akan makan dan minum, walaupun fisiknya akan menggiringnya kelak ke alam 
kematian. 

Manusia juga butuh kepada nikah/kawin, untuk mendapatkan keturunan, yang akan 
melanjutkan misi hidupnya. Manusia perlu juga kepada harta dan kekayaan, untuk 
memenuhi berbagai hajat dan kebutuhan baik untuk dirinya maupun keluarga, 
malahan tidak sedikit manusia hampir saban hari mengejar harta, sering pula 
terjadi mengklaim wilayah/tapal batas tertentu atau tanah tertentu sebagai 
miliknya. Bahkan ada sementara orang memperkaya diri dengan barang haram 
seperti mencuri, merampok, menipu, korupsi, dan  lain-lain. Alquran 
mengisyaratkan” manusia sungguh asyik dan  dilalaikan oleh harta, sehingga ia 
lupa bahwa suatu saat akan digiring liang qubur”(Q.S, al-Takatsur: 1-2).

Cermin 
Allah swt menciptakan nafsu, lalu la mengajukan pertanyaan kepadanya, hai nafsu 
man anta (siapa kamu), dan man Ana (siapa saya). Nafsu menjawab, Ana, ana (saya 
adalah saya), Anta, anta (kamu adalah kamu). Jawaban yang tidak beradab itu, 
menjadikan nafsu dimasukkan ke dalam api neraka. Setelah rentang waktu 
tertentu, lalu diangkat Allah swt. Pertanyaan serupa diajukan kembali. Nafsu 
juga masih menjawab “saya adalah saya dan kamu adalah kamu”. 

Karena kerasnya sikap nafsu, Allah memberikan sanksi berikutnya dengan tidak 
memberikan “makan dan minum” selama waktu tertentu. Setelah habisnya masa 
tersebut, lalu Allah tanyakan kembali kepada nafsu “man anta”, “waman Ana”. 
Nafsu menjawab “Ana makhluq” (saya adalah makhluq) dan “Anta Khaliq” (Engkau 
adalah Khaliq). 

Dari kisah tersebut, dipahami bahwa begitu keras dan bahayanya nafsu. Nafsu 
tidak jera ketika dimasukkan dalam api neraka, tetapi nafsu baru sadar akan 
dirinya pada saat tidak diberi makan dan minum dalam waktu tertentu. Karena itu 
bila manusia sudah dihinggapi penyakit materialisme dan hidonisme, serta tidak 
mau menerapkan pada dirinya jiwa qanaah (sederhana), serta mengurangi syahwat 
perut, maka akan sangat sulit mengendalikan hawa nafsunya, yang kadang kala 
bisa mengarah kepada sifat bahimiyah. 

Klasifikasi nafsu 
(1) Nafsu ammarah. Nafsu pertama ini pada dirinya telah lepas nilai kontrol 
agama dan sama sekali tidak mau menentang segala bentuk keburukan, bahkan 
menyerah dan patuh kepada kemauan syahwat dan ajakan setan laknatillah, seperti 
diisyaratkan Alquran “Dan Aku tidak akan membiarkan nafsuku, bahwasanya nafsu 
itu senantiasa menyuruh berbuatjahat”(Q.S, Yusuf: 35) 

Adapun sifat-sifat orang yang dirinya dikuasai oleh nafsu ammarah, di antara 
sifat tersebut; selalu melanggar perintah Allah, senang dalam melaksanakan 
larangan-Nya, tamak, loba kepada harta, ia menghalalkan segala cara, halal 
haram bukanlah kriteria baginya, ia bersifat sombong, angkuh serta sifat-sifat 
tercela lainnya menjadi bagian kehidupannya. 

(2) Nafsu lawwamah, ialah nafsu yang selalu mencela dan membenci setiap bentuk 
kejahatan dan kemungkaran, akan tetapi kadang kala ia juga senang melakukan 
kejahatan itu. Namun setelah itu ia cepat sadar dan taubat meminta ampun kepada 
Allah, seperti dijelaskan Alquran dalam surat al-Qiyamah ayat 2; “Dan Aku 
bersumpah dengan jiwa yang amat mencela (kejahatan)”. 

Di antara sifat lawwamah, ia mengetahui kesalahan diri dan menyesal kalau 
berbuat salah, kemudian timbul rasa takut, dan ingin taubat. Ia juga merasa 
dirinya lebih baik dari yang lain, dan juga sulit dirinya melepaskan dari sifat 
ria, bahkan senang bila dirinya dipuji orang lain.  (3) Nafsu Mutmainnah, ialah 
nafsu yang menjadi tenang pada sesuatu hal dan bisa terhindar dari segala 
bentuk kegoncangan dan keraguan yang disebabkan oleh tantangan beraneka syahwat 
dan dorongan nafsu. Sudah diisyaratkan (Q.S,al-Fajr: 27-28) “Hai nafsu yang 
tenang, kembalikanlah kepada Tuhan-Mu dengan gembira dan menggembirakan.” 

Di antara sifat-sifat mutmainnah, ialah pemurah atau tidak kikir, merasa cukup 
terhadap segala nikmat Allah bagi dirinya (qanaah), ia selalu taubat kepada 
Allah, memohon keampunan-Nya dari segala dosa, sabar atas setiap musibah yang 
menimpa dirinya dan berbagai sifat terpuji lainnya mewarnai dalam setiap 
tingkah laku dan ucapannya. 

Kepada kita dituntut kehati-hatian agar tidak menuruti hawa nafsu buruk. Allah 
telah memisalkan, seperti anjing yang lapar, lidahnya terjulur baik ada makanan 
(najis) atau tidak, seperti tercantum di awal tulisan ini. Rasulullah saw 
bersabda, “Sesungguhnya perkara yang paling aku takuti atas kamu ialah hawa 
nafsu dan angan-angan yang muluk. Hawa nafsu menghalangi seseorang dari yang 
baik, sedang angan-angan yang muluk membuat dirinya lupa akan akhirat”.

* H.Abd.Gani Isa adalah dosen pada Fakultas Syariah lAIN Ar-Raniry.  

 


      

Kirim email ke