"Sistem otonomi khusus (otsus) dinilai sebagai model pemerintahan
paling ideal dan realistis bagi sebuah negara kesatuan seperti
Indonesia. Sebab, di samping memberikan kewenangan yang lebih luas
dalam mengatur rumah tangganya, sistem ini juga menjamin unit-unit
pemerintahan daerah berjalan tanpa kehilangan esensinya. Sehingga
kekhawatiran munculnya ‘negara dalam negara’ dapat diredam."  

"Hal
itu diungkapkan oleh Prof Dr Husni Jalil SH MH dalam pidato ilmiah
pengukuhannya sebagai Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala
(Unsyiah), di hadapan Rapat Senat Terbuka yang dipimpin Rektor Unsyiah
Prof Dr Darni M Daud MA, di Gedung AAC Dayan Dawood, Unsyiah, di
Darussalam, Banda Aceh, Rabu (31/3)."

Kalau seorang Prof berpendapat bahwa Perjuangan pembebasan Acheh - Sumatra dari 
penjajahan Hindunesia, dianggap sebagai 'negara dalam negara', secara ideology 
itu bukan propessor tetapi 'budak modern'. Pikiran mereka tergantung pada 
periuk  nasinya dari system Hindunesia sebagaimana kata Wali Negara Acheh - 
Sumatra diakhir video berikut ini : http://www.youtube.com/watchv=ESahsqp5nwM.

Budak klasik mudah dikenal orang sebagaimana kita ketahui dulu orang Afrika 
ditangkap berkapal-kapal untuk diperjualbelikan ke Amerika Serikat, namun orang 
Afrika sekarang sudah sadar hingga mereka mampu memerdekakan diri dan mengenal 
persis siapa yang menindas mereka. Yang tidak banyak orang tau adalah 
budak-budak modern dimana para budak tersebut setelah menamatkan pelajarannya 
diberbagai Perguruan Tinggi Dunia, dijejalkan di bursa pelelangan. Kepada 
mereka ditawarkan dengan tawaran yang berpariasi oleh calon-calon majikan 
mereka. Sebagian para calon majikan menawarkan kepada para budak modern 
tersebut bahwa kalau mereka mau bekerja padanya akan mendapat gaji sekian. Lalu 
calon majikan lainnya menawarkan bahwa disamping gaji sekian mendapat sebuah 
rumah secara gratis. Majikan ke tiga menawarkan bahwa kalau mau bekerja 
padanya, disamping mendapat gaji yang tinggi dan rumah mewah, mendapat mobil 
luck lagi. Akhirnya para budak dengan mangut-mangut memilih
 majikannya yang bersedia memberikan yang lengkap bagi mereka. 

Mengapa mereka dikatakan budak padahal sekolahnya tinggi? Pemilik Dunia ini 
mengharapkan pada orang sekaliber mereka agar dapt membebaskan kaum dhuafa dari 
belenggu yang menimpa kuduk-kuduk mereka sebagaimana kerjanya para Rasul 
(Q.S,7:157). Namun mereka itu ternyata dapat diperbudak oleh materi sebagaimana 
pikiran propesor-propessor Acheh diatas. Bagi saya nilai professor mereka itu 
lebih rendah dari sebatang rokok Jisamsu. Padahal rokok itu makruh hukumnya, 
bukan?  Bayangkan demikian hinanya mereka itu kalau dilihat dengan kacamata 
Ideology

Angku di Meureudu




________________________________
From: Fadli Hasan <[email protected]>
To: Fadli Hasan <[email protected]>; [email protected]
Cc: [email protected]; Atjeh Lon Sajang <[email protected]>; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; JUNISHAR 
Al <[email protected]>; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; universityofwarwickofceulaka <[email protected]>; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; Ali Al Asytar 
<[email protected]>; sisinga maharaja <[email protected]>; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected];
 [email protected]; [email protected]; Yusra Habib Abd Gani Yusra 
Habib <[email protected]>; [email protected]; Niklin Jusuf 
<[email protected]>; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]
Sent: Fri, April 2, 2010 7:40:31 AM
Subject: ALHAMDULILLAH KA RAME LOM PROFESOR DI ATJEH, TAPIH SANG MEUNJOE TAJUE 
PRAKTEK PAJAH TAPIKE2 DILEI


MAKEN RAME PROFESOR DI ACEH NJAN MAKEN MEUTAMAH RAME UREUNG SOMBONG DI ATJEH. 
NJAN NJANG KA PROFESOR DUM HAN DJITEM MARIT LE NGON PEUSURUH DI KANTO ATAWA 
UREUNG GASIEN LAM GAMPONG.

