--- In [EMAIL PROTECTED], Indra Purnama <[EMAIL PROTECTED]> wrote:


Catatan Harian Aceh (Bagian 1) 
Ke Aceh! Ke Aceh!
Oleh Bondan Winarno 

SAYA merutuki diri sendiri. Masih kekenyangan dari sisa-sisa kalkun
panggang natalan, saya berselonjor di kursi malas. Televisi masih
terus berpindah-pindah dari tayangan CNN ke Metro TV dan SCTV. Mayat
lagi! Mayat lagi! Mayat bergelimpangan di mana-mana. Dan saya masih di
rumah, di Bukit Sentul, tak melakukan apa-apa. 

Saya menelepon Garuda, minta satu kursi untuk penerbangan ke Medan
segera. Hari itu sudah tak ada kursi. Bahrul Hakim, Direktur Niaga
Garuda Indonesia, memberitahukan situasi chaotic di Bandara Polonia
hari itu. Departemen Perhubungan membuka bandara untuk semua pesawat
yang masuk membawa bantuan. Anggota Komunitas Jalansutra, Captain
Gatot Purwoko, memberitahu bahwa pesawat Airfast ke Banda Aceh
terpaksa dialihkan rutenya ke Pekanbaru untuk penambahan bahan bakar. 

Maklum, sampai saat itu sudah tercatat tambahan beberapa pesawat
terbang bantuan luar negeri untuk menolong korban Aceh. Semuanya
beroperasi dari Medan untuk melakukan airlift ke beberapa titik di
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Australia mengirim empat Hercules,
Selandia Baru mengirim satu Hercules, Singapura mengirim dua
helikopter Chinook yang masing-masing mampu membawa barang seberat
delapan ton, Malaysia memperbantukan dua helikopter Puma dan sebuah
pesawat CN 235, di samping TNI AU yang mengoperasikan lima Hercules
dan dua helikopter Puma. Belum terhitung pesawat TNI-AL dan Polri,
serta pesawat-pesawat carter yang dikerahkan ke sana. 

Tiba-tiba saya teringat seorang anggota Komunitas Jalansutra, Linda
Widjaja, Direktur V-Kool Indonesia. Kemarin ia mengatakan, bersama
suaminya, Dharma Eddie Salim, mereka melakukan fund drive dari pemakai
kaca film V-Kool. 

Untuk setiap sumbangan sebesar Rp 25 ribu, V-Kool memberi matching
fund dalam jumlah yang sama. Diperkirakan akan terkumpul dana yang
cukup signifikan dari "proyek" itu. 

"Dananya mau dikirim ke mana?" tanya Linda via SMS minta pendapat.
Pertanyaan itu membuat saya serta-merta berpikir untuk "membawa" dana
ke Aceh dan membuat dana itu langsung diterima manfaatnya oleh
masyarakat yang tertimpa bencana. 

Saya mengirim e-mail menyampaikan usul bahwa saya akan segera terbang
ke Medan dengan biaya pribadi, dan mencoba mengumpulkan relawan untuk
membantu penguburan jenazah di Aceh. "Operasi Kemanusiaan" itu akan
dibiayai oleh dana V-Kool yang terkumpul. Linda dan Eddie langsung
menyepakati gagasan saya. 

Kamis, 30 Desember 

Busur pelangi begitu indahnya mewarnai langit Cengkareng ketika fajar
itu saya tiba di sana. Ah, mudah-mudahan itu pertanda bagus. Tadi
malam Garuda memberitahu, ada satu seat untuk ke Medan pada
penerbangan pukul tujuh pagi itu ke Medan. 

Saya segera masuk ke pesawat yang menuju Banda Aceh lewat Medan.
Tetapi, tiba-tiba saya dipanggil turun dari pesawat, karena ternyata
pesawat itu tidak lewat Medan, melainkan refuel stop di Batam.
Penerbangan ke Medan berikutnya ditunda satu jam. Setelah masuk
pesawat, kami masih harus menunggu lagi, karena ternyata belum ada
slot untuk mendarat di Medan. Pukul 10.50 pesawat push back, dan
mendarat di Polonia, Medan pukul 12.50. 

Corrie, staf Sejahtera Ban, agen V-Kool di Medan, menjemput di
bandara. Saya langsung gembira melihat penampilan tom-boy Corrie.
Biasanya, orang seperti itu bisa diandalkan kerjanya. 

Kami langsung meninjau Posko Satkorlaknas di Hanggar TNI-AU Polonia.
Saya terharu melihat begitu banyak mobil masyarakat yang datang
membawa bantuan. Di dalam hanggar, saya terhenyak melihat bantuan
menumpuk hingga amat tinggi. Tercampur-baur, nyaris tak keruan. 

Dua remaja membawa dua karung plastik pakaian layak pakai, oleh
petugas disuruh menimbun ke tumpukan di sana. Seorang ibu membawa enam
kotak mi instan. "Tolong, Bu, lempar saja ke sana," kata petugas. Si
ibu bingung. Petugas mengambil sekotak mi, lalu melemparkan kotak itu
ke tumpukan mi instan. Begitulah contohnya. Maka, si ibu dengan berat
hati melemparkan lima kotak mi ke sana. 

Saya tinggalkan tempat itu. Saya pikir, akan sulit mendapat koordinasi
dari kondisi yang selintas tampak chaotic itu. Tampak pula kesan,
semua orang sudah kelelahan dan sulit berfokus pada misi yang sedang
mereka jalankan. Menerima begitu banyak sumbangan ternyata malah
menimbulkan kerepotan tersendiri. Mereka terlalu repot menerima,
sehingga mungkin kurang sempat berpikir bagaimana caranya mengirim.
Tumpukan di hanggar itu terus menggunung. 

Dari sana kami menuju ke Posko USU (Universitas Sumatera Utara). Di
halaman, kami melihat dua truk sedang dimuati barang, siap
diberangkatkan ke Banda Aceh. Rektor USU Prof Faiz dan Dekan Fakultas
Kedokteran Dr Bahri menyambut kami, sambil menjelaskan langkah-langkah
yang sudah dan akan dijalankan. 

Dari pandangan sekilas, saya melihat Posko USU itu jauh lebih
terorganisasi dibanding Posko Nasional di Polonia. Dr Lomo, dr Gontar,
dan beberapa dokter lain tampak in charge "menguasai" keadaan di Posko
itu. Karena saya teman baik dokter Mulia Sitepu yang juga sobat
mereka, tak sulit bagi saya memperoleh kerja sama. Kami menyepakati
program membangun dapur umum di beberapa lokasi bencana yang akan
segera dilaksanakan. 

Di layar ponsel saya melihat Linda Widjaja mengirim SMS mengabarkan
bahwa Satgas Muhammadiyah siap dikirim ke berbagai lokasi bencana
untuk memberi bantuan. Saya segera mencari alamat Pengurus Wilayah
Muhammadiyah di Medan. Untunglah nomor teleponnya dapat segera saya
peroleh dari 108. Di kantor itu saya bertemu dengan Dr Bahdin
Nurtandjung, Rektor UMSU (Universitas Sumatera Utara). Tanpa bicara
panjang lebar, ia sepakat menyiapkan seratus relawan untuk berangkat.
"Jemput kami besok sore. Saya jamin siap!" katanya tegas. 

Di kantor Sejahtera Ban di Medan, saya berkoordinasi dengan Yendy Yan,
pemilik usaha itu. Yendy akan segera mencarter tiga bus dan satu truk
untuk mengangkut relawan. Di atas dua lembar kertas besar, saya
mencatat semua logistik yang harus segera dibeli. Masker penutup mulut
dan hidung, sarung tangan karet, tablet antimalaria Fansidar dan
vitamin Redoxon untuk relawan. Tak ketinggalan perlengkapan masak,
makan, dan tidur untuk relawan. Lebih dari seratus items belanjaan
kami agar bisa mandiri selama melakukan tugas. Yendy menugasi Corrie,
Rudy, dan Salam untuk melaksanakan pekerjaan besar itu. 

Tanpa makan malam, saya berkunjung ke kantor PMI Sumut dan menemui
ketuanya, Kasim Siyo, yang sekalipun kelelahan, masih berada di
kantor. Ia langsung berkomentar negatif mendengar rencana saya membawa
relawan ke Banda Aceh. "Maaf untuk mengatakan ini," katanya agak
keras. "Banda Aceh dan Lhokseumawe sudah kenyang dengan bantuan.
Meulaboh yang lebih memerlukan!" 

Kasim memberi saya nomor telepon selular Letkol Alex Katung, Danlanal
Sibolga. Sekalipun sudah malam, ia ternyata masih menerima panggilan
telepon saya. Menurut Alex, Lanal Sibolga siap membantu pengiriman
personel relawan ke Meulaboh bila kami siap di sana Sabtu pagi. Hebat,
kabar bagus! Saya terbakar dengan semangat baru, karena ternyata kami
bisa berangkat ke Meulaboh, daerah bencana yang masih tertutup karena
isolasi transportasi. 

Kembali ke penginapan malam itu, saya melihat pasukan tentara AS yang
baru tiba dari Jepang untuk membantu korban bencana. Di sudut yang
lain, terlihat beberapa penerbang militer Singapura sedang check in.
Ah, untunglah saya tidak sedang berlena-lena di Jakarta, ketika
orang-orang berdatangan dari segenap penjuru dunia membantu Indonesia. 

(Bersambung)




[Non-text portions of this message have been removed]



"The Site for Fellow Pacifists". Daftar buku Karl May lengkap bisa
Anda lihat di http://indokarlmay.com situs "Nugget Store" . Untuk
pesan buku hubungi: [EMAIL PROTECTED] Silakan dengar dan lihat data dan foto 
menarik  di  "Files" dan  "Photos". Silakan buka melalui
Yahoogroups.com.  Foto kegiatan PKMI, peta perjalanan Karl May dan
foto unik lainnya termasuk wajah para anggota dan penyumbang data atau
artikel bisa  dilihat di http://y42.photos.yahoo.com/pkmialbum .
alamat e-mail indokarlmay:

   Mengirimkan artikel/opini        : [EMAIL PROTECTED]
   Mendaftarkan diri                :
[EMAIL PROTECTED]
   Mengundurkan diri sementara      : [EMAIL PROTECTED]
   Kembali aktif                    : [EMAIL PROTECTED]
   Mengundurkan diri selamanya      :
[EMAIL PROTECTED]
   Kontak Admin                     : [EMAIL PROTECTED]





---------------------------------
Yahoo! Groups Links


   To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/indokarlmay/
  
   To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
  
   Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 




[Non-text portions of this message have been removed]
--- End forwarded message ---






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/i8TXDC/5WnJAA/HwKMAA/igXolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

_________________________________________________________________________
Mhs/Masy. indoindia diharapkan untuk selalu melihat diskusi harian di 
http://www.ppi-india.da.ru dan situs resmi PPI http://www.ppi-india.uni.cc  
==========================================================================
Catatan penting:
1- Harap tdk. memposting berita, kecuali yg  berkenaan dg 
masyarakat/mahasiswa/alumni India
2- Arsip milis: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india ; 
3- HP Ketua PPI (Jusman): 09810646659 ; Sekjen PPI(Mukhlis): 09897407326
4- KBRI Delhi(11)26110693;26118642; 26118647
5- KJRI Mumbai (022)3868678;3800940;3891255  
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppi-india/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke