Wed, Aug 4th 2010, 08:56
Misteri ‘Tas Hitam’ Wali
Munawardi Ismail - Opini 
MENGULAS sosok yang satu ini, kita seperti tak kehabisan kata mengulitinya. 
Fenomena yang terekam dari kehidupannya bak selimut di puncak gunung Seulawah. 
Membahas ide-idenya juga tak cukup satu meja, apalagi kalau cuma sekadar meja 
bundar. Begitulah dia hidup dalam imaji rakyat Aceh. Meski jasadnya sudah 
tiada, tapi ‘nafas’nya seakan masih terasa.

Begitulah Teungku Hasan Muhammad di Tiro hidup. Siapa tokoh ini, saya pikir tak 
usah lagi kita ulas lebih detil. Apalagi tokoh yang disapa Wali itu sudah 62 
hari pergi. Bicara figur militan itu, saya yakin semua orang sudah memahami, 
kecuali kalau ada yang tak mau tahu. Yang paling diketahui banyak orang sudah 
pasti, dia tokoh pemberontak, penggagas sebuah gerakan perlawanan dan ungkapan 
lain. Akan tetapi, di balik semua itu, nyaris tak banyak orang ‘mengenal’ 
wataknya yang keras, disiplin, telaten, dan sarat wibawa.

Semua pujian, saya yakin selalu mengalir ke sosok pria kelahiran Tanjong 
Bungong, 25 September 1925 itu. Sebagai penulis, Hasan Tiro adalah contoh yang 
patut ditiru. Catatannya terdata rapi, gagasan dan idenya menjulang awan. 
Ketika orang lain baru berpikir, dia malah sudah berbuat, secara tersirat 
mungkin ini bisa kita lihat dari karyanya yang berjudul ‘Demokrasi Untuk 
Indonesia’.

Dus, kekaguman pengikutnya, bukan pula pada unsur karena Hasan terlahir dari 
trah Tiro; klan pejuang yang membuat penjajah merinding. Tapi ada sisi 
lain-mungkin--yang abai dipahami, pengikut, simpatisan dan orang-orang dekat. 
Itulah yang menambah kemisterian sampai menembus batas imaji.

Hasan Tiro adalah sosok yang sangat rapi dalam pendokumentasian. Bayangkan 
saja, ketika masih bergerilya pun dia mampu membuat catatan berupa stensilan, 
meski belum selesai. Namanya, “The Price of Freedom; The Unfinished Diary of 
Teungku Hasan di Tiro”. Buku setebal 238 halaman terbit di London pada 1981.

Beranjak dari situ bukan mustahil, sejak dia cabut dari Aceh pada 29 Maret 
1979, cukup banyak tulisan dan arsip-arsip yang disimpan rapi. Mungkin saja 
sudah ada yang hendak dia bukukan, tapi belum sampai, sama seperti cita-cita 
yang membentur damai. Atau bahkan ada catatan hariannya yang lain, tapi di 
mana? Sayangnya, sampai ayah Karim Tiro itu mengembuskan nafas terakhir, kita 
tidak tahu bagaimana nasib kertas-kertas usang itu.  

Berangkat dari rasa ingin tahu yang menyergap, tak ada salahnya kita juga 
melacak posisi dokumen yang dimaksud, dengan harapan ini bagian bukti sejarah 
tokoh besar Aceh abad 20. Sebab kita tahu, Hasan Tiro itu pelaku sejarah dan 
mungkin saja bisa kita sebut pencatat sejarah; minimal sejarah perjuangannya 
yang belum kelar. 

Belum tersingkap
Kekuatan tabir misteri itu, kian utuh setelah kepergiannya. Sebab banyak tanya 
belum terungkap. Di antaranya, kenapa orang bisa takzim di depannya, meski 
sebelum itu sudah pasang aksi sedikit wibawa. Kenapa namanya agung dan 
disanjung ribuan pengikut. Atau karena aura yang melingkupi tokoh legendaris 
ini amat kuat. Sayang, belum satu pun tersingkap.