LON TURI NJAN MANDUM PROFESOR NJAN. NA SIDROE NJANG KIREM EMAIL KEULON, WATEI 
LON BALAH MEU EMAIL HANA DJITUOH BATJA DAN HANA MEUPHOM WATEI TAPEUGAH HABA, 
RAP DJIEK DARAH TEUH BAK TATEURANGKAN. MANTONG LON KEUBAH EMAIL NJAN LAM EMAIL 
LON, KEU BAHAN SKRIPSI LON. HE HE HE

NJAN MEUNJOE BUET PRAKTEK SANG PAJAH TAJUE BAK "PROFESOR" NJANG DI CIPINANG.

1 April 2010, 12:07
Otsus Meredam Munculnya  ‘Negara dalam Negara’
* Unsyiah Kembali Kukuhkan 4 Guru Besar
Utama 
 
Rektor
Unsyiah, Prof Dr Darni M Daud MA (kiri), memakai gordon (selempang)
sebagai tanda pengukuhan guru besar, masing-masing kepada Prof Dr
Syamsul Rizal, Prof Dr Abubakar Hamzah SE, Prof Dr Ir Darusman, dan
Prof Dr Husni Jalil SH MH, dalam Rapat Senat Terbuka yang berlangsung
di Gedung Pusat Kegiatan Akademik Prof Dr Dayan Dawood, Unsyiah, Banda
Aceh, Rabu (31/3).SERAMBI/DOK
BANDA ACEH - Sistem otonomi khusus (otsus) dinilai sebagai model pemerintahan
paling ideal dan realistis bagi sebuah negara kesatuan seperti
Indonesia. Sebab, di samping memberikan kewenangan yang lebih luas
dalam mengatur rumah tangganya, sistem ini juga menjamin unit-unit
pemerintahan daerah berjalan tanpa kehilangan esensinya. Sehingga
kekhawatiran munculnya ‘negara dalam negara’ dapat diredam.  

Hal
itu diungkapkan oleh Prof Dr Husni Jalil SH MH dalam pidato ilmiah
pengukuhannya sebagai Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala
(Unsyiah), di hadapan Rapat Senat Terbuka yang dipimpin Rektor Unsyiah
Prof Dr Darni M Daud MA, di Gedung AAC Dayan Dawood, Unsyiah, di
Darussalam, Banda Aceh, Rabu (31/3).

Pada saat yang sama, Rektor
Darni M Daud juga mengukuhkan tiga guru besar (profesor) baru Unsyiah
lainnya, masing-masing Prof Dr Syamsul Rizal sebagai guru besar pada
Koordinatorat Kelautan dan Perikanan, Prof Dr Abubakar Hamzah SE
sebagai guru besar Fakultas Ekonomi, dan Prof Dr Ir Darusman MSc
sebagai guru besar Fakultas Pertanian. 

Husni Jalil dalam orasi
dengan judul “Otonomi Khusus Aceh dalam Negara Kesatuan Republik
Indonesia” antara lain menyimpulkan bahwa otonomi khusus untuk Aceh
sebagaimana tertuang dalam UU No.11/2006, pada satu sisi hingga saat
ini masih pada tahap menanti itikad baik Pemerintah Pusat untuk
mengeluarkan peraturan pelaksananya.  

Pada sisi lain, katanya,
saat ini terdapat sejumlah Peraturan Pemerintah (PP) dan Peraturan
Presiden (Perpres) yang dikeluarkan dalam kurun waktu 2006-2010, justru
memperlambat implementasi pemerintahan yang sudah didesentralisasikan.
“Selain itu peraturan tersebut juga telah melemahkan dalam pelaksanaan
otonomi khusus,” kata Husni Jalil. 

Husni menyebutkan, dalam
penyelenggaraan otonomi khusus di Aceh, masih terjadi tarik menarik
kepentingan antara pusat, provinsi dan kabupaten/kota. “Hal ini
terbukti bahwa pusat belum konsisten dengan aturan yang telah dibuatnya
sehingga peraturan pelansanaan UUPA belum tuntas atau terkesan
pemerintah takut kehilangan kontrol terhadap daerah,” papar guru besar
asal Laweung, Pidie itu.

