Agama
manapun memiliki dua wajah yang saling bertentangan, wajah dekaden dan
wajah ideology. Islam berwajah dekaden seolah-olah melibtkan dirinya
dalam kejahatan, menumbuhkan reaksionerisme, kelam banan, dan
kelumpuhan. Agama Islam macam ini telah mengekang spirit kebebasan dan
secara culas membenarkan ststus quo. Sedangkan Islam yang lain, Islam
ideology yang pantang bersatupadu dalam system Islam yang dekaden.
Sudah barang pasti Islam Ideology tidak diperbolehkan tumbuh dan berkembang 
dalam sejarah oleh Islam dekaden. Justru di jantung bangsa-bangsa
Muslim, sebagaimana kita keta hui, kebenaran dan cita-cita Islam sedang
dikorbankan.


Dalam
bentuknya yang tidak ideologis agama adalah suatu kumpulan kepercayaan
turun-temurun dan pera saan individual; suatu imitasi terhadap
upacara-upacara, aturan-aturan, kebiasaan-kebiasaan agama dan
praktek-praktek yang sudah berurat berakar dari satu generasi
kegenerasi lainnya. Jenis agama semacam ini menunjukkan semangat
kolektif dari suatu kelompok masyarakat. Agama seperti ini tidak pernah
nene mukan esensinya hingga memperlihatkan penentangannya terhadap
spirit dan semangat kemanusiaan yang sesungguhnya.


Praktek
agama seperti ini sampai hari ini berkembang dan tumbuh subur dalam
system yang hipokrit, di mana mereka mengaku beragama Muhammad tapi
mereka tidaklagi memiliki ideology Muhammad, Ali dan Hussein di
Karbala. Sebahagian mereka dari kampung berpindah kekota. Dikota mereka
menimba ilmu diberbagai perguruan hingga memungkinkan mereka menjadi
orang besar setelah bergabung dengan orang-orang pemerintahan. Mereka
menjadi kaya, memiliki rumah yang luck, gaji yang tinggi dan mobil
mewah. Namun kebanyakan mereka hidup miskin dan menderita tapi mereka
tetap berdaya upaya agar tidak ketinggalan ketika musim maulid tiba
kendatipun rasulullah sendiri melarangnya, namun mere ka sepertinya
takpernah mengetahuinya adalarangan tersebut. 

Agama dalam bentuknya yang tidak ideologis inilah agamanya bangsa Hindunesia 
pura-pura yang menyebabkan sebagian orang West Papua bertanya-tanya kenapa 
orang Islam Hindunesia menjajah bangsa West Papua. Adakah perintah agama Islam 
sendiri untuk menjajah komunitas lainnya?  Setelah sahabatku Ismail Asso 
menelitinya dengan cermat ternyata Islam itu sendiri sangat anti kepada 
penjajah dan berdaya upaya untuk pembebasan semua manusia dari segala bentuk 
penjajahan. Sahabatku Ismail Asso malah sampai berkesimpulan bahwa Islam 
sebagai Agama berbeda dengan Muslim. Kesimpulan seperti itu disebabkan fenomena 
yang beliau saksikan justru Muslim Indonesia menjajah West Papua.  Sesungguhnya 
fenomena yang kita saksikan di Hindunesia itu bukanlah pemeluk agama Islam 
benaran tapi kaum hipokrit atau Islam atau Muslim dekaden. Sedangkan Muslim 
sejati pantang bersatupadu dalam system taghut zalim, hipokrit dan korrupt 
macam Hindunesia.

Selanjutnya mari kita simak ungkapan sahabatku berikut ini:


ISLAM MENDUKUNG PAPUA MERDEKA
(Ismail Asso, West Papua)

“Mengapa kamu tidak mau berperang dijalan Allah dan (membela) orang-orang yang 
lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo’a; Ya 
Tuhan kami keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan 
berilah kami pelindung dari sisi Engkau dan berilah kami penolong dari sisi 
Engkau!”. (QS. 4: 75).


Pendahuluan

Judul biar begini agar permasalahan jelas. Namun tempat terbatas tidak 
dijelaskan konfrehenshif tuntas, tapi partial. Pembahasan ini penting artinya 
bagi kaum muslimin Papua, karena kebanyakan orang Papua belum tahu bagaimana 
ajaran Islam sesungguhnya dalam konteks pembebasan Papua. Padahal pembebasan 
adalah hukum perintah Agama Islam.

