http://www.surya.co.id/2010/04/01/kapolda-sesalkan-travel-warning-ke-aceh.html
Kapolda Sesalkan Travel Warning ke Aceh Kamis, 1 April 2010 | 12:28 WIB Banda Aceh - SURYA- Kapolda Aceh Irjen Pol Adityawarman menyerahkan bantuan secara simbolis kepada geuchik dari empat desa yang terkena imbas dan ikut membantu penumpasan teroris di Desa Meunasah Tunong, Seulimuem, Aceh Besar, Rabu (31/3). SERAMBI/BUDI FATRIA BANDA ACEH - Meski tidak berdampak secara signifikan terhadap jumlah kunjungan warga asing ke Aceh, namun peringatan perjalanan (travel warning) yang dikeluarkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Pemerintah Australia beberapa waktu lalu, dinilai berdampak negatif terhadap citra Aceh di mata masyarakat nasional dan internasional. Kapolda Aceh, Irjen Pol Adityawarman pun menyatakan penyesalannya terhadap kebijakan tersebut. "Itu yang sangat saya sesalkan. Kok tiba-tiba mengambil langkah begitu. Seakan-akan kejadian dilakukan kelompok radikal tersebut oleh orang-orang di sini. Padahal dibawa kelompok lain dari luar Aceh," ujar Kapolda, menjawab wartawan usai menghadiri bakti sosial dalam rangka "Ranub Rencong 2010" di Desa Meunasah Tunong, Kemukiman Lamkabeu, Aceh Besar, Rabu (31/3). Menurut Kapolda, karena latihan senjata api dilakukan oleh kelompok radikal dari luar Aceh, maka kelompok yang terindikasi sekitar 50 orang itu hampir habis dimusnahkan di Aceh. Mengenai kondisi Aceh pasca-MoU Helsinky, 15 Agustus 2005, Kapolda menyatakan daerah yang pernah cukup lama dilanda konflik bersenjata ini, kini sudah relatif aman. "Jika melihat kondisi daerah, masyarakat Aceh, serta berbagai aspek lainnya di Aceh saat ini, belum tepat travel warning itu dikeluarkan di Aceh. Kami akan memberi penjelasan kepada pihak-pihak yang sudah terlanjur mengeluarkan travel warning ini," jelas Kapolda. Seperti diberitakan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan peringatan sementara, larangan terhadap para staf asing berkunjung ke Provinsi Aceh. Tindakan ini diambil dengan alasan makin maraknya razia polisi untuk menumpas teroris di wilayah tersebut. "Larangan perjalanan (travel warning) itu tidak berlaku bagi staf Indonesia dan para staf PBB yang berada di Aceh tetap di tempat sampai situasi kembali stabil," jelas jubir PBB, Michele Zaccheo kepada wartawan The Associated Press (AP) melalui telepon, Sabtu (20/3) lalu. Sepekan setelahnya, giliran Pemerintah Australia mengeluarkan travel warning kepada warganya untuk bepergian ke Provinsi Aceh. Seperti dilansir news.com.au, travel warning dikeluarkan Departemen Luar Negeri Australia, Sabtu (27/3) karena Aceh dianggap tidak aman lantaran banyaknya teroris yang ditangkap. Sehari sebelumnya, Jumat (26/3), pihak Imigrasi Banda Aceh menyatakan, travel warning yang dikeluarkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tidak berdampak signifikan terhadap kunjungan warga asing ke daerah bekas konflik yang sedang dilanda isu terorisme ini. "Buktinya arus ke luar- masuk turis atau warga asing berjalan normal, malah terjadi peningkatan dalam satu pekan terakhir," ungkap Kepala Imigrasi Banda Aceh, Wilmar Sayuti menjawab Serambi, Jumat (26/3) lalu.sal/serambi Indonesia
