----- Original Message ----- 
From: Ridwan Nyak Baik 
To: [email protected] ; Aceh kita ; 
[email protected] ; mahdi hasjmy ; 
[email protected] ; Ibrahim Hasyim, SE, MM, DR. ; Mardy 
Gaharu ; Suryadarma ; Asyik Ali, Drs ; Mawardi Nurdin, Ir. Msc. ; Iqbal Hasan ; 
Tim Pusat 
Sent: Tuesday, March 02, 2010 3:30 AM
Subject: RE: [mediacare] ACEHKAH GAYO; sebuah tanggapan untuk M Adli Abdullah


  

Aceh sebagai Serambi Mekah sudah final, di dalamnya berisi puncak-puncak 
cipta/karsa/karya/budaya etnis Aceh, etnis Gayo, etnis Tamiang, etnis Kluet, 
etnis Simeulue, etnis Aneuk Jamee, etnis Alas, etnis Singkil dan etnis-maupun 
sub etnis minoritas lainnya. Maka, saya teringat tagline Rumah Makan Mutiara di 
Pasar Kenari, Jakarta pusat (sekarang sudah tutup) pada era 1980-an yang 
berbunyi: "Masakan Indonesia Khas Aceh." Dalam kalimat ini jelas ditonjolkan 
KeIndonesiaannya yang khas Aceh, bukan kesukuannya seperti masakan jawa, 
masakan sunda, masakan padang, dll. Beda dengan jenis-jenis masakan/ menu 
makanan yang menonjolkan unsur kesukuan seperti Mie aceh, Soto Padang, Coto 
Makasar, Sate Padang, Sate Madura, Pecel Madiun...dst.

Jadi ketika orang mempertanyakan Acehkah Gayo jawabnya YA, dan Gayokah Aceh 
jawabnya juga YA. Dalam bahasa Rumah Makan Mutiara bisa disebut: "Masakan Aceh 
Khas Gayo." Demikian juga dengan etnis dan sub etnis lainnya yang terhimpun 
dalam satu ruangan besar yang disebut Serambi Mekah Aceh Darussalam.

Maka, apabila ada orang yang masih memnyoalkan koordinat Gayo dalam perspektif 
Aceh dan posisi Aceh dalam kacamata Gayo, orang tersebut telah ketinggalan 
jaman. Sebab, Gayo ya Aceh dan Aceh juga ya Gayo..

Wallahu'alam bissawab.

Tabik;

RnB 



From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of 
Win Wan Nur
Sent: Friday, February 26, 2010 10:02 PM
To: Aceh kita
Subject: [mediacare] ACEHKAH GAYO; sebuah tanggapan untuk M Adli Abdullah



Beberapa waktu yang lalu "Serambi Indonesia", koran lokal terbesar di Aceh 
menerbitkan sebuah artikel yang berjudul ACEHKAH GAYO 
http://www.facebook.com/notes/i-love-gayo/acehkah-gayo/318018922010 yang 
ditulis oleh M Adli Abdullah. Dalam artikel tersebut penulis ini mengatakan 
dirinya pernah menemani Prof Dr Nabil Chang Kuan Lin dari National Cheng-Chi 
University Taipe, Taiwan dalam lawatannya ke beberapa situs sejarah di Pasai 
dan Peureulak (1-4 Februari 2010).

Artikel ini sepertinya mendapat tanggapan begitu heboh di Aceh, sampai-sampai 
seorang teman seangkatan kuliah saya yang sudah lama tidak pernah bertemu 
merasa perlu khusus mengirim SMS kepada saya untuk menanggapi tulisan ini.

Baru dua hari kemudian saya bisa membaca tulisan itu melalui facebook, dipost 
oleh "I Love Gayo" yang men-tag nama saya di sana. Yang lebih heboh lagi 
teman-teman Aceh yang bukan suku gayo pun menulis di wall saya untuk meminta 
tanggapan saya tentang artikel tersebut. Kehebohan ini membuat saya sangat 
penasaran dan ingin segera membaca artikel yang ditulis oleh M Adli Abdullah 
ini.

Tapi setelah saya baca, saya malah jadi kebingungan sendiri membaca tulisan 
yang heboh ini. Ketika membaca artikel tersebut, saya mendapatkan kesulitan 
dalam memahami kaitan antara satu bangun argumen dengan bangun argumen lain 
yang dibangun penulisnya. 