Penulis merasa penting menjelaskan ini karena selama ini belum pernah 
dijelaskan oleh orang-orang Muslim Papua sendiri. Bahkan sayangnya selama ini 
ada kekeliruan masyarakat Papua, baik kalangan orang Islam sendiri, utamanya 
orang Papua diluar Islam, keterkaitan Islam -sebagai suatu nilai kebenaran yang 
bersifat universal- dan Perjuangan Papua serta Muslim sebagai pribadi-pribadi 
yang berpotensi multi interpretasi. Tulisan singkat ini mencoba menjelaskan 
keterkaitan Islam dan Pembebasan Papua perspektif muslim Papua.

Muslim Papua antara "M" atau "O".

Kesan banyak kalangan sampai saat ini, Muslim Papua (kecuali Sekjend PDP, 
Muhammad Thoha Al-Hamid) dalam perjuangan dari pejajahan, darimanapun 
kolonialisme itu, bersikap diam, tidak progressif malah tidak ada inisiatif 
sama sekali dalam rangka mengambil bagian pembebasan Papua bersama rakyat Papua 
secara bersama. Parahnya lagi, Muslim Papua (tanpa membedakan 
Pribumi-Pendatang) seakan menyetujui penjajahan atas dirinya.

Lembaga-lembaga Islam seperti MUI, Muhammadiyyah, ICMI dan PWNU Papua, juga 
organisasi mahasiswanya seperti HMI, IMM, PMII dan KAMMI di Papua sendiri diam 
tanpa peduli atas pelanggaran HAM di Papua berat selama ini, sejak daerah ini 
dianeksasi melalui Pepera tahun 1962 yang konon tidak melalui mekanisme one man 
one vote.

Berbeda dengan lembaga milik Kristen, Keuskupan Papua dan Classis GKI Papua 
yang selalu aktif menyuarakan dan mengangkat pelanggarakan HAM terasa lebih 
dominan kepekaanya menegakkan nilai-nilai kebenaran ajaran agamanya itu. 
Sebaliknya, Muslim Papua dan Ormas Islam dalam hal pelanggaran HAM oleh aparat 
TNI/POLRI diam seakan tidak terjadi sesuatu apa menunjukkan ketidak pekaannya. 
Asumsi orang bukan penganut agama Islam bahwa Islam adalah agama tidak benar 
dan bukan ajaran kebenaran universal. Padahal tidak demikian ajaran paling 
mendasar agama Islam sebagaimana dasar-dasar ajaran agama Islam itu akan di 
tegaskan dalilnya dalam bagian tulisan berikut ini.

Umumnya institusi Islam dan kaum muslimin Papua dalam sikap antara pilihan "M" 
dan" O", terkesan mendukung "O" alias menghalangi pembebasan Papua. Muslim 
Papua tidak ingin merdeka apalagi membantu berjuang membebaskan Papua dari 
penjajahan. Demikian mentalitas masyarakat sipil yang datang mengais rezeki di 
Tanah Papua. Terlepas dari persoalan beda interpretasi atas teks-teks suci 
(Al-Quran dan Al-Hadits), guidance (pegangan), memungkinkan multi interpretasi, 
namun sangat disayangkan Muslim Papua diam berpangku tangan. Hal itu tidak 
mencerminkan nilai-nilai ajaran agama Islam sebagai rahmatn lil'alamin (kasih 
sayang bagi seluruh alam).

Untuk itu kedepan kaum muslimin Papua sebagai jaminan agamanya itu wajib ikut 
serta dalam membebaskan Papua dari penjajahan, entah darimanapun penjajahan 
itu, karena jaminan kebenarannya adalah Allah dan Rasul (baca, -Qur’an dan 
Al-Hadits). Karena ajaran dasar agama Islam menjamin hal itu. Tujuan kehadiran 
Islam melalui Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul terakhir, menyempurnakan agama 
terdahulu dengan semangat pembebasan. Termasuk Pembebasan Papua dari penindasan 
dan penistaan martabat kemanusiaan oleh Indonesia yang mayoritas beragama Islam.

Namun sangat disayangkan karena peran kaum muslimin Papua tidak terlihat. 
Betapapun pelaku kekerasan dan penjajahan orang beragama Islam kalau itu 
melanggar ajaran kebenaran dan keadilan maka wajib hukumnya menolak. Oleh sebab 
itu tindakan penindasan tidak menutup kemungkinan bisa saja dilakukan oleh 
orang lain yang seagama dengan kita. Dan kita wajib menentangnya kalau itu 
bertentangan dengan ajaran dasar agama Islam. Sedangkan ajaran dasar agama 
islam menyuruh kita menegakkan keadilan dan amar ma’ruf nahi mungkar (menyuruh 
kebenaran mencegah kemungkaran). Karena keadilan adalah ajaran paling pokok dan 
dasar dalam Islam seperti Firman Allah SWT terjemahannya:

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu 
menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah 
sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak 
adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat pada taqwa. Dan bertaqwalah 
kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 
5:8)”.