Sama seperti belum tersibaknya, apa saja isi ‘tas hitam’ yang acap ditunjukkan 
Wali pada setiap tamu yang bertandang ke kamar 0075 Apartemen Alby Blok 11 
Norsborg, Stockholm, Swedia. Kata sejumlah penulis yang sudah bersua langsung 
di kediamannya, Wali menyimpan dengan rapi setiap dokumen tentang Aceh, 
termasuk kliping koran.  

Sejumlah sumber lain ikut berkisah, Wali juga masih menyimpan dengan aman 
sebuah mesin ketik tua, foto kakek dan foto cantik sang istri saat muda serta 
gambar anak tunggal mereka. Tentu semua dokumen-dokumen itu masih tersimpan di 
dinding kamar dan almari rumah pria necis yang selalu berdasi dengan jas rapi.

Salah satu yang patut dicermati adalah, isi ‘tas hitam’ Wali. Boleh jadi, ‘tas 
hitam’ ini akan menyibak misteri siapa Wali berikutnya yang direkomendir Hasan 
Tiro. Bila pun tidak, bisa pula bahwa hanya dirinya Wali terakhir. Setelah 
dimangkat--kecuali keturunannya--maka yang lain belum berhak. Ini juga belum 
ada peunutoh. Dan banyak arsip-arsip lain soal Aceh yang sedikitnya bisa 
memberi pencerahan kepada masyarakat.

Belajar dari kasus lampau juga, ketika S.M. Kartosuwiryo yang berhasrat 
mendirikan Negara Islam Indonesia di Jawa Barat. Saat Kartosuwiryo mangkat, 
muncul kabar, yang mengklaim dirinyalah pemegang mandat untuk melanjutkan 
perjuangannya. Sama seperti halnya Hasan tiro, apakah tongkat estafet gerakan 
perjuangan yang dicetusnya sudah ada ‘diwariskan’? Kepada siapa, Karim Tiro 
atau yang lain? Ini belum terjawab. Lalu, betapa urgensinya “black bag” itu? 
Saya pikir ini sama mahalnya dengan “black box” milik pesawat terbang. Untuk 
mendapat jawaban kenapa `burung besi’ naas, cuma dengan menemukan kotak hitam 
itu, baru misteri tersingkap. Sebenarnya tak jauh beda pula dengan “black bag 
Wali.

Namanya memang hitam, tapi sebenarnya kotak yang dimaksud itu berwarna jingga 
atau oranye. Begitu juga dengan ‘tas hitam’ Wali, warnanya tidak hitam, tapi 
coklat tua. Dan ada seperti tas komputer jinjing. Penting “black bag” itu 
dibuka guna menjawab kemisteriusan yang melilit selama ini. Salah satunya, 
kenapa tidak sembarang orang bisa menjumpainya? Termasuk kabar kematiannya, 
bagaimana dia menanggapi serta tanggapan dia terhadap tentara-tentaranya yang 
terus berperang sebelum damai datang. Banyak yang yakin “black bag” itu 
menyimpan banyak catatan peristiwa perjalanan hidupnya. Termasuk yang kita 
terka-terka tadi.

Pada sisi lain, pendukung dan simpatisan fanatiknya pun, tidak terus dihinggapi 
rasa itu dan ini “Peunutoh” Wali. Jika yang bersangkutan masih hidup, tentu 
“peunutoh” masih berlaku. Tapi ketika dia sudah mangkat, tentu akan akan ada 
yang namanya “wasiet” Wali. Dari mana orang tahu bahwa itu “peunutoh” atau 
“wasiet” wali? Sekali lagi sulit menjawabnya. Tapi dengan membuka `tas hitam’ 
dengan segala makna, paling tidak kita bisa mencerna mana saja pusakanya. 
Memang, membuka `tas hitam’ tak segampang membaca kotak hitam.

Kendati, isi yang kita lihat dan terima tak sesuai harapan, itu bukan problem. 
Yang penting, informasinya berguna bagi Aceh dan dunia. Seperti bergunanya 
cinta di mata bening Dora bagi Hasan Tiro yang fotonya menghias dinding rumah. 
Dengan cintanya pula, Hasan Tiro menduniakan Aceh. Pun begitu, kita berharap 
isi ‘tas hitam’ tersebut bisa pula terdokumentai dengan rapi. Seperti kompilasi 
tulisan soal Wali dalam buku “Hasan Tiro, The Unfinished Story of Aceh” yang 
diluncurkan Minggu 1 Agustus lalu. Dalam diskusi pada peluncuran tersebut juga 
mencuat soal ‘tas hitam’ Wali. 

Kita tunggu opisode Wali yang lain. Syukur, jika topiknya isi ‘tas hitam’ serta 
pemikiran yang belum diketahui khalayak dari tokoh yang dikultuskan 
pengikutnya. Dengan harapan semoga ‘tas hitam’ itu membuka tabir misteri yang 
selama ini sedikit sumir.

* Penulis adalah jurnalis di Banda Aceh. 


Tgk Hasan di Tiro: Awaknjan mandum ka pungo ! Kadjitém seumah dan teurimong 
peurintah bak djawa ! 
http://www.youtube.com/watch?v=9kFTIbL48Og





 
Tengku Hasan di Tiro: "Ureuëng2 lagèë  lôn siribèë go leubèh got maté nibak 
didjadjah lé djawa !http://www.youtube.com/watch?v=oqJYGoF0SMQ 
 Tgk Hasan di Tiro: Lumo djawa (jawa) dum di Atjèh (Aceh) ! 
http://www.youtube.com/watch?v=H7wcl7m8xp8&feature=related 
Tgk Hasan di Tiro: Ureuëng Atjèh Kahabéh Gadoh Karakter ! 
http://www.youtube.com/watch?v=H8mbiUwHpIY&feature=related 
Tgk Hasan di Tiro: Peuë (Puë) peunjakét Bangsa Atjèh uroë njoë ? 
http://www.youtube.com/watch?v=sbJsJtdDFE8 
Tgk Hasan di Tiro: Gubernur, Bupati, Camat dst nakeuh geupeunan Lhoh 
(Pengkhianat)! 
http://www.youtube.com/watch?v=oqJYGoF0SMQ&feature=related 
Tgk Hasan di Tiro: "Ureuëng njang paléng bahaja keu geutajoe nakeuh - djawa 
keumah djipeugot urg atjèh seutotdjih nibak seutot geutanjoe. Mantong na urg 
atjèh njang tém djeuët keu kulidjih, keu sidadudjih, keu gubernurdjih, keu 
bupatidjih, keu tjamatdjih, dll. Mantong na biëk droëteuh njang djak djôk dan 
peusah nanggroe atjèh keu djawa!" 
http://www.youtube.com/watch?v=Gbjb04wKWow&feature=related 
MoU Helsinki is worse than Special Autonomy !
MoU Helsinki njan leubèh brôk nibak Otonomi Khusus !
http://www.youtube.com/watch?v=HXyH-o4Ab84&feature=related
DRAMA SEUDJARAH ATJÈH. Act-5. Scene-3. Peumandangan lam kèm Tjut Njak Dien (1) 
http://www.youtube.com/watch?v=2p-hnVyXO1A
 
http://www.freeacheh.info/B/ "Sesungguhnya jika sebagian di antara kita yang 
dewasa ini bermegah dengan kedudukan dan kekayaan yang mereka dapatkan dari 
menghambakan diri kepada penjajah, adalah pribadi-pribadi yang meracuni dan 
melecehkan ideologi Acheh Merdeka yang beliau lahirkan, dan kepada mereka masa 
kehancuran akan datang yang membuat mereka lebih nista daripada kaum penjajah."




      

Kirim email ke