M Adli Abdullah penulis artikel ini dengan sembrono menggunakan data arkeologi, 
pembahasan antropologi sampai kisah dan legenda sebagai sumber bukti yang 
diperlakukan dengan tingkat validitas yang setara.

Kemudian penulis ini juga sama sekali tidak menjelaskan kategori apa yang dia 
gunakan dalam mempertanyakan ACEHKAH GAYO.

Misalnya penulis yang bernama M Adli Abdullah ini, dalam tulisannya sama sekali 
tidak menjelaskan yang dia maksud ACEHKAH GAYO dalam tulisannya tersebut 
dilihat dari kategoriapa?. Dari identitas etnisitaskah?, dari identits 
genetikkah? atau atau identitas politikkah atau identitas budaya politik?. 

Dalam tulisan ini semuanya campur baur sehingga kita yang membaca jadi pusing 
sendiri untuk menebak ke arah mana sebetulnya bangun argumen dari penulis ini 
mengarah.

Hal lain yang membuat kita pusing saat membaca tulisan ini adalah perbuatan M 
Adli Abdullah yang dengan entengnya main comot berbagai data yang masih mentah 
untuk menjadi argumen tulisannya. 

Misalnya di paragraf ke-6, dia dengan enteng memasukkan hasil penelitian 
arkeolog baru-baru ini di kampung Mendalé, dekat tepi Laut Tawar, yang 
menemukan kalau sejak 3000 tahun lalu sudah ada peradaban manusia di tempat itu 
sebagai bukti kalau tempat itu sudah ditempati orang Gayo. Bahkan sudah ada 
peradaban manusia 6000 tahun yang lalu di Tamiang pun dia jadikan sebagai 
argumen keberadaan suku Gayo dan mengaitkannya dengan golongan Melayu Tua yaitu 
bangsa yang pertama sekali menduduki negeri Aceh. Tapi dia sendiri sama sekali 
tidak memberi kita informasi apapun tentang skala waktu penyebaran Melayu Tua 
itu. Dalam tulisan ini, dia sama sekali tidak menjelaskan apakah memang ada 
bukti sejarah bahwa penyebaran Puak Melayu Tua itu memang terjadi sebelum 
rentang waktu 3000 atau bahkan 6000 tahun itu.

Bukti sejarah ini sangat penting dalam argumen seperti ini karena rentang waktu 
3000 apalagi 6000 tahun itu adalah rentang waktu yang sangat lama sekali. 
Rentang waktu yang lama ini menimbulkan pertanyaan penting, apa bukti kalau 
orang-orang yang mendiami ceruk mendale 3000 tahun yang lalu itu apalagi 
peradaban manusia di Tamiang pada 6000 tahun yang lalu itu adalah peradaban 
Gayo?

Pertanyaan ini penting kita ajukan karena, jangankan Gayo, peradaban besar 
dunia yang ada dalam rentang tahun itu pun, seperti Mesopotamia, Peradaban Ras 
Dravidian di India dan Mesir Kuno sudah punah semuanya. Bahasa dan adat 
istiadat yang digunakan orang pada masa itu, sekarang bisa dikatakan tidak lagi 
berbekas, padahal semua peradaban besar itu pada masa tersebut sudah mengenal 
tulisan. Secara etnisitas juga demikian, kemana sekarang kita bisa menemukan 
etnik Mesir Kuno?, Mesir yang kita kenal sekarang adalah Mesir yang dihuni 
Etnis Arab yang bisa dipastikan adalah campuran dari berbagai etnis-etnis kuno 
itu.

Kemudian Yang lebih memusingkan lagi, dalam tulisan ini M Adli Abdullah seperti 
asal comot data dari sana sini saja tanpa terlebih dahulu diolah dan dianalisa, 
sehingga ada argumen yang dia gunakan yang tumpang tindih satu dengan yang lain 
dan saling menegasikan.

Argumen yang tumpang tindih dan saling menegasikan ini bisa dibaca pada 
pembahasan M Adli Abdullah tentang sikap orang Gayo terhadap Islam. 