Implikasi ayat ini mengharuskan kita sebagai muslim wajib menegakkan keadilan 
tanpa pembatasan pada apa dan siapa. Keharusan menegakkan keadilan pada 
siapapun dari tindakan kejahatan yang dilakukan oleh siapapun apakah saudara, 
keluarga, seagama jika ada tindakan keburukan, maka wajib bagi orang berimana 
(menurut ayat diatas) menegakkan ketidakadilan. Banyak perintah dalam ayat 
Al-Qur’an menyuruh orang-orang muslim beriaman untuk menyeru kebaikan, keadilan 
dan mencegah keburukan bagi muslim hukumnya wajib.

Namun kebanyakan muslim Papua karena yang melakukan penindasan itu adalah 
Indonesia yang mayoritas beragama Islam maka diam tanpa mengkritisi tindakan 
itu salah atau benar sesungguhnya suatu sikap dan tindakan salah maka dengan 
sendirinya tidak adil. Pembebasan Papua dari penindasan sesungguhnya li’Ila 
kalaimatillah izzul islam walmuslimin Papua. Ini berarti rekontektualisasi 
nilai-nilai Islam paling tinggi dan jauh ditarik turun kebawah sesuai konteks 
social politik dan budaya Papua.

Namun demikian sayangnya kebanyakan kaum muslimin Papua tidak menyadari nilai 
kebaikan dan keadilan Islam tanpa pandang bulu. Hal demikian disebabkan oleh 
akibat kurang mengenalnya kita, Muslim Papua, akan ajaran inti Al-Quran yang 
sesungguhnya hadir dimuka bumi untuk membebaskan umat manusia dari 
ketertindasan, pembunuhan, perampasan hak-hak asasi manusia seperti yang 
terjadi pada Bangsa Papua Barat saat ini.
Perampasan atau perampokan harta kekayaan Papua oleh siapapun Indonesia 
mayoritas beragama Islam adalah kebathilan, kedholiman yang bertentangan dengan 
ajaran agama Islam. Penganiayaan bangsa Papua apapun alasannya, bertentangan 
dengan ajaran inti Islam yang terkandung didalam kitab suci, Al-Qur'an dan 
Al-Hadist. Sebab esensi kehadiran Islam dimuka bumi adalah rahmatan lil’alamin, 
kasih sayang bagi seluruh alam, dan missi utamanya kemerdekaan, kebenaran, 
keadilan dan pesan utamanya sesuai nama agama Islam itu sendiri yaitu kedamaian.

Muslim lain, sikapnya dalam konteks Papua bertentangan dengan kenyataan 
penindasan Indonesia. Muslim Papua tidak seperti Thoha Al-Hamid yang Sekjen PDP 
itu. Muslim Pribumi mudah percaya omong kosong yang umum kita ketahui bersama 
seperti integrasi Papua dalam NKRI untuk membangun dan memajukan Rakyat Papua.

Padahal kenyataan yang terjadi adalah pencurian dan pengangkutan kekayaan alam 
Papua yang sangat kaya raya dengan membiarka ketertinggalan, keterbelakangan 
dan kebodohan rakyat Papua. Pihak lain hadir ke Papua hanya menghalangi 
penentuan nasib sendiri sebagaimana hal itu merupakan sunnatullah (natural law) 
dalam artian bahwa kemerdekaan atau kebebasan menentukan nasib sendiri sebagai 
sebuah bangsa adalah konsekuensi logis yang Allah memberikannya kebebasan itu.

Muslim Papua wajib menjaga perampasan kebebasan akan hak-haknya yang diberikan 
dan dijamin oleh Alloh SWT untuk di dipelihara dari demi kemakmuran seluruh 
rakyat Papua sendiri dari perampokan oleh Amerika (emas orang Papua di Timika), 
Gas dan Minyak oleh Inggris di Bintuni, Gas alam di Mamberamo Raya oleh Cina, 
Ikan dan udang oleh Jepang, Kayu Besi (Merbau) oleh berbagai Negara dll. Muslim 
tidak boleh diam harga diri dan kekayaan alam dirampas bangsa lain. Karena 
kekayaan alam melimpah yang diberikan oleh Allah SWT, sebagai amanah kepada 
kita dan dipelihara dari kerusakan, perampasan dan pencurian negara lain harus 
dilawan.

Untuk itu tulisan ini harapannya Muslim Papua harus menjadi sadar kembali atas 
kekeliruan selama ini. Kedepan kaum muslimin Papua tanpa membedakan Pribumi 
maupun pendatang kedepan harus menbangun kesadaran sebagai Muslim Papua untuk 
berdiri dalam barisan terdepan menyuarakan kebenaran atas penjajahan dan 
penindasan hak-hak hidup manusiawi yang dirampok dan ditindas oleh asing. 
Penjajah harus dilawan sebagai hukum wajib (fardhu ‘ain) oleh seluruh Muslim 
Papua.

