Salam buat anggota PPI-india
 
Korupsi nyatanya memang sulit untuk kita hapuskan ..bagaimana mungkin bisa hilang kalau memang bibit-bibit itu telah ada sejak kita mengenal apa yang kita sebut hasrat dan keinginan.
 
Sekolah...
Ingin punya sebuah gitar yang bagus..tapi apa daya uang saku ndak cukup, minta ke orang tua 'kamu harus sekolah yang bener biar pintar, bukannya beli buku malah beli gitar apa mau jadi pengamen'. akhirnya timbul niat nabung dari uang saku..hari berganti hari uang masih juga kurang sementara keinginan udah tdk terbendung lagi..'cari tambahan apa ya ??', mau kerja tapi kerja apa hingga mulailah bibit itu tumbuh..dimulai dari kembalian beli minyak ndak dikembalikan, mark up beli buku, bilang ada kumpul dana di sekolah dan berbagai cara mendapatkan uang untuk sang gitar yang didamba..
 
Masuk kuliah..
Tiap hari harus foto copy, belum beli buku, uang transport cuma cukup buat rumah-kampus, yang bawa kendaraan harga bensin naik terus, ibu kost rajin nagih uang kost, mulai belajar jadi 'anak gaul', punya girlfriend sering ngajak jalan..sementara uang beasiswa ortu datang tidak linear dengan perkembangan kebutuhan, mau kerja tapi kerja apa ?? bingung lagi..kembali jalan pintas ditempuh uang-uang fiktif dari ortu yang katanya buat ini buat itu bahkan ada yang tega 'udah cukup, kok cari beasiswa' (di kalangan kampus memang sudah sering terjadi yang 'kurang mampu' cuma bisa gigit jari karena jatah beasiswa (yang ditujukan untuk mereka) habis diperebutkan oleh yang 'cukup')..
Yang aktif berorganisasi juga (pasti) banyak belajar trik2 pembuatan proposal kegiatan, bagaimana cara mark up anggaran supaya semua kegiatan bisa terlaksana,cari kwitansi buat pertanggungjawaban (walaupun itu bukan untuk 'dimakan'), tapi sadar ndak sadar itu juga jadi bibit2 yang bakal berkembang dan celakanya itupun diajarkan kepada penerus2 organisasi.
 
Bekerja..
Mau jujur....dihantam kiri kanan, dianggap cari muka ke atasan, dikucilkan.. 
life is still going on..
 
Ya ini baru contoh kecil bagaimana kita diuji untuk menghadapi diri sendiri, orang lain, apalagi ketika menghadapi sebuah tanggung jawab besar seperti keluarga, atau lebih besar lagi ketika jadi seorang pemimpin dimana banyak keluarga sangat bergantung dengan segala decision yang kita buat..
 
Apa artinya ?
Memang korupsi hal yang kompleks untuk dipecahkan, harus dilihat dari berbagai sisi dari berbagai macam sudut pandang yang pemecahannya tidak semudah yang kita bayangkan, apalagi kita berhadapan dengan sebuah sistem yang sudah demikian kokohnya kemanapun kita melangkah kita pasti berhadapan dengan sistem tersebut..
menaikkan gaji mungkin bukan suatu solusi karena realitanya ketika gaji kita kita 1 juta kebutuhan kita menjadi 2 juta, gaji 5 juta kebutuhan 8 juta and so on, dan itu terjadi hampir di semua lini kehidupan selama peluang itu ada, sementara disisi lain budaya juga ikut andil dalam menyuburkan nya.. mungkin unreal, tapi dalam masyarakat, orang akan lebih menghargai jika seseorang itu kaya, berpangkat, ndak perduli kaya dari mana daripada orang yang berpendidikan tinggi tapi 'biasa-biasa saja'..masyarakat juga menganggap semakin tinggi jabatan seseorang,semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka itu juga harus dibarengi dengan semakin banyaknya materi..cara pandang budaya seperti ini juga secara ndak langsung merangsang orang untuk mempertahankan apa yang disebut eksistensi diri....
 
Tapi apa harus korupsi ??
Jawabnya tentu tidak..tapi ketika peluang itu datang, dan tuntutan itu semakin keras, seseorang bagaikan berdiri di hadapan ombak..dan hanya ada dua kemungkinan terbawa ombak atau mental terhantam ombak..

Sebagai orang yang mencoba membenahi sistem kita hanya bisa mencoba untuk memulai dengan membersihkan diri kita dari bibit2, karena tidak mungkin kita bisa mengalahkan sesuatu yang besar sebelum bisa mengalahkan diri sendiri..mencoba mengevaluasi diri dan menawarkan suatu solusi...Syukur2 punya power untuk memperbaiki sistem (dan malah tidak terbawa sistem ketika sudah punya power) sehingga bisa menjadi tauladan.. dan pada dasarnya sebuah perubahan idealnya dilakukan dengan bertahap, berproses, ndak grasa-grusu, apalagi main hantam.. Dan proses ini mungkin akan makan waktu yang lama..
Tapi bukankan Allah pun telah menciptakan alam yang indah ini tidak dengan sekejap.
 
Dan sistem itu memang harus dirubah !!
Terlintas dalam benak ketika sistem ini masih eksis (atau bahkan lebih gila lagi) bagaimana nasib generasi kita..mereka harus hidup di alam kepura-puraan, walaupun pintar setinggi langit tapi ndak punya uang ya tetap menjadi debu2 kehidupan, sekolah makin mahal, yang punya ortu pejabat dugem di diskotik sementara yang punya ortu 'ndak punya' dugem di perapatan lampu merah, konsumerisme merajalela, hukum semakin ndak jelas..etc.
apa akhirnya.....kecemburuan sosial akan tumbuh subur, pengadilan jalanan akan merajalela, dinasti borjuis akan terbentuk, orang kelaparan dimana-mana, musnahnya semangat kompetisi secara sehat,hilangnya sebuah bangsa yang bernurani, dan....siap-siaplah kapal besar yang bernama Indonesia ini untuk karam.
 
Inikah gambaran kita di masa datang  ????
 
 
 
anggara wws
mahasiswa "biasa" IIT-R
 


Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - now with 250MB free storage. Learn more.

_________________________________________________________________________
Mhs/Masy. indoindia diharapkan untuk selalu melihat diskusi harian di http://www.ppi-india.da.ru dan situs resmi PPI http://www.ppi-india.uni.cc  ==========================================================================
Catatan penting:
1- Harap tdk. memposting berita, kecuali yg  berkenaan dg masyarakat/mahasiswa/alumni India
2- Arsip milis: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india ;
3- HP Ketua PPI (Jusman): 09810646659 ; Sekjen PPI(Mukhlis): 09897407326
4- KBRI Delhi(11)26110693;26118642; 26118647
5- KJRI Mumbai (022)3868678;3800940;3891255



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT


Yahoo! Groups Links

Kirim email ke