Di paragraf ke 4 dia mengutip Russel Jones dan Hill, A.H yang mengatakan bahwa 
suku bangsa Gayo adalah penduduk asli negeri Pasai yang lari ke hulu sungai 
Peusangan karena tidak mau masuk agama Islam (Russel Jones, 1999; Hill, A.H 
1960). Tapi di paragraf ke-8 dia mengatakan hal yang sebaliknya "Peran Suku 
bangsa Gayo sangat besar bagi penyebaran Islam dan membangun kerajaan Islam 
Aceh Darussalam". Kesimpulan ini dia dapatkan dari (Sejarah Kota Banda 
Aceh:1988) dan (A Hasjmy: 1976). Antara kedua paragraf itu M Adli Abdullah sama 
sekali tidak menjelaskan skala waktu, sehingga kitapun jadi terbengong-bengong, 
bagaimana ceritanya suku bangsa Gayo yang adalah penduduk asli negeri Pasai 
yang lari ke hulu sungai Peusangan karena tidak mau masuk agama Islam tiba-tiba 
menjadi berperan sangat besar bagi penyebaran Islam?

Jadi kalau saya diminta untuk menyimpulkan ACEHKAH GAYO berdasarkan 
argumen-argumen jungkir balik dan tumpang tindih dalam tulisan M Adli Abdullah 
ini, saya memilih untuk "angkat tangan", karena jangankan menyimpulkan, bahkan 
untuk memahami apa maksud tulisan ini saja pun saya tidak mampu.

Tapi meski demikian, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, saya tetap 
memberi apresiasi yang tinggi kepada penulis artikel ini. Saya memberi 
apresiasi karena M Adli Abdullah telah berani mengangkat isu yang berbau SARA 
yang biasanya tabu untuk dibicarakan di negeri ini.

Saya pribadi merasa isu yang berbau SARA dalam hubungan antara ACEH dan GAYO 
ini memang sangat perlu untuk sering-sering diangkat, karena saya melihat bahwa 
segala hubungan tidak nyaman antara Aceh dan Gayo itu jelas terjadi karena 
adanya permasalahan SARA yang dihadapi kedua suku yang tinggal di wilayah 
politik yang sama ini. 

Ketidak nyamanan ini hanya bisa kita hilangkan kalau kita mau membongkar, 
mengangkat dan kemudian mendiskusikan permasalahan SARA ini sedikit demi 
sedikit. Segala hubungan tidak nyaman antara Aceh dan Gayo tidak akan pernah 
bisa kita selesaikan kalau kalau kita terus berpura-pura masalah itu tidak ada 
dan kita terus menghindar dari segala macam Isu Aceh dan Gayo yang berbau SARA 
ini.

Karena itulah sayapun tertarik untuk mendiskusikan masalah berbau SARA ini dari 
sudut pandang saya sendiri.

Menurut pandangan saya, untuk memahami pertanyaan utama dalam artikel ACEHKAH 
GAYO yang ditulis oleh M Adli Abdullah ini, kita harus terlebih dahulu 
merumuskan GAYO yang dimaksud di sini dalam kategori apa?. ACEH di sini juga 
harus kita sepakati dipahami dalam pendekatan kategori apa?.

Perumusan seperti ini perlu kita lakukan karena manusia adalah makhluk yang 
mendua. Di satu sisi, secara fisik manusia adalah makhluk natural alias alami 
seperti binatang yang bisa merasa sakit, bisa lapar dan bisa mati. Dalam 
kategori secara fisik seperti ini makhluk manusia disebut HOMO SAPIENS. 

Di sisi lain secara spiritual manusia adalah makhluk artifisial yang tidak 
alami. Berbeda dengan binatang yang identitasnya terdefinisikan secara alami, 
manusia sejauh ini diketahui sebagai satu-satunya makhluk yang mendefinisikan 
identitas dirinya sendiri secara artifisial, alias secara SADAR dengan anugerah 
tertinggi yang diberikan Tuhan yaitu AKAL. Secara lebih khusus lagi, bisa kita 
katakan bahwa makhluk yang mendefinisikan identitas dirinya sendiri secara 
SADAR dengan AKALNYA inilah yang disebut dengan MANUSIA yang dipahami dalam 
dimensi spiritual bukan fisik.

Kalau ACEHKAH GAYO dipahami dengan pendekatan kategori identitas genetik alias 
manusia sebagai HOMO SAPIENS, GAYO jelas bukan ACEH dan begitu pula sebaliknya 
ACEH jelas bukan GAYO. Tapi masalahnya, pengkategorian seperti ini agak sulit 
dilakukan. Karena setelah sekian lama hidup berdampingan pasti ada percampuran 
ras antara HOMO SAPIENS Gayo dan HOMO SAPIENS Aceh.

Di zaman modern ini, pendekatan pengkategorian manusia sebagai HOMO SAPIENS 
seperti pendekatan di atas sebagaimana biasa dipakai untuk mengkategorikan 
binatang dan makhluk non manusia lainnya itu sudah sangat jarang digunakan 
dalam mengkategorikan manusia. Zaman sekarang, orang yang menggunakan 
pendekatan semacam ini untuk mengkategorikan manusia akan mendapat cap RASIS 
dan menjadi bahan hujatan orang sedunia. Malah PBB sendiri pun secara resmi 
telah melarang untuk mengkategorikan manusia dengan cara seperti ini.

ACEHKAH GAYO, lebih mudah dipahami kalau kita melakukan pendekatan berdasarkan 
kategori identitas etnisitas, karena kalau dipahami dengan pendekatan kategori 
ini, kita tidak perlu lagi tahu apakah secara genetik yang bersangkutan itu 
adalah HOMO SAPIENS Gayo atau HOMO SAPIENS Aceh. 

Dengan pendekatan kategori ini, asal orang merasa dirinya GAYO, tidak peduli 
apakah nenek moyangnya dulu sebenarnya adalah orang Aceh yang diculik, orang 
Batak,orang Melayu, atau dulunya budak entah darimana yang dibawa ke GAYO, yang 
penting asal dia sudah menyatu dengan satu kelompok etnis bernama GAYO ya dia 
jadi orang GAYO.

Kalau dipahami dengan pendekatan kategori seperti ini, GAYO juga jelas bukan 
ACEH. 

Tapi masalahnya, di zaman modern ini, banyak orang termasuk saya sendiri tidak 
merasa nyaman melakukan pengklasifikasian manusia dengan kategori ini, karena 
pengklasifikasian dengan kategori ini biasanya hanya digunakan oleh suku-suku 
primitif dan kaum apartheid (contohnya seperti di Malaysia). 

Pada masyarakat yang peradabannya sudah lebih maju, pendekatan dengan kategori 
seperti ini sudah tidak digunakan lagi. Kalaupun pendekatan kategori ini 
digunakan, biasanya penggunaannya lebih kepada aktivitas budaya yang bersifat 
cair dan tidak mengikat.

Pada masyarakat yang peradabannya sudah lebih maju, manusia sudah menjadi HOMO 
POLITICUS yang mengkategorikan identitasnya secara politik atau budaya politik. 

Identitas politik atau Identitas budaya politik ini hampir selalu terdiri dari 
berbagai keberagaman etnisitas. Di zaman sekarang ini, bisa dikatakan tidak ada 
Identitas politik atau Identitas budaya politik manapun yang cuma berisi satu 
etnisitas alias etnisitas tunggal.

Pendekatan dengan kategori inilah yang dilakukan oleh Cik kami, Yusra Habib 
Abdul Gani (Serambi, 2 Februari 2008) dalam mengkategorikan ACEH dan GAYO. 

Jadi kalau untuk mengetahui ACEHKAH GAYO, yang dipakai adalah pendekatan -ACEH- 
sebagai sebuah identitas politik atau identitas budaya politik seperti ini, ya 
GAYO jelas adalah ACEH.

Dengan memakai pendekatan -ACEH- sebagai sebuah identitas politik atau 
identitas budaya politik, ACEH bukanlah ACEH kalau di dalamnya hanya ada etnis 
Aceh saja, tanpa ada etnis Gayo, etnis Tamiang, etnis Kluet, etnis Simeulue, 
etnis Aneuk Jamee, etnis Alas, etnis Singkil dan etnis-etnis minoritas lainnya.

Semua cara pengkategorian ini tidak memiliki sifat kestabilan yang sama.

Pengkategorian manusia secara identitas genetik sifatnya rigid dan stabil alias 
tidak berubah-ubah, karena kategori ini adalah bawan lahir yang tidak bisa 
diubah. 

Pengkategorian manusia secara identitas etnisitas juga relatif stabil, karena 
orang yang terlahir katakanlah sebagai etnis Gayo, meskipun setelah dites DNA 
terbukti bukan orang Gayo, tapi hampir bisa dipastikan dia tidak bisa lagi 
mengubah mentalitas dan kebiasaan sehari-harinya yang ala GAYO.

Tapi pengkategorian manusia atas dasar identitas politik atau identitas budaya 
politik, sangat fleskibel dan bisa berubah-ubah mengikuti keadaan. Identitas 
model ini bersifat sangat fluktuatif.  Identitas ini bisa berubah-ubah, karena 
identitas politik atau identitas budaya politik ini adalah sebuah proyek yang 
keberlangsungannya sangat bergantung atas kesepakatan bersama. 

Keberlangsungan identitas politik atau identitas budaya politik sangat 
dipengaruhi oleh bagaimana cara orang diperlakukan di dalam proyek bersama itu. 
Kegagalan menerapkan sistem yang mengakui dan menghargai keberagaman etnisitas, 
sangat mungkin mendorong munculnya resistensi atau lebih jauh mendorong orang 
yang terpinggirkan, diperlakukan tidak adil, dan kemudian mereka kembali ke 
asal etnisitasnya.

Pendekatan identitas politik atau identitas budaya politik ini diinspirasi oleh 
Laclau yang Post-Marxist atau Paul Brass (lihat bukunya Ethnicity and 
Nationalism) dengan pendekatan etnisitas dan politik atau bahkan sedikit banyak 
Ben Anderson (lihat bukunya Imagined Community). Brass mengambil banyak contoh 
pergerakan di berbagai penjuru dunia yang dia sebut sebagai "ethnic revival" 
sebagai bentuk resistensi atas dominasi, atas modernisasi atau bahkan atas 
konsep "negara-bangsa" yang dipaksakan, terutama setelah konsep negara modern 
diwujudkan di berbagai negara di dunia. (Baca tulisan Taufan Damanik di milis 
Acehkita message #13622). 

Untuk membentuk satu identitas politik atau identitas budaya politik, kadang 
orang harus memanipulasi kesadaran etnisitas suku-suku penyusunnya. Contohnya  
di Indonesia yang sangat plural ini, untuk membentuk satu rasa kebangsaan yang 
sama kesadaran etnisitas ini harus dimanipulasi, kalau tidak begitu tidak 
mungkin orang Jawa yang nenek moyangnya sudah bisa membuat Borobudur dan 
Prambanan ratusan tahun yang lalu dapat merasa satu identitas politik dengan 
orang Papua yang sampai hari inipun masih pakai koteka di Bandara di tengah 
Kota Wamena sana.

Sementara ACEH, sebagai satu identitas politik atau identitas budaya politik, 
kesenjangan peradaban antara etnis-etnis penyusunnya tidak separah itu. Tidak 
ada perbedaan mencolok antara peradaban Aceh yang di pesisir dengan peradaban 
Gayo dan Alas di pedalaman, begitu pula dengan suku-suku minoritas lain, Kluet, 
Tamiang, Aneuk Jamee, Simeulue dan lain-lain sebagaimana mencoloknya perbedaan 
antara orang Jawa yang nenek moyangnya sudah bisa membuat Borobudur dan 
Prambanan dengan orang pedalaman papua yang sampai hari ini masih pakai 
koteka...karena itulah di Aceh manipulasi kesadaran etnisitas semacam ini sama 
sekali tidak dibutuhkan. 

Kesetaraan dalam tingkat peradaban inilah yang menjadi sebab, ketika suku Aceh 
yang mayoritas belakangan ini terlihat begitu agresif memaksakan dominasi 
peradaban sukunya, suku-suku lain yang minoritas, yang sama-sama penduduk ASLI 
bumi Aceh ini, yang bahkan sejarah keberadaannya di Tanah Aceh ini sudah lebih 
lama dari suku mayoritas ini, memandang gerakan sukuisme ACEHNISASI yang 
dilakukan oleh suku mayoritas yang tinggal di pesisir ini dengan perasaan aneh.

Kesetaraan dalam tingkat peradaban ini pula yang membuat ACEH sebagai sebuah 
identitas politik atau identitas budaya politik lebih rentan. Dominasi yang 
terlalu mencolok dari satu etnis dalam identitas politik atau identitas budaya 
politik seperti ini akan dengan mudah membuat proyek bersama ini BUBAR DI JALAN.

Wassalam

Win Wan Nur
Orang Aceh suku GAYO

www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com












*****
This message may contain confidential and/or privileged information. If you are 
not the addressee or authorized to receive this for the addressee, you must not 
use, copy, disclose or take any action based on this message or any information 
herein. If you have received this communication in error, please notify us 
immediately by responding to this email and then delete it from your system. PT 
Pertamina (Persero) is neither liable for the proper and complete transmission 
of the information contained in this communication nor for any delay in its 
receipt.
***** 







=======
Wiadomosc przeskanowana przez Spyware Doctor - nie znaleziono wirusów ani 
spyware.
(Email Guard: 7.0.0.18, baza wirusów/spyware: 6.14470)
http://www.pctools.com
======= 

Kirim email ke