Muslim Papua menyerukan resolusi jihad fisabilillah bagi pembebasan Papua. 
Setidaknya tulisan ini sebagai ghozwulfikri, bahwa dengan opini demikian akan 
menjadi khiroh (semangat) kaum muslimin Papua khususnya internal Muslim dari 
kekeliruan sikap politik antara dua pilihan sebelum ini atas intrepretasi 
ajaran Islam. Muslim Papua wajib menegakkan keadilan sebagai perintah Allah 
SWT, yang mulia diwujudkan dengan menyatakan kebenaran sebagai yang benar dan 
salah sebagai salah (‘amar ma’ruf nahi mungkar).

Islam Dan Muslim Berbeda

Mendukung Papua adalah wajib hukumnya bagi Muslim kedepan ini, kalau memang 
mereka benar Muslim dan ingin menegakkan nilai-nilai Islam yang benar sesuai 
ajaran yang ada dalam Qur'an-Hadist.

Muslim Papua, dari manapun asal-usul keturunannya wajib melawan penindasan. 
Sebab pendindasan tidak sejalan dengan semangat agama Islam yang mengajarkan 
nilai persamaan dan menjunjung martabat atau harga diri manusia. Sikap demikian 
sejalan dengan Islam. Karena esensi Islam hadir kedunia melalui Nabi Muhammad 
SAW untuk membebaskan umat manusia serta menegakkan nilai-nilai kebenaran dan 
keadilan tidak terkecuali ditanah Papua saat ini. Islam sekali lagi hanya, 
untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.

Sebagaimana nilai Islam di jelaskan di atas kini menjadi kewajiban tidak hanya 
oleh Muslim Pribumi seperti Thoha Al-Hamid namun seluruh Muslim Papua harus 
menyatakan kebenaran bahwa penjajahan atau pencurian, perampokan atau 
exploitasi kekayaan alam Papua seperti PT.Freeport, British Petrolium di 
Bintuni (daerah Penduduk Muslim dari dulu), pencurian kayu (illegal logging), 
harus dilawan untuk di pertahankan. Muslim Papua harus ikut serta melawan ini 
sebagai jihad fisabilillah.

Islam Agama Tuhan

Rakyat Papua anggap Islam identik dengan Jawa, Bugis-Buton-Makasar dan Ternate, 
Fak-Fak Selatan Kepala Burung Papua. Maka persepsi orang lalu Islam 
melegalisasikan ajarannya sebagimana Muslim adalah salah. Muslim penjajah dan 
menganggap Islam sama dengan Indonesia. Padahal ajaran agama Islam lain dan 
harus dibedakan dari suku bangsa. Indonesia 85% pemeluk agama Islam. Sehingga 
mereka yang beragama Islam datang. Tapi harus dibedakan dan kita harus ingat 
bahwa Islam agama Tuhan, Islam agama diperuntukkan bagi umat manusia dijagat 
raya, tidak hanya, Indonesia yang mendholimi bangsa Papua.

Lalu dimana kaitan Islam dalam mendukung pembebasan Papua oleh Muslim? Islam 
dimanapun hadir membebaskan penjajahan, perampasan, dan penindasan. Lalu adakah 
Islam Mendukung Papua Merdeka? Jawabannya 100% mendukung sebagaimana pengertian 
Islam dari "sana"-nya karena kemerdekaan adalah hak kodrati yang dijamin oleh 
Allah SWT, kepada setiap individu dan bangsa.

Tapi kalau pertanyaan ini di tanyakan adakah Muslim Mendukung Papua Merdeka? 
Jawabannya ada dan tidak. Karena jumlah penduduk Indonesia saat ini adalah yang 
terbesar dan mayoritas penduduknya beragama Islam di dunia maka penting di 
jelaskan di sini, tentang perbedaan pengertian antara Islam dan Muslim. 
Penjajahan Papua sama sekali tidak ada kaitan dengan Islam. Karena Islam dan 
Muslim berbeda walaupun berasal dari satu akar kata. Muslim sebagai kata benda 
yang berarti manusianya, sedangkan Islam sebagai kata sifat yang abstrak, 
berarti nilai. Sesuatu yang berdimensi nilai berarti juga sesuatu yang dianggap 
suci, sakral (keramat), yang berintikan ajaran-ajaran doktrin pokoknya bersifat 
transendetal.


Ismail Asso, West Papua.


      

Kirim email ke