Tue, Aug 3rd 2010, 15:40
Hasan Tiro “Lahir” Kembali
Kutaraja 
 

Buku Hasan Tiro “Hasan Tiro; the Unfinished Story of Aceh”. SERAMBI/BUDI FATRIA
KAMIS 3 Juni 2010, Tgk Hasan Muhammad Ditiro (Hasan Tiro), meninggal dunia di 
usia 86 tahun. Seluruh masyarakat Aceh berkabung. Seorang tokoh besar yang juga 
kunci lahirnya perdamaian di Aceh, pergi untuk selama-lamanya. Banyak pesan dan 
sejarah yang ditinggalkan Deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini, meski 
pesan-pesan dan sejarah itu tak sempat tertulis dengan rapi.

Menyadari akan banyaknya pesan dan sejarah yang ditinggalkan Hasan Tiro, yang 
patut untuk diceritakan kembali kepada generasi penerus bangsa, sejumlah 
penulis mencoba “melahirkan” kembali perjalanan hidup dan sosok Tgk Hasan Tiro, 
dalam tulisan. Tulisan-tulisan itu kemudian dibingkai dan disajikan dalam buku 
berjudul “Hasan Tiro; the Unfinished Story of Aceh”.

Minggu tanggal 1 Agustus 2010, tepat pada 60 hari meninggalnya Tgk Hasan Tiro, 
BANDAR Publishing (BP) Banda Aceh meluncurkan buku yang ditulis oleh 44 penulis 
dengan latar belakang suku, agama, dan bangsa yang berbeda. Buku itu 
diluncurkan untuk mengenang Hasan Tiro, sekaligus merekam jejak peradaban Aceh.

Banyak sisi menarik dan mengandung nilai-nilai sosial yang tersurat dalam buku 
setebal 308 halaman itu. Para penulis melepaskan semua atribut yang melekat 
pada dirinya, lalu melihat dan menulis sosok Tgk Hasan Tiro sebagai seorang 
yang berpengaruh dan telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, 
khususnya masyarakat Aceh.

“Coretan-coretan” dalam buku ini memang mayoritas ditulis oleh mereka yang 
berdarah Aceh, dari berbagai kalangan. Namun, tak sedikit penulis yang berasal 
dari luar Aceh seperti Sumatera Utara, Jakarta, Bandung, Jawa. Bahkan, juga 
ditulis oleh warga negara asing seperti Lilianne Fan dan Prof James P Siegel.

Ada yang melihat Hasan Tiro sebagai seorang pemikir yang kritis dan pejuang 
yang tangguh, ada pula yang menceritakan pengalaman saat bertemu Sang Wali. Ada 
yang menyematkan Hasan Tiro sebagai figur jati diri Aceh, pembangkit sejarah 
yang disembunyikan, juga ada yang menggambarkan kembali masa-masa yang dilalui 
Hasan Tiro, dalam buku yang disunting oleh Husaini Nurdin.

“Kami sadar bahwa sedikit sekali yang kita ketahui tentang sosok Wali (Tgk 
Hasan Tiro-red). Karena itu, kami mencoba mengajak teman-teman yang punya 
referensi tentang Wali, untuk menulisnya menjadi sebuah buku. Kami berharap, 
buku ini dapat bermanfaat bagi masyarakat,” kata Direktur BANDAR Publishing, 
Mukhlisuddin Ilyas, usia seremoni peluncuran buku tersebut.

Mukhlis didampingi Manajer BP, Lukman Emha, mengatakan peluncuran buku “Hasan 
Tiro” sama sekali tidak mengandung unsur politis. Buku itu hanya untuk 
melukiskan peradaban Aceh, baik ataupun buruk. Mukhlis dan Lukman menganggap, 
sejarah Hasan Tiro perlu dicatat dan direkam dengan baik.

“Selama ini, orang tua kita sering mewariskan sejarah dengan hanya bercerita 
dan jarang sekali ditulis dalam bentuk buku atau catatan. Ini pula yang 
menyebabkan sering kali sejarah Aceh hanya dianggap sebagai mitos belaka. Kami 
tidak ingin sejarah dan peradaban Aceh hilang begitu saja,” papar Lukman Emha.

Mukhlis dan Lukman berharap, dengan peluncuran buku tersebut tidak ada 
kriminalisasi terhadap BANDAR Publishing yang didirikan pada 2007 lalu. 
Pasalnya, Mukhlis dan Lukman serta semua yang terlibat dalam pelncuran buku itu 
mengaku “mencium” riak-riak ke arah itu.

“Kami sama sekali tidak berniat mencari keuntungan melalui peluncuran buku ini. 
Kami hanya bertekad untuk merekam sejarah dan peradaban Aceh, seperti Hasan 
Tiro pula yang telah menulis sejarah-sejarah Aceh dalam puluhan bukunya,” 
pungkas Lukman Emha.(safriadi syahbuddin)
 
 
Tgk Hasan di Tiro: Awaknjan mandum ka pungo ! Kadjitém seumah dan teurimong 
peurintah bak djawa ! 
http://www.youtube.com/watch?v=9kFTIbL48Og





 
Tengku Hasan di Tiro: "Ureuëng2 lagèë  lôn siribèë go leubèh got maté nibak 
didjadjah lé djawa !http://www.youtube.com/watch?v=oqJYGoF0SMQ 
 Tgk Hasan di Tiro: Lumo djawa (jawa) dum di Atjèh (Aceh) ! 
http://www.youtube.com/watch?v=H7wcl7m8xp8&feature=related 
Tgk Hasan di Tiro: Ureuëng Atjèh Kahabéh Gadoh Karakter ! 
http://www.youtube.com/watch?v=H8mbiUwHpIY&feature=related 
Tgk Hasan di Tiro: Peuë (Puë) peunjakét Bangsa Atjèh uroë njoë ? 
http://www.youtube.com/watch?v=sbJsJtdDFE8 
Tgk Hasan di Tiro: Gubernur, Bupati, Camat dst nakeuh geupeunan Lhoh 
(Pengkhianat)! 
http://www.youtube.com/watch?v=oqJYGoF0SMQ&feature=related 
Tgk Hasan di Tiro: "Ureuëng njang paléng bahaja keu geutajoe nakeuh - djawa 
keumah djipeugot urg atjèh seutotdjih nibak seutot geutanjoe. Mantong na urg 
atjèh njang tém djeuët keu kulidjih, keu sidadudjih, keu gubernurdjih, keu 
bupatidjih, keu tjamatdjih, dll. Mantong na biëk droëteuh njang djak djôk dan 
peusah nanggroe atjèh keu djawa!" 
http://www.youtube.com/watch?v=Gbjb04wKWow&feature=related 
MoU Helsinki is worse than Special Autonomy !
MoU Helsinki njan leubèh brôk nibak Otonomi Khusus !
http://www.youtube.com/watch?v=HXyH-o4Ab84&feature=related
DRAMA SEUDJARAH ATJÈH. Act-5. Scene-3. Peumandangan lam kèm Tjut Njak Dien (1) 
http://www.youtube.com/watch?v=2p-hnVyXO1A
 
http://www.freeacheh.info/B/ "Sesungguhnya jika sebagian di antara kita yang 
dewasa ini bermegah dengan kedudukan dan kekayaan yang mereka dapatkan dari 
menghambakan diri kepada penjajah, adalah pribadi-pribadi yang meracuni dan 
melecehkan ideologi Acheh Merdeka yang beliau lahirkan, dan kepada mereka masa 
kehancuran akan datang yang membuat mereka lebih nista daripada kaum penjajah."




      

Kirim email ke