Pidato pengukuhan
Para
guru besar yang dikukuhkan kali ini menyampaikan pidato pengukuhan
menurut bidang keilmuwan masing-masing. Syamsul Rizal menyampaikan
pidato pengukuhan berjudul  “Peranan Pemodelan Laut pada Pembangunan
Bidang Kelautan dan Perikanan di Indonesia”.  Dalam pidatonya Syamsul
Rizal menguraikan bagaimana kenampakan permukaan laut dapat dimodelkan
dengan bantuan komputer. Hasil pemodelan ini, baik model analitik
maupun numerik dapat membantu kita untuk mengetahui karakteristik laut.
“Berdasarkan karakteristik laut hasil pemodelan dapat diperoleh banyak
data lain  melalui pendekatan asosiatif yang berguna bagi pembangunan
kelautan dan perikanan,” tandas Syamsul Rizal.

Abubakar Hamzah
membacakan pidato ilmiah dengan judul “Kausaliti Ekspor dan Pertumbuhan
Ekonomi Indonesia (Suatu Pendekatan Ekonometrik)”. Paparan Abubakar
Hamzah dengan pendekatan statistikal bertujuan untuk melihat hubungan
antara GDP dan ekspor melalui variabel kontrol yaitu nilai tukar, gross
fixed capital formation (GFCF), impor, dan tenaga kerja. 

Hasil
kajian teoretik ini dengan menggunakan uji kointegrasi Johansen
menunjukkan bahwa variabel ekspor, GDP, impor, GFCF, dan tenaga kerja
terkointegrasi, yang berarti terdapat keseimbangan hubungan jangka
panjang antara variabel-variabel tersebut. “Hasil kajian juga
memperlihatkan bahwa impor merupakan suatu instrumen dalam percepatan
pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata Abubakar.

Darusman yang
menyampaikan pidato pengukuhan “Perubahan Iklim dan Penyesuaian
Pengelolaan Air Pertanian”  mangatakan perubahan iklim yang terjadi
dewasa ini disebabkan oleh pemanasan global (global warming). Pemanasan
global itu sendiri dikarenakan konsentrasi gas rumah kaca yang semakin
meningkat di atmosfir.

“Dampak pemanasan global terhadap
kehidupan manusia demikian besar, sehingga manusia perlu menyikapinya
dengan berbagai tindakan antisipatif dengan tindakan adaptif, termasuk
bagaimana melakukan penyesuaian dalam pengelolaan air untuk pertanian,”
ujar Darusman. 

Praktik degradatif
Sebelumnya,
Rektor Unsyiah Darni M Daud dalam sambutannya mengatakan pada jabatan
guru besar melekat kehormatan dan tanggung jawab yang besar. Karena
itu, seorang dosen yang telah menduduki jabatan ini sejatinya terus
meningkatkan kualitas dan kapasitas keilmuwan serta integritas sehingga
terhindar dari praktik degradatif jabatan.

“Maraknya plagiarisme
di kalangan akademisi yang sempat menjadi isu nasional akhir-akhir ini
harus menjadi musuh utama para guru besar. Sebaliknya, nilai
otentikatif setiap karya harus menjadi `darah daging’ para guru besar,”
katanya mengingatkan. Dia sebutkan, Unsyiah terus berupaya meningkatan
kuantitas dan kualitas guru besar guna mendongkrak pamor Unsyiah, baik
pada tataran lokal, nasional, internasional, dan global. “Kita juga
semakin memfokuskan pada pengembangan tenaga pengajar yang mampu
berpikir dan bertindak inter cultural dan territorial,” ujarnya.

Darni
juga mengatakan, saat ini Unsyiah telah memiliki 37 guru besar aktif
dengan jumlah dosen 1.527 orang. Ia juga mengajak semua sivitas
akademika untuk meningkatkan kerja sama membangun Unsyiah. “Jika
menjelang pemilihan calon rektor periode 2010-2014 pada 25 Maret lalu
sempat menimbulkan faksi pendukung masing-masing kandidat, maka begitu
usai pemilihan kita harus kembali bersatu,” imbaunya.(sar)    
 
__________________________________________________
Bruger du Yahoo!?
Er du træt af spam?  Yahoo!Mail har den bedste spambeskyttelse, der findes 
http://dk.mail.yahoo.com 


      

Kirim email ke