--- In [EMAIL PROTECTED], Indra Purnama <[EMAIL PROTECTED]> wrote:




Catatan Harian Aceh (Bagian 2) 
Membuka Isolasi Meulaboh
Oleh Bondan Winarno 

SAYA tekan keinginan untuk sarapan bihun bebek Kumango, dan langsung
menuju ke Posko Nasional di Polonia. Sesuai dengan saran Letkol Alex
Katung semalam, saya harus memperoleh persetujuan dari Lantamal I yang
punya satgas di Posko Nasional untuk ikut naik kapal dari Sibolga ke
Meulaboh. 

Helikopter Chinook dari AU Singapura sedang siap bertolak. Beberapa
pesawat lain turun-naik dalam jarak yang rapat. Relawan dari RRCina
dengan seragam jingga siap diberangkatkan dengan pesawat. 

Pukul 08.30, Brigjen (Mar) Halim, Komandan Lantamal I di Belawan, tiba
di Posko. Saya langsung menemuinya. Brigjen Halim dengan cepat membuat
keputusan. "Bagus. Tetapi, Anda tidak perlu berangkat dari Sibolga.
Nanti sore ada KRI Teluk Peleng berangkat dari Belawan berangkat
menuju Meulaboh. Naik itu saja!" (KRI Teluk Peleng jenis LST -landing
ship tank - dibuat di Jerman Timur pada tahun 1972, dan dioperasikan
oleh TNI AL sejak 1993 setelah kapal ini menjalani peremajaan dan
pemodernan). 

Things got better! Saya kembali ke kantor Sejahtera Ban untuk memantau
perlengkapan yang dibeli. Beberapa karyawan di situ yang ikut melihat
daftar perlengkapan, ternyata memberikan berbagai saran positif.
Alhasil, kami putuskan untuk menambah lagi jenis dan jumlah barang
yang dibeli. Dari sana saya ke Posko Nasional untuk meminjam empat
tenda peleton dari Departemen Sosial yang akan kami pakai di Meulaboh. 

Pukul lima sore, setelah upacara singkat di kantor PW Muhammadiyah,
kami be-rangkat ke Belawan dengan tiga bus. Sampai di Belawan kami
disambut dengan "upacara" yang mengejutkan. Maklum, ini adalah
instalasi militer. Kami semua harus membuat fotokopi kartu penduduk,
mengisi formulir, dan menjalani screening cepat. Prosedur itu tentu
makan waktu yang tidak sedikit. Saya mulai "naik pitam". "Jangan
khawatir," kata petugas di sana dengan santai. "Kapal baru berangkat
besok siang." 

Besok siang? Bukankah kami dijanjikan akan berangkat malam ini?
Ternyata, proses memunggah barang -- atau memuat barang dalam istilah
awam-- ke KRI Teluk Peleng, belum selesai. Saya sempat bertemu
Komandan KRI Teluk Peleng Mayor Heru Supriyanto yang masih sibuk
mengawasi pemunggahan barang untuk menyampaikan usul saya. "Saya tahu
kapal ini bisa mengangkut 200 ton barang. Tetapi, apa gunanya kita
penuhi dan menunggu sampai besok siang atau sore bila selama itu
korban terus berjatuhan di Meulaboh? Bukankah ada KRI Teluk Langsa
yang juga akan menyusul berangkat ke Meulaboh? Mengapa tidak cukup
kita membawa 50 ton dulu barang-barang yang paling dibutuhkan, dan
segera berangkat ke sana?" 

Dalam misi kemanusiaan, yang menjadi tolok ukur kita adalah manusia
yang akan kita tolong. Dari pembicaraan tadi pagi dengan Brigjen
Halim, saya ketahui bahwa TNI AL sudah mengirim pesawat untuk
melakukan airdrop mi instan dan biskuit. "Air dan beras tidak bisa
dijatuhkan karena akan pecah," katanya. Artinya, air dan beras masih
menjadi kebutuhan yang sangat ditunggu para korban bencana di
Meulaboh. Makan mi instan mentah dan biskuit saja belum sepenuhnya
menolong mereka. Kecepatan kita mengirim bahan-bahan yang sangat
ditunggu itu sangat menentukan. Bukan tonase barang yang akan kita
bawa. Apa gunanya membawa 200 ton bila pada saat itu sudah bertambah
ratusan orang mati dan jatuh sakit? 

Mayor Heru rupanya sepakat dengan pemikiran saya. Ia langsung pergi ke
dalam kantor Lantamal I untuk membicarakannya. Keluar dari sana ia
memberi tahu saya bahwa kapal akan diberangkatkan pukul tujuh pagi
esok, dan kami diperintahkan segera naik kapal untuk istirahat. 

Beberapa relawan sempat mengundurkan diri karena suasana keberangkatan
yang tidak pasti. Dari 101 orang, jumlah yang akhirnya naik kapal
hanya 90 orang. Kami tidak beristirahat. Kami malah turun lagi untuk
membantu mempercepat pemunggahan barang-barang ke kapal. 

Tepat tengah malam, sirene meraung-raung menandai pergantian tahun.
Kami tidak melakukan apa-apa, dan terus bekerja memunggah barang. Kami
terlalu sibuk untuk menandai kedatangan tahun baru. Tak ada toast
dengan sampanye! Tak ada ciuman dari orang-orang terkasih. 

Pukul dua dini hari, ketika pekerjaan dihentikan dan semua cranes
disingkirkan, saya masih memaki-maki -lebih kepada diri sendiri.
Mengapa kita harus istirahat dan tidur dulu? Tidak bisakah kita
langsung berangkat saja? Mengapa kita membuang lima jam lagi? 

Sabtu, 1 Januari 2005 

Akhirnya, yang kami tunggu-tunggu menjadi kenyataan. Pukul 07.15, dua
kapal pandu merapat ke lambung KRI Teluk Peleng dengan nomor lambung
535, dan menarik kami dari dermaga. Begitu tiba di perairan terbuka,
KRI Teluk Peleng melaju dengan kecepatan penuh. Sejenak kami terkesima
melihat para awak kapal melakukan peran hormat kepada para perwira
yang melepas kami dari dermaga, dan juga ke KRI Teluk Langsa yang
sedang masuk menuju dermaga Lantamal I di Belawan. 

Beberapa menit kemudian, Wadanlantamal I Kolonel Sudarsono menelepon
ke telepon selular saya. Ia mengucapkan selamat jalan sambil
menyarankan agar tim relawan tetap memakai KRI Teluk Peleng sebagai
home base selama di Meulaboh. "Kami perlu bantuan Anda untuk
membongkar muatan dari kapal. Itu akan makan waktu sekitar tiga hari.
Sebagian tim bisa dikirim ke darat untuk membantu di sana. Nanti
kalian pulang lagi ke Belawan dengan kapal yang sama," katanya. Saran
yang sungguh membesarkan hati kami. 

Saya segera berkoordinasi dengan Komandan Kapal, Mayor Heru
Supriyanto. Ia ternyata telah menerima "instruksi" yang sama. Ia
bahkan langsung menawarkan fasilitas dapur kapal untuk penyediaan
masak bagi keperluan kami. "Kirim saja beras dan bahan lauk-pauk Anda
ke dapur, dengan beberapa orang untuk membantu masak," katanya simpatik. 

Sejak saat itu, saya tidak lagi merasa menjadi tamu. Selama 30 jam
lebih di kapal, saya merasa telah menjadi akrab dengan Komandan Kapal
dan beberapa perwira maupun awak kapal lainnya. Kami telah menjadi
bagian dari misi kemanusiaan yang tengah dijalankan kapal ini. Dalam
misi ini kami saling bergantung. Jalesveva Jayamahe! 

Menjelang berangkat tadi, kami sempat melakukan perhitungan terakhir
jumlah personel relawan yang berangkat. Ternyata dua orang lagi
mengundurkan diri. Jumlah kami seluruhnya kini tinggal 88 orang. Angka
keberuntungan dalam kepercayaan Tionghoa. 

Menjelang Lhokseumawe, kami menangkap sinyal telepon selular. Saya
menerima dan mengirim beberapa pesan SMS. Istri saya mengirim pesan
SMS. "Bantuan asing sudah masuk Meulaboh, kok kamu masih di laut, sih?
Apa tidak terlambat?" 

Di atas kapal, saya tak dapat memantau seberapa jauh bantuan sudah
masuk Meulaboh. Tetapi, kapal ini membawa lebih dari 50 ton bahan
pokok, seperti air minum, beras, mi instan, makanan bayi, alat-alat
masak, kasur, selimut, pakaian yang bisa menyelamatkan dan meringankan
penderitaan ribuan orang. 

Saya menghitung setiap jam yang berlalu. Dengan kecepatan rata-rata 13
knot, perjalanan 400 mil laut dari Belawan ke Meulaboh akan ditempuh
kapal berbobot mati 1900 ton ini selama 32 jam lebih. Ya, ampun! 

Too little, too late. Ya, mungkin saja yang kami lakukan adalah
terlalu kecil, itu pun terlambat pula. Tetapi, in my humble opinion,
yang kami lakukan tetap lebih baik daripada kekenyangan kalkun
panggang di Jakarta dan hanya menonton dari televisi. Seperti kata
Albert Einstein: only a life lived for others is a life worthwhile.
(Bersambung)


[Non-text portions of this message have been removed]



"The Site for Fellow Pacifists". Daftar buku Karl May lengkap bisa
Anda lihat di http://indokarlmay.com situs "Nugget Store" . Untuk
pesan buku hubungi: [EMAIL PROTECTED] Silakan dengar dan lihat data dan foto 
menarik  di  "Files" dan  "Photos". Silakan buka melalui
Yahoogroups.com.  Foto kegiatan PKMI, peta perjalanan Karl May dan
foto unik lainnya termasuk wajah para anggota dan penyumbang data atau
artikel bisa  dilihat di http://y42.photos.yahoo.com/pkmialbum .
alamat e-mail indokarlmay:

   Mengirimkan artikel/opini        : [EMAIL PROTECTED]
   Mendaftarkan diri                :
[EMAIL PROTECTED]
   Mengundurkan diri sementara      : [EMAIL PROTECTED]
   Kembali aktif                    : [EMAIL PROTECTED]
   Mengundurkan diri selamanya      :
[EMAIL PROTECTED]
   Kontak Admin                     : [EMAIL PROTECTED]





---------------------------------
Yahoo! Groups Links

   To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/indokarlmay/
  
   To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
  
   Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 




[Non-text portions of this message have been removed]
--- End forwarded message ---






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/i8TXDC/5WnJAA/HwKMAA/igXolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

_________________________________________________________________________
Mhs/Masy. indoindia diharapkan untuk selalu melihat diskusi harian di 
http://www.ppi-india.da.ru dan situs resmi PPI http://www.ppi-india.uni.cc  
==========================================================================
Catatan penting:
1- Harap tdk. memposting berita, kecuali yg  berkenaan dg 
masyarakat/mahasiswa/alumni India
2- Arsip milis: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india ; 
3- HP Ketua PPI (Jusman): 09810646659 ; Sekjen PPI(Mukhlis): 09897407326
4- KBRI Delhi(11)26110693;26118642; 26118647
5- KJRI Mumbai (022)3868678;3800940;3891255  
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppi-india/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke